Mbak Dyah dan Mas Agung seperti maling yang tertangkap basah setelah mencuri. Padahal aku belum bertanya apapun setelah dari toilet. Keduanya pun duduk berjauhan, saking jauhnya diantara mereka bisa di tempati lima orang. Pak Ayang sengaja minta tempat duduk lesehan dengan meja panjang. Tadi pagi selera makannya menghilang gara-gara pramusaji menyebalkan. Kini, dia berkata akan makan banyak untuk mengisi tenaga sebelum berangkat ke Semarang. Mas Agung masih diam dan sibuk dengan ponsel. Seperti tak ada niatan mengajak bicara pujaan hatinya. Kebiasaannya sejak dulu ya gitu. Pura-pura sok cuek padahal ngarep di tegur sama Mbak Dyah. Aku mendengkus kesal ke arah Mas Agung. Bisa-bisanya membiarkan Mbak Dyah mengambil makan sendiri. “Mas ...” “Iya, apa sih, Mbak?” “Peka dong kalau jadi lak

