Clara tidak ingat bagaimana ia bisa kembali ke kamarnya. Kakinya gemetar sepanjang jalan, jantungnya berdetak terlalu keras sampai terasa menusuk telinga. Tatapan dingin Adrian, suara pistol yang dikokang, dan jeritan putus asa tawanan itu masih berputar-putar di kepalanya. Di dalam kamar mandi kamarnya Clara membersihkan tangannya yang masih menempel darah tawanan Adrian dengan susah payah. Darah itu seolah tak mau menyingkir dari tangan Clara. Membuat air mata dan keringat dingin penuh emosi ketakutan bercucuran membasahi seluruh wajah hingga lehernya. Gadis yang sebelum menikah dengan Adrian itu selalu merasa dunianya baik-baik saja sekalipun ia hanya anak angkat dan tidak tahu latar belakang keluarga kandungnya, kini merasa dunia mulai diambang kehancuran. Ia berteriak histeris semba

