PART 2. MENYELINAP KELUAR

1094 Words
Mereka mulai berlari menyelinap menjauh dari kediaman. Disaat hendak keluar melalui lorong rahasia kediaman, dari celah tembok pembatas mereka melihat ayahnya yang sudah terbaring lemah dan dipenuhi cairan merah dari mulut dan luka bekas tusukan dibeberapa bagian tubuhnya. Ahn Baek Hyeon yang melihat kejadian tersebut mulai merasakan tubuhnya lemas dan tak dapat merasakan emosi apapun. Ia begitu terpukul hingga tak bisa lagi berkata-kata. Menyadari ada seseorang yang terdengar mendekat, Ahn Hyo Seop pun menarik Ahn Baek Hyeon untuk segera pergi dari tempat itu. Mereka mendengar perkataan ibu nya untuk berlari tanpa harus menoleh kebelakang. Terlihat beberapa mayat warga yang tergeletak ditengah jalan. Namun itu tak membuat mereka berhenti untuk pergi dari tempat itu, karena terlalu berbahaya untuk mereka saat ini, ditambah lagi bahwa kenyataan mereka adalah keturunan Klan Ahn. Lorong demi lorong pun mereka lewati dengan sembunyi-sembunyi hingga tiba di pinggiran hutan untuk bisa menyebrang ke perkampungan sebelah. Namun Ahn Baek Hyeon tiba-tiba menghentikan langkah nya yang membuat Ahn Hyo Seop mengernyitkan alis bingung. “Kang Yerin. Dia pasti sangat ketakutan. Kita harus menjemputnya terlebih dahulu Hyung” ucapnya dengan raut wajah khawatir sedikit memohon untuk mereka bisa kembali ke perkotaan. Ia tak sanggup jika harus berpisah dengan semua orang tersayangnya, walau nyawa lah yang menjadi taruhan. Lebih baik pergi bersama daripada harus berpisah tanpa adanya kejelasan. “Kita tidak bisa berbalik arah Baek, para pemberontak akan menemukan kita nantinya. Aku tak mau mati ditangan mereka, kau mengerti?” ucapnya sambil mencoba menarik dan membawa pergi adiknya. Namun Ahn Baek Hyeon tetap pada pendiriannya, dan perlahan melepaskan tangan kakaknya. “Hyung. Biar aku yang kembali, kau hanya perlu menungguku ditengah hutan, lalu akan ku susul” ucapnya kemudian berlari kembali ke daerah perkotaan menuju kediaman Klan Ahn. Ahn Hyo Seop pun tak dapat mencegahnya. Dan ia hanya menatap punggung kecil adiknya yang perlahan menjauh. “Pergilah. Agar semua orang tak dapat mengacuhkan ku lagi” ucapnya datar kemudian berlari menuju arah kedalam hutan. Ahn Baek Hyeon begitu khawatir hingga tak bisa memikirkan keselamatannya sendiri. Rintik hujan mulai jatuh perlahan menyentuh wajah dan kulit halusnya. Langit seakan turut berduka atas kehilangan raja dan setengah penduduk Hanyang dimalam yang sendu ini. Ahn Baek Hyeon yang menyelinap dengan perlahan sembari bersembunyi dari para pemberontak yang masih berkeliaran mencari mangsa berikutnya. Ketika sampai tepat di depan pintu kediaman Klan Kang, suasana dan kondisi yang tak jauh berbeda dari kediamannya. Pintu kediaman tersebut terbuka lebar menandakan seseorang baru saja keluar dengan bruntal hingga tak sempat menutup pintu. Ia berkali-kali menarik nafas kasar untuk membangun keberanian melangkah melewati semua mayat yang ada dihadapannya saat ini. Ia harus cukup berani untuk menemukan gadis kedua yang dicintainya itu. Ia pun mengambil langkah percaya diri dan segera memasuki kediaman. Satu hal yang ia khawatirkan saat ini, jika saja ia menemukan tubuh gadis tersebut terbaring lemah diantara para mayat yang artinya ia telat untuk menyelamatkannya. Dengan keadaan yang kalang kabut, mata elangnya ia gunakan untuk menyebarkan pandangan ke seluruh penjuru, untuk memastikan bahwa gadisnya benar-benar masih bisa diselamatkan. Ia mendekati dan berjalan perlahan diantara para mayat. Ia menemukan satu badan yang tak asing baginya, kemudian ia mencoba membalik badan tersebut. Dan benar. Dia adalah pelayan Kang Yerin yang selalu bersama nya. Ia merasa sedih sekaligus sedikit lega karena Kang Yerin tak berada disitu. Sekarang ia hanya perlu mencari keberadaan Kang Yerin disekitar kediaman. Kemudian mencoba membuka satu persatu bilik kediaman tersebut. Namun Nihil. Ia tak dapat menemukan keberadaan Kang Yerin didalamnya. Namun tiba-tiba berpikir untuk mencoba mencarinya dibelakang kediaman. Kang Yerin memang pernah mengatakan bahwa ia sering menanam berbagai macam bunga dihalaman belakang kediamannya. Ketika ia berlari menuju halaman belakang. Ia tersenyum lebar dan bahagia akhirnya bisa menemukan Kang Yerin. “Yerin-ah. Akhirnya aku bisa menemukan mu. Aku sudah mencari mu kemana-mana.” Ia pun berjalan perlahan mendekati gadis tersebut dengan masih terdapat senyum manis di wajahnya. Namun ketika gadis tersebut berbalik badan dan berhadapan, terlihat ia sedang menggenggam sebuah pedang ditangannya. Wajahnya terlihat begitu muram. Rambut nya yang cantik dan berkilau pun terlihat sedikit berantakan. Namun yang membuat Ahn Baek Hyeon heran, gadis tersebut berjalan perlahan ke arahnya dengan menyeret pelan pedang tajam dan panjang tersebut hingga membentuk garis-garis acak di tanah. Begitu jelas, tangan terampil tersebut sama sekali tak merasa kesulitan saat membawanya. “Yerin-ah. Gwaenchana? Aku mengira, a aku telat mendatangi mu. Aku hampir tak bisa memaafkan diri ku sendiri” ucapnya memecahkan suasana yang sunyi. Suara rintik hujan, tanah yang beradu sapa dengan ujung pedang dan tangisan gagak berkolaborasi. menambah suasana mencekam diantara mereka. Setelah beberapa detik menunggu jawaban, namun ia tak mendapatkan respon sedikitpun. Akhirnya ia memilih untuk mendekati Yerin terlebih dahulu dengan pikiran mungkin gadis tersebut merasa trauma setelah apa yang telah terjadi dan mencoba menenangkannya. Ia pun mempercepat tempo jalannya dan mencoba memeluk tubuh yang terlihat tersebut. Namun sebelum dapat meraih badan dan mencium aroma tubuh yang ia rindukan itu, ia merasakan sesuatu yang masuk menembus bagian dadanya. Ia sejenak tak dapat menyadari apapun, yang ia lihat hanya tatapan murka dan dendam dimata gadis tersebut. Percikan cairan merah dari tubuh Ahn Baek Hyeon menghiasi wajah cantik Kang Yerin. Seketika waktu terasa berhenti. Hanya sakit dan kebingungan yang dirasakan Ahn Baek Hyeon. Apa yang dilakukan gadisnya tersebut tak mampu ia pikirkan alasannya. Darah mulai melumuri seluruh pakaiannya. Tubuh nya pun melemas hingga terjatuh ke tanah. Pedang masih berdiri tegak tertanam di d**a Ahn Baek Hyeon. Detak jantung yang perlahan tak mampu memberi kekuatan, denyut nadi yang mulai melemah, dan mata yang tiba-tiba sayu. Ahn Baek Hyeon pun tersenyum dengan sedikit tertawa karena kebingungan. “Aku membenci mu” ucap Kang Yerin yang meneteskan air mata namun masih dengan wajah yang begitu datar. Seakan-akan tak sadar atas apa yang ia lakukan. “Yerin-ah. Kau tahu? Uhukk uhukkk….” Ia memuntahkan darah dari mulutnya dan terdiam sejenak merasakan perih yang mulai menyebar ke seluruh tubuhnya. “Malam ini, aku mendengar ibu ku mengucapkan permohonan. Ia berharap untuk dipertemukan lagi dengan ayah ku di kehidupan selanjutnya. Haha haha … lucu bukan? Ibu ku adalah pasangan yang terbaik. Namun kurasa aku berbeda pendapat dengannya. Aku tak ingin kita dipertemukan kembali. Karena aku tahu! Sakit ini hanya akan berujung membentuk dendam di kehidupan berikutnya” ucapnya sembari menyentuh hati-hati dadanya yang terasa begitu nyeri. Air mata yang sudah tak terlihat karena tercampur oleh tetesan hujan. Ia mencoba menikmati sakitnya. Mengingat awal kali ia mencoba mendekati gadis tersebut. Sangat susah baginya hingga bisa berada di titik sekarang. Walaupun akhirnya, ia terkhianati dengan pertumpahan darah seperti ini. “Aku pamit. Aku sudah memohon pada langit. Jadi kau tak perlu membenci ku begitu dalam” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD