"Eh biarin kali, mimpi itu jangan tanggung-tanggung kali. kalau Damar jadi suami nona Keyra kan kita bisa naik gaji,” ucap Aldi percaya diri. Damar hanya bisa tersenyum saat mendengar celoteh Aldi.
“Eh yang diomongin malah senyum-senyum!” seru Aldi kemudian pada Damar.
Tiba-tiba resepsionis masuk ke ruangan itu. Ia meminta Damar ke ruang kerja Keyra.
Damar pun dengan langkah cepat meninggalkan ruang housekeeper itu. Setelah pamit pada teman-temannya.
"Meetingnya dijadwalkan satu jam, tapi kenapa baru setengah jam sudah selesai?" pikir Damar.
Damar berjalan ke arah Lift dan langsung menuju lantai tiga.
Sesampainya di lantai tiga, ia mengetuk pintu dan suara dari dalam meminta Damar untuk segera masuk. Saat Damar mendengar suara itu, Damar mulai sadar bahwa yang di dalam bukalah Keyra, istrinya.
Sudah masuk ke dalam ruang kerja Keyra. Damar melihat mertuanya sudah duduk di kursi kerja Keyra, tengah menatapnya dengan tatapan sinis.
“Saya ingin membicarakan hal penting padamu, mendekatlah,” pinta Reno.
Damar perlahan mendekat ke dekat meja kerja Keyra. Ia hanya berdiri tak berani untuk duduk sebelum Reno yang memintanya duduk. Damar akan patuh pada Reno, ia tak mau dipisahkan dengan Keyra, dia sadar dia tak punya kekuatan apapun seperti yang dimiliki Reno yang dapat menendangnya kapan saja.
“Duduklah,” pinta Reno dengan suara pelan. Damar menundukan kepalanya dan ia langsung duduk di kursi, tepatnya di seberang Reno.
“Saya ingin Keyra mempunyai anak darimu,” ucap Reno dan kalimat Reno itu membuat Damar melebarkan matanya, tak menyangka seorang Reno Devazziela Zain yang kemarin menghinanya habis-habisan meminta Keyra hamil dan darinya. Suaminya.
Damar melihat Reno menyandarkan punggungnya, ia sungguh tak tahu pikiran Reno saat itu. Sangat tidak tahu, ia tak bisa menebak apa yang ada dipikiran mertuanya itu.
Apa ayah mertua kerasukan ya? pikir Damar.
"Kamu jangan salah paham dengan perintahku ini.”
"Tapi ini tak main-main,” ucap Reno kemudian.
Damar semakin menegakkan tubuhnya siap mendengar apa yang akan dikatakan oleh Reno selanjutnya.
"Kamu tahu sendiri bukan, kalau Keyra itu adalah putri saya satu-satunya, anak semata wayang, anak tunggal, saya tak punya anak lain selain Keyra.”
“Jadi kamu bisa simpulkan bukan? saya tak punya penerus selain Keyra dan anak-anaknya kelak.”
"Jadi saya ingin Keyra seger punya anak. Karena kamu adalah suami dari anak saya, saya punya penawaran menarik untukmu!” seru Reno.
Damar melihat Reno menyunggingkan senyumnya.
"Reno menggeser sebuah map di hadapannya hingga dekat dengan Damar.
"Baca, pahami, tandatangani.”
“Saya tidak menerima pertanyaan, sanggahan dan penolakan!” seru Reno sambil menatap tajam ke arah Damar.
Damar membuka map itu dan ia mulai membaca isinya.
SURAT PERJANJIAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini:
Nama: Abimanyu Damar Buana
Berjanji bahwa saya akan menceraikan istri saya KEYRA DEVAZZIELA PANGKEY dan tak akan menuntut apapun padanya, jika dalam SETAHUN istri saya belum juga hamil.
Saya membuat pernyataan ini dalam keadaan sehat walafiat, sehat jasmani dan rohani.
Yang membuat pernyataan
(Materai 10000)
Abimanyu Damar Buana.
Damar menatap ke arah Reno dengan tatapan mata iba.
Hamil bukanlah urusan ia, itu kehendak-Nya. Ingin sekali rasanya Damar memaki-maki Reno saat itu. Tapi jangankan memaki, bertanya saja ia dilarang.
Akhirnya Damar hanya bisa menahan sesak di dadanya, ia pesimis. Kenapa Reno begitu kejam padanya dan pada Keyra.
Bagaimana jika Keyra tak hamil dalam waktu satu tahun? Tapi bukankah itu dapat diusahakan? batin Damar menenangkan dirinya.
“Kenapa diam saja?”
Suara Reno yang tegas membuat Damar mengerjapkan matanya.
"Tanda tangan suratnya sekarang atau kamu akan menghilang hari ini juga dari kehidupan putriku?!” seru Reno.
“Saya akan tanda tangan,” jawab Damar cepat.
Damar mengambil pulpen di atas meja kerja Keyra dan ia menggenggam pulpen itu sambil memejamkan matanya.
“Semoga ini adalah yang terbaik,” batin Damar.
Damar membuka mata nya dan dengan berat hati ia menandatangani surat perjanjiannya itu diatas materai. Surat itu punya kekuatan hukum karena bermaterai.
Damar melihat Reno yang memasang wajah datar. Setelah Damar menandatangani surat itu, Damar melihat Reno memeriksa suratnya sekilas dan menutupnya kembali.
“Jika Keyra belum juga hamil di tanggal dan bulan yang sama tahun depan, berarti kamu akan menghilang selamanya dari kehidupan Keyra! seru Reno sambil bengkit dari duduknya,
"Surat ini tentu saja saya yang pegang dan jangan sampai Keyra tahu tentang ini. Kamu mengerti!" seru Reno. Damar mengangguk.
Reno berjalan ke arah ke arah pintu kerja Keyra dan saat ia sudah di depan pintu.
"Kamu tidak mau membukakan pintu untuk saya?” tanya Reno pada Damar.
Dengan langkah cepat Damar mendekati pintu dan membukakan pintu untuk Reno.
Damar melihat keluar dari ruang kerja Keyra dengan tenangnya sementara Damar memegangi kepalanya karena merasa pusing.
“Ternyata jadi menantu konglomerat membuat hidupku semakin merasa tak tenang,” gumam Damar.
Setelah merasa hatinya sedikit lebih tenang, Damar pun kembali ke restoran hotel yang ada di lantai dasar, karena sebentar lagi Keyra akan selesai meeting dengan relasi bisnisnya.
Saat Damar baru tiba di restoran itu, di waktu yang sama Keyra keluar bersama relasi bisnisnya. Damar melihat relasi bisnis Keyra menundukan kepalanya pada Keyra menandakan bahwa istrinya itu sangat dihormati dan disegani.
Damar langsung menghampiri Keyra yang tengah menatapnya.
Setelah berada di dekat Keyra, Keyra menyerahkan berkas dari tangannya kepada Damar.
Keyra benar-benar bersikap layaknya seorang bos pada bawahannya, dan Damar suka itu.
Damar mengekori Keyra. Ia tetap berjalan di belakang Keyra dan tak berani berjalan sejajar dengan istrinya itu.
Damar telah meyakinkan diri akan kuat menjalani peran ini.
Sesampainya di lantai tiga.
Suasana di lantai tiga saat itu sangat sepi.
Damar berjalan dengan Keyra ke arah ruang kerja Keyra.
Saat sudah di depan pintu, Keyra langsung menarik tangan Damar dan membuat ia masuk ke dalam ruangannya secara tiba-tiba.
Damar kini sudah ada di ruang kerja Keyra dan melihat Keyra mengunci pintu ruang kerjanya.
“Kenapa pintunya dikunci?” tanya Damar heran.
Damar langsung dipeluk oleh Keyra.
"Rasanya aku tak akan kuat seperti ini mas, ini baru sehari dan aku merasa tersiksa,” ucap Keyra lirih. Damar merasakan bahwa Keyra saat itu menangis dalam pelukannya.
Damar tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa bisa membalas pelukan Keyra dan mengusap punggung istrinya itu hingga Keyra benar-benar tenang.
Berapa saat kemudian. Damar meminta Keyra duduk di sofa. tangan Damar tetap digenggam erat oleh Keyra.
Sekarang sepasang suami istri itu sudah duduk di sofa. Keyra menyandarkan kepalanya ke pundak Damar sedangkan tangannya berpegangan erat dengan Damar.
Damar mendengar keluh kesah Keyra. Keyra bilang bahwa ia tak nyaman memperlakukan Damar sebagai bawahannya.
"Apa mas tidak merasa aku keterlaluan? membuat mas berjalan di belakangku?” tanya Keyra sambil sedikit melirik ke arah Damar.
"Tidak sayang. Ini juga untuk kebaikan kita.”
"Kamu harus menguatkan diri lagi ya. Yang mesti kamu ingat, jika di apartemen kamu dan aku adalah suami istri.”
"Sudah hapuslah air matamu ini, nanti terlalu lama menangis bisa sembab dan buat orang lain heran melihatnya,” ucap Damar sambil membuat Keyra duduk berhadapan dengannya. Damar menghapus air mata Keyra dengan tisu yang ada di depannya.
“Kamu harus kuat!" seru Damar.
"Mas besok mulai jadi sekretaris pribadiku juga ya!”
Damar melebarkan matanya.