Ketempelan

1670 Words
Keysa meneteng susuu kotak yang tadi ia sempatkan beli di kantin fakultasnya. Kepalanya memandang sebal minuman anak kecil itu. Kedua kakinya kini berjalan pelan menyusuri trotoar yang cukup senggang dengan angin sepoi-sepoi yang mengibarkan ujung rambut. Keysa memanjangkan lehernya. Kedua matanya menyipit, mencoba memfokuskan diri menatap punggung seorang laki-laki yang berjalan seratus meter di hadapannya. Laki-laki itu berjalan lambat dengan punggung yang membungkuk. Dari sekat jarak, Keysa langsung bisa menebak ada sesuatu yang mengganjal di sana. Keysa sedikit melajukan langkahnya. Sepasang matanya kontan membulat sempurna saat melihat sosok seperti anak kecil bertengger di punggung laki-laki itu. Sosoknya memang kecil, namun rupanya tampak tua dengan kulit wajah yang kendur dan berkeriput. Sosok inilah dalang yang membuat laki-laki itu berjalan membungkuk seperti ini. Keysa sedikit bergidik ngeri kala sosok itu tersenyum lebar ke arahnya, memamerkan gigi-giginya yang runcing dan tajam. Rambutnya gimbal dan acak-acakan. Serta memiliki kantung mata yang bulat dan mengitam. Keysa sangat yakin jika itu bukanlah manusia. Terlebih, sosok itu mengeluarkan bau bangkai yang cukup menyengat. Jika dilihat dari samping, Keysa sepertinya mengenali laki-laki yang tengah ketempelan itu. Dahi Keysa tampak berlipat untuk mengingatnya. Ah, Keysa mengingatnya dengan cepat. Laki-laki ini adalah orang menyebalkan yang pernah membentak dirinya kala ospek berlangsung. Bibir Keysa sedikit mencibir dan hendak pergi berlalu saja. Membiarkan orang itu agar ketempelan sampai rumah. Namun, langkah Keysa tertahan, hati nuraninya ternyata masih memiliki rasa kemanusiaan. Dirinya sedikit tak tega kala orang itu meringis dengan menahan sakit dan letih. Tanpa meminta izin terlebih dahulu, Keysa langsung menyentuh pundak orang itu. Mengambil jin yang tengah melotot marah ke arahnya, lantas segera mengembalikan jin tersebut ke tempanya semula menggunakan kemampuannya. Laki-laki itu menghentikan langkah. Menegapkan tubuhnya saat rasa berat dan nyeri di punggungnya hilang begitu saja. Kali ini, dia menatap Keysa yang tengah menepuk-nepuk kedua tangannya, seolah membersihkan debu yang menempel di sana, dan yang jelas, kedua matanya menatap Keysa dengan sangat tidak percaya. Pria itu hendak berucap, namun langsung terbungkam akibat suara Keysa. "Jangan suka pipis sembarangan tanpa izin. Kalau gak bisa di toilet, pakai botol aja sana!" Laki-laki itu terkejut bukan main. Bibirnya langsung terkatup dan terasa sangat kering. Sepasang matanya terus memperhatikan punggung Keysa yang menjauh dari hadapannya cepat-cepat. Karena sehabis berkata seperti itu, Keysa langsung berlalu dari sana. Kedua bola mata laki-laki itu langsung membulat syok. Bahkan jantungnya mulai berdetak kencang. Dia meremas kedua tangannya yang tiba-tiba berkeringat. Bibirnya terbuka dan menggumam tidak percaya, "Apa tadi dia lihat aku kencing?!" ••• Keysa kian mempercepat langahnya. Bahkan anak itu terlihat terburu-buru untuk segera sampai ke kamar apartemen. Sangat penasaran apakah ancaman Elena tadi pagi benar adanya. Keysa melirik ke arah lift, dan ternyata sosok ular itu masih ada di sana. Gadis itu langsung mengembuskan napas kasar. Mau tidak mau, Keysa harus menerima kenyataan pahit untuk menaiki puluhan anak tangga setiap harinya. Sesampainya di kamar, Keysa langsung menuju dapur untuk menuang susuu itu ke dalam gelas. Menyeruputnya sedikit untuk mengurangi dahaganya. Kembali melangkah dengan tegang menuju kamar. Begitu pintu terbuka, sepasang mata Keysa langsung melebar. Bahkan mulutnya terbuka tidak percaya. Detik itu juga, darah Keysa siap meledak dengan pancaran mata yang menyala-nyala. "ELENA!!!" Keysa mencak-mencak di tempatnya. Menelaah seluruh kamarnya yang persis seperti kapal pecah. Buku-bukunya berserakan di mana-mana. Sprei, bantal dan guling pun terdampar mengenaskan. Bahkan, semua pakaian di dalam lemari yang sudah ia tata rapi-rapi, kini berhamburan tak keruan. Elena tersenyum picik saat menyembul dari balik tembok. Bibirnya tersenyum puas Menatap Keysa yang seperti ingin menangis. "Sudah aku bilang, aku tidak suka orang yang melanggar janji," kata Elena dengan menyilangkan kedua tangannya. Keysa menggenggam erat gelas di tangannya. mencoba mengatur napasnya yang bekerja cepat. Dadanya mulai naik-turun. Wajahnya memanas. Sepasang matanya menatap geram sosok perempuan paling menyebalkan yang pernah ia temui sepanjang hidupnya. Keysa bahkan ingin sekali membunuh Elena untuk kedua kalinya. Keysa beranjak, meletakkan gelas susuu ke atas meja dengan sedikit membantingnya. Membuat isinya terciprat ke area meja. "Kamu tahu artinya sabar?" Keysa mencoba meredam emosinya. Walaupun seluruh tubuhnya telah panas bagai gunung merapi yang tengah bererupsi. "Lagi pula, aku sibuk, EL. Tidakkah kau mengerti itu?" Keysa memijit pelipisnya yang berdenyut kencang. Tak sanggup lagi membayangkan seletih apa dia harus membereskan semua barang-barangnya. Elena hanya terdiam. Dan justru memasang wajah pongah seolah tidak memiliki dosa. Elena kembali tergelak saat Keysa mengeluarkan suaranya. "Aku gak mau tahu, kamu harus merapikan semua barang-barangku lagi, El!" Keysa melotot, sementara Elena masih memasang wajah tidak peduli. "Tenagaku sudah habis untuk memindahkan semua barang-barang murahan milikmu. Dan aku tidak bisa mengembalikannya lagi. Kamu kan bisa merapikannya sendiri. Jangan jadi gadis yang malas dan manja!" Tubuh Keysa benar-benar mendidih. Kedua tangannya kian terkepal erat, hingga buku kuku-kukunya memutih. Bahkan, sisi-sisi gerahamnya saling menindih, menampakkan tulang rahang dan pipinya yang mengeras. Keysa pun beranjak dari tempatnya. Menyabet pakaiannya yang terlantar dengan kasar. Bersiap diri untuk membereskan semuanya. Karena baginya, percuma saja jika harus berbicara dengan Elena. "Aku sudah membelikan kamu s**u. Dan mulai sekarang, berhenti mengusik diriku!" bentak Keysa tanpa menoleh. Elena melongok melihat segelas s**u di atas meja. "Kenapa kamu beli s**u putih? Aku maunya yang cokelat!" Keysa kontan melebarkan sepasang matanya. Bibirnya menganga tidak percaya. Sorot matanya menajam menatap Elena yang semakin melunjak. "Belikan aku susuu cokelat, baru aku tidak akan mengganggumu." Keysa menahan tangannya di udara. Nyaris saja melemparkan celana jin yang ia pegang. Keysa berdecak tidak peduli. Ia teramat kesal hingga tidak bisa lagi mengeluarkan kata-katanya. Lagi pula, Keysa yakin seyakin-yakinnya, jika Elena pasti akan mengganggunya setiap waktu, walaupun telah ia belikan s**u cokelat. Dan dia tidak mau disuruh-suruh oleh arwah menyebalkan macam Elena. "Terserah kau, El." Keysa berucap pasrah. Kembali menata pakainnya. Mengabaikan Elena yang kini melayang-layang dengan wajah juteknya. Keysa tidak peduli. Namun, pergerakan tangan Keysa langsung terhenti kala Elena kembali mengeluarkan suaranya. "Memangnya, kamu semiskin itu ya, sampai gak mampu beli susuu lagi?" Detik itu juga, pakaian di tangan Keysa terlempar begitu saja ke arah Elena. Namun sial, pakaian itu melayang sia-sia menembus roh Elena dan sama sekali tidak memberikan efek apapun untuk hantu itu. Sementara Elena langsung melotot tajam di tempatnya. "Selain miskin, ternyata kamu bodoh juga, ya?" Keysa menggeram kesal. Tulang rahangnya mengeras saat seluruh gigi kini terkatup dan saling bertindihan. Kepalanya lewat kepalang panas. Dia menjajalkan pakainnya yang terakhir ke dalam lemari. Lantas, menutup pintu lemari keras-keras. Membawa kedua kakinya menuju dapur untuk menyeduh kopi panas. Mungkin dengan cara itu, Keysa dapat menetralkan emosinya. Entah kesialan seperti apa lagi yang menimpa dirinya ini, sehingga dia harus berdecak kesal kala gula halusnya telah habis. Keysa terduduk lesu meratapi segala kesialan yang menimpanya hari ini. Dan, mau tidak mau Keysa harus berjalan menuju supermarket terdekat untuk membeli gula. Sebab, jika kondisinya terlampau suntuk seperti ini, satu-satunya obat penenangnya adalah kopi. Karena jika tidak, dapat dipastikan ia tak akan bisa tidur dan terus uring-uringan seperti orang kurang waras. "Kau mau ke mana?" tanya Elena melihat Keysa mengambil dompet beserta jaket. "Gulaku habis." Keysa mengembuskan napas lelah sekali. "Bagus, kalau gitu, sekalian belikan aku susuu cokelat." "Susuu, susuu, susuu! Lama-lama aku sumpal mulut kamu dengan kardus-kardusnya!" Keysa mulai naik pitam. Kedua kakinya pun berjalan dengan dihentak-hentakkan. Mulut Keysa terlihat mengomel-ngomel di sepanjang koridor lantai tiga. Saat berada di ujung jalan, dia langsung menahan langkahnya, meratapi barisan anak tangga yang terlihat semakin beranak pinak di matanya. Tiba-tiba, bibir bawah Keysa maju beberapa senti. Bahkan, kedua matanya terlihat berkaca-kaca dan siap untuk menangis. Dan entah mengapa, anak itu justru membalikkan badannya. Kembali masuk ke dalam kamar apartemennya. Sontak saja, hal itu membuat Elena terheran-heran di tempatnya. "Kau sudah beli s**u?" Keysa menggeleng pelan menjawab pertanyaan Elena. Bahu Keysa pun terlihat luruh lemas. Kini, pancaran matanya terlihat nanar seolah meminta belas kasih dari Elena. "El, temenin aku naik lift, dong! Aku sudah gak sanggup kalau naik turun tangga lagi," ujar Keysa sedikit mencicit. "Apa itu lift?" bingung Elena. Mendengar pertanyaan seperti itu, Keysa yang tadinya hendak menangis, malah kembali kesal. Dan kini, Keysa menatap Elena dengan sepasang mata yang malas sekali. "Norak banget sampai gak tau lift!" Keysa mencibir pelan. "Aku tahu caranya biar kamu tidak lelah naik turun tangga lagi," ujar Elena serius dan mengesampingkan cibiran Keysa. "Apa?" tanya Keysa mengrenyitkan dahinya. "Mati." Elena melayang dan mengitari tubuh Keysa yang tengah terpaku. Memberikan aura panas yang menyengat, membuat Keysa sedikit meringis di tempatnya. Mulut Elena kembali berbicara, "Mati, mati, mati." Elena tiba-tiba menjauh saat Keysa berucap istighfar di dalam hatinya. Keysa melotot kala Elena tersenyum puas. Beranjak dari sana, dan beralih untuk duduk di sofa ruang utama. Keysa terlihat tengah memijit pelipisnya yang pening, membiarkan rambut sebahunya menjuntai dan menutupi sebagian dari wajahnya. "Lagi pula, ngapain kamu harus pakai tangga. Bukannya kamu bisa menggunakan pintu besi penghubung lantai?" Sontak saja Keysa menolehkan kepalanya tidak percaya. Menatap Elena dengan mulut yang sedikit terbuka. Pintu besi? Ahh, kini Keysa mengerti. Pintu besi yang dimaksud Elena tidak lain ialah, lift! Keysa mendengus lantas menimpali, "Itu namanya lift, El! Aku tidak berani ke sana sendirian. Dan, kau tahu makhluk mengerikan yang ada di lantai satu?" Keysa sedikit berbisik. Netra matanya bergerak tak tenang. Bahkan, bulu kuduknya sedikit meremang. Seolah takut jika sosok yang baru saja ia bicarakan kini ada di dekatnya. "Oh, itu. Aku juga tidak suka. Dia mengerikan sekali." "Tapi kamu berani kan sama dia?" tanya Keysa penuh harap. Sementara Elena justru menggeleng pelan. Keysa langsung mendengus kesal. Seperti percuma saja ia mengharapkan bantuan Elena. "Setan kok takut setan!" cibir Keysa pada akhirnya. Elena melotot. Dia menimpali, "Tapi, kamu kan bisa pergi ke Kafe atau restoran dari bangunan ini." Seperti ada bolam lampu yang keluar dari kepala Keysa, anak itu tiba-tiba tersadar akan perkatan Elena. Namun tak sampai dua detik, Keysa kembali mendengus kesal. "Percuma saja, El. Letaknya ada di lantai satu. Dan mau tidak mau aku harus menggunakan anak tangga lagi. Asal kamu tahu, aku sudah tidak sanggup akan hal itu. Lagi pula ini sudah malam, banyak penjahat yang mulai berkeliaran. Tidak baik untuk perempuan berjalan seorang diri di jam segini." Elena seketika mendesis. Membalikkan tubuhnya untuk pergi dari hadapan Keysa. Namun, sosok itu sempat mengucapkan sesuatu yang membuat Keysa langsung melongo. "Dasar, manusia kok takut sama manusia!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD