Dipanggil ke Rumah Mertua

1177 Words
Sesampainya di kamar, Damar meminta Keyra memijatnya. “Bisakah kamu memijatku?” Tanya berusaha tenang. Menyembunyikan keraguan nya. “Tentu saja bisa,” jawab Keyra tersenyum. Senyum yang membuat d**a Damar menghangat. Sebenarnya Damar juga merasa canggung, bagaimana tidak, Damar yang dulu hanya bekerja sebagai housekeeper di hotel milik Keyra, kini statusnya adalah seorang istri dari Keyra, seorang General Manager Century Hotel sekaligus pemilik hotel itu. Damar berusaha mencairkan suasana di antara ia dan Keyra. Damar sekarang merasa jauh tenang dari sebelumnya. Setidaknya dengan setelah Reno datang ke apartemennya akan membuat ia ada celah untuk bisa dekat dengan ayah mertuanya itu. Damar tersenyum saat melihat Keyra sedang mencari minyak pijat yang akan digunakan untuk memijatnya. Bagi Damar, Keyra adalah bentuk terindah dari baiknya Allah SWT padanya. Keyra adalah gadis sholehah, cantik, cerdas dan kaya. Dan Setelah menikah Damar menikah ia baru melihat rambut Keyra yang indah dan tubuh Keyra yang tak pernah dipamerkan sama sekali. Saat Damar melihat dengan pandangan kosong ke arah Keyra, tiba-tiba Keyra berbalik badan. “Jangan memandangku seperti itu mas,” ujar Keyra sambil berjalan ke arah Damar, Damar yang saat itu sudah duduk di tepi tempat tidur pun menjawab, “memangnya kenapa? Aku suamimu, apa ada yang salah?” tanya Damar sambil mengerutkan keningnya. Kini Keyra sudah duduk disamping Damar. “Tidak sih, hanya saja aku semakin merasa bermimpi bisa menikah denganmu mas,” ujar Keyra. Damar tersenyum sambil membelai rambut Keyra. "Seharusnya aku yang mengatakan itu," ucap Damar. Keyra tersenyum. “Mas,” ucap Keyra. "Iya. Kenapa?” tanya Damar pada Keyra yang saat itu mulai menundukkan kepalanya. “Jika nanti kita libur, kita temui orang tuamu ya mas. Ayah kan sudah merestui kita, aku juga ingin kita dapat restu dari orang tua mas,” pinta Keyra sambil melihat ke arah Damar. Damar langsung tersenyum dan menganggukan kepalanya. “Jadi kapan ini, mas dipijatnya? tanya Damar pada Keyra. “Sekarang,” jawab Keyra dengan semangat. "Tapi aku tak bisa menjanjikan pijatanku akan membuatmu nyaman ya mas,” ujar Keyra. “Iya. Tak masalah,” jawab Damar sambil tersenyum. Damar membuka pakaiannya, di waktu yang bersamaan ponsel Keyra berdering. “Mas, aku angkat telepon dulu ya? takut telepon penting,” ucap Keyra. Damar pun mengangguk. Dan membiarkan Keyra berjalan menjauh darinya. Damar melihat Keyra berjalan menjauhi tempat tidur dan ia berjalan ke arah tas miliknya yang tadi di bawa ke KUA. Damar memperhatikan saat istrinya itu mengambil ponselnya dan saat Keyra melihat ke arah layar ponsel. Damar melihat Keyra memberikan kode padanya. “Ayah yang menelpon,” ucap Keyra pelan. “Cepat angkat,” ujar Damar. Keyra pun mengangguk dan mulai menerima panggilan dari ayahnya. Damar kembali duduk di atas tempat tidur dan kembali memakai pakaiannya. Dan Keyra mendekati Damar dan duduk di samping Damar. “Oh jadi meeting ayah tidak jadi dan ayah minta aku dan Mas Damar ke rumah sekarang?” tanya Keyra pada Reno dan dapat didengar jelas oleh Damar. Keyra melihat ke arah Damar. Keyra menyalakan loudspeaker agar Damar dapat mendengar obrolannya dengan Reno. “Iya sayang. Tadi kan ayah belum sempat ngobrol sama menantu ayah, mama Maudy juga ingin bertemu denganmu dan Damar untuk mengucapkan selamat, ” ucap Reno dari Seberang telepon. "Jadi bagaimana? apa kamu dan Damar bisa dan mau ke rumah?” tanya Reno. Keyra melihat ke arah Damar dan Damar mengangguk. "Baik ayah, kami akan segera ke sana!” "Ayah tunggu,” ujar Reno. Panggilan pun terputus. Damar melihat ke arah Keyra. "Kalau kita berangkat ke rumah ayah, aku gak jadi mijat kamu dong mas,” ucap Keyra. "Tak apa sayang.” “Kita bisa melanjutkannya saat malam tiba. Sepertinya akan jauh lebih menyenangkan,” ucap Damar kemudian. Keyra langsung tersipu. "Ya sudah, kita berangkat sekarang, jangan sampai membuat ayah mertuaku menunggu!” seru Damar sambil bangkit dari duduknya. "Semangat sekali,” ledek Keyra. "Tentu saja!” jawab Damar. Damar dan Keyra pun mengganti pakaian mereka, karena saat itu Damar dan Keyra hanya memakai pakaian rumahan. Damar mengambil pakaian yang telah dibelikan oleh Keyra sebelumnya, pakaian Damar sangat banyak, satu lemari dan lemari pakaian itu empat pintu. Semua pakaian itu bermerk dan sangat cocok sekali pada badan atletis Damar. Badan Damar yang kekar sebelum masuk penjara kini kembali lagi, berkat Keyra. Damar sangat terbantu dengan adanya Keyra yang kini telah sah menjadi istrinya. “Kamu sangat tampan dan gagah mas, mustahil jika ayah tidak menerimamu," puji Keyra. "Kamu berlebihan sayang." "Tapi, terima kasih atas pujiannya nyonya Abimanyu Damar Buana!” seru Damar. Keyra mengangguk. “Ayo kita segera berangkat!” ajak Damar sambil menggandeng tangan Keyra. Damar dan Keyra pun keluar dari apartemen mereka guna menemui Reno. Sesampainya di Kediaman Reno Devazziela. Damar merasa takjub dengan kediaman Reno yang sangat luas dan canggih, gerbang yang terbuka otomatis, koleksi mobil yang cukup banyak, tempat cuci mobil pribadi, punya lift di dalam rumah dan hal lainnya membuat Dar tak bisa berkata apa-apa. Saat Damar dan Keyra masuk ke dalam rumah Maudy langsung menyambut hangat mereka berdua. "Oh jadi ini Damar yang ayah katakan?” tanya Maudy pada Keyra sambil melirik ke arah Damar. "Iya bu," jawab Keyra. Damar langsung mencium tangan Maudy, ibu sambung Keyra yang terlihat sangat ramah dan baik sekali. “Mereka sudah datang?” tanya Reno yang masuk ke dalam ruang tamu. Damar menundukan sedikit kepalanya pada Reno sebagai tanda hormat pada ayah mertuanya itu. “Key, ayah ingin bicara secara pribadi dengan suamimu. Ini soal laki-laki,” ujar Reno seakan minta ijin pada Keyra. "Tentu saja boleh ayah. Ayah harus mulai akrab dengan menantu sendiri bukan?” tanya Keyra. Reno menganggukan kepalanya sambil tersenyum pada Keyra, putrinya. Anak semata wayangnya. Kini Damar sudah ada di ruang kerja Reno. Sejak ia masuk, Damar hanya berdiri di depan meja Reno, ia sama sekali tidak di persilahkan duduk oleh Reno yang kini sedang menatapnya dari kursi kerjanya, Reno memperhatikan Damar yang menundukkan kepalanya. Ia melihat Damar dari ujung kaki hingga ujung rambut berkali-kali. Hingga akhirnya Reno menyunggingkan senyumnya. "Aku hanya menerima pernikahanmu dengan Keyra hanya di depan Keyra saja,” ucap Reno datar, Damar sedikit mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Reno. "Jadi jangan harap aku akan menganggapmu sebagai menantuku dasar orang hina!” bentak Reno. Sakit! itulah yang dirasakan oleh Damar saat ini. Reno mulai bangkit dari kursi kebesarannya dan mulai mendekati Damar , lalu berjalan mengeliling Damar. "Aku sudah tahu semua tentangmu.” Damar menunduk. “Pembunuh!” "Masuk Penjara." "Keluar dari penjara dan dibuang oleh keluarga.” "Jadi kuli bangunan.” "Jadi buruh proyek.” "Jadi Housekeeper Hotel dan sekarang menjadi istri dari General Manager hotel sekaligus pemilik hotel kamu bekerja?” Reno menghentikan langkahnya dan menatap tajam ke arah Damar. “Nilai kamu minus!” “Tak ada nilai bagusnya.” "Pikirkan apa yang harus saya banggakan atas dirimu!” bentak Reno tepat di hadapan wajah Damar. Damar langsung memejamkan matanya. Tak ada yang salah dengan kata-kata Reno. Damar menerima karena memang itu kenyataan yang terjadi. Tak ada gunanya jika ia menyebut dia bukan seorang pembunuh karena dalam persidangan ia sudah divonis bersalah. Tiba-tiba Reno mengangkat dagu Damar. "Lihat wajahku!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD