CHAPTER 3: ANGRY

1726 Words
Samuel Jasper masih sedari tadi hanya berbaring santai di kasur Lily sambil memainkan ponselnya. Tetapi iris mata biru lelaki berumur lima belas tahun itu sesekali menatap kakak perempuannya yang lagi-lagi membawa sebuah dress berwarna hitam kali ini. "Bagaimana menurutmu kalau yang ini?" Tanya Lily meminta pendapat. "Kau mau ke acara pemakaman?" Sam kembali bermain ponselnya. Tanpa memperdulikan Lily yang mendengus kesal. "Lagipula kenapa kau selalu memakai baju warna hitam?" "Tidak selalu, Sam. Hanya kadang-kadang." "Sama saja." "Baju hitam membuatku terlihat lebih langsing." Mendengar itu sontak Sam menaikkan kedua alisnya dan sontak tertawa meremehkan. "Kau bahkan tidak gendut, Lily. Kau terlalu kurus, seperti papan dan dadamu juga kecil." "Sam!" Lily melotot marah kearah Samuel. Sedangkan Samuel kembali tertawa. "Akhirnya, kakakku ini menaksir seorang lelaki di sekolahnya." "Bagaimana kau bisa tahu?" Lily tersipu dan kemudian duduk di samping Sam. "Terlihat dari kelakuanmu." Sam tersenyum lagi. "Aku ini juga lelaki. Jadi aku tahu kelakuan wanita yang sedang jatuh cinta." Lily sontak tertawa sambil mengacak rambut Sam, membuat Sam memprotes kelakuan kakaknya ini. "Kau ini masih lima belas tahun, Sam." Samuel menggerang kesal karena Lily masih juga mengacak rambutnya. "Yang penting aku sudah punya pacar. Tidak seperti kau." "Lihat saja, sebentar lagi aku akan punya pacar." Cibir Lily. Lalu Lily kembali berjalan memasuki walk in closet. Sam kemudian sedikit berteriak, "kau bagus bila memakai baju warna merah muda." "Itu terlalu, girly!" Protes Lily. Dan setelah satu jam memilih baju serta berdandan, Lily memilih sebuah dress rumahan berwarna putih untuk bertemu Dean di rumahnya hari ini. ••• "Silahkan masuk, tuan. Miss Lily masih ada di kamar. Biar saya panggilkan terlebih dahulu." Dean tersenyum seraya mengangguk kecil pada pelayan tersebut. Pelayan tersebut mengantarkan Dean ke ruang tamu untuk menunggu Lily sembari beberapa pelayan lainnya membawakan troli berisi beberapa macam teh agar Dean bisa memilihnya dan pelayan tersebut meraciknya langsung dihadapan Dean. Lalu disusul sebuah troli berisi beberapa macam cake. Dean tersenyum canggung, dia merasa sebagai raja di rumah Lily. Walaupun sebenarnya dia cuma tamu disini. "Mr Dean?" "Oh hai," Dean langsung meletakkan cangkir teh yang dia pegang. "Kau cantik sekali." "Hah?" Lily bahkan merasa salah tingkah mendapat pujian dari Dean. Dia tidak menyangka bahwa waktu satu jam yang dia gunakan untuk berdandan langsung mendapat pujian secepat ini dari Dean. "Thanks." Dean mengangguk kecil, "kita mau latihan disini saja?" "Bagaimana bila di halaman belakang saja?" tawar Lily. Dean mengangguk lagi sembari menenteng tas gitarnya. "Ayo." Seperti banyangan Dean, halaman belakang rumah Lily adalah sebuah taman luas dihadapannya dengan samping kanannya adalah sebuah kolam renang yang indah. Belum lagi diatas kolam renang itu ada balkon-balkon dari beberapa kamar di rumah Lily Jasper. Lily kemudian mengajak Dean duduk di gazebo rumahnya yang berada didekat kolam renang. Duduk berhadap-hadapan dengan Lily yang memangku gitar berwarna putih. "Langsung saja untuk pemanasan jari-jarimu, kita memainkan kunci c." Ucap Dean. Lily mengernyit bingung, "kunci c? Bagaimana itu?" Dean tertawa kecil, lalu tanpa banyak bicara dia menggenggam telapak tangan Lily dan mengarahkannya ke senar-senar gitar yang seharusnya. Lily bahkan sampai menahan napasnya beberapa detik ketika jemari Dean menyentuh telapak tangannya dan sesekali mengarahkan jemarinya. "Nah, tekan yang kuat." Lily menggigit bibir bawahnya ketika Dean menekan jari telunjuknya agar lebih menekan salah satu senar gitar. "Kau harus menekannya, bila senarmu tidak tertekan dengan baik, maka suara gitar akan sumbang." Terang Dean dengan santai tanpa menyadari hati Lily yang berdegup lebih cepat dari biasanya. "Nah, sekarang gerakan tanganmu ketas dan lalu kebawah seperti ini." Dean lalu memainkan gitarnya, membuat gitar milik Dean berbunyi. Lily mengangguk sekilas, lalu mulai memainkan gitarnya. "Suara gitarku tidak seperti suara gitarmu." Ucap Lily. Dean kemudian tertawa kecil, "itu berarti suaranya masih sumbang. Begini, jarimu lebih ditekan lagi pada senarnya." Lily sampai meringis kesakitan karena jarinya yang menekan senar gitar begitu keras. "Belum terbiasa ya?" Dean mendongakkan kepalanya, menatap Lily yang tadi meringis kesakitan. "Nanti juga kau akan terbiasa. Kalau kau begitu cinta nantinya dengan gitar, kulit jari-jarimu akan mengeras dan mati rasa dengan rasa nyeri ketika menekan senar gitar." "Ah, apa iya?" Lily dan Dean sontak menoleh kearah Edward yang baru saja memasuki halaman belakang. Lily mendengus kesal sedangkan Dean berusaha tersenyum ketika bertemu dengan Ed. "Jangan bermain gitar, Lil. Nanti kulit jarimu akan kasar dan tidak lembut lagi." Edward berusaha mempengaruhi. "Kasihan pacarmu nanti, harus bergandengan dengan tanganmu yang kasar." Dean menaikkan kedua alisnya tidak paham. "Bukankah kulit telapak tanganmu juga begitu bila sering bermain gitar, Ed?" "Ed tidak bisa bermain gitar." Lily menimpali, menatap Ed sekilas dengan datar sedangkan Dean sontak menahan tawanya. "Kau tidak bisa bermain gitar?" Tanya Dean dengan nada gelinya. Ed memutar bola matanya malas. Rasanya dia ingin menjatuhkan Dean ke kolam renang saat itu juga. Karena pertanyaannya yang membuat Ed terasa di ejek. "Aku bisa mengajarimu kalau kau mau." Tawar Dean. "Oh, tidak perlu." Edward mengangkat dagunya dengan angkuh. "Lebih baik aku belajar di youtube daripada membayarmu untuk mengajariku bermain gitar. Buang-buang uang." Dean hanya terkekeh geli, dia tidak merasa sakit hati dengan perkataan Edward barusan. "Kau saja sering membuang uangmu untuk clubbing." Sindir Lily. "Daripada membuang uang untuk berduaan dengan lelaki tua yang kau taksir ini!" Setelah berkata secara terus terang, Ed langsung kembali masuk kedalam rumah. Meninggalkan Lily dengan wajah semerah kepiting rebus sedangkan Dean yang menatapnya dengan geli. "Ma-maaf Mr Dean, kau tidak harus mendengarkan ucapan Ed. Mulutnya sering meracau." Lily menggigit bibir bawahnya. Sekarang, dia benar-benar grogi berhadapan dengan Dean. Bagaimana Ed bisa menyimpulkan bahwa Lily menyukai Dean sedangkan Lily hanya menganggumi Dean? Hanya mengagumi. Iya, mengagumi dan tidak lebih. Dean hanya kembali tertawa kecil sambil memetik gitarnya. "Sampai mana kita tadi?" "Eng —kunci c?" Dean memetikkan jarinya dan kembali mengajari Lily. Tapi di sela-sela Lily yang menundukkan kepalanya saat mencoba memetik senar gitar, iris mata Dean terus melirik gadis muda dihadapannya ini. ••• "kapan kau pulang?" "Hai... Babe Calvin! Kenapa? Kau merindukanku?" Calvin Leonard —penyanyi muda terkenal di Inggris sekaligus sahabat Edward di senior highschool mendecih keras di sambungan telepon mereka. "Setiap aku dan George berjalan hanya berdua dan setiap wanita yang kita lewati di koridor sekolah selalu bertanya kapan kau kembali dari liburan bodohmu itu." "Liburan bodoh?" Ed lalu terbahak. "Tidak ada liburan yang bodoh, Babe Calvin." "Ew! Stop 'babe' me, Jasper!" Rutuk Calvin. "Baik, liburan tidak bodoh. Tapi kau bodoh. Jadi untuk apa kau terbang jauh-jauh ke Indonesia hanya untuk memberi Lily album-ku yang bahkan belum liris dengan tanganmu sendiri?" "Aku hanya merindukan wajah senangnya." "Kau bisa skype, stupid!" Ed memutar bola matanya malas sembari melangkah ke balkon depan kamarnya. "Baik, aku merindukannya dan aku ingin bertemu." "Bahkan album-ku belum rilis dan kau sudah merecoki produserku untuk segera memproduksinya yang perdana." Calvin mendumal lagi. "Whoa... Siapa produsermu memangnya?" Goda Edward walaupun dia sudah mengetahui jawabannya. "Ayahmu, bodoh!" Calvin bahkan mengumpat lagi. "Cepatlah pulang, Ed. Lusa kita sudah ujian."  "Hm." "Dan kau harus datang ke ulangtahun Claire." "Ah, dia—" Mendengar nama Claire, Edward tertawa canggung. "Ed! Jangan bilang kau tidak mau datang. Dia sahabatku sejak kecil dan kau yang pertama kali untuknya. Kau yang sudah memberi dia harapan palsu dan kau juga yang—" "Iya... Iya! Aku akan datang!" Edward mengusap wajahnya dan kemudian berbisik. "Bila tidak lupa." Edward masih ingat dengan Claire. Teman wanita satu malamnya saat Ed datang ke pesta dirumah Calvin. Teman satu malam yang meminta hubungan lebih. Seharusnya Ed tidak melakukannya dengan Claire bila dia tahu bahwa wanita itu adalah wanita yang agresif. Lebih baik Claire Jasper —ibunya. Daripada Claire sahabat Calvin itu. "Kalau kau sampai sengaja melupakan Claire—" Ucapan Calvin serasa teredam begitu saja ketika Edward melihat Dean keluar dari rumah Lily dan menghampiri motor besarnya. Sampai kemudian ucapan Calvin kembali mengintrupsi. "Cintamu itu buta untuk Lily." "Hm?" Edward mengernyit. "Aku hanya mencintai Lily sebatas sepupu, Cal." "Sepupu?" Calvin tertawa di seberang sana. "Baguslah kalau kau menyadari itu. Kalau aku lihat, kau itu mencintai Lily sebagai seorang gadis yang bukan sepupumu." "Kau gila, Cal. Tidak mungkin aku mencintai Lily seperti itu." Edward terdiam, iris mata birunya menatap Dean yang sedang mengenakan helm-nya. "Ibaratnya, seperti ada tetesan darah Lily juga mengalir di darahku karena ayah kami bersaudara sekali." "Kalau begitu, kau harus belajar membalas cinta sahabatku —Claire. Jangan jadi seorang b******n, Ed." Edward sontak terbahak kencang. "Kau yang b******n!" Lalu sambungan telepon terputus, Ed sudah terlalu muak karena Calvin sangat cerewet tapi Ed juga rasanya ingin selalu tertawa bila mendengar Calvin mengomel. "Dasar artis rumit." Ed lalu melemparkan ponselnya keatas ranjang begitu saja dan keluar kamar. Edward harus menemui Dean sebelum lelaki tua itu pergi lagi. ••• "Uncle!" Dean yang hendak menyalakan motornya sontak menoleh begitu dia melihat Edward Jasper yang menghampirinya. "Ada apa? Kau berubah pikiran dan ingin belajar gitar denganku?" Edward mendengus, "bukan itu. Ada yang harus kubicarakan denganmu." "Apa? Aku tidak bisa lama-lama." "Astaga, kau ini seperti ayahku saja. Dia itu CEO besar tapi tidak pernah mengucapkan kata-kata sombong seperti ka—" Dean langsung menyalakan mesinnya dengan keras. "Aku tidak punya banyak waktu." Ed berdecak kesal. "Jangan dekati Lily lagi." "Aku memang tidak ada niat untuk mendekati Lily. Dia masih terlalu kecil." "Tapi bisa saja kau menyukainya." Edward menyipitkan matanya. Dean lalu tertawa. "Bila kau mengkhawatirkan Lily, maka bisa kupastikan bahwa aku tidak akan merebut gadis yang kau sukai." "Lily itu —apa?! Aku tidak menyukai Lily!" Bantah Edward. "Aku ini sebagai kakaknya dan aku tidak mau Lily yang terlihat benih-benih cinta menjijikannya itu benar-benar jatuh cinta padamu." "Lily mungkin hanya mengagumiku. Tidak lebih." Edward lalu mendengus kencang. "Woah, bagaimana kau bisa sepercaya diri ini, uncle?" "Kalau begitu, kau tidak perlu khawatir Lily jatuh cinta padaku dan akan meninggalkanmu." Dean hanya mengedikkan bahunya. "Lagipula, kalian itu sepupu. Aneh rasanya bila kalian saling jatuh cinta." Edward bergidik jijik. "Memang aneh. Tapi intinya, aku tidak suka Lily menyukai lelaki tua sepertimu." "Aku tidak setua itu, Ed. Maka katakanlah pada Lily agar jangan selalu tersipu bila aku menyentuhnya." Dean lalu mendesah gemas, sengaja membuat Edward gerah. "Ketika Lily tersipu sangat manis. Lama-lama aku juga bisa menyukainya." "Kau menyentuhnya?! Bagian mana yang kau sentuh?!" Dean memilih tidak menjawab dan memutar motornya untuk keluar dari pekarangan depan rumah Lily. "Hei, uncle Dean! Jangan menyentuh Lily lagi!" Ed bahkan sudah mengambil sandal rumahnya dan melempar Dean dengan sandal. Tapi sayangnya motor Dean terlalu cepat dan security rumah Lily mengambilkan sandal Edward.  "Sandal anda, tuan." "Ah, sandalku jatuh!" Edward berpura-pura senang ketika security itu mengembalikan sandalnya. "Terimakasih, ya?" "Sama-sama, tuan." Edward lalu mendumal dan segera masuk ke rumah Max Jasper lagi. Meninggalkan security yang tertawa geli menatapnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD