Wife 7

1099 Words
Hito mulai menggeliat bangun, ia menyentuh kasur sebelahnya dan tak ada siapa-siapa disana, Hito langsung melotot seakan baru sadar Sekar tidak disampingnya lagi, ia tersenyum saat melihat Sekar sedang duduk didepan kompor. Yah... Sekar memilih melanjutkan masakannya yang kemarin tertunda, semalaman Hito tidak pulang, dan itu artinya Sekar tidak mendapatkan jatah makannya, sehingga pagi ini ia sangat lapar. "Kamu masak?!" tanya Hito takjub. Sekar tidak menjawab ia masih marah pake banget sama cowok m***m itu. "Hahahaa... oke, aku gak akan ganggu...!" sahut Hito ia masuk ke kamar mandi, membersihkan dirinya dan berniat jalan-jalan seorang diri setelahnya. Lelaki itu kini mencoba olahraga. Tidur dengan Sekar seakan men-charge energinya. Ia bahkan sesekali tersenyum mengingat kejadian semalam. Walaupun semalam ia sedikit mabuk, tapi Hito cukup sadar saat dirinya memeluk Sekar. Entah kenapa ia sangat suka membuat Sekar selalu senam jantung. Wajah lugunya betul-betul hiburan bagi Hito yang sudah sangat jarang tersenyum. Sementara Sekar merasa dirinya sangat mengantuk sesekali ia menguap kasar. Dan tanpa sadar kelopak matanya tertutup meninggalkan kompor portable yang masih menyala. Api mulai berkobar kesegala arah dengan cepatnya, bangunan yang lebih banyak didominasi kayu itu jadi santapan lezat sijago merah. Hito pulang dengan tentengan ditangannya, tadi ia melihat penjaja kue pasar, dan ia membelikan beberapa untuk Sekar, ia berniat minta maaf atas sikapnya ke Sekar semalam. Tapi saat ia melihat asap yang mengupul tebal dari dalam rumah membuat Hito panik, ia langsung masuk menobrak pintunya, matanya mencari sosok Sekar. jantungnya seakan berpacu jauh lebih cepat dari biasanya. Tidak. Ia tidak ingin terjadi sesuatu dengan gadis itu. Netranya terus berusaha terbuka meski asap memperpendek jarak penglihatannya. "Sekar... Sekar...!" Hito langsung menemukan tubuh sekar berada didekat dapur, sepertinya wanita itu pingsan atau masih tertidur entahlah.., ia berusaha untuk masuk kedalam sana. Tapi sebuah balok kayu menghalangi jalan Hito untuk menyelamatkan Sekar. Ia buru-buru mengangkat balok itu meski terasa begitu panas. "Sekar..Sekar " Panggil Hito mengguncang tubuh Sekar, berharap gadis itu bisa cepat bangun. "Hito..." lirih Sekar lemah, ia menatap wajah takut Hito, setelahnya Sekar melihat sekelilingnya yang sudah kacau balau. "Aku takut Hito....!" Paniknya yang langsung memeluk Hito erat. "Kamu gak perlu takut, ada aku! kamu cukup keluar dari lubang kecil itu dan pergi secepatnya dari sini!" Pinta Hito bersungguh-sungguh, tadi saat ia membangunkan Sekar, kobaran api semakin meluluh lantahkan bangunan tersebut, sampai tak ada lagi celah untuk mereka pergi dari sana. Mereka seakan terjebak dalam amukan sang jago merah. Sekar menggeleng kuat. Air matanya sudah membasahi pipinya, ia tak yakin bisa selamat. Lagipula jika ia selamat ia tak ingin kehilangan Hito. Ia tak ingin menjalani hidup ini tanpa pria itu. Sekar sendiri tidak mengerti mengapa perasaannya bilang, ia begitu takut kehilangan lelaki itu. Sebuah perasaan yang timbul begitu saja, bahkan tanpa wanita itu sadari justru perasaan itu semakin kuat tanpa bisa wanita itu kendalikan. "Lihat aku, kamu wanita yang kuat, kamu sudah bertahan sampai detik ini...jadi jangan takut" Kembali Hito meyakinkan Sekar. Ia membangunkan tubuh Sekar dan mendorong wanita itu untuk melewati celah yang ada. Sambil terus berjaga dengan tubuhnya agar tidak ada bangunan yang jatuh ditubuh Sekar. 'Sial kenapa gini?!' Bathin Hito begitu sedih. Ia juga ingin berusaha menyelamatkan dirinya, ia masih sangat ingin hidup. Tapi bukan sekedar hanya untuknya, melainkan untuk terus menjaga Sekar dari orang-orang yang berniat jahat padanya. "Brrruuugghhh..." satu buah kayu jatuh lagi. Kini jalan mereka betul-betul tertutup, Hito memutar otaknya ia tak ingin mati konyol disini, walaupun ia dengan ikhlas mati bersama Sekar didekapannya. Ia mulai berjingke mencoba menggapai genteng diatasnya. Berkali-kali ia berusaha mendorong tapi rasa panas luar biasa dari genteng tersebut seakan mematikan syaraf ditangannya. "Aawwww... aaawwww...." sayangnya Hito belum belajar ilmu debus, jadi secara refleks ia menarik tangannya dari sana. "Aaahhkkk...!" Sekar mengambil tangan Hito yang terbakar, air matanya kembali menghiasi pipi mulusnya. "Jangan nangis.. aku mohon! aku gak akan kuat melihat kamu menangis. aku ingin lihat kamu terus tersenyum.!" Ucapnya seraya menghapus air mata Sekar. "Dan jika saat ini terakhir kalinya aku melihatmu, aku ingin katakan jika aku tak pernah menyesal menciummu kemarin pagi!" Tambahnya, bisa-bisanya lelaki itu bicara hal yang menyebalkan disaat genting seperti ini. Tapi entah mengapa Sekar tidak merasa kesal sama sekali, bahkan ia suka dengan kejujuran lelaki itu. "Bbbuuugghhh..." sebuah genteng yang mulai rapuh jatuh mengenai kepala Hito, darah bercucuran dari atas dahinya, sebuah luka menganga menghiasi pelipisnya. Sekar semakin histeris, dan Hito kembali memeluk wanita itu erat. Baginya ratusan genteng yang jatuh tak akan menyakitinya dibandingkan satu tetes airmata yang Sekar tumpahkan. Hito melihat sedikit celah dari atas genteng yang tadi terjatuh. Ia cukup yakin mereka bisa terbebas lewat sana. Hito mulai menggendong tubuh Sekar untuk naik ke atas, mendorong b****g gadis itu kuat. Sekar sudah sampai diatas, tangannya terjulur kearah Hito meminta lelaki itu menjadikan tangannya sebagai pegangan. Ia tak peduli jika seandainya tangannya patah sekalipun karena menarik tubuh besar Hito. Hito langsung menggapai tangan Sekar. Ia ingin hidup lama, bersama Sekar tentunya, ia berusaha naik dengan mencari pijakkan. Beruntung sebuah balok posisinya melintang sehingga dengan mudah Hito mendorong tubuhnya keatas. "Hhaaaah.. hhaaah..." mereka sudah terbebas dari kurungan dibawah sana, tapi tak banyak yang bisa mereka lakukan diatas sini. Keduanya saling menatap linglung. Jika mereka berlama-lama disana sama saja usaha mereka sia-sia dan berakhir mati konyol. Hito mulai melihat sekelilingnya. mencoba berfikir yang terbaik untuknya juga Sekar. "Dalam hitungan ketiga.. Kita lari dari sini lalu lompat sekuat mungkin, sampai pohon itu..!" Ucap Hito mencari solusi. Mereka harus lompat cukup jauh, setidaknya sejarak 10 meter jika tidak mau terjatuh ke bawah dengan api yang sudah mengitari bangunan itu. "Enggak.. enggak.. " Jawab Sekar panik. "Aku gak bisa...!" Wanita itu begitu kalut. "Bisa kamu bisa.. ayohlah Sekar.. lakukan untukku, please!" Tekan Hito begitu memohon. dengan tangan menangkup didepan wajahnya. Sekar mengangguk samar, dan itu sudah cukup menjadi jawaban bagi Hito. "Aku hitung satu... dua... ti...!" Hito berlari bersama Sekar menarik tangannya bersiap lompat dari atas sana. Tapi Sekar berhenti sebelum benar-benar sampai ke ujungnya. "Aku gak bisa!" Teriaknya begitu frustasi. "Aaahhkk... " Hito juga menjadi sangat stress. Ia bahkan menggaruk kepalanya dan mencekramnya kuat. Ia tak tahu harus merayu Sekar bagaimana lagi. "Hhuuffttt... bisa kau bisa!" Desaknya kuat. Matanya menunjukkan jika ia sama sekali tak ingin kompromi. Spontan Sekar menarik nafasnya dalam mencoba menyakinkan dirinya sendiri untuk kuat. "Oke kita coba lagi..!" "Satu.. dua.. tiga...!" Lompat....! --- Mereka sudah jatuh tepat didepan pohon. Hito langsung merangkak mencoba berdiri demi mengecek keadaan Sekar yang jatuh cukup jauh darinya. Karena Hito lebih mengkhawatirkan keadaan gadis itu daripada dirinya sendiri. "Kamu gakpapa Sekar?!" Khawatirnya. Ia menyibak rambut yang menutupi wajah Sekar dengan perasaan yang sangat khawatir. Mencoba mencari luka ditubuh gadis itu. Meski ia berharap tak pernah menemukannya disana. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD