Seusai makan malam dan sesuai dengan perintah Ethan, Edward memasuki ruang kerja Ethan dan menemukan Dad-nya yang sedang membaca sebuah skenario film baru yang akan digarapnya dalam bulan ini.
"Duduk."
Edward menghela napas, lalu duduk dihadapan Ethan dengan tenang. Yah, walaupun sebenarnya dalam hati dia sedikit gugup.
Semenjak Dad dekat dengan Claire sebelum menikah, Ethan dan Edward sudah jarang bertengkar. Itu artinya, sudah lama juga Edward tidak memasuki ruang kerja Ethan dan merasa di sidang seperti ini.
Ethan lalu meletakkan naskah skenario yang tadi dia baca. Iris mata birunya itu menatap ke wajah Edward dan memperhatikan lebam di kedua pipi Edward, goresan di kantung mata Edward dan robek di sudut bibir Edward.
"Wajahmu sekarang sudah persis seperti berandalan, Ed."
Edward mendongakkan wajahnya dan bertatapan langsung dengan Ethan. Tapi dia masih belum menjawab apapun.
"Sama seperti kelakuanmu." Lanjut Ethan. "Seperti berandalan."
Edward mendecak kesal mendengarnya. "Redforr yang pertama kali mencari gara-gara, dad! Dan aku tidak bisa tinggal diam ketika dia menginjak foto Georgia dan Georgina!"
"Jaga nada bicaramu, Edward Jasper." Ucap Ethan dengan tenang.
Edward mendengus, dia sudah muak dengan sikap Ethan yang kembali serius seperti dulu.
Ethan lalu menghela napasnya. "Dad dan August Redforr –ayah Ben, memiliki hubungan kerja sama yang bagus. Bahkan dad berencana memakai August untuk peran utama di film dad selanjutnya."
"Aku tidak perduli." Edward mengedikkan kedua bahunya acuh tak acuh.
"Bersikap dewasalah, Ed. Bila anak itu yang mencari perkara, maka kau tinggalkan saja."
"Dad," Ed menatap Ethan tak percaya. "Itu hal yang dilakukan pengecut dan aku tidak akan melakukan hal seperti itu. Aku akan melawan orang yang membuatku muak dan Redforr membuatku muak dengan perkataannya! Dia bahkan mengatakan dan menyebarkan hoax bahwa aku gay!"
Ethan lalu menatap Edward dengan tatapan datarnya. "Itu salahmu, Ed. Bercandamu dengan Cal dan George terlalu berlebihan. Tak jarang dad mendapat pertanyaan bahwa kau gay atau tidak."
Mendengar itu sontak Edward tertawa tak habis pikir. "Apa aku harus mengencani beberapa aktris di London lagi, dad? Dan membuat gimmick yang heboh seperti yang kau lakukan dengan Gween Harold dulu?"
"Itu semua hanya masa lalu, Ed." Ethan berdeham untuk meredakan rasa terkejutnya.
"Masa lalu yang memuakkan." Tambah Ed.
"Edward –" ucapan Ethan terputus ketika dia melihat Edward yang sudah menundukkan kepalanya.
Dan tanpa Ethan sadari, Edward mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Menahan emosi yang sedari tadi di tahannya.
"Jadi dad memanggilku ke ruangan ini hanya untuk mengatakan agar aku mengalah pada si berengsek Redforr karena August adalah aktor yang akan bekerja sama dengan dad?" Tanya Edward dengan suara seraknya.
"Dad tidak ingin kau berkelahi lagi, Ed." Ucap Ethan dengan tegas. "Dad tidak ingin kau muncul kembali di infotaiment karena berita gay bodoh itu, berita perkelahianmu, dan beritamu dengan banyak gadis. Dad juga tidak ingin pekerjaan dad terganggu karena kepala sekolahmu itu terus menghubungi dad dan meminta aku datang ke sekolahmu."
Edward lalu mengusap wajahnya dan tertawa miris. "Aku kira Mom Claire benar-benar membuatmu berubah setelah pernikahan kalian. Kau tahu apa harapanku di awal, dad? Aku berharap kau mengkhawatirkan keadaaanku. Aku harap kau mendukung apa yang aku lakukan pada berengsek itu."
"Bagaimana dad bisa mendukung bila hal yang kau lakukan itu salah?!" Bahkan tanpa Ethan sadari, nada bicaranya meninggi.
Edward bahkan nyaris mengumpat keras. "Dia yang memulai dulu! Aku tidak akan memulai bila tidak ada yang menggangguku! Seharusnya kau mendukung aku menghajarnya karena dia telah menjelek-jelekkan keluarga kita! Bahkan seharusnya kau bukan membela Redforr yang telah mengganti dengan menyebut nama Jasper menjadi Clapper! Seharusnya dia mati ditanganku sekalian! Kau hanya memikirkan pekerjaanmu, dad!"
"Edward Jasper!"
Brak!
Edward tersentak pelan ketika Ethan memukul meja kerjanya. "Bukalah pikiranmu!"
"Seharusnya dad yang lebih membuka pikiran." Lirih Edward dan kemudian dia bangkit dari kursinya.
"Minta maaflah pada Ben dan August Redforr besok." Ucapan Ethan bahkan membuat langkah Edward yang hendak keluar dari ruang kerjanya terhenti. "Karena kau, Ben masuk rumah sakit hari ini. Kau bahkan mematahkan hidungnya."
"Aku tidak bisa."
"Kau harus datang." Ucap Ethan tanpa bantahan.
Edward lalu menoleh sedikit kebelakang dan tersenyum miring. "Baiklah, aku akan datang dan akan meludahi muka Ben didepan August Redforr."
Edward kemudian membuka pintu ruang kerja Ethan dan menutupnya dengan keras sampai Ethan sedikit tersentak.
Ethan mengusap wajahnya dan kemudian kembali duduk di kursi kerjanya. Keputusannya untuk membuat Ben dan Edward berbaikan rasanya begitu mustahil.
Meninggalkan Ethan yang entah sedang apa didalam ruang kerja bodohnya, Edward kemudian berjalan ke ruang keluarga untuk masuk ke kamarnya dengan kedua tangan yang dia masukkan kedalam dua kantung celananya.
Dan begitu membuka pintu ruang keluarga, Edward langsung menahan tawanya begitu melihat Cameron Jasper –adik laki-lakinya yang berumur satu tahun dan kini sudah memasuki satu tahun sembilan bulan itu sedang berjalan dengan pelan berusaha meraih mobil remot berwarna merah yang terus berjalan di depannya.
Edward mengepalkan telapak tangannya didepan mulut, menahan tawanya ketika mendapati semangkuk biskuit bayi kesukaan Cameron diatas mobil remot yang terus berjalan itu.
"C'mon, Cameron!" Zack berteriak menyemangati dengan tangan yang lincah menggerakan konsol mobil remot itu. "Ayo, baby. Raih biskuit lezatmu ini..."
Cameron bahkan sesekali terjatuh di lantai, tetapi seperti tak ada kata menyerah dalam balita itu, jadi Cameron berdiri lagi dan terus mengejar mobil-mobilannya itu.
Sedangkan Claire dan Zoe asyik menonton serial di iflix. Dengan Claire yang memeluk Georgia di tangan kanannya dan Georgia di tangan kirinya. Dua adik kecilnya itu sedang tertidur pulas.
Lalu Edward masuk ke ruang keluarga yang menghubungkan dengan kamarnya, Zack, Zoe dan Paris.
Tapi pintu berwarna pink pucat, pintu kamar Paris terbuka sedikit. Edward mengerutkan keningnya dan melangkah mendekat.
Adik kecilnya itu masih duduk diatas kursi yang menghadap ke meja belajarnya. Lampu belajarnya menyala dan tatapan gadis kecil itu menunduk dengan tangan kanan yang memegang pensil.
"Paris," Ed membuka pintu kamar Paris dan kemudian menutupnya ketika Paris menoleh. "Kau belum tidur?"
Paris menggeleng kecil bersamaan dengan Edward yang mengusap lembut rambut pirangnya dan kemudian mengecup puncak kepalanya.
"Bagaimana, Ed?" Tanya Paris.
Edward menundukkan kepalanya, menatap heran kearah Paris. "Bagaimana apanya? Memangnya ada apa?"
"Dad memarahimu?"
Edward terdiam, menatap Paris yang menampilkan sorot mata khawatir ketika menatap Edward.
"Kalian tidak bertengkar, kan?" Paris bertanya lagi.
Edward kemudian tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Paris."
"Tapi tadi aku mendengar kalian saling membentak ketika aku mau masuk ke ruang kerja dad." Paris memainkan jari-jarinya sambil menunduk. Sesekali dia mendongak, menatap khawatir kearah kakak pertamanya.
"Kau ke ruang kerja dad, ada apa?" Tanya Edward dengan tersenyum dan sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Aku mau minta kau membuatkan dongeng." Paris lalu memberikan secarik kertas panjang pada Edward. "Tugas esai pertamaku, membuat dongeng karangan sendiri."
Melihat kertas yang masih kosong, Edward lalu mengacak rambutnya dengan bingung. "Kalau soal mengarang cerita, Lily jagonya. Ah, andai saja ada Lily disini."
Dan detik itu juga, Edward sadar bahwa sudah seharian ini dan kemarin dia tidak mendengar suara Lily. Dia tidak menghubungi Lily hanya untuk mendengar suaranya, dan dia tidak mengirim chat pada Lily untuk menanyakan kabarnya.
***
Hari ini disekolah, Lily tidak menemukan Dean dimanapun. Bahkan hari ini, jam pelajaran kesenian kosong karena Dean meminta ijin tidak bisa mengajar pada hari ini.
Dan tentu saja Lily tahu sebabnya, lelaki itu di rumah sakit dan menemani wanita yang bernama Liliana. Tunangannya, calon istrinya, dan gadis yang dicintainya.
Sheina sudah tahu apa yang terjadi. Sheina yang menemani Lily menangis semalaman di kamar Sheina dan Sheina yang membantu Lily mengempeskan matanya yang sembab karena menangis sebelum pulang ke rumah.
Dan disinilah Lily sekarang. Berada di kamarnya pada pukul dua siang.
Hanya duduk di kasurnya dengan semua jendela yang tertutup tirai. Membiarkan kamarnya gelap dan hiasan bintang yang dapat bercahaya dalam gelap ini menerangi kamarnya.
Lily tahu kegiatannya kali ini tidak bermanfaat. Hanya tidur terlentang menatap hiasan bintang di langit-langit kamarnya.
Lily lalu mengangkat tangan kanannya, bergumam pelan menghitung bintang yang dipasang Edward di langit-langit kamarnya. Lily hanya bisa tersenyum kecil ketika mengingat bagaimana usaha Edward untuk memasangkan bintang-bintang itu.
"Aku membeli ini tadi." Edward langsung masuk ke kamar Lily tanpa mengetuk –seperti biasanya.
Lily yang sedang berbaring di kasur sambil membaca novel kemudian menutup novelnya dan duduk menatap Edward. "Hiasan bintang?"
"Untukmu." Edward tersenyum lebar sambil mengacungkan lima bungkus yang berisi hiasan bintang-bintang itu. "Agar kamarmu tidak terlalu gelap bila Aunty Shayla menyuruhmu mematikan lampu kamar ketika mau tidur."
"Ide bagus." Lily bersorak senang. "Kau yang paling mengerti aku, Ed."
Lily ingat, saat itu Edward hanya mengedikkan kedua bahunya sambil tersenyum kecil. Lalu memasangkan bintang-bintang di langit-langit kamarnya dan bahkan membawa tangga besar dari lantai satu ke lantai dua kamar Lily tanpa bantuan pelayan.
Dan Edward benar. Hanya Edward yang mengerti Lily.
Hanya Edward yang mengerti bagaimana perasaan Lily ketika dia merasa seperti ditekan dari segala sisi ketika ruangannya begitu gelap. Hanya Edward yang paham kenapa Lily langsung bisa terbangun ketika tak ada satupun cahaya di kamarnya.
Dan saat ini, Lily menyesali percakapan terakhirnya dengan Edward sebelum Lily pergi dengan Dean ke Ubud Jazz Festival.
"Jangan bersikap seolah-olah kau yang paling mengenal diriku, Ed!"
Lily menutup kedua matanya dengan lengannya, membiarkan perlahan-lahan merasakan matanya yang memanas dan kemudian setetes air mata itu membasahi pipinya.
Sampai kemudian, waktu seolah berpihak, ketika layar ponselnya tiba-tiba saja menyala. Menampilkan nomor panggilan dari luar negeri.
Dengan nama kontak: My handsome Edward
Lily terdiam, memandangi nama yang Edward tulis sendiri beberapa waktu lalu di ponsel yang baru saja Lily beli.
Dan pada saat itu juga, jari Lily men-slide tombol berwarna hijau.
"Lil?"
Lily terdiam, dia memejamkan matanya ketika mendengar suara serak Edward memanggil namanya.
"Lil." Edward memanggilnya lagi.
Lily membekap mulutnya, menahan isakannya yang hendak lolos begitu saja. Rasanya saat ini dia begitu membutuhkan Edward di sisinya. Membutuhkan bagaimana Edward yang akan langsung memeluknya apapun yang terjadi.
Dan hanya Edward yang memanggilnya dengan sebutan "Lil" dimanapun.
Sampai kemudian, isakan itu lolos dari bibirnya. Membuat Edward yang jauh disana merasa sama sakitnya ketika mendengar isakan Lily.
"Lil, whathappen?" Edward bertanya dengan bisikan lembutnya dan dijawab Lily denganisakan pilu-nya.