“Cepet pakai baju lo!” pekik Hito langsung berbalik badan, berusaha menyenderkan tubuhnya pada daun pintu itu. Yang justru membuat ia semakin masuk ke dalam kamar mandi karena pintu yang bergerak semakin ke dalam Jaraknya dengan Dea hanya beberapa centi. Bahkan harum tubuh Dea menembus memenuhi indera penciumannya. Hito memalingkan wajahnya dari Dea. Lelaki itu mengepal tangannya kuat berusaha melupakan setiap lekukan tubuh Dea yang sesaat saja menyita perhatiannya. Dea sendiri kaku, bagaimanapun ini pertama kalinya ia berbagi ruangan dengan laki-laki dewasa dalam keadaannya yang tak memungkinkan. Memilih menurut, Dea segera memakai bajunya meski terasa percuma, Karena Dea belum mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Jadi yang baju ia pakaipun ikut basah mencetak bayangan tubuhnya. Kedua

