Bab 22

848 Words

Seseorang memegangi tanganku, menyentuhnya dengan hangat hingga perlahan aku mengerjapkan kelopak mata. Tubuhku lemas, lelah tanpa tenaga tapi aku masih bisa melihat Adri dengan jelas di samping tubuhku. Aku tidak tau apa itu merupakan mimpi atau kenyataan, namun jika menyebutnya sebagai mimpi aku tidak akan mungkin bisa merasakan sentuhan tangannya senyata ini. Aku melihat tembok pucat di sampingku, lalu tanpa kuduga air mata jatuh di sudut pipikku. Tangan Adri menyeka air mata itu dan membelai rambutku tanpa bisa kutimpali dengan ucapan karena masker oksigen masih menempel di hidungku. Mata Adri ketika itu tampak nanar dan merah. Ia memegang tanganku dan berbicara dengan nada yang lembut, "Aku di sini, aku tidak akan meninggalkan kamu lagi, aku berjanji" Pintu terbuka, aku melihat Br

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD