Ada apa dengan Elena?

1237 Words
Selepas jam kuliah pertama, Keysa memisahkan diri dari Nanda dan Sinta yang kembali ke kos masing-masing. Menunggu jam kuliah selanjutnya pada pukul satu siang nanti. Keysa berjalan seorang diri menuju kantin. Karena, sejauh ini, hanya Nanda dan Sinta yang mau berteman dengannya. Langkah demi langkah Keysa lalui dengan tatapan sendu. Mengabaikan sosok-sosok aneh yang selalu berkeliaran di sekitarnya. Keysa mengembuskan napas pendek. Dirinya sedikit dikagetkan kala suara berat tiba-tiba berada tepat di sebelah telinganya. "Pasti gara-gara gua ya?" Keysa menoleh cepat. Keterkejutannya langsung hilang saat melihat bahwa yang berbicara barusan ialah Cahyo. Keysa tersenyum kecil dan memilih menggeleng. "Maafin gua. Gua kemarin gak ada niat buat ngagetin elo. Dan sekarang lo malah dijauhi temen-temen lo." Keysa mengembuskan napas panjang. Dijauhi dan dianggap aneh dan gila oleh orang-orang merupakan hal biasa bagi Keysa. Dan masalah seperti ini, dapat Keysa redam dengan sendirinya. Walaupun sedikit menyakitkan dan menguras emosinya. Keysa mulai memesan menu yang sama seperti kemarin, yakni mi ayam dan es teh manis. Bahkan, ia duduk di tempat yang sama, dengan sosok yang sama, Cahyo, siapa lagi. "Lo kemarin kirimin gua doa, ya?" Keysa yang tengah menyeruput mi panas itu mendongak ke arah Cahyo yang tersenyum senang. Kepala Keysa mengangguk. Ia pun menjawab dalam hati pertanyaan Cahyo. "Iya. Kok kamu tahu?" "Suara lo kedengeran dan nyampe ke gua." Keysa manggut-manggut mendengarnya. "Terima kasih ya, lo ternyata peduli sama gua," lanjut Cahyo. Namun, Keysa dibuat gelisah kala raut Cahyo berubah lesu dan terlihat sedih. "Dulu, gua setiap hari denger suara Ibu, Abah dan adek gua yang lagi doain gua. Itu yang buat gua seneng. Tapi, udah lama gua gak denger suara mereka. Apa mereka udah meninggal semua, ya?" Keysa tercenung. Tenggorokannya terasa tercekat. Merasa iba melihat Cahyo yang sangat merindukan keluarganya. Dan jika dilihat lebih jauh dari pakaian Cahyo, dan dari pengelihatan mata batin Keysa, Cahyo memang terlahir dari puluhan tahun lalu. Dan itu sudah lama sekali. Saat Keysa berusaha mencari keluarga Cahyo, hanya warna gelap yang terlihat. Dan itu menandakan, bahwa keluarga Cahyo sudah tidak ada di dunia ini lagi. "Kamu gak perlu sedih. Aku akan menjadi pengganti keluarga kamu. Aku akan terus mendoakan yang terbaik buat kamu. Dalam arti, kamu boleh anggap aku jadi kakak." Cahyo tersenyum senang mendengar jawaban Keysa. Namun, sepasang matanya langsung memicing dan berujar, "Seharusnya elo yang panggil gua abang! Gua lahir duluan jauh sebelum elo lahir!" "Ahhh, benar juga," batin Keysa seraya menggaruk pelipisnya yang tak gatal. Selanjutnya, Keysa kembali menimpali, "Kalau kamu mematok diri dari era lahir, berarti semestinya aku panggil kamu, kakek, dong! Kamu udah tua banget pasti! Udah buyut dan punya cicit! Hahahaha!" Keysa tertawa di balik sendoknya. "Ahhh, bener juga!" Cahyo mengikuti cara bicara Keysa. "Kalau gitu, anggep gua adek aja lah! Masak gua yang cakep dan keren ini dipanggil, embah!" Keysa tersenyum. Menyetujui ucapan Cahyo. Kini Keysa melanjutkan makannya. Ditemani Cahyo yang hanya berdiam diri dengan bersenandung lagu yang sama sekali tidak pernah Keysa dengar sebelumnya. Entah lagu apa itu, yang jelas nadanya dibuat hancur dan sumbang oleh gumaman Cahyo. "Berarti, gua udah di sini lama banget ya?" tanya Cahyo setelah Keysa makan dan minum. Karena anak itu sengaja dan tidak mau mengganggu jam makan Keysa. Keysa langsung mengangguk kecil sebagai jawaban. "Kalau semua keluarga gua dah kagak ada, berarti orang-orang yang ngebunuh gua juga udah mati ya?" "Hmm, mungkin." "Gimana ya nasib mereka sekarang? Apa mereka juga nyari jalan pulang kayak gua?" Cahyo menerawang ke atas langit yang tengah cerah dan panas. "Mereka sedang dalam prosesnya. Kamu yakin kan jika sejatinya Tuhan Maha Adil?" Cahyo mengguk. "Tuhan akan memproses semua orang dengan amal ibadah masing-masing. Dan Tuhan tidak pernah tidur. Tuhan pasti seadil-adilnya untuk seluruh makhluk ciptaannya." Cahyo menatap sendu. Bibirnya ia paksa untuk terangkat ke atas. Kembali menatap Keysa yang berucap, "Betapa ruginya orang-orang yang selalu mengedepankan dunia atas segalanya. Dan, apasih yang enggak lebih dari sakit, ketika kita mati, tapi enggak bisa bertemu sama Rabb-kita?" Cahyo tercenung. Ia terdiam lama. Tubuhnya seakan ditampar keras-keras oleh ucapan Keysa. Kepala Cahyo menunduk dalam. Ia merasa malu dan lemah. Cahyo melihat rohnya sendiri yang mengambang dan tak menyentuh tanah. "Sekarang, kamu tahu kalau mereka udah meninggal. Terus, apa yang kamu bebankan lagi? Biarlah mereka dengan prosesnya. Dan kamu, dengan prosesmu. Lepasin semua dendam dan emosi kamu. Aku yakin, jika kamu udah lepas dan ikhlas, kamu akan bisa 'pulang' bertemu Tuhan dan keluarga kamu." Cahyo tersenyum. Ingin sekali ia menangis dan memeluk Keysa, namun apa daya itu semua tidak bisa. Air matanya sudah tidak ada lagi. Sekaligus dengan raganya yang telah melebur dengan tanah. "Bantuin gua buat nyari 'cahaya' itu. Dan, sejujurnya, gua merasa lebih baik dan nyaman saat ada orang yang kirim doa buat gua." "Tenang saja! Kau kan adikku tersayang. Kakak mu yang baik dan cantik ini akan selalu mendoakan kamu, kok!" "Kok gua ngeri ya dengernya," ujar Cahyo dengan memasang wajah tak enak. Keysa tertawa seorang diri melihat raut Cahyo. Dan sejujurnya, ia juga merinding berucap seperti itu. Cahyo pun tersenyum, manis sekali. Dan hal itu membuat Keysa sedikit terkesima. Keysa bisa mengakui, bahwa Cahyo memang sosok yang tampan dan manis. Tak heran, jika semasa hidupnya, Cahyo dikejar-kejar banyak perempuan. "Cara ketawa lo sedikit mirip sama adek gua," ujar Cahyo yang membuat Keysa langsung terdiam. Tidak menyadari jika Keysa baru saja memujinya tampan. "Apa adek gua udah nikah ya? Udah punya anak dan cucu kah? Ahh, gua kangen banget." Lagi-lagi, d**a Keysa dibuat sesak atas pancaran kerinduan di mata Cahyo. Sialnya, Keysa harus memutar otak agar mampu mengalihkan pikiran Cahyo. Ia tidak bisa melihat orang dengan raut sedih menahan tangisan seperti ini. "Hmm, mungkin saja dia udah berumah tangga dan punya keturunan. Kalau menurut kamu, aku sama adik kamu cantikan siapa?" "Ya jelas cantikan adek gua lah! Wong gua seganteng ini, masak adek gua buluk!" "Sialan! Secara gak sadar, kamu ngejek aku buluk!" Keysa memberengut. Namun, keduanya langsung tertawa bersama. Keysa pun merasa senang melihat Cahyo melupakan sejenak kenangan keluarganya. Keysa terdiam. Menghabiskan sisa es teh manisnya. Dahinya dibuat berlipat oleh Cahyo yang kini menatapnya lekat-lekat dengan mata yang memicing mencurigakan. Bahkan Keysa sedikit menjauhkan tubuhnya kala Cahyo justru mencondongkan kepalanya semakin mendekat ke arahnya. "Lo ... ada perjanjian sama makhluk gaib ya?" tebak Cahyo lantas menjauhkan tubuhnya lagi. Keysa langsung terbengong dalam waktu yang lama. Tak mengerti akan ucapan Cahyo yang langsung menuduhnya seperti itu. "Jangan sembarangan kasih janji. Apalagi sama bangsa kaya gua." Otak Keysa dibuat linglung. Ia ingin bertanya namun tertahan oleh ucapan Cahyo. "Gua lihat ada makhluk yang ngacak-ngacak kamar lo." Seketika itu, sepasang mata Keysa membulat sempurna. Ia langsung teringat akan ancaman tadi pagi. Dan Keysa tak menyangka jika itu beneran terjadi. "ASTAGA, ELENA!" Keysa meluruhkan tubuhnya pasrah. Dia langsung mencak-mencak di tempatnya seperti orang gila. Membuat banyak pasang mata kini menatap aneh ke arah mejanya. "Emang siapa, Elena? Sampai lo janji-janji ama dia?" Keysa mengembuskan napas kasar. Sebenarnya ia berjanji karena ingin Elena segera pergi dari hadapanya saja. Dan siapa sangka ternyata Elena berucap serius. "Setan bule penunggu kamar apartemen ku," jawab Keysa kesal sekali. "Hmm." Cahyo menggumam seraya berpikir. "Emang, kenapa dia masih ada di sana? Kenapa juga dia gak bisa nyebrang kayak gua?" Dahi Keysa langsung berlipat-lipat. Otaknya pun dipaksa bekerja untuk berpikir. Dan benar juga ucapan Caho. Kenapa Elena masih di sana, ya? Apa yang membuat dia masih terjebak di dunia ini? Terus, bagaimana dia meninggal? Entah mengapa, rasa penasaran Keysa langsung membludak. Satu-satunya cara untuk mendapatkan semua jawabannya adalah, Keysa harus bertanya langsung pada Elena.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD