Peringatan Keras

1016 Words
Tiba-tiba Reno mengangkat dagu Damar. "Lihat Wajahku!” seru Reno. Damar menurut. Kini wajah tampan Damar melihat ke arah wajah Reno yang tegas dan menakutkan. “Jangan sampai orang lain tahu, kalau kamu sudah menikah dengan Keyra. Jika kamu ingin tetap di sisi putri kesayanganku.” “Kamu mengerti?” tanya Reno sambil melebarkan matanya. Damar tak menjawab. Keyra adalah semangat hidup baginya dan yang paling penting Keyra lah yang berhasil membawa ia bangun dari keterpurukan. “Kamu mengerti, tidak?!” Teriak Reno. Karena Damar tak menanggapi kata-katanya. Damar mengangguk. Dia tak akan bisa jauh dari Keyra. Tak Bisa. Reno melepaskan tangannya dari dagu Damar. “Aku kira selain kamu orang hina kamu juga tuli,” ucap Reno sambil meninggalkan Damar menuju meja kerjanya. Damar melihat gerak gerik Reno. "Aku tak sudi dipanggil ayah mertua olehmu, jadi panggil saya Tuan," ujara Reno dengan menekan kata Tuan di ujung kalimatnya. Reno menyemprotkan cairan pembasmi kuman yang ada di atas meja kerjanya pada kedua telapak tangannya. "Aku seharusnya jaga jarak dari orang rendahan sepertimu,” ledek Reno sambil melirik ke arah Damar yang sudah menundukan kepalanya kembali. Damar tak tahan. Sebenarnya ia ingin sekali pergi dari sana, meninggalkan Reno, ayah mertua yang sangat kejam baginya. Tapi Damar tak akan melakukan itu. “Akan aku buktikan bahwa aku bukan pembunuh, aku bisa di terima di keluargaku lagi, dan aku akan menunjukkan bahwa aku akan selalu membuat Keyra ku bahagia,” batin Damar. “Kata Keyra kamu akan menjadi asisten pribadi Keyra ya?” tanya Reno. Damar mengangkat kepalanya lalu menganggukan kepalanya. "Pintar juga anakku itu, menjadikanmu asisten agar bisa selalu dekat denganmu,” Reno memuji Keyra. "Tapi, ingat. Meski kamu bisa terus dekat dengan Keyra, kamu harus tahu batasan. Jangan sampai orang lain tahu kalau kamu telah menikah dengan Keyra!” "Kalau ada satu orang yang tahu, aku pastikan kamu akan menghilang dari kehidupan putriku.” "Kamu camkan itu!” Damar kembali mengangguk. “Keluar dari ruanganku dan jangan pakai lift!” seru Reno sambil mengibaskan tangannya. Damar pun keluar ruangan Reno yang sangat membuat ia geram setengah mati. Kini Damar berjalan ke arah tangga. Damar hanya bisa menghembuskan nafasnya beberapa kali, karena saat di ruangan Reno susah sekali ia bernafas. Sesampainya di lantai satu. Damar langsung duduk di ruang tamu, karena ia tak tahu istrinya dimana. Setelah menunggu, Keyra menghampiri Damar. “Sudah ngobrol dengan ayahnya?” tanya Keyra yang duduk di sofa yang sama dengan Damar. “Sudah.” “Ya sudah, kita pulang sekarang saja yuk, soalnya ibu ada acara di luar dan ayah akan ke kantor. Kita makan di apartemen saja, biar kamu nyaman,” ucap Keyra pengertian. "Baiklah,” jawab Damar singkat. Di dalam mobil.l Keyra bertanya pada Damar apa yang dibicarakan ayahnya padanya. “Apa yang dikatakan ayah?” Tapi Damar mengatakan apa yang tidak dikatakan oleh Reno. "Aku di suruh untuk menjadi suami yang baik untuk istri hebat sepertimu sayang,” ucap Damar sambil menyetir. Damar melirik ke arah Keyra dan tersenyum pada istrinya itu. “Hebat apanya? Aku tak merasa hebat sama sekali,” ujar Keyra tak senang disebut hebat. "Kamu adalah anak ayah Reno, yang semua orang tahu. Ayah Reno adalah pengusaha sukses dan pemilik Devazziela Group, perusahaan besar di kota ini,” “Kamu juga punya hotel sendiri dan kamu adalah pimpinannya.” "Aku juga insecure kalau mengingat itu semua," ucap Damar sadar diri. "Please mas! jangan katakan itu lagi.” “Aku tidak suka ya kamu membahas hal itu.” “Yang terpenting sekarang aku sekarang adalah istri mas dan harus berbakti pada mas,” ucap Keyra bijak sambil tersenyum. Damar membalas senyuman Keyra. “Iya," jawab Damar. Kamu begitu baik Key, aku tak akan membiarkan aku dan kamu terpisah, untuk kali ini aku akan mengalah dulu pada tuan Reno, batin Damar. Sesampainya di apartemen. Keyra mengajak Damar makan di meja makan. “Mas ini masakan buatan aku loh," ucap Keyra bangga sambil menghidangkan sup buatannya di hadapan Damar. "Oya?” tanya Damar seolah tak percaya. “Iya. Ayo cicipi,” pinta Keyra. Damar pun mulai mencicipi sup iga sapi buatan Keyra, "Bagaimana rasanya?” tanya Keyra menunggu penilaian Damar "Enak,” jawab Damar berbohong. Sebenarnya sop itu terasa hambar, kurang sedikit garam. “Benarkah?” tanya Keyra, "Biar aku cicipi,” pinta Keyra. Keyra mencicipinya dan saat ia merasakan sup buatannya. Keyra mengerutkan keningnya sambil melihat ke arah Damar. "Mas berbohong. Ini rasanya hambar,” ujar Keyra. “Sudah ah jangan dimakan!” seru Keyra berusaha mengambil mangkuk sup yang ada di tangan Damar. "Tidak Key, kamu bilang ini kan sup untukku.” "Tapi kenapa mas bilang enak, hambar gitu rasanya,” ucap Key sambil melipat tangannya di d**a. "Katanya berbohong untuk menyenangkan hati istri itu hukumnya boleh, sayang.” “Jadi jangan marah lagi, kamu nanti bisa coba masak lagi nanti akhir pekan,” ucap Damar memberi saran. "Akhir pekan?” "Iya. Saat hari kerja aku yang akan memasak untukmu,” ucap Keyra. "Bagaimana bisa? aku ini kan istrimu mas?" Keyra tak terima. “Aku ingin berbakti padamu juga di rumah,” ucap Keyra kemudian. Damar pun menjelaskan pada Keyra, bahwa sebenarnya tugas istri hanya dua, yaitu melayaninya dan mengurus anak. Dan karena sekarang Keyra menjadi seorang pimpinan sebuah hotel, maka Damar yang akan mengerjakan pekerjaan rumah. “Ya sudah kalau begitu. Kamu akan ku latih menjadi penggantiku,” ucap Keyra kemudian. "Karena setelah aku punya anak nanti, aku akan memilih mengurus anak kita,” ucap Keyra enteng. "Tapi Key, tak semudah itu.” “Aku akan menjadi asisten pribadi dan aku ingin semua orang tidak mengetahui pernikahan kita. Aku tidak mau reputasimu menjadi buruk hanya karena kamu menikah denganku yang hanya seorang pegawai,” jelas Damar. Keyra menggelengkan kepalanya, menandakan bahwa ia tak setuju dengan keinginan Damar. Tapi Damar terus meyakinkan Keyra agar ia bisa menerima itu. “Ini hanya sementara Key, semoga dengan seiringnya waktu orang tuaku bisa menerimaku kembali dan ayahmu bisa menerimaku juga sebagai menantunya,” ucap Damar kemudian. Akhirnya Keyra mengangguk dan Damar begitu lega melihatnya. “Aku akan kehilanganmu jika aku tak menuruti kemauan ayahmu, maafkan aku,” Damar membatin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD