CHAPTER 6: PROBLEMS IN OUR LIFE

1984 Words
Edward sebenarnya bukan seorang siswa yang rajin belajar di sekolahnya. Edward jelas bukan tipe siswa nerd yang memakai kacamata, baju tidak matching, dan selalu membawa buku pelajaran di tangannya sambil membahas topik-topik pelajaran setiap siswa nerd itu berjalan di koridor sekolah. Tapi, setiap diadakan test di sekolahnya, Edward akan selalu belajar di sekolah. Dia hanya dapat belajar disaat adik-adiknya sudah tidur dan waktu itu tidaklah cukup. Begitu memiliki total enam orang adik yang masih kecil semua, Edward akhir-akhir ini sering protes ke Ethan –ayahnya agar dia bisa pindah kamar yang lebih jauh dari kamar Zack, Zoe, Paris dan kamar si bayi Cameron dan si kembar lagi Georgia dan Georgina. Tapi, Ethan tidak menggubrisnya. Lalu saat Edward mengancam akan menyewa apartemen sendiri, Ethan hanya mengatakan; "tidak akan bisa, Ed. Dad akan memblokir semua kartu kreditmu bila kau keluar dari rumah ini."  "Oh, aku bisa menyewa apartemen sendiri dengan uangku. Aku sudah berpenghasilan, dad. Aku mendapat uang dari Chanel Youtube-ku, mendapat uang dari talkshow yang aku datangi di beberapa televisi." Edward masih bersikukuh. Kala itu, Ethan yang sedang duduk di meja kerjanya langsung mengangkat kepalanya dan menatap lurus kearah Edward. "Dad akan mengeluarkanmu dari sekolah bila kau menyewa apartemen untuk dirimu sendiri." "Dad –" Ethan lalu mengepalkan kedua tangannya menjadi satu. "Dad bisa menyuruh seluruh stasiun televisi di London agar tidak mengundangmu di talkshow manapun." Edward terdiam. Dia bahkan langsung meneguk sendiri salivanya. Jabatan ayahnya yang sebagai CEO Ej Production House di London dan sutradara ternama di Inggris membuat Edward tidak menganggap ucapan ayahnya adalah sebuah candaan. "Begini, Ed." Ethan kemudian menegakkan punggungnya. "Banyak konsekuensi yang akan kau dapatkan bila kau keluar dari rumah ini." "Apa itu?" "Selain Dad akan mengeluarkanmu dari sekolah dan memblokir wajahmu di beberapa stasiun televisi –" "Okay, stop." Ed mengangkat kedua tangannya. "Jangan ulangi pernyataan itu lagi, dad. Aku sudah mendengarnya tadi." "M-hm." Ethan mengangguk singkat. "Dad akan melarangmu membawa mobil dari Dad, motor, Dad akan menyita helikopter yang ada di private airport kita sebagai ulangtahunmu, Dad akan melarang kau pergi ke Bali dengan seenaknya menggunakan jet pribadi milik Dad dan..." Ethan kemudian menatap Edward yang sudah berwajah pucat itu secara keseluruhan. "Lepas bajumu, celanamu, ikat pinggangmu, sepatumu, berikan dad ponselmu, maka... kau boleh keluar dari rumah ini." Edward terdiam sejenak. Menatap Ethan dengan tatapan horor. "Bagaimana keputusanmu, Edward Jasper?" Tanya Ethan dengan senyuman manis. Edward langsung berdiri dan memeluk Ethan yang terduduk di kursinya. "Anggap saja kita tidak pernah membicarakan soal kepindahanku, Dad. Oh astaga, aku sangat betah tinggal di rumah ini bersama Mom tercinta dan keenam adik kecilku yang lucu dan juga, Dad-ku yang paling hebat!" Dan, berakhirlah Edward disini. Di koridor sekolah sebelum bel berbunyi sambil membaca buku Literature miliknya dengan tenang. Sampai kemudian ketenangan itu hilang begitu Edward yang sedang duduk di salah satu kursi, terkena lemparan bola baseball persis di pipinya dengan keras. "Damn!" Edward mengumpat pelan dan kemudian memegangi pipinya yang berdenyut, sampai seorang lelaki menghampirinya. "Ups, i'm so sory, Clap-per!" Lelaki itu tanpa bersalah mengambil bola baseball di samping Edward dan bahkan mengganti nama Jasper menjadi Clapper. "Tidak bisakah kau berhenti membuat masalah, Ben Redforr?" Desis Edward. Ben Redforr adalah senior Edward yang selalu membenci dirinya dan Calvin serta George. Tapi bukannya takut, Edward selalu saja berselisih dengan Ben. Bahkan yang terakhir kali, Ben dengan sengaja menubruk tubuh Ed di lapangan hoky es ketika pertandingan. Hal itu sampai membuat Edward hampir saja tidak bisa melanjutkan permainannya. Dan soal nama Clapper, Ben menyebut Edward Clapper karena baginya Ed begitu cerewet seperti lonceng. "Woah... kau marah, Clapper?" Edward menutup buku Literature-nya dengan keras dan langsung mendongak menatap Ben dengan tajam. "Kau, berhenti memanggilku dengan sebutan bodoh itu. Karena secara tidak langsung kau telah mengejek keluargaku." Ben Redforr sontak terbahak keras disusul dengan keempat temannya yang lain. "Kau berani menggertakku, Clapper? Biasanya kau hanya berani dihadapan pasangan gay-mu itu!" Edward menyipitkan matanya ketika disebut gay oleh Ben. "Calvin dan George." Hugo –teman satu geng Ben kemudian berdiri disamping Ben. "Bukankah mereka berdua pasangan gay-mu, Clapper?" Edward memutar bola matanya dan mendengus geli. "Kenapa? Kau juga mau aku sodomi? Kau mau merasakan kenikmatan dariku di lubangmu, hah?" "s**t! Kau menjijikkan, Clapper!" Ben dengan sengaja menarik buku literature yang ada di pangkuan Edward dan melemparnya ke lantai. Pada saat itu, para murid bahkan sudah berkumpul di koridor yang sama dengan kumpulan Ben dan Edward. Memenuhi mereka semua dan kemudian tawa Ben kembali terdengar ketika ada sepucuk foto yang keluar dari buku literature milik Edward. Ben kemudian mengambil foto itu dan kembali tertawa, "kenapa kau menyimpan foto bayi kembar, Clapper?" "Mungkin bayi itu adalah target Clapper selanjutnya untuk disodomi?" Hugo lalu mengambil foto itu dan tersenyum miring. "Secara, Ed terkenal sebagai p*******a dan gay." Ben lalu membuang foto itu dan sontak menginjaknya. "Back off, Ben." Desis Ed dan sontak dia berdiri. "Singkirkan kakimu dari foto itu." Edward jelas geram, karena itu adalah foto Georgia dan Georgina yang barusan dia ambil tadi malam. Lalu Edward sengaja menyelipkan foto itu di buku literature-nya agar foto Gia dan Gina bisa membuatnya semangat. Tapi ketika foto itu diinjak dan makin di tekan oleh kaki Ben, Edward sontak kembali membentak. "Singkirkan kakimu dari foto adikku, Ben!" "Kalau begitu, kenapa tidak kau berusaha sendiri menyingkirkan kakiku dari foto jelek ini, Clapper?" Tantang Ben. Ben jelas dapat melihat sorot mata penuh amarah dari rivalnya. "Kenapa? Kau tidak berani? Atau kau takut image-mu jelek di mata para fangirl-mu disini?" Edward tidak peduli pada semuanya, tanpa banyak bicara, Ed langsung melayangkan tendangan persis di d**a Ben. Bugh! Bunyi bedebam itu begitu keras karena punggung Ben sontak membentur loker. "Bukankah sudah aku bilang untuk menyingkir, k*****t?!" Edward langsung menarik kerah Ben dan menonjok hidung Ben dengan keras. "f**k!" Ben tidak tinggal diam, dia langsung menonjok perut lalu rahang Edward sampai Edward mundur beberapa langkah. Tak hanya itu, Ben kembali menendang perut Edward sampai Ed terbatuk-batuk. "Tidak usah banyak tingkah, Clapper!" "Berhenti memanggilku seperti itu, Redforr!" Ed langsung berlari menubruk Ben dan langsung memukul Ben bertubi-tubi. "Ed, hentikan!" Ed mendengar suara itu, suara Calvin –sahabatnya dan suara derap langkah George bersamaan. "Ed, kau bisa dihabisi oleh ayahmu!" Kali ini George bahkan langsung menarik Ed, tapi Ed malah menonjok George dengan kalap. "Stop, Ed!" Ben tidak tinggal diam, dia juga menonjok Edward dan Edward balas menonjok Ben sama kerasnya. Darah mengucur di hidung Ben, lalu ujung bibir Ed robek, pipinya memerah dan nantinya akan membiru. Sampai itu semua terhenti ketika suara bariton kepala sekolahnya mengintrupsi. "Edward Jasper! Ben Redforr! STOP!!!" *** Lily masih memejamkan matanya, menikmati bibir Dean yang perlahan-lahan makin mengekspos bibirnya. Mencicipi inci demi inci bibir Lily dan saling berbagi rasa dalam ciuman mereka. Dean dapat merasakan cecapan cokelat dalam mulut Lily dan Dean merasakan bagaimana perlahan-lahan Lily membalas ciumannya dengan kaku. Jeda beberapa saat untuk Dean dan Lily menghirup napas dalam-dalam, sampai Dean kembali meraih tengkuk Lily dan melumat bibirnya lebih dalam. Terus seperti itu, Dean belum berani menggerakan tangannya lebih jauh selain mengusap dan menekan tengkuk Lily. Sedangkan Lily hanya berani meremas kecil rambut belakang Dean. Hanya sejauh itu, tidak lebih. Sampai bunyi nyaring telepon Dean mengintrupsi ciuman mereka. Lily langsung membuka matanya dan bertatapan dengan Dean selama beberapa detik. Sampai keduanya berdeham secara bersamaan dan Dean langsung mengangkat ponselnya. "Halo?" Lily mengulum bibirnya dan sialnya dia kembali mencecap rasa bibir Dean yang membekas pada bibirnya. "Aku... akan segera kesana." Lily menoleh begitu mendengar nada lirih Dean. "Ada apa?" Dean meneguk salivanya sambil melirik Lily sekilas dan kemudian menjalankan mesin mobilnya. "Aku harus pergi ke suatu tempat. Aku akan mengantarmu pulang terlebih dahulu." Di perjalan, Lily bahkan memegang seatbelt-nya dengan kencang karena Dean mengemudikan mobilnya bak orang kesetanan. "Bila kau buru-buru, kau tidak usah mengantarku, Dean." "Aku harus mengantarmu." Jawab Dean dengan singkat. "Sepertinya urusanmu begitu penting. Aku bisa menunggumu dulu, baru kau bisa mengantarkanku nanti." "Kau yakin?" Lily mengangguk dengan cepat. "Asal kau menyetir lebih santai." Dean sontak mengusap wajahnya dan memelankan laju mobilnya walaupun masih terlihat mengendarai dengan cepat. "I'm sorry, Lily." Lily hanya menggigit bibir bawahnya. Dia bingung. Untuk apa Dean meminta maaf? Karena menciumnya tanpa permisi dan merebut ciuman pertamanya? Atau karena mengemudi bagaikan orang kesetanan? *** "Kau tunggu disini." "Dean, tapi –" Pintu mobil Dean sudah tertutup dan hanya menyisakan keheningan disini. Lily hanya bisa terdiam di dalam mobil dan menatap Dean yang sudah berlari terburu-buru. "Sebenarnya ada apa?" Gumam Lily. Pertama, dia berada di sebuah basement rumah sakit dan kedua, basement rumah sakit ini begitu sepi dan gelap. Lily mengusap lengannya sendiri, merasa sedikit ketakutan karena sepertinya hanya dia yang menjadi satu-satunya orang yang ada di dalam basement ini pada pukul sebelas malam. "Sebaiknya aku turun." Lily lalu mematikan mesin mobil dan mencabut kunci mobil Dean lalu langsung turun dari mobil. Perlahan, cahaya terang mulai tampak dan Lily langsung memasuki pintu masuk rumah sakit yang terang benderang. Sontak saja bau antiseptik khas rumah sakit langsung masuk ke indra penciumannya. Bau rumah sakit mengingatkan Lily pada novel-novel yang sering dia baca. Sang tokoh selalu membenci bau rumah sakit. Entah memang penulis membuatnya membenci bau rumah sakit, atau mungkin penulis itu memang benci bau rumah sakit dan melampiaskannya untuk pribadi sang tokoh yang penulis itu buat. Berbeda dengan Lily, dia baik-baik saja dengan bau rumah sakit. Bahkan, dia cenderung suka dengan bagaimana bau antiseptik yang khas itu terhirup oleh indra penciumannya. Lily sebenarnya hanya ingin duduk di kursi tunggu bersama beberapa orang yang sudah terlebih dahulu duduk disana. Ketika duduk, perlahan Lily memperhatikan sekelilingnya. Ada yang sedang tidur di kursi dengan posisi duduk, atau ada juga yang benar-benar tertidur di kursi tunggu bagaikan tidur di kasur. Ada juga yang menelepon seseorang dengan raut wajah cemas dan juga ada yang hanya duduk bermain ponsel. Malam ini, Lily sedikit menyadari bahwa tidak semua orang merasa bahagia. Semua orang memiliki pengalaman masing-masing pada satu detik yang sama. Terkadang, pada satu detik Lily merasa senang, di detik itupun ada seseorang yang merasakan kesedihan entah di belahan bumi mana. Terkadang dengan hal-hal kecil seperti ini, Lily yang selalu mendapatkan materi lebih dari kedua orangtuanya sejak kecil menyadari satu hal. Bahwa dunia tidak sesederhana dan sebahagia itu. Dunia mempunyai beragam cerita dan manusia dalam dunia memiliki berbagai masalah, pengalaman, dan perasaan yang berbeda-beda. Saling berkecamuk dalam hati mereka sendiri. Hanya mereka yang dapat merasakannya. Bukan orang lain. Dan termasuk Dean. Iya, Dean. Karena saat ini Lily melihat Dean keluar dari lift dengan dua orang suster disampingnya. Kemudian dibelakang Dean ada kasur pasien yang di dorong dengan terburu-buru. Lily segera bangun dari duduknya dan menghampiri Dean. Tapi, Lily seolah merasa transparan. Karena Dean seperti tidak melihatnya. Tatapan Dean hanya mengarah pada seorang wanita di kasur itu dan Lily dengan jelas dapat melihat sorot mata cemas di wajah Dean. Wanita yang bahkan terlihat begitu cantik dengan alat bantu pernapasan dan kulit yang begitu pucat. Kasurnya di dorong oleh empat orang suster dan ada dua orang dokter dibelakangnya. "Dean!" Lily bahkan masih sempat meneriakkan nama Dean. Tapi kemudian Dean, wanita yang ada di kasur itu, beberapa suster dan dua orang dokter masuk kedalam ruang ICU dengan terburu-buru. Lalu pintu ruang ICU tertutup begitu saja. Seolah tidak ada orang yang boleh masuk dan mengetahui keadaan genting di dalam sana. Lily terpaku didepan pintu itu. Beberapa detik kemudian, iris mata hazel-nya menatap kesekeliling. Orang-orang yang tadi duduk diam di kursi tunggu mengangkat wajahnya, menatap ke pintu ruang ICU dengan tatapan bingung bercampur penasaran. Tapi kemudian, sorot mata Lily meredup. Seiring dengan detak jantungnya yang perlahan berdebar keras tapi juga rasanya seperti ditekan. Sulit di deskripsikan karena Lily bahkan tidak mengetahui dengan pasti apa yang dia rasakan. Lily kemudian kembali duduk di kursi terdekat, duduk diam disana dengan pandangan kosong. Dia tidak tahu mengapa, tapi kemudian dia mengeluarkan ponselnya dan mendapati layarnya sudah menyala. Memperlihatkan lockscreen foto dirinya bersama dengan seorang lelaki yang mengalungkan tiga kamera sekaligus di lehernya. Lelaki yang terlihat gila dimanapun. Lily kemudian meremas ponselnya dengan kuat. Entah kenapa, saat ini rasanya dia ingin menghubungi lelaki itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD