Sampai di meja makan, tak ada yang Dea katakan. Bahkan kalimat protes yang mengakar di sanubarinya tentang Hito yang melarangnya masuk kamarnya, juga tak gadis itu ungkapkan. Ia justru berusaha menghindar, dan memilih duduk diluar saat Hito juga sampai di meja makan. Dea berniat menyendiri seraya memandangi hembusan angin di pagi hari. Bagiamana, gadis itu sekarang mengetahui kenyataan lelaki yang ia taksir ternyata masih tertarik dengan seorang wanita. Tapi sayangnya wanita itu bukan dirinya. Membuat semangatnya menguar begitu saja. Karena yang kedua bukanlah kabar baik untuk Dea. Ia tersenyum hambar, pandangannya fokus kearah depan. tiba-tiba saja banyak motor gede ingin masuk ke perkarangan rumah Hito. "Siapa mereka?!" tanya Dea seorang diri. "Om... Om... ada yang dateng!" adunya l

