"Okay class, don't forget to give your homework tomorrow morning in my table." Mrs Oline mengakhiri pertemuan di math class begitu bel pergantian kelas berdering dan membuat teman-teman Lily serentak menghela napas lega.
Tapi tidak ada satupun murid yang berani keluar sebelum Mrs Oline terlihat menyelesaikan kalimatnya.
Mrs Oline kemudian membenarkan letak kacamatanya. "Tomorrow morning, remember?"
"Alright, Mrs!" Setidaknya itulah jawaban dari teman-teman Lily sebelum Mrs Oline benar-benar keluar dari kelas dan disusul dengan teman-temannya yang lain juga ikut keluar kelas.
Mereka semua hanya diberi waktu lima belas menit untuk berjalan ke kelas berikutnya atau ke loker masing-masing untuk mengganti buku sebelum masuk ke kelas berikutnya.
"Aku selalu membenci guru seperti Mrs Oline." Desis Sheina ketika mereka berdua berjalan di lorong loker dan kemudian berhenti di loker milik mereka masing-masing yang saling bersebelahan. "Mengumpulkan tugas matematika besok pagi, padahal dia memberi lima puluh soal isian pada kita. Aku tidak tahu lagi otaknya itu terbuat dari apa."
Lily hanya tertawa kecil dan menaruh buku matematikanya kedalam loker sebelum kemudian mengambil buku untuk pelajaran seni rupa hari ini.
"Kira-kira pelajaran seni hari ini kita akan membuat apa, ya?" Tanya Lily sambil menutup lokernya dan kemudian berjalan beriringan dengan Sheina menuju ke studio.
Sheina mengedikkan bahunya. "Bisa saja kita disuruh menggambar seorang model nyata."
"Memang pernah?"
Sheina mengangguk. "Pernah dan kau tahu siapa modelnya?"
"Siapa?!" Tanya Lily dengan semangat. "Sayang sekali ketika itu aku belum bersekolah disini."
"Mr Dean yang menjadi model!" Sheina menepuk punggung Lily dan kemudian tertawa terbahak-bahak. Sedangkan Lily langsung memasang wajah datarnya.
"Mr Dean? Kenapa dia?"
"Kenapa? Kau masih tanya kenapa?" Sheina menatap kearah Lily dengan tidak percaya. "Tentu saja Mr Dean begitu tampan walaupun dia hanya duduk. Apalagi jika dia tersenyum. Oh astaga... kau beruntung karena pernah dicium Mr Dean pada saat itu."
"Shein!" Lily mencubit lengan Sheina karena gadis itu berbicara terlalu keras dan kemudian Sheina merintih kesakitan.
"Aw! Iya-iya..." Sheina mengusap lengan kanannya. "Dasar gadis kasar."
"Biar saja."
"Biar tidak ada yang berani menciummu lagi?" Goda Sheina.
"Astaga, Shein!" Lily sedikit berlari mengejar Sheina yang tertawa-tawa sambil mendorong pintu ruang seni. "Kau ini benar-benar menyebal –"
Ucapan Lily sontak terputus begitu dia menginjakkan kaki di ruang seni dan ada Dean disana.
Berdiri didepan panggung kecil ruang seni dengan tatapan yang mengarah lurus kearahnya.
Sheina sempat menghentikkan tawanya ketika melihat Dean yang langsung mengarahkan tatapannya pada Lily tidak melepaskan tatapannya dari Lily dan Lily yang langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
"Sebaiknya kita duduk dibelakang." Sheina langsung menarik lengan Lily dan Lily mengikutinya.
Kursi ruang seni ditata seperti kursi bioskop. Yang mana semakin duduk di kursi belakang, maka kalian akan duduk ditempat yang lebih tinggi.
Namun di ruang seni ini hanya ada enam tingkatan saja dan Lily duduk di kursi paling belakang dengan Sheina dan beberapa temannya di kelas seni.
"Oh, hai british girl!"
Lily sontak menoleh dengan kening berkerut begitu mendapati lelaki dengan rambut pirang dan kamera yang dikalungkan di leher lelaki yang duduk disampingnya ini.
"Aku tidak menyangka kau mengambil kelas seni." Tambah lelaki itu.
"Eum... apakah kita saling mengenal?" Tanya Lily lamat-lamat.
Lelaki disampingnya itu berkedip tidak paham beberapa kali, lalu kemudian tertawa kecil. "Kita ini sekelas! Kau masuk di kelas pertama kali saat pelajaran Mr Dean bukan?"
Lily makin memperdalam kerutan di dahinya dan kemudian dia teringat dengan suara lelaki disampingnya ini yang familiar dan sekilas menatap wajahnya pada saat itu.
Sekarang Lily ingat, lelaki disampingnya ini adalah teman sekelasnya yang memanggilnya dengan panggilan british girl untuk pertama kalinya.
Panggilan yang Lily benci.
"Kau sudah ingat, british girl?"
"Ah... ya. I remember you." Lily tersenyum canggung. "Tapi jangan panggil aku british girl lagi."
Lelaki berambut pirang ini kemudian tertawa kecil. "Kenapa? Karena kau tidak memiliki aksen british dalam nada bicaramu padahal kau orang Inggris?"
"Kau sudah tahu jawabannya." Lily menganggukkan kepalanya. "Dan jangan tanya apa alasannya. Karena alasannya panjang dan aku malas menjelaskannya."
"Okay." Lelaki disampingnya itu kemudian mengangguk dan meraih kameranya.
Lily terdiam, Sheina sudah asyik mengobrol dengan teman sebelah kanannya dan kini Lily tidak tahu harus apa sambil menunggu kelas yang akan dimulai dalam lima menit lagi.
"Aku tidak pernah melihatmu ketika di kelas." Ucap Lily. Dia tidak tahu kenapa dia bisa memulai obrolan dengan lelaki disampingnya ini.
"Dylan memang jarang terlihat di kelas kita." Tiba-tiba saja Sheina menyahut. "Dylan terlalu sibuk mengambil gambar untuk klub fotografi dan majalah sekolah. Buka begitu, Dylan?"
Dylan –lelaki berambut pirang disamping Lily itu tertawa kecil. "Kau yang paling mengerti aku, Shein."
"Tentu saja!" Sheina menjentikkan jarinya dan kemudian dia dan Dylan saling tertawa. Membuat Lily yang ada di tengah-tengah mereka ikut tertawa kecil.
"Kalian berdua sudah akrab sekali, ya?" Tanya Lily.
"Siapa di sekolah ini yang tidak akrab dengan Sheina?" Dylan balas bertanya sembari mengerling pada Sheina. "Nah, aku Dylan. Kita belum berkenalan dari tadi."
"Lily." Lily kemudian menyambut uluran tangan Dylan.
"Attention, please!"
Lily dan dua puluh tujuh siswa di kelas seni langsung fokus mengahadap keatas panggung kecil yang ada Dean berdiri disana sambil mengenakan kemeja berwarna putihnya.
"Aku disini menggantikan Mr Henri yang tidak bisa mengajar pada hari ini karena dia harus menghadiri pertemuan penting hari ini." Dean kemudian mengedarkan pandangannya kesekeliling kelas seni. Memperhatikan muridnya satu persatu. "Dan hari ini aku akan mewakili Mr Henri untuk menyampaikan berita ini."
Lily sedari tadi hanya diam memperhatikan Dean yang menjelaskan alasan kenapa Dean ikut ambil andil didalam kelas ini.
Lily menghela napasnya. Dean ketika mengajar dan ketika berdua dengan Lily begitu berbeda. Ketika didepan muridnya dan mengajar, Dean begitu berwibawa, terlihat serius, namun terkadang juga mengeluarkan candaan.
Dean bahkan terlihat seperti tidak terlalu menganggap Lily karena banyak siswa lain yang harus dia perhatikan. Dean benar-benar tidak membawa hubungan mereka dalam pekerjaannya dan itu membuat Lily mengusap wajahnya ketika ingatannya ketika berciuman dengan Dean kembali melintas di kepalanya.
"Kelas seni akan menyumbangkan drama musical untuk pentas seni bulan depan."
"Bulan depan?!"
Lamunan Lily langsung buyar ketika Sheina sedikit berteriak. "Ada apa, Shein?" Tanya Lily kemudian.
"Ada pentas seni bulan depan." Jawab Dylan sambil masih mengutak-atik kameranya. "Kelas seni akan menyumbangkan drama musical."
"Aku sebagai guru musik dan Mr Henri sebagai guru seni sudah merundingkan perihal ini. Kalian adalah siswa kelas akhir dan yang paling tua di sekolah ini saat ini. Tentunya kalian tahu bagaimana pentas seni tahunan di sekolah kita." Jelas Dean.
"Memangnya bagaimana?" Tanya Lily sambil berbisik pada Dylan.
Dylan menoleh sekilas pada Lily. "Pentas seni tahunan seperti sekolah umum di Indonesia. Kita akan mengundang beberapa penyanyi Indonesia dan dj. Tahun lalu ada fashion show yang kita gelar di pentas seni untuk penggalangan dana guna memfasilitasi pendidikan di pelosok Indonesia."
"Tahun ini akan diadakan live music seperti tahun-tahun sebelumnya dan kita akan menggunakan drama musical sebagai acara utama pentas seni kita." Dean kembali menerangkan. "Dan disini aku akan membagi dua kelompok. Kelompok A bagi yang tidak bisa memainkan alat musik apapun dan kelompok B yang bisa memainkan alat musik.
"Aku membuat konsep seperti itu karena aku ingin orang-orang di kelompok A akan memainkan peran di drama musical ini seratus persen dan orang-orang di kelompok B akan bermain musik sembari memainkan peran di drama musical. Nah, karena aku dan Mr Henri sudah mengetahui kemampuan kalian semuanya di kelas ini, maka aku dan Mr Henri sudah membagi kelompok untuk kalian." Jelas Dean.
Lalu kemudian data mulai dibacakan. Sheina ada didalam kelompok A karena dia tidak bisa memainkan alat musik apapun, tetapi dia mempunyai wajah yang mendukung untuk bermain peran. Dylan tidak masuk ke kelompok apapun karena dia akan menjadi panitia pentas seni dan menjadi bagian panitia dokumentasi.
Dan anehnya, Lily masuk kedalam kelompok B.
"Bagaimana bisa aku masuk ke kelompok B?!" Lily sudah histeris sendiri. "Shein, bagaimana ini?!"
"Tanyakan saja pada Mr Dean." Ucap Sheina. "Ups, Mr Dean sudah keluar dari kelas ini."
Lily mengikuti arah pandang Sheina dan benar saja, Dean sudah langsung keluar dari kelas seni begitu bel istirahat untuk makan siang berbunyi.
"Aku bahkan baru bisa bermain gitar. Bagaimana bisa Dean memasukkanku ke grup B? Lalu aku akan menyanyi dan ber-akting?"
"Tenanglah, Lily."
"Aku tidak bisa tenang, Shein!"
Sheina sampai menutup kedua matanya. Kemudian Lily melanjutkan, "aku takut keramaian dan aku tidak akan bisa tampil di keramaian."
"Dean mungkin bisa membantumu." Sheina hanya mengedikkan bahunya.
"Dia tidak mungkin bisa." Ucap Lily dengan nada putus asa.
Sheina lalu tersenyum jenaka sambil mengerling, "kau tidak lupa bukan, jika Dean masih berada dalam kontrak untuk menjadi guru musikmu secara private selama enam bulan?"
Lily sontak terdiam. Dia lupa membatalkan kontrak itu.
Dan nanti malam, Dean pasti akan kerumahnya untuk menjadi guru private-nya.
***
Jane membuka matanya begitu mendengar pintu kamarnya diketuk berkali-kali dari tadi dan Jane jadi terpaksa menyibakkan selimutnya.
Dia tersenyum kecil ketika melihat punggung polos Edward yang membelakanginya ketika tertidur. Jane bahkan masih sempat menarik keatas selimutnya agar Edward tidak begitu kedinginan.
"Nona Jane..."
Jane mendengar suara itu dan dia tahu bahwa itu adalah suara Elina –pelayan rumahnya.
"Aku sudah bangun, Elina." Sahut Jane sambil memakai bajunya yang ada di lantai.
Jane kemudian membuka pintu kamarnya. "Ada apa? Mom dan Dad tidak pulang secara mendadak dari New York, bukan?"
Elina menggelengkan kepalanya. "Ada Calvin menunggu anda di ruang tamu."
"Calvin?" Jane lalu menutup pintu kamarnya dan bergumam sambil menuruni tangga. "Untuk apa dia disini?"
Sampai di ruang tamu, Jane sudah melihat Calvin yang sedang mengelus anjing berjenis golden retriver-nya yang bernama Goldie di sana.
"Cal..."
Calvin mengangkat wajahnya dan sontak berdecak ketika melihat sahabatnya itu yang terlihat baru bangun tidur. "Ada mobil Edward didepan."
Jane tersenyum simpul dan menyisir rambutnya kebelakang menggunakan jari-jarinya. "Yeah..."
"Claire –"
"Stop. Don't call me Claire, again." Jane sontak menutup mulut Calvin.
"Why?! Aku sudah memanggilmu dengan nama Claire dari kita balita." Bantah Calvin.
"Tidak setelah ulangtahunku yang ke delapan belas kemarin." Jane melipat kedua tangannya didepan d**a. "Kau harus memanggilku Jane karena sekarang Edward tidak mau memanggilku dengan nama 'Claire'."
Calvin lalu menatap datar kearah Jane. "Pasti dia berkata seperti itu karena namamu mengingatkan dengan nama Mom-nya dirumah."
Jane hanya mengangguk kecil. "Ada apa kau kesini?"
"Ada apa? Mom berulang tahun hari ini. Kau sudah janji membawakan kue ulangtahun untuk Mom pagi ini dan merayakannya bersama-sama."
"Astaga!" Jane menepuk dahi-nya.
"Kau lupa?! Demi Tuhan, Jane, ini ulangtahun ibuku dan kau melupakannya hanya karena k*****t itu?!" Calvin mulai tersulut emosi.
Jane menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tapi aku sudah menyiapkan kue-nya dari tadi malam. Sebentar! Lima belas menit! Aku akan bersiap!"
Calvin memutar bola matanya malas dan berteriak ketika Jane mulai menaiki tangganya. "Jangan lupa tutupi bercak-bercak merahmu yang menjijikan itu di leher!"
"Apanya yang menjijikan, Cal?"
Calvin cukup tersentak begitu Edward keluar dari arah ruang makan.
"Aku kira kau masih tidur." Ucap Calvin.
Edward lalu duduk di samping Calvin dan memberikannya secangkir kopi hangat. "Aku bangun ketika Jane bangun. Tapi aku langsung ke ruang makan ketika dia berbicara denganmu."
Calvin hanya diam dan menyeruput kopi hangatnya dengan perlahan. Calvin kemudian terdiam dan meletakkan cangkir kopinya.
"Ed,"
"Hm?"
Calvin menghela napas gusar. "Bisakah kau berhenti menggunakan Jane sebagai pelampiasanmu?"
Edward mengernyitkan alisnya. Kemudian tertawa geli. "Jangan munafik, Cal. Kau juga tidur dengan beberapa gadis untuk pelampiasan hasratmu."
Calvin kemudian menyentakkan kepalanya. "Jangan gunakan Jane sebagai pelampiasan perasaanmu pada Lily."
"Apa yang kau katakan, bodoh. Tidak ada hal seperti itu." Edward lalu meletakkan cangkirnya juga.
"Kalau begitu, bisa kau serius dengan Jane?"
Edward langsung menoleh kearah Calvin dan sahabatnya itu sudah menatapnya dengan tatapan serius.
Bukannya menjawab serius, Edward malah tertawa kecil. "Jane saja tidak menuntut hubungan yang mengikat denganku. Dia bahkan tidak meminta agar dia menjadi pacarku."
Mendengar itu, sontak Calvin mengepalkan kedua telapak tangannya. Menahan amarah. "Jangan jadikan sahabatku sebagai jalang, Ed."
"Jane bukan jalang. Kau tentu tahu hubungan friends with benefit, right?" Bantah Edward.
Calvin lalu mengusap wajahnya. "Kalian berdua sahabatku, Ed. Tapi bila aku disuruh memilih, aku lebih memilih Jane karena dia sahabatku dari kecil. Aku yang selalu menjaganya selama ini dan aku tidak ingin dia terluka karena cinta!"
Edward terdiam. Kata-kata Calvin adalah kata-kata yang pernah dia ungkapkan untuk Lily kepada Calvin dan George.
Bila ini situasi yang berbeda, Edward juga tidak ingin Lily tersakiti karena cinta karena Lily bagaikan sahabatnya, adiknya dan Edward yang selalu menjaganya dari kecil walaupun mereka tinggal di negara yang berbeda.
"Aku yakin Jane akan melakukan apapun untukmu. Aku tahu Jane, dia bisa seserius itu ketika jatuh cinta." Ucap Calvin.
"Lalu apa yang kau inginkan sekarang?" Tanya Edward.
"Bila kau tidak bisa lepas dari Jane dan kau ingin melupakan Lily, berilah kepastian pada hubunganmu dan Jane tanpa gadis itu memintanya. Sebenarnya kau memang harus melupakan Lily sebagai cintamu, Ed. Karena dia sepupumu. Dia sedarah denganmu."
Edward lalu mendengus geli. "Aku bahkan tidak mencintai Lily. Aku tidak memandang Lily sebagai gadis yang aku cintai. Tidak lebih dari seorang adik."
"Aku dan George sudah mengetahui semuanya, Ed. Bagaimana kau menceritakan Lily dan apa saja yang telah kau lakukan untuknya, jelas kau memandang Lily sebagai gadis yang kau cintai." Ucap Calvin secara jelas dan kali ini Edward tidak bisa membantahnya. "Jangan jadi pengecut, Ed. Beri Jane kepastian tentang hubungan kalian atau tinggalkan Jane sekarang."
Edward terdiam. Dia perlu waktu untuk semua ini.
"Kau sudah bangun ternyata!" Sampai kemudian Edward tersentak dan lalu tertawa kecil ketika Jane memeluknya dari belakang dan mencium pipinya.
Detik itu juga, Edward menyadari bahwa dia juga merasa senang dengan Jane yang berada didekatnya.