CHAPTER 9: STORY ABOUT LOVE

1678 Words
"Lil, what happen?"  Edward menelan salivanya, terdiam diringi isakan gadis itu di seberang sana. Jauh disana, di negara yang berbeda tujuh jam dengan negaranya. "Ed..." Lily akhirnya mengeluarkan suaranya. "Hm." Edward bergumam menanggapi. "Apa yang terjadi?" "Aku telah memberikan ciuman pertamaku pada lelaki yang salah, Ed." Lirih Lily. Mendengar kalimat pertama itu, Edward hanya bisa menatap kosong jalanan didepannya. Pikirannya hanya mengarah pada Lily. Membayangkan bagaimana Lily mencium lelaki, memberikan ciuman yang gadis itu anggap ciuman pertamanya pada lelaki lain. "Hal yang wajar bila Dean menciummu. Bukankah kalian berkencan?" Ethan lalu tertawa kecil. "Selalu ada ciuman disaat kencan. Ciuman dan kencan itu berpasangan, Lil." Bukannya merasa tenang, Edward malah makin mendengar Lily menangis. "Lil, kenapa menangis lagi?" Edward mulai panik. "Tapi ini..." Lily terisak pelan. "Tapi kali ini salah, Ed. Aku berkencan dengan calon suami orang." "Calon suami?" Tanya Edward dengan pelan. "Tunggu! Jangan bilang kau menangis karena calon istri Dean melabrakmu dan membuatmu malu didepan umum?!" "Bukan..." Bukannya merasa tenang, Lily benar-benar merasa kesal karena Edward malah berpikiran seperti itu. Edward memang tidak pernah bisa serius. "Lalu bagaimana? Ceritakan yang jelas!" Edward bahkan sudah terdengar tidak sabar mendengar cerita Lily. Bukan tanpa alasan, Edward benar-benar khawatir dengan Lily saat ini. Lily lalu menghela napasnya dan menyeka air matanya. "Aku tidak tahu apa yang dipikirkan, Dean. Tapi dia menciumku didalam mobil setelah konser selesai." Edward yang sedang berada didalam mobil kemudian menggertakan giginya tanpa dia sadari ketika mendengar Lily dengan mudahnya memberikan ciumannya pada Dean. "Setelah berciuman, Dean mendapatkan telepon dari rumah sakit dan pada saat itu juga aku mengetahuinya, Ed. Dean sudah mempunyai calon istri dan bahkan calon istrinya sedang koma dirumah sakit. Sudah satu tahun calon istrinya ada disana." Edward masih terdiam, dia menyentakkan kepalanya ketika mendengar fakta itu. Entah kenapa tapi rasanya dia sudah mengetahui kenapa Dean melakukan hal itu pada Lily dan ingin rasanya, saat ini juga, Edward menghampiri lelaki berengsek itu dan menghajarnya. Menghajarnya agar setidaknya Dean tahu bagaimana rasa sakit hati yang didapatkan Lily karenanya. "Aku rasa Dean menganggapku sebagai pelampiasannya, Ed." "Bagaimana jika tidak, Lil?" Jawaban dari Edward sontak membuat Lily tersentak dalam diam. Tapi kemudian, rasa marah menyusulnya. "Sudah jelas bila dia hanya mempermainkanku!" "Memangnya dia mempermainkanmu?" Edward balas bertanya dan itu semua sontak membuat Lily rasanya ingin bertemu Edward saat ini juga dan memukul kepalanya. "Tentu saja! Selama ini dia selalu baik padaku, memberiku perhatian lebih, dia bahkan rela hujan-hujanan demi membelikanku secangkir cokelat hangat!" Ucap Lily dengan nada yang meninggi tanpa dia sadari. Kemudian dia mencibir. "Bila itu kau, kau akan tidak akan mau membelikanku cokelat hangat saat hujan seperti Dean." "Tentu saja." Jawab Edward. "Aku adalah aku, Edward yang tampan dan Dean adalah Dean, lelaki tua yang cari muka." "Dean tidak tua!" Sentak Lily. Edward lalu terkekeh kecil. "Kau terlalu terbawa perasaan, Lil." "Jelas aku terbawa perasaan marah jika kau menjelek-jelekkan Dean. Dia lelaki yang aku sukai!" "Dan karena itu kau menganggap semua perhatian Dean kepadamu menjadi lebih. Maksudku, kau yang mengartikannya lebih. Kau menganggap Dean memberi perhatian padamu, mengajakmu menonton konser, lalu membelikanmu cokelat disaat hujan, kau yang menganggap itu adalah perhatian lebih dari Dean karena dia menyukaimu. Kau yang menganggap begitu. Sedangkan Dean, tidak." Ucapan Edward sontak langsung membuat Lily terdiam. Jantung Lily terasa tertohok dengan ucapan Edward. Yang nyatanya benar, dan kebanyakan kebenaran itu sakit. "Pemikiran lelaki dan wanita berbeda, Lil." Edward kembali berbicara. "Bila aku menjadi Dean, wajar jika aku memberi perhatian lebih padamu. Karena kau adalah murid di sekolah yang dekat dengan Dean dan karena kau bahkan les gitar dengan Dean. Lalu masalah membelikanmu cokelat, aku akan melakukan itu karena dari tadi aku belum membelikanmu apapun padahal aku yang mengajakmu dan lelaki selalu ingin terlihat hebat di hadapan wanita manapun." Jelas Edward. "Tapi Dean tidak seperti itu..." Lirih Lily. Edward lalu menghela napasnya. "Semua lelaki seperti itu. Percayalah padaku." "Kau juga?" "Aku juga." "Jadi selama ini kau melakukan semua hal terbaik yang kau lakukan untukku karena kau ingin terlihat hebat dihadapanku?" Selama lima detik, Edward tidak membalas pertanyaan dan itu sampai membuat Lily kembali melihat panggilannya masih tersambung atau tidak. "Ed, kau masih disana?" Terdengar Edward menghela napasnya lagi. "Hal terbaik yang aku lakukan padamu, itu karena aku sayang padamu." Ganti Lily yang terdiam. Dia tidak tahu mengapa, tapi jantungnya berdebar ketika Edward mengatakan hal itu. "Lalu bagaimana dengan ciuman yang Dean berikan padaku?" Tanya Lily. "Kadang lelaki tidak bisa menahan napsunya. Dan bila aku menjadi Dean lagi. Aku akan melakukan hal yang sama dengan Dean. Calon istriku sekarat dan hanya bisa berbaring di kasur, lalu aku sedang bersama seorang gadis cantik yang mencintaiku. Bila aku menciumnya, dia tidak akan marah. Dia bahkan akan suka. Anggap saja itu sebagai ketidaksengajaan." "Ketidaksengajaan katamu?!" Lily yang tadi mulai terharu oleh ucapan Edward kembali tersulut emosi. "Ikuti saja kata hatimu, Lil." Balas Edward. "Tentukan sendiri apa yang akan kau lakukan selanjutnya." Lily mengusap matanya yang berair. "Kenapa cerita cintaku harus seperti ini ya, Ed?" "Karena bila cerita cintamu sama seperti semua orang, maka kau tidak akan punya cerita yang menarik untuk dikenang." Lily mengerucutkan bibirnya walaupun Edward tidak bisa melihatnya. "Bila cerita cintamu sama seperti semua orang, kau tidak akan mempunyai hal menarik yang akan kau ceritakan padaku." Tambah Edward. "Jadi maksudmu ceritaku ini menarik?!" Edward lalu terbahak. Akhirnya terbahak setelah beberapa menit tadi hanya menghela napasnya. "Dia cinta pertamamu, Lil. Sebuah kisah cinta pertamamu yang kau ceritakan padaku dan itu menarik bagiku." "Menyebalkan." Lily mencebik. "Jadi aku harus apa, Ed? Dean tidak datang ke sekolah hari ini. Aku rasa dia menemani tunangannya karena kemarin tunangannya itu kritis." "Kenapa kau tidak menjenguk tunangannya lagi?" "Untuk apa?" "Minta maaflah pada tunangannya karena kau telah mencium calon suaminya." "Edward!" "Tampan." Tambah Edward. Lalu dia kembali tertawa. "Aku harus pergi, Lil." "Kau dimana? Sekarang jam satu pagi di London." Ucap Lily. "Hm. Aku sedang di dalam mobil. Didepan rumah Claire sahabat Calvin." Jawab Edward. Lily terdiam. Dia tidak mengenal Claire, tapi dia mengetahui Claire karena Edward pernah menceritakannya saat natal tahun lalu. Claire adalah gadis yang tinggal satu blok dengan Calvin –penyanyi favoritnya sekaligus sahabat Edward. Tapi ternyata, Calvin dan Claire bersahabat dari kecil. Edward bertemu Claire saat Calvin mengadakan party di rumahnya. Hanya lima menit berkenalan, Claire dan Edward berakhir b******a di kamar Calvin. Dan kemudian, Edward tidak menyangka bila Claire adalah wanita yang cukup agresif jadi gadis itu selalu meminta Calvin dan mengancam Calvin dengan berbagai cara agar Edward mau bertemu lagi dengan Claire atau menghabiskan waktu kembali bersama gadis itu. Lily kemudian bertanya, "untuk apa ke rumahnya." "Dia berulang tahun." Jawab Edward. "kau tidak harus ke rumahnya pada pukul satu pagi." Cibir Lily. Edward hanya tertawa. Dia tidak ingin Lily tahu bahwa hari ini dia bertengkar di sekolah dengan Ben dan wajahnya berakhir babak belur. Lalu Ethan memarahinya setelah makan malam dan Edward harus membanti Paris mengarang sebuah dongeng. Dan jadilah Edward harus kerumah Claire pada pukul satu pagi. "Goodnight, Ed. Terimakasih." Bisik Lily. "Lil?" "M-hm?" "Dean bukan ciuman pertamamu." Lily melebarkan matanya karena terkejut dan sambungan teleponnya dengan Edward berakhir detik itu juga. *** Dean bukan ciuman pertama Lily. Edward langsung mematikan sambung teleponnya dan menatap layar ponselnya yang meghitam. "Mudah sekali dia melupakannya." Edward menjilat bibir bawahnya yang terasa kering dan kemudian memutar-mutar ponsel di tangannya. "Apa mungkin ciumanku kurang berkesan? Ah... kurang panas." "Iya, kurang panas." Edward lalu membalikkan badannya dan mengambil satu buket bunga mawar merah dan paperbag cokelat yang akan dia berikan pada Claire Jane. "Padahal tubuhku sampai bergetar karena grogi." Edward lalu keluar dari mobilnya dan melangkah ke rumah Claire yang sudah sepi. "Seharusnya aku tidak menjadikan Lily sebagai ciuman pertamaku. Aish, Edward... kenapa bisa kau memberikan ciuman pertamamu pada sepupumu sendiri?" Edward menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terus berjalan. Tapi kemudian dia tertawa kecil. "Sepupu yang cantik." Setelah puas berbicara sendiri, kali ini Edward sampai didepan rumah minimalis Claire Jane. Rumah yang termasuk mewah bagi kalangan menengah. Tapi tetap kalah mewah dengan rumah keluarga Jasper. Edward kemudian menekan tombol intercom dan tersenyum kearah kamera kecil di intercom. "Edward?!" Edward tersentak kecil ketika dia mendengar pekikan Claire Jane di intercom dan tak sampai dua detik kemudian, pintu rumah Claire terbuka lebar dan gadis itu langsung memeluk Edward dengan erat. "Kya!!! Aku kira kau tidak akan datang!" Edward tertawa geli dan kemudian mengecup sekilas bibir Claire. Membuat Claire terpaku selama beberapa detik tapi kemudian dia tertawa dan balas mengecup bibir Edward berkali-kali. Edward dan Claire Jane selalu seperti ini. Melakukan hal-hal layaknya pasangan bila bertemu, tapi mereka bukanlah pasangan. Hanya Claire Jane, gadis yang mau bersama Edward dan bermesraan dengan Edward tanpa status apapun. Tapi gadis itu juga tidak mau didekati lelaki lain karena baginya, dia telah memiliki Edward. ' Tapi, Claire Jane juga tidak pernah menunjukkan rasa marah atau cemburu jika dia melihat berita tentang Edward Jasper dengan kekasih barunya. Hubungan Edward dan Claire sungguh aneh sejak mereka berdua bertemu. Tapi keanehan itulah yang kadang membuat mereka sama-sama merasakan kenyamanan. "Kau membawakan kado untukku?" Edward lalu memberikan sebuket bunga mawar merah dan paperbag berwarna cokelat. "Happy birthday, Jane." "Jane?" Kening Jane berkerut heran. Edward lalu mengedikkan bahunya dan merangkul Jane. "Sekarang aku panggil kau Jane saja. Aneh rasanya bila kau aku panggil dengan nama Claire. Karena namamu sama dengan nama Mom." Jane kemudian tersenyum senang. "Apakah termasuk panggilan sayang juga?" "Tentu saja, Jane..." Edward lalu mengecup kuping Jane dan gadis itu segera mengajak Edward masuk kerumahnya karena kedua orangtua Jane sedang ke New York untuk bisnis. Tidak usah terlalu dijelaskan, malam ini Edward tidur di rumah Jane, di kamar Jane, dan menghabiskan malam ulangtahun Jane hanya berdua. Malam ini, Edward adalah hadiah paling membahagiakan untuk Jane. Edward juga senang dengan fakta itu. Fakta bahwa masih ada gadis yang mencintainya dengan tulus, lebih tulus dari Lily yang belum menyadari perasaan Edward padanya. Bahwa Edward telah menyadari, bahwa perasaannya pada Lily salah. Salah karena dia mencintai sepupunya sendiri. Sepupu dekat yang bahkan masih memiliki aliran darah yang sama dengannya. Barang setetes darahpun, mereka tetap sedarah. Kadang, Edward sedih bila mengingat fakta itu. Dia tidak bisa menyayangi Lily lebih jauh selain sebagai seorang kakak. Atau mungkin, Edward memiliki kelainan karena telah jatuh cinta    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD