Hito pulang dengan wajah bengap akibat pukulan Ikhsan tadi, ahk... memang lelaki si*lan itu sangat mirip dengan tupai yang terkenal licik. Tapi bukankah ada istilah sepandai-pandainya tupai melompat pasti ia akan jatuh juga? --- “Om...!” pekik Dea kaget. “Habis berantem lo, Om?!” tanyanya masih terus memperhatikan wajah Hito dengan tatapan tidak berkedip. “jatoh!” sahut Hito asal, seraya terus berjalan menuju kamarnya. Dea yang geram langsung menghalangi langkah Hito. Ia bahkan merentangkan tangannya. “Jatoh kayak gimana yang sampai memarnya di pipi? setahu gue, kalau jatoh tuh yang luka di lutut atau di jidat!” geramnya mencontohkan menepuk jidatnya sendiri. Hito hanya mengulum senyumnya. Kecil, bawel, sok tahu... tapi karena Dea juga beberapa hari ini ia bisa tersenyum ceria. "Ay

