Pagi hari yang cerah. Waktunya untuk bangun dan melakukan aktivitas seperti biasa. Lonceng yang tertempel dijendela mulai saling bergesekan hingga menimbulkan suara bak alarm dipagi hari. Gorden jendela otomatis terbuka saat sinar matahari memasuki celah-celah dinding kamar.
Terlihat seorang pria masih berbaring dengan piyama biru gelapnya. Cahaya mulai menyinari kulitnya yang seputih s**u.
Kang Min Hyuk. Ia merupakan pria tampan yang bekerja di dunia hiburan. Ia salah satu aktor sukses yang terkenal akan ketampanan dan kepribadiannya yang dingin.
Namun sebenarnya, banyak hal yang dunia luar tidak tahu tentangnya. Bahwa ia memiliki riwayat penyakit aneh yang dideritanya sejak lama. Penyakit yang bahkan pihak medis pun belum mengetahui sebab akibatnya.
Ketika terbangun dari tidur, air mata selalu membasahi wajah tampannya bersamaan dengan nyeri di bagian d**a. Karena merasa itu adalah masalah pribadi, maka ia selalu merahasiakan penyakit tersebut. Hanya dia, asisten, dan seorang dokter pribadi yang mengetahuinya.
Matanya terbuka secara perlahan. Tangannya bergerak mengusap sisa air mata yang membasahi area sekitaran wajah. Menggerakkan seluruh tubuh untuk segera bangkit dari ranjang mewahnya. Setelah turun dari ranjang, nyeri di dadanya muncul kembali. Sudah menjadi hal yang lumrah baginya ketika harus berlinang air mata dan merasakan nyeri di d**a ketika bangun dari tidur.
Tutttt tttuutt ttuttt
Suara dering handphone terdengar. Pertanda seseorang sedang menghubunginya. Tanpa berpikir panjang, ia segera menekan tombol untuk terhubung.
“Bagaimana pagi ini? Apa ada perkembangan?” ucap seseorang diseberang sana. Dia adalah dokter pribadi Kang Min Hyuk sekaligus teman kuliahnya dulu. Ia sangat rutin menghubungi pasiennya di pagi hari untuk mengetahui perkembangan penyakit yang dideritanya, karena gejala-gejala tersebut memang selalu datang sekitaran jam tersebut.
“Hm. Masih sama” jawab singkat Kang Min Hyuk. Tangannya meraih botol kecil berisi obat-obatan resep dokter dimeja samping ranjang dan mengkonsumsinya dalam sekali teguk. Ia harus meminum beberapa jenis obat tersebut agar mendapatkan ketenangan untuk berangkat kerja. Dokter hanya bisa meresepkan obat pereda nyeri untuknya, karena penyakit tersebut memang belum jelas.
“Masih belum ada perkembangan rupanya. Hmm..ngomong-ngomong, kau akan kemari atau tidak hari ini? Kurasa kau harus sering melakukan konsultasi untuk mengetahui kondisimu lebih lanjut”
“Tidak. Hari ini aku ada schedule syuting lebih lama dari sebelumnya”
“Benarkah? Lalu kapan?”
“Tidak tahu”
“Hmm baiklah kalau begitu. Hubungi aku jika ada perubahan yang terjadi. Entah perubahan sekecil apapun itu. Kau harus segera melaporkannya padaku. Mengerti? Jangan lupakan itu, agar semuanya..” belum usai dokter tersebut menyelesaikan perkataannya, Kang Min Hyuk menutup sambungan telepon. Ia merasa sudah bosan mendengar perkataan yang sama setiap paginya.
Lalu ia melangkah pergi menuju kamar mandi untuk siap-siap berangkat ke lokasi syuting. Setelah mandi, mengeringkan rambut. Lalu pergi menuju ruangan penyimpanan pakaian.
Perlahan ia mendorong revolving door, ketika ruangan terbuka, terlihat deretan koleksi pakaian, sepatu, hingga beberapa aksesoris didalamnya. Tersimpan rapi dengan disinari lampu cantik yang membuat ruangan tersebut tampak sangat mewah.
Dengan sangat hati-hati, tangan gagahnya menjalar ke deretan gantungan pakaian. Memilah style yang akan digunakannya hari ini. Hingga jari-jari tersebut terhenti pada sebuah mantel berwarna cream, sweater white Longneck, dan ankle pants panjang berwarna hitam.
Lalu membuka pintu lemari koleksi jam tangannya. Mengambil salah satu koleksi berwarna hitam mengkilat lalu memasangnya dengan rapi dipergelangan tangan. Kemudian lanjut dengan menyemprotkan parfum yang ingin digunakan untuk hari ini di sekujur tubuhnya. Setelah persiapan selesai, Kang Min Hyuk pun berjalan keluar ruangan tersebut dalam keadaan sudah sangat rapi dan tentu saja wangi.
Begitulah rutinitas kehidupannya di rumah besar itu sendiri. Hidupnya begitu teratur dan sangat mencintai kebersihan. Ia tak butuh seorang pembantu rumah tangga atau petugas kebersihan lainnya, karena ia membenci seseorang yang mengganggu ketenangannya, bahkan hanya dengan mereka menampakkan diri saja. Maka dari itu, asisten pribadinya akan menyusupkan petugas kebersihan setiap kali ia keluar rumah untuk mencari jalan aman.
Ttokk tokk tokk
Terdengar seseorang sedang mengetuk pintu kamar Kang Min Hyuk. Pastinya itu adalah asisten pribadinya, Lee Dom Bi. Ia datang untuk menjemput artisnya ke lokasi syuting dan tidak lupa pula, sarapan yang dibawanya untuk diberikan pada Kang Min Hyuk. Karena tidak ada dari mereka yang bisa memasak. Lemari es pun hanya berisi makanan siap saji, buah segar, dan beberapa kotak salad.
“Bos. Sarapannya sudah datang. Aku akan menyediakan nya dimeja makan. Segeralah turun” teriak Dom Bi dari luar kamar. Tanpa memberikan jawaban apapun, Kang Min Hyuk berjalan keluar kamar. Mendekati meja makan yang sudah tersedia beberapa hidangan makanan rumahan di atas meja. Matanya mengabsen semua hidangan tersebut. Setelah merasa puas memperhatikan setiap detail makanan, barulah ia duduk.
“Ini” ucap Dom Bi yang menyodorkan sepasang sumpit.
“Dari mana kau mendapatkan makanan seperti ini?” tanya Kang Min Hyuk yang bersiap untuk menyantap sarapan.
“Ahhh..ibuku yang membuatnya. Kau tahu bukan? Bahwa ibuku merupakan salah satu penggemarmu. Jadi ia menyiapkan makanan ini dari petang. Makanlah. Masakan ibuku tidak pernah gagal” jelas Dom Bi panjang lebar dengan senyum ceria diwajahnya.
Kang Min Hyuk pun mulai menjepit sepasang sumpit disela-sela jarinya, lalu melahap makanan dengan rapi. Ketika makanan mulai menyebar didalam mulut, ia mengangguk pelan sembari terus menyantapnya dengan nikmat.
Ia menyukainya. Sudah sangat lama dari ia bisa memakan makanan rumahan seperti itu. Sejak memulai karirnya sebagai aktor dipertengahan kuliah, ia memutuskan untuk hidup sendiri. Dari situlah ia sangat jarang merasakan sesuatu yang berbau rumahan. Terlebih lagi ia melarang ibunya untuk berkunjung karena alasan jarak yang terbilang cukup jauh, jadi sesekali, dialah yang pergi berkunjung untuk menemui orangtuanya.
Setelah selesai menyarap, Dom Bi pun merapikan kembali meja makan. Memastikan semua sudah rapi seperti semula, lalu mengekori langkah Kang Min Hyuk untuk segera berangkat.
“Makanannya enak. Sampaikan ucapan terimakasih ku pada ibumu” ucap Kang Min Hyuk sembari terus melangkah keluar dan merapikan posisi mantelnya.
“Baik pak bos. Ibuku pasti sangat senang mendengarnya” wajah Dom Bi terlihat sangat gembira dan tak sabar untuk memberitahu ibunya akan hal itu.
***