Mata Lily berbinar senang begitu mobil yang dikendarai Max –ayahnya memasuki pekarangan Bali Senior High School.
Berbeda dengan Lily yang senang, Max malah kahwatir dengan keputusan anaknya ini yang sudah tidak ingin homeschooling lagi dan ingin merasakan sekolah formal seperti anak-anak lainnya.
"Kau tidak usah mengantarku, dad. Aku bisa ke ruang kepala sekolah sendiri." Ucap Lily dengan manis.
Max menatap bangunan sekolah modern dihadapannya sejenak dan kembali menatap Lily. "Kau yakin akan bersekolah disini?"
Lily mengangguk dengan semangat. "Yakin, dad. Bukannya kau sudah mengijinkanku menghabiskan tahun terakhir SMA ku di sekolah formal?"
"Terpaksa." Balas Max.
Tiba-tiba saja ada seorang lelaki gendut dengan pakaian formalnya berjalan kearah mobil yang dikendarai Max dan mengetuk jendela kaca mobil Lily sampai membuat Lily tersentak.
Lily kemudian membuka pintu mobilnya dan turun menyapa lelaki itu. "Good morning, Mr...?"
"Mr Holden." Lelaki itu memperkenalkan namanya dan langsung menjabat tangan Lily. "Saya kepala sekolah disini, Lily Jasper."
"Anda mengenal saya?" Tanya Lily.
Mr Holden tertawa dan kemudian menatap Max yang baru turun dari mobil. "Ayahmu sudah menjadi donatur terbesar di sekolah ini. Jadi, kami menjalin ikatan yang baik."
Lily melirik Max yang hanya mengedikkan bahunya sok tidak tahu apapun. Dalam diam Lily mendecih, pasti ayahnya melakukan hal ini agar Lily terlihat terpandang dan bisa lebih diperhatikan oleh siapapun di sekolah ini.
"Bisakah aku langsung masuk ke kelas, Mr Holden?"
"Ah –tentu saja." Mr Holden bahkan kini merangkul Lily dengan santai. "Kau juga harus ikut Mr Max Jasper. Anda harus tahu bahwa sekolah ini dilengkapi dengan fasilitas yang baik dan aman."
Lily mencibir lagi. Sebenarnya dia cukup bahagia dengan hidupnya. Walaupun dulu waktu kecil, Lily mengalami syndrome yang membuatnya tidak suka disentuh oleh orang lain dan takut bertemu dengan orang lain selain orang terdekatnya.
Tapi lambat laun trauma-nya hilang karena dibantu oleh Mommy-nya dan terapi di tempat praktek dokter Claire Xavier.
Lily dari dulu selalu menjadi anak homeschooling. Melakukan segala aktifitasnya dengan guru private-nya. Sampai dia selalu mendengar cerita dari Edward Jasper –sepupunya yang tinggal di London tentang keseruan sekolah formal dan membuatnya ingin mencoba sekolah formal di tahun terakhir SMA-nya ini.
"Mr Dean!" Tiba-tiba saja Mr Holden memanggil seorang lelaki yang sedang berjalan di koridor.
Lelaki itu menoleh kearah Mr Holden dan kemudian tersenyum sambil berjalan kearah Mr Holden. "Ada apa, Mr Holden?"
"Nah, Lily. Mr Dean akan mengantarmu ke kelas." Tiba-tiba Mr Holden menyerahkan Lily begitu saja kepada seorang lelaki yang bernama Dean.
Lily dan Dean kemudian saling berpandangan bingung, sampai suara Mr Holden kembali mengintrupsi. "Bukankah kau akan mengajar ke kelas twelve science two? Aku harus membicarakan soal bisnis dengan Mr Max."
"Ah –ya." Mr Dean menganggukan kepalanya seakan paham, lalu iris mata hijaunya menatap kearah Lily. "Ayo aku antar."
Lily mengangguk, kemudian menatap kearah Max. "Aku ke kelas dulu, dad."
"Kau harus belajar yang rajin, Lily." Pesan Max.
"Oke, dad."
"Kau harus memilih teman yang baik juga."
"Iya."
"Saat jam istirahat kau harus –"
"Dad..." Lily menatap datar Max yang mulai khawatir berlebihan lagi kepada Lily.
Max berdecak, "kau harus makan saat jam istirahat."
Lily mengangguk dan kemudian melambaikan tangannya kearah Max. Sampai kemudian Lily berjalan disamping Dean yang terlihat mengulum senyumnya, membuat Lily dapat melihat ada lesung pipi yang dalam di pipi kiri Mr Dean.
Lily kemudian mendesah pelan, merutuki sifat Max yang terlalu berlebihan sampai membuat Lily menjadi malu dihadapan guru tampan ini.
Tampan? Lily sedikit mencuri pandang kearah Mr Dean dan benar saja, siapapun yang melihat Mr Dean, pasti definisi 'tampan' akan terlintas dipikiran mereka. Lily yakin Mr Dean adalah lelaki Indonesia dengan keturunan barat. Karena Mr Dean begitu tinggi bahkan Lily hanya sebahu-nya.
Belum lagi rambut cokelatnya, kulit eksotisnya dan tubuh tegapnya yang dibalut kemeja hitam yang pas dengan badan Dean membuat lelaki itu makin terlihat tampan di mata Lily.
"Kau dari Negara mana?" Dean membuka percakapan, menatap Lily sampai membuat Lily tersentak dan langsung mengalihkan pandangannya.
"Aku dari Indonesia." Lirih Lily dengan pelan. "Dari kecil di Indonesia."
"Oh," Dean lalu menaikkan kedua alisnya. "Aku kira dari Inggris. Karena ayahmu berbicara dengan logat british yang kental."
"Daddy dan Mommy berkewarganegaraan London, Inggris. Begitu juga aku. Aku dan keluargaku hanya menumpang hidup dan bekerja di Indonesia." Jawab Lily.
Dean menganggukan kepalanya, "tapi logat britishmu tidak terlalu jelas."
Lily kemudian tertawa sumbang. Setiap orang yang mengajaknya berbicara tidak terlalu tahu bahwa Lily adalah wanita Inggris karena logat british Lily tidak kentara sebab dia lebih sering berbicara dengan warga Indonesia.
Tidak seperti Edward yang banyak digilai pengunjung resor keluarganya karena dianggap sebagai The Handsome British Boy Edward Jasper.
"Karena aku lebih sering berbicara dengan warga Indonesia."Jawab Lily dengan singkat.
Dean tersenyum lagi dan menghentikan langkahnya di sebuah pintu kelas berwarna biru terang. "Ini kelasmu selama satu tahun kedepan, Lily."
Begitu pintu terbuka, Lily langsung mendengar suara ricuh kelas yang langsung hening sejenak begitu Dean memasuki ruangan.
Tapi hanya beberapa detik, karena kemudian kelas kembali bersemangat.
"Mr Dean! Kapan giliranku tampil bernyanyi?"
"Hari ini kita mempelajari alat musik apa?"
"Aku ingin belajar kajon, Mr Dean!"
Mr Dean kemudian mengepalkan telapak tangan kanannya dan memperlihatkan pada murid-murid kelas. Membuat murid-murid kelas menjadi terdiam.
Lily mengernyitkan dahi-nya dan berpikir bahwa mungkin itu sebuah tanda untuk diam.
"Ada murid baru di kelas ini," ucapan Mr Dean membuat Lily yang berada pintu luar meneguk salivanya karena gugup. "Kau bisa masuk, tempat dudukmu ada di bangku ketiga dari depan."
Lily menganggukan kepalanya, lalu melangkah memasuki kelas dan duduk di bangku yang disebutkan Mr Dean tadi. Meja yang Mr Dean tadi terasa jauh dan Lily merasa dia begitu lama melangkah kesana. Padahal hanya sepuluh langkah saja yang ia butuhkan.
Itu semua karena dia gugup, semua pandangan siswa kelas terarah padanya. Kaki Lily terasa seperti Jelly dan rasanya napasnya sesak. Tapi setelah Lily duduk di bangkunya, seorang gadis didepannya menoleh kearahnya dengan cepat dan tersenyum.
"Bagaimana menurutmu? Apa Mr Dean tampan?!" Tanya gadis dengan kuncir kuda itu bersemangat. Wajahnya terlihat seperti keturunan Tionghoa.
Lily sampai mengernyitkan alis dengan pertanyaan itu dan kemudian tersenyum canggung.
"Shienna, jangan mengejutkan teman barumu itu dengan pertanyaan konyolmu." Tegur Dean sambil menulis sesuatu di bukunya.
Gadis Tionghoa yang dipanggil Shienna tadi hanya terkikik geli dan menoleh lagi kebelakang. "Jadi, bagaimana menurutmu?"
Lily kembali menatap Mr Dean sejenak dan kemudian menatap Shienna. "Dia... tampan."
"Jadi, siapa namamu?"
Lily terkejut lagi ketika Dean tiba-tiba menunjuknya dari depan kelas. "Bukankah kau sudah mengetahui namaku?"
Seluruh kelas tertawa dengan pertanyaan polos Lily dan Dean menggaruk alisnya dengan kikuk yang malam membuatnya makin tampan karena merasa bingung.
"Aku berbicara seperti ini agar kau mengenalkan dirimu."
Lily tersenyum malu dan balas menatap beberapa siswa dan siswi kelas yang menatapnya penasaran. "Namaku Lily Jasper."
"Kau dari Negara mana, Lily?" Seorang lelaki berkacamata yang duduk di bangku paling depan bertanya pada Lily.
"Dari Indonesia, tapi kedua orangtuaku berasal dari London, Inggris."
"Ah... Brittish Girl!"
Celetukan seorang lelaki itu membuat Lily menatapnya dan tersenyum masam. Mereka belum tahu kalau Lily tidak suka disebut Brittish Girl.
***
Edward J: How's school?
Lily Jasper: Menyenangkan :)
Lily menghela napasnya dan meletakkan ponselnya di paha begitu Edward tidak membalas pesannya lagi.
Lily kemudian menggoyang-goyangkan kedua kakinya diatas bangku pekarangan sekolah sembari dia menunggu supir suruhan ayahnya untuk menjemput.
Hari ini, Lily begitu senang.
Benar kata Edward, bahwa sekolah formal itu menyenangkan. Lily menjadi punya banyak teman seumuran. Selama ini teman seumurannya hanya Edward –sepupunya sendiri. Hanya Edward dan terkadang Samuel –adiknya yang bisa dia ajak menonton bersama, makan bersama, travelling ala anak muda bersama.
Tapi sekarang? Teman-teman Lily sudah banyak. Bahkan ponselnya beberapa kali berbunyi menampilkan notifikasi pesan group dari teman sekelasnya.
Tapi kebahagiaan Lily tidak berlangsung lama karena dia harus dua jam duduk di kursi pekarangan sekolah menunggu jemputannya.
Dua jam dan baik Max, Shayla –mommy-nya, Samuel atau siapapun asisten rumah tangganya tidak ada yang menjawab telepon ataupun membalas pesan.
Lily sebenarnya bisa jadi naik taksi, atau transportasi online apapun yang sekarang semakin mudah daripada dia menunggu lama. Tapi yang menjadi kendala, seumur-umur Lily belum pernah menaiki kendaraan umum seumur hidupnya.
Bahkan soal pesawat, keluarga Jasper sudah memiliki jet pribadi yang mengantar Lily kemanapun dia mau pergi. Karena Lily dilahirkan dari keluarga Jasper, jadi sudah pasti hidupnya terjamin sampai sepuluh turunan pun.
Sampai kemudian sebuah suara motor besar laki-laki mendekati dirinya. Lily masih duduk terdiam, menatap lelaki yang mengendarai motor itu berhenti dihadapannya dan kemudian membuka kaca hitam helm-nya.
"Mr Dean?"
Dean tersenyum, menatap Lily si murid baru yang masih duduk di pekarangan walaupun kini sudah jam lima sore. "Kenapa belum pulang?"
"Belum ada yang menjemput."
Tanpa pikir panjang, Dean turun dari motornya dan membuka jog motornya. Lalu memberikan helm berwarna putih pada Lily. "Ayo aku antar."
"Tidak perlu," Lily menolak secara halus. "Akan merepotkan bila Mr Dean mengantarku."
"Tidak apa-apa, mumpung aku sedang bosan ada di rumah." Dean masih bersikeras, karena melihat seorang siswi yang duduk sendirian saat sekolah sudah sepi membuatnya merasa tidak enak bila tidak mengantar. "Kalau kau takut aku berbuat macam-macam, kau bisa menuntut ke pihak sekolah."
Karena Dean berbicara seperti itu, Lily jadi tidak enak sendiri karena Dean bisa saja menganggapnya takut padanya. Karena belum kunjung di jemput, mungkin bersama Dean juga tidak ada salahnya.
"Baiklah," Lily kemudian mengambil helm dari tangan Dean dan memakainya.
Tapi kemudian tangan Dean mengaitkan pengait helm Lily, membuat Lily tubuh Lily membeku. "Agar aman dan daddy-mu tidak menuntutku bila terjadi hal yang tidak kita inginkan."
Lily kemudian naik keatas motor besar Dean, "ucapanmu seolah-olah akan ada hal yang buruk terjadi."
Dean tertawa dan kemudian menepuk pingganya sendiri. "Letakkan tangamu disini, agar lebih aman."
"Aku juga tahu," cibir Lily sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Dean.
"Jadi kau sudah pernah naik motor?" Tanya Dean di sela-sela dia mengendarai motornya.
"Pernah."
"Bersama siapa?"
Edward. Jawab Lily dalam hati. "Bersama sepupuku."
Dean hanya menganggukan kepalanya dan motornya membelah jalanan kota Bali. Kalau sebenarnya, ini adalah kali pertama Lily naik motor di Bali. Karena dia biasanya naik motor bersama Edward bila musim panas di London atau musim dingin.
"Kau bisa bermain alat musik apa, Lily?" Tanya Dean untuk memecahkan keheningan diantara keduanya.
"Sebenarnya aku tidak bisa bermain alat musik apapun."
"Wah, kau harus belajar bersamaku bila seperti ini. Buta dalam bermusik itu membuatmu hampa."
"Tapi aku bisa mendengarkan musik. Aku juga suka lagu-lagu modern." Jawab Lily. "Jadi dibilang hampa, tidak juga. Kau sendiri, apa alat musik yang kau sukai?"
"Gitar?" Jawab Dean cenderung bingung. "Sejujurnya aku suka semua musik. Karena itulah aku menjadi guru musik."
"Aku sebenarnya ingin belajar bermain gitar. Tapi, aku belum menemukan guru musik yang pas."
"Kau bisa belajar bersamaku bila kau mau." Tawar Dean begitu saja. Dia juga tidak tahu mengapa dia rasanya ingin dekat dengan salah satu muridnya ini. Rasanya, menyenangkan saja.
"Benarkah?!"
Pertanyaan semangat Lily membuat Dean tertawa dan menganggukan kepalanya. "Iya, Lily."
"Terimakasih Mr Dean! Kau baik sekali!"
Dean tertawa lagi karena merasa dia ikut merasakan kesenangan yang dirasakan Lily. Sampai kemudian tawa Dean terhenti ketika dia merasakan sebuah mobil tanpa atap yang menjajarinya dan seorang lelaki remaja berada dibalik kemudi.
"Lily! Lily!" Teriak lelaki itu.
"Edward?!" Lily memekik terkejut. "Kapan kau sampai ke Bali?!"
Dean berusaha fokus menyetir sedangkan dia merasa bocah yang mengendarai mobil itu tidak waras karena dia bisa-bisanya menjajari motornya dan berteriak-teriak memanggil Lily.
"Aku kesini untukmu! Hei, Uncle! Bisakah kau menghentikan motormu dan biarkan Lily menaiki mobilku yang lebih nyaman ini?!" Lelaki itu berteriak lagi sambil menyetir.
Membuat Dean mengumpat pelan. "Uncle katanya?! Memangnya aku setua itu?!"