Rasa wine yang sudah lama tidak tercecap kini dengan begitu mudah melewati tenggoranku, meninggalkan rasa manis, masam dan sedikit pahit yang mengingatkanku pada kejadian hari ini. Benar, Brian akan bertunangan dan mengundangku seperti orang bodoh di tengah keluarganya. Aku marah, benci, kecewa dan begitu terpuruk pada pilihan hidupnya. Tapi kenapa, kenapa aku harus merasa seperti ini. Apa aku sudah begitu berharap besar pada semua janjinya? Janji untuk melihatku hidup bahagia? Tapi bukankah dia tidak pernah berjanji menikah dengan perempuan lain? Aku melangkah menuju balkon, melihat pemandangan malam kota Jakarta yang nampak begitu riuh penuh hingar bingar, seolah tak pernah tidur. Angin malam berembus amat pelan, namun seolah menampar keras ke dalam hatiku. Perasaan sunyi dan kecewa ini

