Malam di mansion Valente begitu hening, hanya suara jarum jam berdetak pelan di ruang kerja besar yang diterangi lampu kuning pucat. Adrian berdiri membelakangi jendela, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Dari balik kaca, ia memandang jauh ke halaman depan, tempat beberapa bodyguard berjaga dengan senjata tersembunyi. Clara berdiri beberapa langkah di belakangnya, tubuhnya tegang. Ia tahu sejak kejadian di dapur pagi tadi, Adrian nyaris tak berbicara padanya. Namun, diamnya Adrian bukan berarti tenang. Justru sebaliknya, badai tampak semakin dekat. “Kalau kamu ingin menghukumku karena pagi tadi, lakukan saja sekarang,” suara Clara lirih tapi mantap, memecah keheningan. Adrian tidak langsung menoleh. Suaranya terdengar dingin, datar, seperti besi yang dibekukan. “Kamu benar

