Pagi itu Hotel Valente dipenuhi hiruk pikuk. Di balik gedung megah itu anak buah Adrian lalu-lalang menuju lantai 40, beberapa membawa laporan, sebagian lagi mempersiapkan keberangkatan Adrian ke Antico. Clara duduk di kursi ruang tamu di dalam kamar, selimut tipis menutupi bahunya. Matanya sembab karena kurang tidur, tapi sorotnya tidak lagi setakut sebelumnya. Ada amarah kebencian yang perlahan menggantikan ketakutan. Adrian keluar dari kamar ganti, mengenakan kemeja hitam yang membentuk tubuh tegapnya. Wajahnya dingin, rahangnya tegas, seolah tidak ada yang mampu menembus tembok kokoh di sekitar Adrian. Anak buah yang berada di ruang tamu langsung menunduk hormat menyadari kehadiran pemimpin mereka. Clara yang melihat gerakan itu refleks mendongak untuk menatap laki-laki itu. Cukup la

