CHAPTER 2: EDWARD AND DORAEMON

1612 Words
Motor yang dikendarai Dean kemudian berhenti di pinggir jalan, dengan sebuah mobil sport yang kap nya terbuka berhenti juga didepan motornya.  "Kau mengenal lelaki itu?" Tanya Dean sambil membantu Lily melepaskan helm dari kepala gadis itu.  Lily tersenyum canggung, kemudian mengangguk.  "Dia sepupuku." "Sepupu yang kau ceritakan pernah naik motor bersamamu?" Edward yang mendengar lelaki tua dihadapan Lily yang selalu bertanya ini membuat Ed berdecak kesal.  "Kau ini sudah bagai wartawan saja, Uncle." "I'm sorry,  what did you said? Uncle?" Dean mengernyitkan alisnya tidak suka.  "Iya.  Kenapa? Kau kan sudah tu —umph!" Lily langsung membekap mulut cerewet Edward dan menatap kesal sepupunya itu.  "Bicaralah yang sopan padanya,  Ed." Bisik Lily,  lalu dia melepaskan tangannya dari mulut Edward.  "Ed, ini Mr Dean.  Dia guru musik di sekolahku dan Mr Dean,  dia adalah British Boy.  Edward Jasper. "Ah —i see. Terlihat dari logat British sepupumu ini." Dean kemudian tersenyum ramah.  "Senang bertemu denganmu,  Ed." Ed kemudian mengangguk seadanya.  "Kalau aku sih biasa saja." "Ed!" Lily menyikut pinggang Edward sampai membuat sepupunya itu meringis kesakitan.  "Mr Dean,  terimakasih telah mengantarkanku." Dean tersenyum tipis sembari mengedikkan bahunya.  "Aku belum memgantarkanmu sampai tujuan." "Kau bisa ke rumahku saat kita memulai les musik." Sahut Lily.  Dia benar-benar bersemangat akan bisa menghabiskan beberapa jam bersama guru tampan seperti Mr Dean.  Ed kemudian menguap dengan kencang bak merusak suasana.  "Kenapa rasanya aku jadi melihat realiti show perpisahan sepasang kekasih ya?" "Hati-hati." Dean bahkan tidak tahu mengapa,  tapi tangannya dengan refleks mengusap rambut blonde Lily dan melirik was-was kearah Edward yang nampak tak perduli.  Lily bahkan jadi terkejut dan pipinya bersemu merah begitu saja.  Sampai kemudian Dean hanya bisa terdiam menatap kepergian Lily dengan sepupunya itu.  Setiap melihat Lily dan memanggil namanya,  membuat Dean jadi merindukan seseorang yang lama tidak dia temui lagi.  ••• Bau antiseptik yang begitu menguar membuat Dean sedikit mengernyit dan belum-belum rasanya Dean seperti ingin keluar lagi dari rumah-sakit ini.  Tapi sebuah bunga Lily putih di tangannya seakan menahannya.  Seakan bunga Lily itu ingin bertemu pemiliknya.  Perlahan tapi pasti,  Dean melangkahkan kakinya memasuki lorong rumah sakit dan terus berjalan ke ruangan vvip. Sampai tapak kakinya berhenti di sebuah pintu putih bernomor delapan puluh delapan.  Saat Dean membuka pintu itu,  suasana masih sama seperti sebulan yang lalu.  Masih sepi dan hampa walaupun ada calon istrinya yang tertidur di kasur rawat inap dengan mata yang terus terpejam dan membuat Dean terus berharap keajaiban datang agar dia bisa kembali menatap iris mata cokelat yang indah itu kembali menatapnya.  Dean kemudian melangkah masuk dan menutup pintunya,  dia melihat calon istrinya yang makin lama makin kurus karena hidupnya hanya bergantung pada alat-alat kedokteran itu.  Ketika iris mata Dean menatap vas bunga di nakas,  isinya sudah kosong.  Dean kemudian mengambil vas bunga itu,  mengisinya dengan air dari wastafel dan menaruh bunga Lily di dalam vas bunga yang indah itu.  Dean menatap bunga itu cukup lama,  dia hanya berharap bau antiseptik yang dibencinya ini akan hilang karena bunga Lily yang dia beli untuk calon istrinya.  Tapi semua itu serasa sia-sia karena bau antiseptik itu masih tetap tercium.  Dean lalu duduk di sebuah kursi, telapak tangannya langsung menggenggam tangan calon istrinya yang terasa dingin dan kemudian merapikan rambut hitam yang panjang milik istrinya.  "Hari ini,  ada seorang murid baru di sekolah tempatku mengajar.  Dia adalah gadis Inggris sepertimu." Dean kemudian mengecup punggung tangan calon istrinya.  "Sifatnya juga mengingatkanku padamu.  Dia seorang gadis kaku yang manis. Sama sepertimu." "Namanya juga sama denganmu.  Kau ingin tahu siapa namanya?" Dean terdiam,  ingin rasanya dia mendengar suara wanita yang tertidur nyenyak dihadapannya ini.  "Namanya Lily.  Sama seperti panggilanmu,  bukan?" Tidak ada jawaban lagi,  Dean kemudian mendesah frustasi sambil menahan air matanya yang hendak menetes.  "Kapan kau akan bangun,  Liliana?" ••• "Lil?" Edward tidak perlu mengetuk pintu kamar Lily,  karena dia sudah terbiasa langsung masuk begitu saja.  Lily sedang duduk diatas kasur sambil mencoba memetik sebuah gitar berwarna putih di pangkuan gadis itu.  "Gitar?" Lily mendongak,  kemudian tersenyum begitu menyadari Ed masuk ke kamarnya.  "Bagus tidak?" Tanya Lily.  "Baru saja Daddy membelikannya padaku setelah aku berkata akan les musik." "Oh dengan uncle itu?" Ed kemudian membaringkan dirinya begitu saja di kasur Lily.  Lily memutar bola matanya dengan kesal.  "Namanya Dean,  Ed.  Jangan kau panggil dia dengan uncle." "Dia sudah tua,  Lil." "Dean hanya berumur sepuluh tahun lebih tua dari kita." Ed mengernyitkan dahinya,  "umurnya dua puluh sembilan?" "Iya." Ed sontak terbahak kencang.  "Tua!  Lelaki tua bangka!" "Ed!" Lily langsung memukul Ed dengan sebuah boneka doraemon.  "Astaga!  Aku hampir melupakan Doraemonku!" Ed lalu memeluk boneka doraemonnya.  Lily sontak mendengus. Kadang Lily binging Edward seorang lelaki tulen atau tidak.  Karena Ed begitu suka dengan Doraemon dan mengoleksi aksesorisnya.  Tapi beberapa aksesoris itu diletakkan di kamar Lily agar keenam adiknya yang ada di London tidak merusak barang favoritnya.  "Kau masih menjaga action figure sizuka-ku, tidak?" Tanya Ed dan seketika dia langsung duduk dan berkeliling melihat kamar Lily yang luas.  "Aku menyimpannya di dalam lemari." "Kenapa didalam lemari? Aku bahkan sudah meminta uncle Max membeli lemari kaca untuk action figure doraemon-mu." Balas Ed tidak terima karena action figure sizuka-nya diletakkan begitu saja didalam lemari.  "Aku bahkan membelinya langsung di Jepang,  Lil." "Action figurmu.  Bukan action figurku." Cibir Lily. "Nanti taruh di lemari kaca." lily mendengus kesal, "malas." "Yasudah, aku juga malas memberikan album Calvin Leonard yang bahkan belum dia beritahukan di media." Begitu Ed menyebutkan nama Calvin Leonard,  Lily langsung terlonjak dari duduknya dan mendekati Edward.  "Album Calvin Leonard?!" Ed mengangguk bangga.  "Astaga Edward!  Mana mana?  Aku ingin melihatnya!" Ucap Lily dengan semangat.  Ed yang melihay Lily bersemangat seperti itu kemudian mendengus geli.  Sebenarnya Ed bisa mendapatkan foto,  album,  dan bahkan mereka video khusus dari Calvin Leonard untuk Lily karena Calvin adalah sahabatnya di senior highschool di London.  Dan Lily sangat menggilai Calvin Leonard yang notabene seorang penyanyi muda papan atas.  "Melihat saja ya..." Goda Ed.  "Ayolah,  Ed.  Untuk apa kau memiliki album sahabatmu.  Memangnya kau homo?" Lily merajuk sambil memeluk-meluk Ed dan membuat Edward tertawa geli.  "Iya-iya." Ed lalu balas memeluk Lily. "Cium aku dulu." Tanpa pikir panjanh Lily kemudian mengecup pipi Edward.  "Mana?!" "Di kamarku,  ambil sendiri." Lily tidak menjawab lagi,  dia kemudian berlari begitu saja memasuki kamar Edward dan kemudian menjerit senang ketika menemukan albim Calvin,  tanda tangannya dan foto ekskusif Calvin yang diberikan khusus untuknya.  "Tidak sia-sia menjadi sepupu kesayangan Edward Jasper." Gumam Lily dan kemudian menciumi album Calvin lagi.  ••• Edward hanya diam saja ketika Lily menggunakan ponselnya untuk saling berbalas pesan dengam Calvin Leonard.  Kadang Lily memekik sendiri,  lalu tertawa sendiri,  dan kemudian mengomel sendiri ketika Calvin lama membalas pesannya.  "Sudahlah,  Lil.  Kau akan membuatku benar-benar seperti lelaki gay yang jatuh cinta pada Calvin." Omel Edward.  Lily melirik sedikit kearah Edward dengan kesal dan kemudian memekik senang ketika Calvin membaca pesannya.  "Memangnya kenapa? Banyak lelaki gay yang jatuh cinta pada Calvin.  Dia tampan,  suaranya bagus,  baik. Ah, Calvin adalah lelaki idaman." "Kau belum tahu saja jika Calvin suka mengentut ketika mabuk." Dengus Edward, namun Lily tidak perduli.  Sampai kemudian ada sebuah pesan yang masuk ke ponsel Edward dan Lily yang membacanya.  Calista Fedr: where are u, honey?  Kau tidak merindukanku? Wajah Lily menampilkan raut wajah bingung bercampur jijik ketika membacanya.  Kemudian Lily melirik Ed yang masih sibuk menonton Doraemon di youtube dari macbook-nya.  Lalu ada satu pesan lagi dari wanita yang bernama Calista itu.  Calista Fedr: i miss your touch in my body  "Ew! Kau seks bebas lagi,  Ed?!" Edward menatap Lily sejenak dan kembali menatap macbook-nya.  "Itu bukan hal yang tabu bagi remaja berumur sembilan belas tahun di London, Lil." "Tapi bagaimana jika wanita yang tidur denganmu hamil?" Tanya Lily.  "Berhentilah menyebar benihmu kemana-mana, Ed." Edward terkekeh kecil. "Melakukan hal seperti itu dengan aman,  Lil.  Aku selalu menggunakan ko—" "EW!" Lily langsung menjambak rambut Edward sampai membuat Ed mengumpat kesal.  "Sakit!" "Kau jorok!" "Kalau aku tidak jorok maka aku bukan lelaki normal!" Lily tertawa sinis, "kau memang bukan lelaki normal.  Kau gila." "Aku tidak gila." Bantah Edward. "Oh? Jadi orang yang meninggalkan London satu minggu sebelum ujian di sekolah adalah orang normal?" Sindir Lily yang langsung membuat Edward menatapnya tidak suka.  "Aku heran kenapa wanita suka sekali menyindir." Lily terdiam dan melempar ponsel Ed begitu saja dengan acuh. "Pergi sana. Aku muak denganmu." "Aku juga." Ed lalu mengambil ponselnya dan berjalan keluar kamar. "Dasar tidak tahu terimakasih." Lily melebarkan matanya karena terkejut Ed berkata seperti itu. "Bukankah aku sudah berterimakasih denganmu atas album Calvin itu?! Kau belum puas?! Kalau begitu TERIMAKASIH!" BRAK!  Dada Lily naik turun karena napasnya yang memburu karena dia begitu kesal pada Ed.  Sampai kemudian pintu kamarnya terbuka dan dengan refleks Lily langsung melemparkan boneka doraemon berukuran besar dari kasurnya.  "Argh! Lily!" "Daddy!" Lily membekap mulutnya karena terkejut.  Bahkan dia mengumpat dihadapan Max Jasper —ayahnya.  Iris mata biru Max menyipit menatap Lily.  "Apakah daddy harus menyiapkan ring tinju untuk kau dan Ed? Ruangan kerja Daddy yang kedap suara saja bisa mendengar pertengkaran kalian." Lily mengerucutkan bibirnya dengan kesal, "sorry, daddy." Max menghela napasnya, "diamlah untuk beberapa menit. Ada banyak kolega di ruangan kerja Daddy." Lily hanya mengangguk kecil sampai pintu kamarnya kembali tertutup.  Lalu dengan cepat Lily meraih boneka doraemon besar yang tadi dia buanh didepan pintu dan mencekiknnya bahkan memukulnya dengan brutal.  "Dasar berisik! Menyebalkan! Tidak bisakah kau bersikap normal dan tidak lagi menebar pesonamu kesana kemari,  Edward Jasper?!" Lily lalu menendang boneka doraemon itu.  "Boneka Doraemon jelek! Sama seperti yang punya!" Lily tidak tahu kenapa,  tapi entah kenapa,  melihat lelaki yang selama sembilan belas tahun tumbuh bersamanya di negara yang berbeda dan membuat pergaulan Edward menjadi lebih bebas membuat Lily menyadari semakin lama dia semakin jauh dengan Edward.  Dunia bermain Lily dengan Edward sudah berbeda dan sudah tidak sama lagi.  Itu membuat Lily semakin menyadari bahwa kini dia tidak bisa menganggap Edward sebagai Supermannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD