21. Tembok itu Bernama Dendam

1674 Words

Di kamarnya Adrian mengingat kembali percakapan rahasianya dengan Marco beberapa malam lalu. “Kami sudah memeriksa area luar rumah. Tidak ada celah yang bisa ditembus tanpa bantuan orang dalam. Sistem keamanan, jalur patroli, bahkan kode akses semua tidak mungkin bocor kalau bukan ada informasi dari dalam.” Adrian mencondongkan tubuhnya, tatapannya menusuk. “Aku sudah menduga,” tegasnya dengan tatapan nyalang. Hening sesaat. Ketegangan di udara semakin pekat. Marco mencoba membaca situasi agar tidak sampai salah bicara lalu membuat runyam segalanya. “Siapa yang paling kamu curigai?” tanya Adrian akhirnya. Marco menghela napas dalam. “Saya belum bisa memastikan. Tapi dari rekaman dan laporan, hanya tiga orang yang punya akses penuh malam itu. Mereka adalah Frederick, Sergio, dan Alva

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD