“Aku difitnah. Aku sama sekali tidak bersalah.”
“Aku hanya sekedar saksi yang sedang berada di tempat kejadian perkara. Pelaku kabur dengan membawa saksi kunci. Meninggalkanku sendiri bersama korban. Karena itu saat warga datang, aku pun dikira bersalah. Dikira aku pelaku pembunuhan,” ucap Damar pada dirinya sendiri.
Delapan setengah tahun kemudian, Damar bebas. Meskipun sudah tidak terkurung lagi, stigma buruk sebagai pelaku kejahatan yang terbukti bersalah tidak bisa dipisahkan darinya.
Abimanyu Damar Buana, lelaki berusia dua puluh delapan tahun keluar dari penjara setelah menjalani masa hukuman kurungan penjara selama delapan setengah tahun. Ia keluar setelah divonis bersalah atas kasus pembunuhan di kota S terhadap seorang pria.
Tubuh kekarnya dulu kini tampak tak berisi karena pengaruh obat-obatan yang dikonsumsinya saat berada di balik jeruji.
Tampak beragam pola tato yang menghiasi tubuhnya, menjadi jejak hidup serba bebas yang pernah dijalaninya sebelum akhirnya terkurung di balik jeruji.
Damar berjalan dengan langkah pasti keluar dari lingkungan penjara, dengan menggendong tas ranselnya yang sudah lusuh. Ia sangat bersemangat karena akan bertemu keluarganya kembali.
Baru saja dia memasuki lingkungan tempat tinggalnya, dia langsung disambut gunjingan warga. Bisikan ibu-ibu terdengar sangat menyakitkan, membuat Damar geram.
“Aku harus sampai di rumah orang tuaku!”
tekad Damar dalam hati
Setelah berjalan beberapa meter dari pos ronda, akhirnya Damar sampai di depan rumah kedua orang tuanya.
"Sepertinya orang-orang rumah ada," ucap Damar dengan senang.
Dengan langkah semangat Damar berjalan ke arah pintu rumahnya. Tapi yang ia lihat selanjutnya adalah hal yang menyakitkan.
Beberapa langkah lagi ia sampai di pintu rumahnya, ayahnya langsung muncul dan menutup pintu itu dengan sangat keras.
BRAK!
Suara pintu itu sangat terdengar sangat keras sekali hingga tetangganya keluar dari rumah mereka.
Selanjutnya gorden dan semua jendela rumah orang tua Damar langsung tertutup. Wilan, ayah Damar menolak kedatangan Damar di rumahnya.
Damar langsung menunduk lesu ia benar-benar tak diharapkan lagi di dalam keluarganya.
“Ini memang salahku. Aku telah mencoreng nama keluarga, aku telah menjadi mantan narapidana. Tak ada lagi yang mengharapkan kehadiranku, lebih baik aku pergi dari sini,”
batin Damar.
Saat ia berjalan menjauhi rumahnya. Para tetangga yang ada di sekitar rumah Damar melempari Damar.
Ada yang melempar dengan air, ada yang melempar dengan botol bekas, ada yang melemparinya dengan batu kecil ada juga melempar nya dengan kertas.
"Untuk apa kemari!"
"Asal kamu tahu Damar! Tak ada lagi nama kamu di kartu keluarga pa Wilan, dasar pembunuh!"
"Iya! Pergi dari sini sampah masyarakat!"
"Pergi dari sini, kami tidak mau ada mantan narapidana!"
Damar sama sekali tak menanggapi kata-kata tetangganya.
Damar memilih hanya diam melewati ucapan-ucapan yang menyakitkan untuknya.
Terhina, itulah yang dirasakan Damar saat itu.
“Ah mungkin mereka benar, aku sudah benar-benar dihapus dari kartu keluarga,” pikir Damar.
Damar pun akhirnya berjalan semakin menjauhi tempat tinggalnya dulu, meski ia tak tahu akan dan harus kemana, ia tetap berjalan tanpa ada uang sepeserpun yang ia bawa.
“Aku tidak mungkin ke rumah temanku yang dulu, karena semua temanku tidak lebih baik dari tetangga-tetanggaku, mereka sudah terlanjur membenciku juga,” Damar membatin.
Karena kelelahan, akhirnya Damar beristirahat di sebuah masjid. Di sana Damar bertemu dengan Angga, anak sepuluh tahun. Seorang anak yatim piatu yang berjualan cilok di gerobak kecil. Angga kecil membuat Damar bersemangat lagi untuk menjalani hidup. Karena saat itu Damar tak ada tujuan Angga mengajak Damar pulang ke rumahnya. Angga tinggal dengan nenek dan kakeknya yang sudah lansia.
Saat menginap di rumah Angga, Damar mendapatkan tawaran pekerjaan menjadi kuli bangunan. Ia langsung menerima pekerjaan itu tanpa ada keraguan. Meski ia tak punya pengalaman. Damar sangat bersemangat untuk bekerja.
Karena Damar bekerja dengan sangat baik, Damar akhirnya diajak ke kota S untuk menjadi pekerja proyek pembangunan sebuah hotel bintang lima. Hotel milik Reno Devazziela Zain, konglomerat di kota S.
Damar akhirnya menyewa kamar kos di dekat proyek itu. Damar selalu ke pasar tradisional setiap akhir pekan untuk membeli kebutuhan makannya di kosan. Damar bertekad ia harus berhemat dan banyak menabung. Ia akan membuktikan pada kedua orang tuanya dirinya sudah berubah.
Suatu hari, di pasar tradisional Damar melihat seorang gadis berkerudung merah yang menarik perhatiannya. Gadis cantik, ramah dan mempunyai senyuman yang manis membuat hatinya terasa bergetar. Dengan segala usaha yang ia tempuh, akhirnya Damar bisa chatting dengan gadis berkerudung merah itu. Gadis itu dikenal Damar sebagai Ella Ukhti, teman satu-satunya di akun facebooknya.
Ella Ukhti itu sebenarnya adalah Keyra Devazziela Pangkey, anak dari Reno Devazziela Zain.
Damar mempunyai semangat hidup lebih besar dari Ella Ukhti yang ternyata tetap mau berteman dengannya walau ia tahu masa lalu Damar yang sangat kelam.
Beberapa kali Keyra mengontrol pekerjaan proyek hotel, tapi Damar tak pernah menyadarinya.
***
Saat pembangunan hotel selesai, ternyata hotel itu dihadiahkan Reno untuk Keyra.
Century hotel, itulah nama hotel milik Keyra Devazziela Pangkey.
Keyra membuka lowongan pekerjaan besar-besaran untuk hotelnya. Berbekal ijazah SMA yang dikirimkan adiknya Mila, Damar pun melamar pekerjaan sebagai housekeeper di hotel itu. Damar beruntung, adiknya masih bisa dia andalkan.
Ternyata tak mudah bagi Damar diterima bekerja di hotel itu. Damar harus menghapus semua tato di tubuhnya karena itu adalah salah satu syarat yang diminta oleh Keyra pada Althafandra, kepala bagian penerimaan pegawai baru.
Karena kegigihannya Damar akhirnya menghapus tato dan ia bisa bekerja di hotel milik Keyra. Damar masih belum sadar bahwa hotel itu milik Ella Ukhti, teman di dunia mayanya yang bisa membuat ia semangat hidup.
Hubungan Damar dan Keyra saat sebagai Ella Ukhti semakin dekat, bahkan mereka beberapa kali jalan bersama. Karena penampilan Keyra saat menjadi Ella Ukhti selalu sederhana, Damar menyangka Keyra adalah asisten rumah tangga.
Damar tak melupakan orang tuanya, beberapa kali Damar pulang ke rumahnya, tapi ia selalu mendapatkan penolakan.
***
Hubungan Damar dan Keyra semakin dekat. Damar diminta oleh Keyra untuk segera melamarnya, karena ia akan segera dijodohkan oleh Reno.
Damar pun dengan semangat mengumpulkan tabungan untuk melamar Keyra, tanpa Tahu Keyra adalah anak dari Reno.
Lambat laun Damar pun mengetahui kebenarannya, kalau Ella Ukhti adalah Keyra, General Hotel Manager tempat ia bekerja, bosnya sendiri.
Damar menyangka Keyra akan menjauhinya, tapi ternyata tidak. Keyra juga ternyata sudah nyaman dengan Damar dan ia tetap meminta Damar melamarnya.
Reno menolak keras permintaan Keyra yang ingin menikah dengan Damar yang hanya housekeeper hotel milik Keyra, anaknya. Bagi Reno, Damar tak sederajat dengannya.
Keyra yang tetap bersikukuh ingin menikah dengan Damar pun akhirnya menikah tanpa restu Reno.
Pernikahan Damar dan Keyra diselenggarakan di KUA tanpa kehadiran orang tuan Keyra, juga orang tua Damar yang belum bisa menerima Damar kembali. Tak ada yang tahu perihal pernikahan mereka.
Damar mengambil keputusan luar biasa dalam hidupnya. Menikahi anak dari konglomerat yang terkenal angkuh dan arogan.
Diam-diam, keraguan merasuki Damar.
"Apakah ini jalan yang tepat?"