Aku mau s**u

1874 Words
Di bawah langit sore merah dan sedikit gelap, Keysa berjalan seorang diri di trotoar jalanan. Sedikit mengeratkan jaket yang ia kenakan kala angin yang cukup dingin menghantam tubuh dan menerbangkan helaian rambutnya. Sepatu kets cokelat kayu selalu setia menemani langkah kakinya yang jenjang. Bibir keysa mengalun pelan, mengikuti irama musik yang tersalukan melalui earphone yang menyumpal kedua telinganya. Keysa terlihat mempercepat langkahnya dengan kepala yang sedikit menunduk. Karena pada jam-jam menjelang maghrib seperti ini, banyak sekali hantu dengan beragam rupa yang menyeramkan berkeliaran di mana-mana. Keysa sedikit mengembuskan napas lega kala sampai pada halaman utama apartemennya. Menggiring langkahnya kembali menuju lift untuk menyebrang ke lantai tiga. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti. Napas Keysa tercekat. Netra matanya membesar. Bahkan, jantungnya mulai berdetak tiga kali lebih cepat. Tubuh Keysa mematung dengan keringat dingin yang langsung membasahi telapak tangannya. Keysa menelan salivanya dengan susah payah. Entah mengapa, tatapannya seolah terpaku pada sosok perempuan bertubuh setengah ular, yang kini tengah merayap di sepanjang pintu lift. Wajah sosok itu hitam legam. Desisan nyaring keluar dari lidah yang menjulur hingga menyentuh dasar lantai. Sosok itu memiliki tubuh yang besar dan sangat panjang. Bahkan, saking panjangnya, Keysa harus dibuat mendongak secara vertikal. Panjang sosok itu seperti sampai hingga lantai tiga. Atau, bahkan lebih panjang lagi dikarenakan ujung ekornya yang masing membentuk gulungan. Sisik tebal bewarna hijau kekuningan melapisi ekornya. Energinya sangat besar hingga membuat tubuh Keysa terasa cukup lemas. Sepasang mata Keysa langsung melotot bukan main kala sosok itu meliukkan tubuhnya. Kini, kepala sosok itu terjun ke bawah, seolah-olah tahu akan dirinya yang tengah mengawasinya. Jantung keysa berdetak kecang kala melihat sepasang taring panjang dan tajam menyembul keluar dari dalam bibirnya. Kedua tangan Keysa langsung meremas-remas sisi pakaiannya. Wajahnya kini telah basah karena keringat. Ingin sekali ia berlari untuk segera menjauh dari tempat itu. Namun, kedua kakinya terasa membeku, sampai-sampai tubuhnya tidak bisa berkutik sama sekali. Tubuh Keysa kian membeku dengan menahan napasnya. Jantungnya seperti berhenti berdetak selama beberapa detik. Sosok itu menyorot tajam hingga mampu menembus netra matanya. Sepasang matanya yang merah darah melotot dan nyaris keluar dari tempatnya. Wajah Keysa langsung pucat pasi. Jantungnya kian berdetak gila. tenggorokannya tercekat hingga ia kesusahan bernapas. Sosok itu terlihat menyeringai lebar dan sangat mengerikan. Entah keajaiban dari mana, kedua kaki Keysa mendadak membawa tubuhnya lari terbirit-b***t menjauh dari sana. Keysa mengehentikan langkahnya di dasar tangga lantai dua. Tubuhnya sedikit membungkuk dengan memegangi kedua lututnya yang bergetar hebat dan lemas. Napas Keysa terlihat ngos-ngosan. Keysa dapat merasakan detak jantungnya yang sangat keras dan cepat, seolah-olah akan melompat lari dari tempatnya. Wajah dan seluruh tubuhnya pun telah basah akibat keringat yang kian membanjir. Keysa memejamkan kedua matanya kala pandangannya mulai meremang. Mencoba mengatur napasnya dengan sebelah tangan yang menggenggam lengan tangga. Keysa menegapkan tubuhnya saat jantung dan napasnya mulai kembali normal. Menatap deretan anak tangga dengan pandangan nanar. Keysa mengembuskan napas berat. Dirinya tidak bisa membayangkan jika setiap hari harus menggunakan anak tangga untuk sampai ke lantai tiga. Nyalinya langsung menciut jika harus menggunakan lift dan bertemu sosok mengerikan itu lagi. Keysa melanjutkan menapaki deretan anak tangga. Dirinya benar-benar ingin cepat sampai ke kamar dan langsung menghempaskan diri pada kasur yang empuk. Seluruh tubuhnya terasa remuk dan juga pegal. Baru saja kakinya berpijak pada anak tangga pertama, tubuhnya kembali tersentak kaget bukan main dan nyaris saja tergelincir jika ia tidak menggenggam erat-erat lengan besi tangga. Napas Keysa berembus cepat. Cuping hidungnya mulai memerah. Dia menatap kesal setengah mati pada sosok perempuan berambut panjang dan acak-acakan tengah berdiri tepat di tengah-tengah tangga. Sosoknya seperti histogram, melayang dengan tertawa kecil. Sosok itu menatap Keysa lekat, memamerkan wajahnya yang penuh borok dengan darah busuk yang mengalir di sekitar luka itu. Keysa mengembuskan napas pendek. Balas menatap malas tanpa ada rasa takut pada sosok perempuan berjenis Kuntilanak. Pasalnya, sosok-sosok kuntilanak seperti ini sangat umum ia temui. Keysa melanjutkan menapaki anak tangga tanpa memperdulikan kuntilanak itu. Namun, bulu kuduknya langsung meremang kala berada persis di sebelah kuntilanak yang kini mengeluarkan suara lirih dan manjanya. "Hihihihi, kamu bisa lihat aku, ya ...." Suara khas yang melengking nyaring membuat Keysa mengusap tengkuknya. Keysa menggeleng, terus melanjutkan langakahnya. Dirinya memang sangat malas jika mengadapi sosok yang seperti itu. Kuntilanak itu terdengar tertawa nyaring. Keysa merapatkan bibirnya, setidaknya sosok itu tidak mengikuti langkahnya. Sesampainya di lantai tiga, Keysa langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang penat. Mengabaikan Elena yang kini tengah menari balet di ruang tengah. Suara musik klasik mengiringi tarian Elena. Entah dari mana asal musik itu. Keysa bahkan tidak menjumpai gramofon dengan piringan hitam yang berputar di tengahnya. Akan tetapi, suara musik itu benar-benar terdengar nyata di telinganya. Keysa mencoba tidak peduli. Memilih untuk membersihkan diri. Selepas itu, Keysa menggelar sajadah untuk memulai beribadah di kamarnya. Keysa membanting punggungnya begitu saja ke atas kasur yang empuk. Baru saja matanya hendak terpejam, Elena tiba-tiba saja datang dengan gaya andalannya, yakni sepasang mata bulatnya yang melotot tidak suka. "Apa yang kamu lakukan tadi?" Keysa mengatur napasnya, kembali memejamkan matanya, bibirnya berucap lirih, "Napas." Mata Elena semakin membulat mengerikan. Terlebih melihat Keysa yang seakan mengabaikannya. "Aku tidak suka bercanda!" bentak Elena kian kesal. "Aku sedang ibadah, El," jawab Keysa malas sekali. "Tapi seluruh tubuhku terasa terbakar! Panas dan sakit sekali!" Keysa menghiraukan ocehan Elena dan bersiap diri untuk tidur. Karena sejujurnya, hari ini cukup menguras seluruh tenaganya. "Hai! Aku berbicaara kepadamu!" "Argghhttt!" Keysa menggerang marah. Entah terkena kutukan apa sampai-sampai dia harus bertemu hantu menyebalkan macam Elena! Dan dengan terpaksa, Keysa harus membuka kembali kedua matanya yang memberat. Balas menatap Elena yang menyorot tidak suka ke arahnya. "Kamu tinggal pergi saja kalau aku tengah beribadah. Kita hidup di dunia masing-masing. Aku tak pernah ada niatan untuk mengusikmu, maka dari itu, kamu jangan menggangguku!" Elena mendengus sinis. Ia kembali mengeluarkan suaranya saat Keysa hendak menutup matanya lagi. "Kalau gitu, aku mau s**u!" "Hah?" Mulut Keysa sedikit terbuka bingung. "s**u?" Kini Keysa justru membeo. "Iya! Aku sudah lama tidak minum s**u! Dulu, setiap hari aku selalu minum s**u, karena aku dari keluarga bangsawan. Tidak seperti kamu yang jongos dan miskin." Keysa menatap Elena malas sekali. Bisa-bisanya dia berkata sekejam itu. Keysa mati-matian menahan mulutnya yang ingin sekali menyumpah serapah kesombogan Elena. Namun, itu akan percuma saja dan hanya membuang-buang tenaganya. "Udah malam, El. Besok saja, aku mau tidur," balas Keysa lemah. Embusan napasnya pun terlihat sangat lelah. "Baiklah. Tapi kalau kamu berbohong, aku akan menghancurkan kamarmu!" ancam Elena dengan gaya melototnya. "Hmm," luruh Keysa mengalah. Karena hanya seperti ini Elena akan segera pergi dari hadapannya. Dan Keysa pun dapat tidur dengan nyenyak. °°° Keesokan paginya, Keysa tengah bersiap-siap menuju kampus pukul setengah delapan. Memoles diri di depan meja riasnya dengan mengoles bibirnya yang pucat menggunakan lip balm merah ceri. Merapikan rambutnya sekali lagi yang sedikit berantakan. Tak lupa dengan menyemprot minyak wangi musim semi yang khas dan terasa segar ketika masuk ke lubang penciuman. Keysa menyambar tas ranselnya untuk berangkat. Ketika tubuhnya hendak melangkah pergi, ia tertahan begitu saja kala Elena tiba-tiba muncul dan menghadang pintu. Dahi Keysa sedikit berlipat dengan wajah setengah bingung, seperti menanyakan kata 'Apa?' kepada Elena. "Mana s**u yang kau janjikan kemarin?" tanya Elena bak preman yang tengah menalak dirinya. "Aku mau berangkat kuliah, El," jawab Keysa malas. Dan seperti biasa, Elena langsung melotot marah. "Tapi kamu kemarin sudah janji kepadaku!" "Astaga, El!" bentak Keysa yang mulai jengah. "Lihatlah usiamu sekarang! Kamu bukan anak kecil lagi yang perlu s**u untuk tumbuh gigi dan tulang!" "Tapi aku suka s**u!" Elena memprotes dan balas membentak Keysa. Keysa mengembuskan napas kasar. Meremas kedua tangannya di udara, sekan gemas untuk mencekek leher Elena. "Terserah kau! Aku sibuk!" selepas berucap demikian, Keysa langsung memberanikan diri menembus tubuh Elena untuk dapat keluar dari pintu. Tubuhnya seketika terasa sangat dingin seperti diguyur air es. Jantung Keysa terasa berdetak lebih cepat. Kedua tangannya pun berkeringat. Entah kenapa, saat ia telah menembus roh Elena, tengkuk serta punggungnya tiba-tiba terasa sangat panas, seolah ada luka bakar yang menyerangnya. Bahkan, hawa di sekitarnya mendadak pengap hingga ia sedikit kesulitan untuk bernapas. Keysa dapat merasakan aura kemarahan dan kebengisan di belakang sana. Dan Keysa pun dapat membayangkan pelototan tajam mengerikan dari Elena. Keysa membawa kedua kakinya untuk melangkah cepat. Bahkan anak itu sedikit berlarian di koridor apartemenya. Membuat beberapa pasang mata menyorot aneh ke arahnya. Tidak hanya dari situ, Keysa harus menambah energinya untuk menuruni panjangnya anak tangga. Karena setelah tahu kejadian kemarin, tentang sosok sosok wanita ular di depan lift, Keysa memutuskan untuk tidak lagi menggunakan lift sebagai penghubung lantai. Keysa sampai di halaman kampus dengan napas terengah-engah. Entahah, ia merasa saja jika Elena mengejarnya dan hendak mencekiknya dari belakang. Keysa menelan ludahnya untuk membasahi kerongkongan yang mengering. Mengusap wajahnya sejenak, lantas melanjutkan langkah menuju kelas yang telah terisi belasan orang. "Key!" Sinta melambaikan tangannya. Dan Keysa berjalan mendekat ke arah Sinta dan Nanda. Kali ini ia memutuskan untuk duduk di antara kedua temannya. Ia tak mau kejadian seperti kemarin terulang lagi. Karena pagi ini ia menempati ruang kelas yang berbeda. Dirinya hanya takut dikejutkan lagi oleh sosok-sosok tak kasatmata. "Kamu kenapa?" tanya Nanda yang melihat wajah Keysa memerah dengan keringat di mana-mana, pun dengan napas Keysa yang berembus cepat. "Dikejar setan?" timpal Sinta yang langsung mendapat anggukan dari Keysa. "Serius?!" ucap Sinta dan Nanda bebarengan. "Siapa? Si Cahyo?" Keysa mendengus malas kearah Sinta. "Emang kamu pikir di dunia ini hantunya Cuma Cahyo, apa?" Sinta meringis melihat kekesalan Keysa. Sedikit merasa iba kepada temannya itu yang harus melihat hantu setiap harinya. "Terus hantu model apa lagi? Seram kah sampai kamu ketakutan gini?" Keysa mengepalkan kedua tangannya erat kala mendengar pertanyaan Nanda. Bahkan, sepasang matanya menyorot tajam, bak sinar api terpancar dari sana. "Setan bule kurang kerjaan!" Tanpa Keysa duga, kedua temannya justru tertawa melihat kemarahannya. Dan hal itu pun lagsung membuat Keysa kian mencak-mencak di tempatnya. "Yaampun, Key! Ada-ada aja sih kamu," ujar Nanda dengan memukul pelan pundak Keysa. Sementara Keysa mencibir malas. "Masih aja ngomongin setan! Dasar orang gila!" Keysa, Nanda dan Sinta serempak menoleh ke belakang kala mendengar perkataan yang jelas saja menyindirnya. Mereka menatap seorang perempuan berambut blonde yang tengah memainkan ponsel tanpa sedikit pun mengangkat kepalanya. Dan entah mengapa, kelas tiba-tiba dibuat hening. "Lo kalau mau halu jangan di sini! Sana pergi jauh-jauh! Akibat kegilaan lo kemarin, Bu Susan marah-marah gak jelas ke kita semua! Mood belajar gue langsung rusak gara-gara orang sinting kayak elo!" timpal perempuan berambut sebahu yang kini menatap Keysa penuh kebencian. Keysa langsung menundukkan kepalanya. Meremas-remas sisi pakaiannya dengan erat. Kedua matanya mulai memanas. Dadanya sakit sekali. Terlebih, banyak dari teman kelasnya kini menatapnya penuh dengan penyalahan "Tau nih! Mana ada setan siang-siang! Lo kalau gak waras setidaknya gak usah nyusahin orang!" Keysa langsung membalikkan tubuhnya. Meneteskan cairan bening yang tengah memupuk di ujung mata. Namun, Keysa segera menghapusnya dengan kasar. Nanda dan Sinta ikut terdiam. Keduanya menarik tangan Keysa untuk segera duduk. Mengusap rambut dan bahu anak itu untuk memberikan kekuatan verbal. Kedua tangan Keysa mengepal erat. Dia kesal setengah mati. Dan tanpa semua sadari, Cahyo terdiam bisu di ambang pintu. Sepasang matanya yang bulat melotot marah ke seluruh penjuru kelas. Ia sama dengan Keysa yang juga tidak bisa berbuat apa-apa. Meskipun ia bisa menampakkan diri dan membuat sakit manusia beberapa hari, namun itu tidak mudah bagi Cahyo. Jika ia nekat melakukan itu, prosesnya untuk menyebrang akan lebih sulit lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD