Dua jam berada di ruang ICU, berada di dalam sebuah keputusasaan dan berada didalam keadaan menegangkan sungguh membuat Dean makin membenci rumah sakit dan segala kenangannya.
Dean tidak tahu mengapa. Tapi malam ini, tiba-tiba saja kondisi Liliana tidak stabil. Bahkan detak jantungnya sempat hilang selama tiga puluh detik dan akhirnya Dean merasakan itu.
Merasakan ketakutan yang teramat sangat besar akan kehilangan sosok Liliana.
Dan Dean menyadari, bahwa dia belum siap untuk kehilangan Liliana. Wanita itu sangat berarti dalam hidupnya. Dan setelah berbagai upaya dilakukan, setidaknya Dean dapat bernapas lega ketika kondisi Liliana kembali stabil.
Tapi Dean masih tidak bisa berbuat banyak dan Liliana masih berada dalam kondisi tak sadarkan diri. Liliana masih nyaman berada dalam tidur panjangnya, membiarkan banyak orang yang menyayangi wanita itu menunggu lebih lama lagi untuk melihat bagaimana pandangan teduh yang dimiliki Liliana.
Dean hanya bisa berdiri didepan sebuah jendela besar transparan. Dengan tangan bersedekap didepan d**a, dia menatap Liliana yang terbaring dengan banyaknya alat bantu untuk menopang hidupnya.
Hanya dengan itu Liliana dapat bertahan, bila semua alat itu di lepas, maka nyawa Liliana juga akan lepas dari raganya.
"Dia siapa?"
Dean sampai tersentak dan menoleh kesamping. Menemukan Lily yang berdiri disampingnya.
Lily tidak bisa melepas pandangannya dari wanita yang terbaring lemah didalam ruangan itu.
"Maaf."
Lily memeluk dirinya sendiri, menekan sikunya menggunakan telapak tangannya dan menundukkan kepalanya begitu mendengar Dean sekali lagi meminta maaf padanya.
"Kali ini, maaf untuk apa?" Lirih Lily.
"Maaf harus melibatkanmu dalam situasi seperti ini. Tidak seharusnya kau masih berada disini dan menungguku." Dean lalu mengusap wajahnya.
Lily hanya mengangguk kecil. Tapi kemudian tetap bertanya, "wanita itu siapa? Adikmu? Atau kakakmu?"
Dean menghela napas pelan dan kembali menatap Liliana yang terbaring tenang disana. "Wanita yang berbaring disana, yang hanya bisa hidup dengan alat-alat kedokteran penopang hidup itu... dia adalah calon istriku."
Calon istri.
Hanya dua kata itu yang bisa ditangkap oleh Lily.
Tanpa sadar, Lily kemudian menelan salivanya dan mengigit bibir bawahnya. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Dean kemudian melanjutkan. "Satu bulan sebelum pernikahan kita, tiba-tiba saja dia terserang meningitis. Lalu beberapa hari kemudian, kondisinya memburuk dan terjadi pembengkakan dalam otak. Itu semua karena dia terlalu lelah bekerja dan mengurus pernikahan secara bersamaan."
"Lalu dia koma?"
Dean mengangguk. "Dia sempat kritis di pagi hari, lalu di siang hari dokter memberi kabar bahwa dia mengalami koma dan sampai sekarang tidak tahu kapan dia akan bangun."
Lily lalu menghela napas kecil. "Siapa namanya?"
Dean lalu menoleh, menatap kembali Lily yang kali ini sudah mendongak menatap dirinya dengan iris mata hazel yang indah. "Namanya Liliana. Aku memanggilnya Lili."
Senyuman tipis kemudian terbit begitu saja di wajah Lily. Rasanya, semuanya sudah jelas sekarang.
Dean, lelaki disampingnya ini, hanya menggunakan Lily sebagai objek halusinasi-nya akan sosok Liliana –calon istrinya. Liliana juga berwajah seperti orang eropa dan nama mereka sama.
Dan lagi, seorang lelaki susah sekali menahan napsunya.
Lily sekarang tahu, dia hanyalah pelampiasan seorang lelaki. Kali ini Lily menahan tawanya. Menahan mentertawai kebodohan dirinya.
"Dean," panggil Lily dan Dean masih menatap wajahnya. "Aku sangat berharap Liliana cepat bangun dari koma."
Dean masih diam, menunggu Lily melanjutkan ucapannya.
Lily kemudian mengalihkan tatapannya dari Dean dan kembali menatap Liliana melalui kaca transparan ini. "Agar kau tidak menjadi lelaki kesepian lagi. Agar kau menjadi lelaki yang setia pada Liliana dan agar kau, tidak sembarangan melampiaskan perasaanmu pada orang lain."
"Lily –" Dean bahkan terasa terpojok dengan ucapan Lily. "Bila yang kau maksud kejadian seusai konser tadi..."
"Anggap saja itu tidak pernah terjadi." Ucap Lily dengan tegas.
Dan pada saat itu juga, Lily langsung membalikkan tubuhnya dan pulang. Tanpa memperdulikan Dean yang bahkan tak menggerakan kakinya untuk menyusulnya.
Membiarkan Lily menahan isakannya di setiap langkahnya.
Dan membiarkan hati Lily perlahan-lahan merasakan luka yang sebenarnya.
***
Bertengkar dengan Ben, mengerjakan ujian di ruang kepala sekolah ditemani dengan si botak Mr Gross, dan pulang dalam keadaan babak belur adalah kesialan yang dialami Edward pada hari ini.
Bahkan ketika menginjakkan kaki di rumah, Edward meminta bantuan pada Calvin dan George untuk mengelabuhi Mom Claire agar tidak mengetahui Edward yang babak belur dan masuk ke kamarnya begitu saja.
Dan berakhirlah Ed di kasurnya. Duduk di kasur dengan George yang mengobati luka-nya.
"Argh! Dingin!" Teriak Edward.
George, dengan tatapannya dan sifatnya yang selalu datar itu hanya menatap Ed dengan datar dan tetap menempelkan kantung berisi es itu ke pipi Edward yang membiru.
"Tidak bisakah kau pelan-pelan, George?!" Protes Edward.
Dan tanpa di duga-duga, George menekan pipi Ed dengan keras menggunakan kantung berisi es itu dan membuat Edward makin berteriak kesakitan.
"George!"
George berdiri dari kasur dan langsung mengambil nintendo keluaran terbaru milik Edward dan memainkannya di lantai yang dilapisi karpet tebal ini.
"Kau tidak mau mengobati sahabatmu ini, George?" Pinta Edward dengan nada manja yang membuat Calvin bergidik jijik.
Calvin yang sedang memainkan ponselnya diatas sofa kemudian melemparkan beberapa cream untuk mengobati luka lebam pada Edward. "Obati sendiri."
"Astaga... sahabat macam apa kalian?"
Calvin dan George hanya diam dan kembali sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Edward lalu menekan-nekan ujung bibirnya dan pipinya menggunakan kantung es itu. "Kenapa ya, aku bisa menganggap orang seperti kalian berdua ini sebagai sahabat." Cibir Edward.
"Yasudah, hapus saja The Heartbreaker dari obrolan chat kita." Gumam George.
Calvin mengangguk. "Setuju."
"What the hell?! Aku hanya bercanda, man!"
"Ha-ha." George tertawa dengan datar. "Kau memuakkan hari ini, Ed."
"Sebenarnya setiap hari, George." Ralat Calvin.
Edward berdecak kesal. "Cal, ada apa sebenarnya dengan kalian? Aku tidak akan bertanya pada George karena dia terlalu datar."
George hanya mendengus sebal dan lanjut memainkan nintendo dan Calvin kemudian meletakkan ponselnya, lalu menatap Edward dengan sorot mata malas.
"Sudah berapa kali aku bilang untuk jangan membuat lelucon bahwa aku dan George adalah pasangan gay-mu?!" Sentak Calvin dengan frustasi.
Edward terdiam. Berkedip dua kali dan kemudian tawa itu tersembur dari mulutnya. "HAHAHA! Hanya orang bodoh yang mempercayai itu, Cal."
"Tapi banyak orang bodoh di dunia ini!" Elak Calvin. "See? Kau tidak bisa serius, Jasper. Kau memuakkan. Seharusnya aku membiarkanmu habis di tangan Ben."
Masih dengan sisa tawanya, Edward berkata, "sayangnya aku tidak akan habis di tangan si bodoh itu."
"Whatever." George memutar bola matanya. "Percuma kau berbicara pada b*****h ini, Cal."
Calvin lalu menatap kesal pada Ed yang masih tertawa-tawa. "Berhenti memanggil aku dan George dengan panggilan Baby or honey di tempat umum!"
"Berarti di telepon tidak apa-apa?" Tanya Ed dengan polos.
"Tidak!" George dan Calvin bahkan menolak secara bersamaan.
"Hentikan lelucon bodoh itu, Ed. Kita disini adalah public figur. Aku seorang penyanyi, kau anak dari sutradara ternama dan kau juga aktif di Youtube, lalu George aktif dalam dewan keamaan sekolah. Kau secara tidak langsung menghancurkan citra kita." Jelas Calvin.
Edward merintih pelan ketika mengoleskan cream untuk mengobati luka memarnya. "Lalu bagaimana dengan setiap gadis yang kita kencani dan kita patahkan hatinya setelah satu minggu? Mereka masih menganggap kita sebagai gay?"
Calvin dan George berpandangan sejenak. Lalu menghela napasnya. Calvin, George dan Edward Jasper dikenal dengan The Heartbreaker di sekolahnya.
Tiga orang sahabat yang suka mengencani gadis-gadis di sekolahnya. Paling lama seminggu dan paling cepat satu hari.
Kencan diawali dengan tidur bersama dan menghabiskan waktu layaknya kekasih, setelah itu... selesai.
Banyak gadis yang sudah patah hati dengan mereka. Tapi seolah tidak perduli, tumbang satu gadis, datang seribu gadis kemudian.
Edward lalu terkekeh. "Kalau kalian public figur yang sebenarnya, maka kalian tidak perlu mendengarkan ucapan mereka. Haters gonna hate, dude."
Baru saja George membuka mulutnya hendak menjawab ucapan Edward, tiba-tiba saja pintu kamar Edward terbuka dengan keras.
Brak!
"Damn." Calvin mengumpat pelan, George langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan Edward dengan cepat menutupi wajahnya dengan bantal begitu Claire membuka pintu kamar Edward.
"Edward sayang!!! Apa yang terjadi padamu?!"
"Mom!" Edward merengek kesal ketika Claire langsung naik keatas kasur dan memegang wajah Edward yang babak belur. "Astaga!!! Siapa yang melakukan ini padamu?! Siapa yang sudah berani membuat wajah tampanmu ini luka-luka?!"
"Sudahlah, mom. Ini hanya luka kecil."
"SI-A-PA?!" Sentak Claire.
Calvin bahkan sampai meneguk salivanya sendiri dan George rasanya ingin segera keluar dari kamar Edward.
"Calvin! George!"
"Yes, aunty?" Jawab George dan Calvin dengan takut-takut.
Claire menatap tajam kearah dua sahabat Ed yang sudah sangat dikenalnya ini. "Siapa yang melakukan hal ini pada Edward?"
"Ed bertengkar dengan Ben Redforr."
Semua yang ada didalam kamar sontak menoleh keambang pintu dan Edward kali ini berasa nyawanya perlahan diangkat begitu melihat Ethan berdiri diambang pintu.
Edward lalu melirik Calvin dan George yang sudah berwajah sama pucatnya dengan Edward. Mereka bertiga yakin bahwa kepala sekolah mereka pasti sudah menghubungi Ethan dan juga Mr Redforr –orangtua Ben.
"Kau menganggu waktu kerjaku, Ed." Ethan menggaruk alisnya. "Setelah makan malam, ke ruang kerja, dad. Ada yang ingin dad bicarakan denganmu."
"Tapi nanti malam aku harus pergi ke pesta temanku." Jawab Edward.
Teman yang dimaksud Edward adalah Claire sahabat Calvin yang berulang tahun malam ini dan Edward harus datang. Karena bila tidak datang, maka Calvin akan menghabisinya.
Ethan tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia langsung membalikkan tubuhnya begitu saja dan Edward tahu, kali ini dia tidak bisa membantah Ethan.
"Kau bertengkar dengan Ben Redforr?"
Edward kembali menoleh pada Mom Claire dan kemudian mengangguk.
Claire lalu mengusap ujung bibir Edward yang sedikit robek. "Ben Redforr, anak dari August Redforr? Seorang aktor itu?"
Edward bergumam meng-iyakan.
Claire lalu menghela napas pelan. "Besok lagi, kau jangan meladeni anak itu dan jangan cari gara-gara lagi dengannya."
"Memangnya kenapa, mom?" Tanya Ed.
Claire lalu mengobati luka Edward dan tersenyum kecil. "Mom hanya tidak ingin kau terluka lagi."
Edward mengernyit heran. Begitu heran dengan ucapan dan tatapan Mom-nya yang tiba-tiba saja berbeda.
Claire menatap sendu pada luka Edward, sesekali dari jarak sedekat ini, dia kembali menyelami iris mata biru Edward.
Tanpa Edward ketahui, Claire benar-benar serius dengan ucapannya. Dia tidak ingin Edward mendekati Ben Redforr. Karena keluarga Redforr dapat membuatnya terluka. Entah itu luka fisik atau luka hati.
Hanya Claire, yang mengetahui fakta sebenarnya dan apa yang sebenarnya terjadi.