Malam berikutnya, ruang makan besar di mansion itu terasa mencekam. Lampu kristal bergemerlap, tapi hawa yang menyelimuti meja panjang itu dingin menusuk. Clara duduk dengan punggung tegak, mencoba mengalihkan pikirannya pada semangkuk sup hangat di hadapannya. Namun, tatapan Adrian yang tajam dari ujung meja membuatnya sulit menelan makanan. “Kenapa kamu menatapku seperti itu?” Clara akhirnya membuka suara, suaranya bergetar namun tegas. Adrian menyandarkan diri di kursi, menautkan jari-jarinya. “Aku sedang menghitung berapa lama lagi sampai kamu membuat masalah baru.” Clara mendengus. “Kalau ‘membuat masalah’ artinya menolong orang, maka aku akan terus melakukannya.” Adrian mencondongkan tubuh, suaranya dingin. “Dan setiap kali kamu melakukannya, kamu tidak hanya membahayakan dirimu…

