"Cut" kata-kata itu menjadi penanda berakhirnya pengambilan gambar proyek film layar lebarku sebelum kemudian melalui proses edit, dan beberapa waktu kedepan siap dilepas ke pasaran.
Aku sedang berkemas di ruang ganti, mengambil pakaian dan beberapa alat makeupku di meja rias. Sulit melakukan ini sendiri setelah Maya sudah lebih dari tiga minggu ini tak menghubungiku. Aku berencana untuk datang menemuinya lagi tapi, akhir-akhir ini jadwalku sangat sibuk hingga sulit mencari waktu bebas mengunjungi rumahnya.
Pintu di belakangku terbuka, aku berbalik mencoba mencaritahu siapa yang masuk begitu saja tanpa mengetuk. Dan ketika wajah itu makin jelas, rasanya aku ingin muntah. Seorang perempuan bergincu merah, bermuka tirus dengan soflen biru menyapa dengan sikap seperti ratu sejagad yang penuh akan sanjungan, nyatanya dia lebih banyak dicibir akan sikapnya yang selalu cari sensasi di media masa.
"Kelihatannya film kamu sudah selesai ya?" ucap wanita bernama Adriana itu. Dia model, sekaligus penyanyi dangdut. Orang yang pernah kutampar dan berkata akan memperkarakanku ke meja hijau. Aku tidak tahu bagaimana cara Adri membungkam mulut perempuan pencari masalah ini sampai gertakannya pun tak terjadi. Beberapa hari setelah masalah itu heboh di media massa, akhirnya kami putuskan pura-pura berdamai di depan publik.
"Benar, bagaimana dengan proyek kamu sendiri?"
Ia berdecak riang dengan muka sengak yang berlebihan, "Proyek aku banyak, tidak pernah putus dan jarang libur. Tidak seperti..." ia melirik ke arahku. Kutenteng tasku memberi senyum jengkel ke arahnya.
"Saya bingung, pekerjaan apa yang bisa membuat kamu jarang libur? Apa itu pekerjaan yang hanya 15 menit dengan hasil ratusan juta?"
Ia nampak berpikir keras, seolah mencerna ucapanku selama beberapa saat, "Apa maksud kamu, eh?" bentaknya dengan geram setelah tersadar.
"Sampai nanti!"
"Hai.... maksud kamu apa bilang begitu? Mau ribut lagi?" panggilnya histeris di belakangku ketika meninggalkan ruang makeup.
Aku melirik sekitar mencoba mencari sosok Adri di seputaran kantornya tapi, sejak siang tadi ia tak nampak. Kupikir ia sedang sibuk jadi aku mau pergi begitu saja, namun ketika hendak memasuki pintu keluar, kulihat istrinya datang dengan menenteng rantang makanan. Aku menghampiri, sekiranya basa-basi.
"Selamat siang, Mbak Adya" wanita berkemeja putih dengan celana cream ketat itu melirik dengan sebaris senyum ramah dan menawan.
"Raina?" ia merangkulku ramah, "kamu di sini?"
"Iya, syuting film baru saya di sini. Kalau Mbak?"
Dengan muka merona ia menjelaskan, sambil sesekali menatapi rantang bawaannya, "Saya membawa makanan untuk suami saya! Sedikit telat sih tadi macet di jalan"
"Oh, waktu makan siang memang kadang macet. Apa lagi disekitar jalan ke kantor"
"Kamu sudah mau pulang Raina?"
"Iya, saya ada keperluan lain!"
"Mbak Raina!" kami berdua sama-sama berpaling ke arah parkiran, ketika Pak Arofik menghampiriku, lalu meraih tas tentenganku. Alis Adya mengernyit ketika melihat kehadiran lelaki itu, sementara Pak Arofik tersenyum sopan ke arahnya.
"Bu Adya, selamat siang"
"Siang, Pak Arofik 'kan?"
"Iya, Bu!"
"Bukannya kamu bekerja pada Bapak, ya?"
"Oh, saya sudah berhenti Bu, dan sekarang kerja sama Mbak Raina. Pekerjaannya tidak terlalu berat dan sibuk. Beda kalau kerja jadi sekertaris Bapak" Adya mengangguk dengan jawaban yang ia dengar dari Pak Arofik. Aku tidak tahu dia curiga atau tidak setelah ini.
"Kalau begitu saya permisi Mbak Adya, ada janji bertemu teman lain. Selamat siang!" kataku buru-buru.
"Iya, selamat siang!" kami mengakhiri pertemuan itu dengan saling melambai tangan. Aku melirik Pak Arofik yang berjalan lebih dulu di depanku, lalu membukakan pintu mobil. Iseng-iseng aku pun bertanya padanya.
"Bu Adya kelihatannya baik ya?" Pak Arofik meletakkan tas di dekatku lalu masuk ke kursi kemudi.
"Iya Mbak, Bu Adya memang baik. Beliau juga banyak kegiatan di luar. Kita mau ke mana lagi, Mbak?"
"Rumah teman saya yang dulu pernah kita kunjungi, bapak ingat 'kan?"
"Oh, iya Mbak!"
"Kegiatan di luar, bukannya Bu Adya lebih memilih jadi ibu rumah tangga biasa?" lanjutku mencoba mencaritahu lebih jauh.
"Iya Mbak, tapi beliau juga punya pekerjaan yang dikelola dari rumah. Terakhir yang saya tahu beliau punya situs jualan online tas bermerk, sama punya arisan sosialita juga Mbak" aku semakin tertarik dan merasa begitu senang secara tiba-tiba.
"Arisan sosialita, tempat bertemunya di mana Pak?"
"Kalo itu saya kurang tahu Mbak"
Aku merasa tidak cuckup puas mendengar jawaban yang kudapat. Aku seharusnya bisa tahu tempat arisan mereka, paling tidak dengan begitu aku bisa ikut bergabung dan semakin dekat dengan keluarga Adri. Bukankah akan lebih baik bagiku jika dekat dengan istrinya dan mencaritahu bagaimana hubungan mereka di rumah secara diam-diam?
**
Tiba di rumah Maya suasananya begitu lengang, meski pintu pagarnya tidak terkunci. Aku beranjak masuk ke halaman, mengetuki pintu beberapa kali sampai kemudian ketika pintu terbuka, Ahmad menyambutku dengan senyum santun.
"Mbak Maya, ada di rumah?"
"Kak Maya belum pulang, Mbak Raina mau masuk?" ia membuka lebar pintu, menyilahkan aku masuk. Kuamati sekitar yang terlalu sepi, mungkin karena Gita belum pulang terkaku.
"Mbak di sini aja ... Kak Maya kemana? Mbak mau banget ketemu. Ahmad tahu, ke mana kakak bisa ketemu Kak Maya?" anak laki-laki dengan mata lebar itu berpikir sebentar.
"Kak Maya, kerja di Kafe Starbucks Senayan, Mbak"
"Oh, makasih ya, Dek"
Aku membelai puncak kepala Ahmad, lalu memberinya uang saku sebelum pergi. Ia nampak girang ketika melambaikan tangan.
"Kita ke Satarbucks Senayan Pak!" pintaku, lalu dengan segera pak Arofik mengantarku ke tempat yang kutuju.
Aku menelpon Maya, namun ia tak mengangkat panggilan telpon dariku entah karena ia sedang sibuk bekerja atau memang tak mau bicara denganku, aku tidak tahu. Kumasuki Cafe Starbucks sambil menyelisipikan pandangan di antara pengunjung dan pelayan berseragam putih bercampur warna hitam yang hilir mudik membawa pesanan. Seorang pelayan wanita datang menghampiri meja di mana aku duduk.
"Selamat sore Mbak, mau pesan apa?"
"Coffe Americano" kataku tanpa melihat menu.
"Ada lagi Mbak?"
"Tidak, tapi saya mau tanya apa di sini ada pegawai yang bernama Maya Winarno?"
"Maya Winarno ya, Mbak? Saya kurang tahu" ucapnya agak ragu. Aku membalasnya dengan senyum.
"Saya mau dia yang membawa minuman saya kemari, terimakasih" aku tak mau menjelaskan lebih lagi, aku sangat ingin bertemu dengan Maya. Sudah berhari-hari dia mendiamkanku. Hubungan kami jauh lebih buruk dibandingkan sepasang kekasih. Padahal kami sudah berteman lama.
Aku menunggu agak lama, mungkin sekitar 15 menit sampai wanita berambut pendek itu datang dengan sebuah nampan berisi segelas kopi. Aku tersenyum pada Maya, tapi dia hanya membalas dengan sebaris senyum simpul.
"Ini pesanannya, Mbak!" ucapnya ingin segera pergi namun aku menahan jemarinya.
"Kamu tidak mau duduk? Kita bisa bicara sebentar?" pintaku.
"Aku lagi kerja, nanti aku kena marah!" katanya berkeras.
"Kamu sudah berapa hari ini tidak mau mengangkat telponku, May. Lima menit aja dan aku janji aku akan pergi"
"Kamu mau bilang apa?" ucapnya tanpa duduk, namun sudah cukup membuatku senang.
"Kamu tidak mau jadi managerku lagi?"
"Buat apa, kamu 'kan sekarang sudah ada manager baru"
"Dari mana kamu tahu?"
"Pak Adri yang datang menemui aku dan bilang begitu. Aku harus kembali kerja, Na. Maaf aku nggak ngangkat telpon kamu, belakangan ini aku lagi sibuk. Kamu juga sibuk 'kan untuk proyek film kamu?"
"Iya, tapi ..." seorang rekan Maya lalu datang menyambanginya sambil berbisik. Maya tersenyum kemudian berlalu pergi dari mejaku.
Setelah mendengar apa yang dikatakan Maya, aku menelpon Adri. Seperti biasa ia tak mengangkat telpon dariku karena itu aku mengirim pesan padanya dan kembali ke apartemen dengan jengkel.
Malam itu aku sengaja menunggu Pak Arofik pulang, dan diam-diam menuju ke sebuah diskotik yang berada 5 kilometer dari area apartemenku. Aku tidak mau dia tahu, karena pelayannya itu pasti akan memberitahu Adri, dan bila hal itu terjadi maka bisa jadi masalah baru lagi bagiku. Kami baru berdamai dua hari lalu setelah acara pernikahan itu dan aku tidak mau menciptakan jurang pemisah hanya karena kesenanganku pada hiburan dan pesta.
Bau alkohol, hentak musik, lampu gemerlap, suasana gaduh penuh pesta menyambutku. Dengan senang hati aku langsung turun ke lantai disco, menari dan membirkan tubuhku dibuai musik beberapa saat. Hal ini membuatku merasa senang dan bebas meski tak sepenuhnya nyaman. Setidaknya ini cukup bagiku untuk menghilangkan bosan serta kesepian yang menderaku sepanjang waktu yang kini hidup tanpa teman bicara.
Setelah lelah menari membuang kalori dan tekanan yang menyesaki kepalaku, aku memesan satu gelas martina di meja bartender. Dua kursi dari tempat di mana aku duduk, seorang pria nampak memandangi. Aku membuang muka, mencoba tidak mau peduli, karena tidak begitu suka berkenalan dengan pria dari diskotik. Sambil terus mendengarkan musik dan menggoyangkan kepala aku meminum martinaku dalam satu tegukan. Rasa pahit yang seolah membakar tenggorokan, bercampur sedikit rasa manis membuatku merasa lebih baik. Satu tepukan di pundakku membuatku berpaling.
"Hai..." aku mengamati suarau pria itu yang terdengar setengah berteriak dekat telingaku. Wajahnya familiar, aku tersadar setelah beberapa detik kemudian.
"Kita bertemu lagi!" ucapku agak pelan, dengan nada biasa.
Ia mendekati telingaku lagi, setengah berteriak sampai aku terlonjak, "Apa? Eh, maaf, maaf" sambungya setelah melihat keterkejutanku
"Tidak apa-apa. Ketemu lagi di sini!" kataku meninggikan suara karena musik terlalu besar.
Pria bernama Galih yang sudah dua kali kutemui tanpa sengaja tersebut duduk di sebelahku, "Sendiri?"
"Iya, kamu?"
"Sama, baru pulang kerja!" dua gelas berisi minuman beralkohol sudah sampai di depan kami.
"Nggak sama Anggi?"
Pria berambut sedikit keriting dengan senyum manis itu menjawab, "Dia sibuk, biasa bisnis!"
"Kalian bakal menikah 'kan?"
"Belum baru mau tunangan! Mau turun?" aku mengiyakan ajakan Galih dan turun bersama ke lantai dansa. Menikmati suasana tengah malam dan pesta pora yang seolah tidak akan pernah pupus selama beberapa jam kedepan.
Aku mengeceki jam ponsel setelah kembali ke kursi duduk tadi. Sudah mendekati jam 03.00 pagi tanpa terasa sama sekali dan kepalaku sudah mulai berat karena pengaruh minuman beralkohol dan kurang tidur. Aku mencari-cari keberadaan Galih, akan tetapi ia tak nampak dimana pun dalam keramaian. Akhirnya aku putuskan pulang tanpa mengatakan apa pun padanya. Kudekati pintu berwarna cokelat di ujung lorong untuk meninggalkan klub dengan langkah terhuyung, dan hampir saja terjatuh di dekat tempat sampah karena sepatu hak tinggi yang kukenakan, kalau saja seseorang tidak memegangi lenganku.
"Hai, hati-hati Raina" aku mendongak ke arah suara itu dan tertawa menimpali Galih yang entah sejak kapan, kupikir mengikuti.
"Ya, aku tahu, tapi semuanya jadi berputar-putar ... putar-putar. Aku harus pulang untuk bobo. Kepalaku pusing Galih!" kataku mulai tak karuan jelasnya, "oh, ya kamu dari mana?"
"Dari toilet, kebetulan aku liat kamu lewat, jalan oleng seperti perahu kena badai. Jadi mau kuantar pulang?"
"Mau mengantarku pulang?" kataku mengulangi ucapannya. Aku mengiyakan karena kondisiku sekarang memang tak akan mengijinkanku pulang sendiri.
Sambil menarik tanganku ia menuntun langkahku yang saat itu tak bisa fokus pada jalan, "Mobil kamu di mana Rai?"
Aku melirik ke arah Galih sambil tersenyum, "Aku nggak bawa mobil, dan nggak bisa bawa mobil sebenarnya!"
"Kenapa?" katanya ingin tahu.
"Takut!" tawa geli nampak sekali di wajahnya, hingga sepasang matanya menyipit.
"Kalau begitu untuk apa kamu beli mobil?"
"Ya untuk dinaiki-lah, masa iya buat diliat aja"
"Tapi kamu tidak bisa bawa mobil?"
"Tapi aku punya supir!"
Suara gumam terdengar darinya, "Buang-buang uang, padahal kamu bisa belajar sendiri! Bisa nyetir itu enak lho..."
Aku tersenyum saja mendengar saran darinya, "Bagi rejeki!"
"Ya, orang kaya" ucapnya sambil berseloroh.
Langkah kami terhenti di parkiran basemen. Sebuah mobil mini cooper berwarna putih nampak terparkir di antara mobil lainnya.
"Oke, Nona Raina silahkan naik!" ucapnya seraya membuka pintu mobil, aku melompat masuk begitu saja. Ketiaka duduk di samping kursi, Galih memasangkan sabuk pengaman untuk untukku, "kamu tinggal di mana Raina?"
Sambil membuka pelupuk mataku yang terasa agak berat kujawab pertanyaan Galih, "Golden Residence"
"Dekat sini 'kan?"
"Yupz..."
Aku masih setengah mengantuk ketika menyadari hanya ada keheningan di antara aku dan Galih. Mendadak aku teringat mengenai Adya dan aku kira istri sah Adri itu dekat dengan Galih. Dia juga diundang di acara makan malam yang sama, membuatku ingin tahu lebih lagi.
"Galih, kamu kenal Adya?"
Ia menengok sesaat, "Iya, kenapa memang?"
Aku bergumam, "Tidak apa-apa, dia pernah mengantar aku pulang, katanya karena kamu yang minta. Makanya aku tanya kamu?"
"Oh, waktu makan malam itu?"
Aku menganggukkan kepala menimpali, "Aku mau bilang terimakasih, tapi nggak tau di mana bisa ketemu Adya, kamu tau?"
"Kerumah dia aja!" aku melirik Galih yang terpaku pada jalan di depan kami.
"Di mana?"
"Nanti aku kirim lewat SMS, bilang sekarang juga belum tentu kamu ingat"
"Oke, kalau nanti kita sampai"
"Kita sudah sampai" sergahnya membatku heran, karena rasanya kami bahkan baru beberapa detik berada dalam mobil.
Aku melirik ke luar dari kaca mobil sambil mengamati lobi masuk dan halaman parkir selama lima menit, sebelum yakin jika aku sungguh telah tiba di tempat yang ku tuju.
"Sejak kapan kita sampai?"
"Sejak tadi, kamu tidur agak lama. Mau dibangunkan juga nggak enak!"
Aku melirik Galih, "Terimakasih sudah mau mengantar!"
Galih mengangguk dengan sikap santai "Nggak masalah, trus nomor telpon kamu?"
"Nomorku ya," kurogoh saku blazer untuk mencari ponselku, "nomerku 082389 ...."
"Tunggu bentar," ucapnya sambil meraih ponsel di saku jenansnya, "Oke, 082389..."
Aku menuruni mobil, Galih menurunkan kaca mobilnya hingga kami bisa bicara salam perpisahan selama beberapa menit, "Nanti kukirim alamatnya di sini!"
"Makasih, selamat malam!"
"Oke, See you" ia melambaikan tangan sebelum menginjak gas dan membawa mobil itu melewati gerbang apartemen kemudian menghilang bersama mobil lainnya.
Mabuk, mual, pusing dan ngantuk membuatku susah payah sampai ke kamar apartemenku. Tiba di dalam kujatuhkan diri ke kursi selama beberapa menit, sebelum kemudian berdiri dan menghambur ke dalam kamar mandi untuk memuntahkan isi perutku yang rasanya cuma penuh dengan alkohol. Lambungku rasanya perih seperti tersilet bersama mual hebat yang kukira terjadi karena pagi tadi aku tidak makan apa pun selain sepotong roti dan beberapa gelas air minum sebelum beraktifitas. Dengan perut kosong, tubuh lemas dan kepala berputar, aku bermaksud berdiri untuk meraih ponselku dan menelpon seseorang, namun baru saja tiba di depan pintu kamar mandi, penglihatanku berputar, semuanya buram dan kemudian gelap.
Ketika membuka kelopak mata, kutemui langit-langit putih pucat dan ruangan yang lengang dengan sebuah televisi di depanku, serta sofa dan kulkas kecil di sampingku. Punggung tanganku terasa sakit, hingga aku menengok dan menemukan jarum infus menusuk kulitku. Aku membuang napas heran, tidak tahu siapa yang sudah membawaku ke rumah sakit semalam.
Aku mengatupkan mata, mencoba menikmati waktu istirahat meski rasanya sendirian di sebuah ruang perawatan tanpa seorang penjaga, membuatku sedih lagi. Entah kenapa selalu saja aku seorang diri tanpa siapa pun di sisiku. Tak ada teman berbagi kesenangan dan kesedihan, hingga di detik seperti ini terkadang kurindukan keberadaan ibu di sisiku. Air mataku jatuh lagi setelah selalu coba kutahan dan mengalihkan perhatian dengan pekerjaan, minuman dan sesekali pesta hingga pagi. Tapi rasa sakit ini tak pernah sekalipun berhenti, hanya padam selama beberapa saat dan kembali lagi dengan perih serupa.
Pintu di ruang perawatan terbuka, buru-buru aku menyeka air mata dan memalingkan muka karena mengira yang datang adalah perawat maupun dokter, tapi suara yang terdengar menyadarkanku jika yang berkunjung adalah orang lain.
"Mbak Raina sudah bangun, saya bawakan air minum untuk, Mbak" bungkus kantong kresek lalu diletakkan di meja samping tempat tidur. Aku berpura-pura tidak melihat, dan hanya menjawab dengan gumaman singkat, "perasaan Mbak gimana, apa Mbak mau makan sesuatu biar saya belikan di luar?"
Aku mengumpulkan napas, sebelum menjawab dengan nada teratur yang jauh dari isak tangis, "Tidak, saya tidak mau makan apa-apa, saya baik-baik aja, Pak" Pak Arofik diam saja, "siapa yang membawa saya ke rumah sakit?"
"Saya tadi pagi datang mau menemui Mbak, karena Pak Adri ingin bicara sesuatu. Tapi saya ketuk berkali-kali, sampai saya datang siangnya tidak ada jawaban dari tempat Mbak. Akhirnya dari pihak apartemen yang pegang kunci cadangan membuka pintu kamar Mbak dengan paksa" Pak Arofik terdiam lagi selama beberapa detik, "Pak Adri minta saya menelpon Beliau kalau Mbak sudah sadar. Apa Mbak mau bicara sekarang?" aku mengangguk saja, dan dua menit kemudian ia memberikan ponselnya padaku dan meninggalkan ruangan.
Kamera Line menyala dengan wajah Adri dalam ruangan kantornya. Pria berpotongan rambut pompadour dengan sebuah kacamata yang membingaki wajahnya itu hanya kupandangi beberapa detik, sebelum kemudian kumatikan kamera dan hanya mengobrol lewat telpon seperti biasa. Aku tidak yakin bisa sembunyikan air mataku ini dari pendengarannya.
"Raina?" panggilnya sebelum aku menyahut dengan menahan air mata.
"Mmm..." hanya itu yang kata yang mampu terlepas dari bibirku.
"Kenapa kameranya kamu matikan, saya mau melihat muka kamu?"
"Mmm..." sekali lagi aku membalas dengan cara serupa, karena bila aku bicara maka air mataku akan ikut tumpah.
"Kamu mau istirahat? Kalau begitu biar saya matikan dan kamu tidur aja, nanti aku telpon lagi!"
"Adri!" panggilku dengan isakan tangis yang pecah dan hamburan air mata berserakan, "Adri ..." panggilku lagi "Adri ..." ucapku menuang sakit dan sesak yang menumpuk di dadaku selama berhari-hari.
"Raina, hai ... kamu kenapa?" dari seberang telpon jelas sekali suaranya lebih melembut dari biasanya, meski begitu aku tak menjawab pertanyaan itu dan terus menangis, "Raina, jangan menangis nanti saya ke sana! Setelah pulang kantor saya akan menemui kamu. Saya janji, oke? Jangan menangis sayang!"
"Iya" ucapku menenangkan diri lalu mematikan ponsel dan menangis lagi seorang diri.
Pak Arofik sudah pulang sore tadi, sedangkan aku dengan resah melihat jam tanpa henti, menunggu kapan Adri akan datang. Waktu berlalu dari jam tujuh beralih ke jam delapan kemudian bergeser menuju jam sembilan malam, tanpa kegiatan berarti selain menonton televisi dengan hingar acara yang membuatku begitu bosan. Ketika sudah hampir terlelap setelah meminum obat pria bersetelan jas hitam dengan dasi keemasan itu datang dengan menenteng beberapa bungkusan kantong kresek. Ia mencium keningku, kemudian meletakkan makanan dalam kulkas, setelah tuntas dari kesibukan ia duduk di samping tempat tidur dengan buah stoberry di tangannya.
"Kamu kenapa menangis tadi?" ia membelai kepalaku, dan aku lekas bangkit dari tempat tidur dan memeluknya.
"Aku rindu kamu, aku kesepian..." kataku dengan lirih di atas pundaknya. Ia membalas dengan merangkul punggungku.
"Aku sibuk, tidak bisa terlalu sering datang. Nanti Pak Arofik akan menemani kamu, Rai!" ia membelai rambutku berulang dengan lembut, "apa kamu minum lagi? kata Pak Arofik waktu kamu pingsan mulut kamu bau alkohol"
"Ya, aku dari diskotik minum sampai pagi... sekarang pun seharusnya yang kamu bawa wine atau bir. Bukan buah!" Adri melepaskan pelukannya sambil memandangiku dengan tajam.
"Kamu ke diskotik, sendiri, minum?" tandasnya dengan nada sentimen ditiap ucapannya, seolah tak percaya.
"Iya, lagipula mustahil 'kan aku telpon kamu dan bilang 'Adri ayo kita dugem dan minum sampai pagi! Kamu jelas tidak mau ...'"
"Saya tidak minum!"
Aku menepuk pundaknya dan tersenyum, "Kamu anak baik kalau begitu!"
"Raina, kamu harus melanjutkan pengobatan kamu! Konsultasi sama psikolog agar kamu berhenti minum!" tegasnya dengan nada memaksa.
Aku menyelimuti pipi Adri agar dia bisa mendengarkan aku, "Temanku cuma alkohol. Maya meninggalkan aku, kamu juga tidak ada waktu karena lebih sibuk dengan keluarga dan bisnis kamu. Jadi tidak apa-apa! Kalau kamu menyuruhku berhenti aku harus bagaimana?" aku menunggu reaksi Adri, tapi ia kaku tanpa bahasa tubuh berarti, "karena aku ini cuma selingan selama satu jam, sehari atau mungkin semalam, kamu bisa tidak peduli! Nanti pun kamu akan pergi ketika sudah bosan dan semua ucapan kamu itu kamu lupakan. Semua simpanan memang selalu terlihat rendahan, benar 'kan?" kelopak mata Adri menyapu sesaat, lalu meraih jemari tanganku. Aku mendahuluinya bicara sebelum ia mengatakan sesuatu "jam besuk sudah hampir habis, aku juga mau tidur" aku berbaring membelakanginya. Adri menarik selimut menutupi tubuhku, lalu mencium kulit keningku. Pintu pun menutup dan ia pergi begitu saja seperti sebelumnya.