Malam itu keluarga besar Valente berkumpul di ruang makan utama mansion. Lilin-lilin kristal menyala, tetapi cahaya hangatnya tak mampu mengusir hawa dingin yang datang bersama Adrian. Sang paman, Giovanni, meletakkan garpunya dengan suara berisik. “Adrian, apa kamu sadar apa yang baru kamu lakukan? Menyiksa lalu mengeksekusi orangmu sendiri di depan yang lain? Itu akan menebar ketakutan berlebihan.” Adrian menyeruput anggur merahnya pelan, tidak terganggu sedikit pun. “Ketakutan adalah kendali. Tanpa itu, mereka hanya serigala lapar yang menunggu kesempatan menerkammu.” Sepupunya, Lucas, menyahut dengan nada gusar. “Tapi orang-orang mulai menganggapmu iblis. Mereka bilang kamu terlalu kejam, tidak manusiawi. Itu akan membuat musuh bersatu melawan kita.” Adrian menoleh pelan, menatap L

