Pagi tadi suster sudah datang mengukur tensi, suhu tubuh, mengganti infus dan memberi obat setelah sarapan pagi. Pak Arofik juga sudah tiba di sini, tapi dia menunggu di luar, hanya masuk saat aku memanggil sedangkan sisa waktu kuhabiskan untuk memainkan ponsel, melihat akun media atau menonton televisi. Kudengar kabar mengenai aku masuk rumah sakit sudah masuk dalam akun gosip i********:, lalu diliput infotaiment. Aku menghela napas, apa akan ada orang yang menjenguk? Aku tidak yakin kenalanku memiliki waktu besuk, mereka semua orang sibuk kecuali waktu pesta. Jika ada orang yang sungguh kuharapkan datang hanya dua orang, Maya dan Adri.
Ponselku berderingg, sebuah SMS dari Galih berisi alamat rumah Adya di kawasan perumahan Pondok Indah. Aku mengangkat alis, sayangnya sekarang aku sedang sakit jadi, tidak bisa datang ke sana dan mengobrol dengan Adya. Aku juga ingin melihat bagaimana anak perempuan mereka, aku yakin dia cantik mengikuti paras orangtuanya.
"Na..." suara panggilan itu membuatku menengokkan muka. Mulutku membuka ketika melihat Maya datang dengan sekeranjang buah apel di tangannya. Hampir saja aku meloncat ke arahnya, tapi dia buru-buru menghampiri dan memelukku, "ya, ampun Raina... kamu mau jatuh trus infus kamu lepas? Mau dirawat sebulan di sini?" aku menggeleng pada Maya dengan senyum, sambil menahan satu butir air mataku agar tak lepas dan jatuh.
"Aku kangen May, kenapa kamu baru datang? Nelpon juga kamu nggak. Aku pikir kamu lupa sama aku?" tangan Maya menepuki pundakku.
"Iya maaf, aku sibuk. Ini juga aku baru dapat waktu libur" aku melepaskan pelukan dari gadis berkemeja putih di depanku sambil memegang kedua tangannya.
"Kamu yakin mau kerja di kafe aja May, kenapa kamu nggak mau jadi managerku lagi?" mata Maya melirik ke arah lain, sikap ramahnya menghilang, "apa ini karena Adri?"
Maya tertawa lebar, "Aku akan kerja sama kamu lagi" ia mengatakannya penuh luapan semangat sambil memelukku.
"Masa?" ucapku setengah tak percaya.
"Iya" sekali lagi kami berpelukan, namun rasa penasaranku belum hilang untuk bertanya alasan kenapa dia menolak beberapa waktu lalu.
"Aku nunggu kamu lama banget May!"
Ia melepaskan pelukan dariku, "Maaf, aku ada alasan sendiri"
"Apa alasannya karena Adri?" gadis berambut pendek itu diam saja, "aku baru mau bicara pada Adri biar kamu bisa jadi managerku lagi waktu kita baru ketemu di kafe kemarin, tapi karena dia sibuk, aku jadi minum sampai masuk rumah sakit"
"Kamu minum lagi?" sepasang mata Maya menyipit dengan alis bertaut.
"Cuma sedikit Maya!"
"Sedikit itu berapa Raina? Aku kenal kamu, sedikit itu dua botol... iya 'kan?" aku menggenggam tangan Maya, lalu memeluknya.
"Itu obat stresku Maya" gadis itu berdehem.
"Ada jeda waktu sampai proyek lain 'kan, kamu mau lanjut menemui psikiater atau psikolog?" mendengar jawaban Maya membuatku melepaskan pelukan.
"Psikiater, Psikolog? Kenapa, kenapa harus ke mereka lagi? aku baik-baik aja"
"Dokter bilang apa?"
"Cuma iritasi lambung, karena aku minum sebelum makan. Jadi kalau nanti aku mau minum harus makan dulu, masalahnya beres 'kan?"
"Raina," Maya berkeras dalam satu sebutan panjang "ini untuk kesehatan kamu juga. Aku di sini buat jaga kamu bukan hanya sebagai manager tapi juga orangtua, teman, saudara. Nanti kalau kamu sakit bagaimana, Na?"
"Masuk rumah sakit lagi!" kataku diselingi tawa, namun sepertinya hal tersebut tak lucu bagi Maya.
"Aku nggak mau kamu sakit parah dan ninggalin aku Raina, kita sama-sama sudah tidak punya keluarga. Apa susahnya kamu dengerin aku, seperti aku dengerin kamu" aku mengalihkan pandangan, menimbang semua itu sebelum memberikan jawaban.
"Nanti kamu atur aja jadwalnya"
"Benar ini?" aku megangguk dan senyum sumringah nampak padanya.
Pintu cokelat ruang perawatanku terbuka, saat kupikir yang datang adalah suster ternyata yang muncul adalah Adri. Aku terkejut, tidak seperti biasanya dia mau meluang waktu ditengah kesibukannya menemuiku.
"Na, aku keluar dulu!" aku mengangguk pada Maya yang meninggalkan kami berdua.
Adri duduk di tepi tempat tidur, lalu melepaskan kacamata hitam yang membingkai mata sipitnya yang hari itu memakai soflent cokelat terang. Ia nampak tampan hari ini dengan kemeja putih, jas abu-abu tanpa dasi dan celana berwarna hitam.
"Kabar kamu bagaimana?"
"Baik...," aku tersenyum dan memeluk Adri. Aku merasa gembira bisa melihat dia dan Maya di sini.
"Kamu senang Maya di sini lagi?" aku mengangguk menimpali.
"Iya, kamu yang minta dia bekerja lagi?" alis Adri bertaut, aku yakin dia tak begitu suka mengenai kembalinya Maya kemari. Entah alasan apa yang membuat dia setuju dan berubah pikiran setelah berkeras hanya mengizinkan Pak Arofik yang jadi managerku selama ini.
"Karena harus ada yang mengawasi dan kenal kamu seperti Maya, kamu Cuma menurut sama dia 'kan" aku memegang jemari Adri.
"Aku juga menurut sama kamu 'kan?"
Bibir Adri mengerut, "Konseling?"
"Kecanduan minum itu?" Adri mengangguk.
"Iya, aku mau. Maya juga tadi sudah bilang!"
Adri tersenyum lebar, "Kalau begitu nanti dokternya aku yang tentukan" alis Adri terangkat, menunggu persetujuan. Sambil menggigit bibir aku mengangguk setuju.
"Pak Arofik kalau begitu tidak perlu kerja lagi 'kan?"
"Dia tetap bekerja sebagai asisten, supir juga tidak masalah. Aku yang akan menggaji dia"
"Tapi Maya saja sudah cukup Adri" jemarinya mengelusi pipiku.
"Itu waktu kamu masih jadi pacarku 'kan, sekarang kamu istriku" aku tersipu mendengar jawaban Adri, "oh, ya aku mau kamu mengambil kontrak pekerjaan untuk jadi host di acara musik TV2"
"Acara musik?"
"Iya, minggu depan TV2 akan membuat acara musik. Jadwal kamu tidak padat 'kan? Lagipula dengan begitu kita bisa bertemu tiap hari"
"Tetap saja kamu banyakan sibuknya" Adri merangkulku.
"Sekarang juga aku sibuk dan harus kembali ke kantor. Aku tidak bisa terlalu sering datang, tapi aku usahakan ke sini. Oke?"
"Iya, makasih. Jaga kesehatan kamu!"kataku sembari mengecup keningnya, hal itu membuat Adri tersenyum dan kemudian membalas dengan kecupan di bibirku.
"Oke!"
**
Sudah tiga hari aku berada di rumah sakit dan dokter bilang kalau aku bisa pulang besok. Hari ini Maya tidak datang karena dia mengurus beberapa kontrak pekerjaan dengan Adri untuk acara yang dia minta untuk kubintangi, meski begitu Pak Arofik tetap datang menemaniku meski seperti sebelumnya dia menunggu di luar ruangan.
Dengan santai aku memakan apel yang dibawa Maya sambil meyalakan televisi. Aku tidak tahu akan ada orang yang datang hari ini, sampai aku melihat senyum dari bibir merah muda yang dilapisi lipgloss melewati garis bibirnya. Adriana datang sambil menarikan jemarinya dengan ceria.
"Hai, say..." mendengar ucapan temu sapanya, membuat perutku jadi sakit. Meski begitu aku masih memasang senyum, walaupun sedikit lebih dipaksakan, "aku dengar kamu sakit ya, Raina?"
"Menurut kamu?" bukaku dingin.
Adriana tanpa dipersilahkan duduk di sofa. Ia memulas bedak di pipinya beberapa kali lalu melirik padaku sambil tersenyum.
"Oh, ya ... kamu jangan marah ya nanti ada tamu"
"Tamu?" kataku heran bercampur terkejut.
"Infotaiment say... mereka mau lihat kedekatan kita setelah konflik kemarin. Yah, biar dikira kita ini sudah damai"
"Memangnya kita ini sudah damai?"
Bahu Adriana terangkat, "Yang penting masuk berita"
"Tapi aku belum bilang setuju 'kan?"
Pintu terbuka, dua orang kru infotaiment hendak masuk namun Pak Arofik sempat menahan mereka sampai terjadi sedikit selisih paham. Tidak ingin ada berita buruk menyebar dalam pemberitaan cetak dan televisi aku menerima kehadiran mereka, meski setengah hati dan menyalahkan Adriana untuk sikap bodohnya yang hanya mau diberitakan.
Aku memberi waktu setengah jam untuk seorang wartawati dan kru kamera itu dalam hal wawancara dan setelahnya aku minta mereka meninggalkan kamarku agar bisa beristirahat dengan tenang. Tapi kelihatannya waktu wawancara Adriana lebih banyak, dia duduk di sampingku menjawab semua pertanyaan dan hanya menjadikanku tampil di televisi sebagai hiasan. Dalam hati aku mulai menggerutu pada sikap perempuan tidak tahu malu ini.
Di tengah wawancara ponselnya berbunyi, aku kira ia tidak akan menjawabnya namun diangkat dan menjelaskan pada semua orang kalau yang menelponnya adalah seorang sosialita Jakarta yang terkanal. Topik pun beralih dari aku yang sakit menjadi kegiatan arisan Adriana yang katanya mencapai 200-an juta, dan selalu berjumpa di hotel-hotel bintang lima terkemuka di Jakarta bahkan sampai ke luar negeri. Awalnya aku mau bersikap tak peduli, tapi setelah dia menyebut nama Adya yang merupakan istri dari Adri, seorang pemilik perusahaan televisi. Ketertarikan muncul dalam hatiku. Akhirnya aku bersabar, menunggu sambil tersenyum kapan wawancara ini akan berakhir untuk berbicara bebas dengan wanita itu.
Waktu yang kurencanakan hanya sekitar setengah jam malah menjadi dua jam lebih hanya untuk tanya jawab khusus Adriana. Aku menarik napas lega, setelah para kru pergi dan Adriana bersiap pulang dengan mengambil tasnya di meja. Aku berdehem, mencoba memulai obrolan.
"Kamu benar ikut arisan sosialita?" di tengah ruangan Adriana berhenti dengan pose bak model populer.
"Kenapa?" ucapnya bercampur gaya angkuh.
"Aku tertarik ikutan?" Adriana berdehem, menatap jemariya yang dipasang kutek merah muda.
"Gimana ya, mereka nggak mau nerima anggota baru lagi ... Full" Adriana berbalik hendak pergi, aku berpikir keras hal apa yang bisa membuat perempuan seperti dia tertarik, dan aku tahu hal apa itu.
"Kamu mau aku kenalkan dengan Brian Atmadja?" letupan sepatu hak tinggi Adriana terhenti.
"Apa ... kamu baru bilang Brian Atmadja? Pengusaha real eastet Brian Atmadja?" mata Adriana nampak berbinar. Aku tersenyum, dia terpancing. Brian playboy dan Adriana mata duitan, mereka akan jadi pasangan yang menarik pikriku.
"Iya, tapi aku hanya bisa memperkenalkan kamu kalau aku juga bisa ikut arisan kamu. Kalau kamu tidak bisa, aku juga tidak bisa"
"Begitu kamu sembuh hubungi line aku aja, dan aku bawa kamu ke sana"
"Tapi bukannya sudah full" Adriana tersenyum lebar.
"Semua bisa di atur" matanya mengerling lalu melambaikan tangan, "nanti aku DM kamu di i********:, ya say ..." ucapnya menutup rapat pintu.
Sehari setelah keluar dari rumah sakit aku menelpon Adriana lewat Line dan berjanji kami akan bertemu di Hotel Brawijaya kawasan Sudirman. Ia bilang jika arisan kali ini akan dilaksanakan di salah satu restoran di sana. Adriana juga tak lupa berpesan agar aku sebisa mungkin tampil dengan barang-barang branded dari atas kepala hingga ke ujung kaki agar lebih bisa diterima dalam lingkungan sosialita elit seperti mereka.
Aku datang sekiranya pukul 12.00 siang, masih tak mengerti apa yang harus aku lakukan jadi hanya menunggu di sebuah kafe sampai Adriana menghubungi. Dan perempuan itu akhirnya baru menelpon sekitar pukul 01.00 siang setelah membuatku menunggu selama satu jam lebih di tengah cuaca panas. Aku menghampiri Adriana yang menunggu di lobi hotel sampai melambai tangan. Penampilannya hari ini nampak mahal dengan dress merah muda, sepatu hak tinggi warna hitam dan tas tangan sewarna gaun merah muda selututnya. Kami berjalan memasuki restoran yang telah ramai dengan sepuluh perempuan yang gaya berpakaiannya tak kalah dengan Adriana, aku terheran hanya ada mereka di tempat itu.
"Kenapa hanya ada kita di sini?"
"Restoran sudah di sewa selama acara arisan berlangsung!" jawab ia dengan riang ketika menghampiri teman-temannya yang berusia antara 25-30 tahunan itu. Para perempuan itu kompak tersenyum melihatku di sana. Aku melirik mereka, belum Adya di sana.
"Jeng Adri bawa temen lagi?" sapa seorang kawannya.
"Iya Jeng, sudah kenal pasti!"
Seorang lainnya bergumam ketika aku duduk di salah satu kursi dekat mereka, "Iya, kayaknya pernah lihat filmnya" aku tersenyum dan meletakkan tas di atas meja, sambil menunjukkan gelang berlian yang kukenakan untuk mencuri perhatian.
"Jeng itu tas birkin edisi 50-an buah ya, trus itu berlian bukannya merk Piaget. Beli di mana Jeng, asli apa nggak itu?"
"Saya beli waktu di Hong Kong, Jeng" obrolan kami terus berlangsung beberapa saat sampai Adya datang.
Aku tidak menyapanya sampai dia menghampiri meja dan meletakkan tas, lalu memberi kecupan pada teman-tamannya. Ia lantas terpaku melihatku dan tersenyum ramah seperti biasa.
"Raina, bertemu lagi. Kamu mau jadi bagian arisan di sini juga?"
"Kalau bisa"
"Pasti bisa, inikan terbuka buat semua orang!"
Arisan itu berlangsung sekitar tiga jam diselingi obrolan kecil soal banyak hal, termasuk acara kegiatan amal minggu depan yang akan mereka lakukan di salah satu panti sosial. Aku menyetujui saja acara tersebut namun tidak berjanji akan datang, karena jadwal kerjaku minggu depan akan diisi dengan slot syuting acara.
Arisan itu pun bubar, kami bersiap meninggalkan restoran itu. Adya yang tahu aku tidak bisa membawa mobil menawarkanku untuk menumpang mobilnya ke apartemen. Tanpa sadar kami mulai akrab karena sikapnya yang riang, terus terang dan cukup banyak bicara.
"Kamu sudah lama kenal Adriana?" aku melirik Adya.
"Belum terlalu lama, bagaimana dengan teman-teman Mbak yang lain?"
"Kalau saya sudah lebih dulu kenal waktu jaman kuliah. Di antara kita bertiga yang lebih dulu bikin arisan, malah saya yang lebih dulu menikah" tukasnya sembari tertawa.
"Mbak punya pernikahan yang bahagia sepertinya" Adya berdecak, matanya menyipit ke arah jalan.
"Bahagia, iya bahagia hanya saja Adri itu orangnya terlalu sibuk dengan pekerjaan. Jarang ada di rumah jadi mengobrol pun kami tidak sering. Tapi, dia baik dan menurutku setia" ia mengerling ke arahku.
"Kelihatannya dia memang cukup dingin, tidak melakukan banyak interaksi dan tipe serius"
"Iya, begitulah dia. Makanya kalau di rumah, biasanya aku yang banyak ngajak ngobrol, dibandingkan sama dia. Kadang juga Jane suka ngeluh kalau ada janji sama ayahnya, tapi malah harus cansel karena meeting mendadak"
Aku bergumam, "Mbak pasti sangat percaya suami Mbak"
"Sangat" tegas wanita berambut gelap itu "Oh, ya Raina kamu sudah punya pacar"
"Belum"
"Coba kalau aku punya adik lain selain Galih, aku mungkin bisa nyomblangin kalian"
"Jadi, kalian saudara?"
"Iya dan sebentar lagi dia bakal menikah dengan Anggi setelah pertunangan nanti" aku bergumam menyembunyikan rasa terkejutku, "kamu dekat juga dengan keluarga Atmadja? Waktu makan malam keluarga untuk pengumuman pertunangan mereka, kamu diundang 'kan?"
"Iya, tapi hubungan kami tidak begitu dekat. Bisa dilihat Nyonya Caroline tidak begitu suka padaku" Adya berumam, mengangguk menyetujui tanpa bertanya lebih jauh.
Mobil Adya berhenti tepat di depan bangunan apartemenku. Aku turun dari mobil seperti biasanya, mengira jika setelah ini Adya akan berlalu pergi, tapi perhatianya teralihkan segera setelah melihat mobil milik Adri terparkir di salah satu sisi gedung. Ia nampak heran dan aku bisa membaca sisi ingin tahu di matanya. Aku menghela napas antara harus melihat hal ini sebagai sebuah kesenangan atau kesedihan. Aku menundukkan muka, sembari tersenyum diam-diam ketika Adya keluar dari mobilnya dan menelpon seseorang dengan resah. Aku belum beranjak masih terpaku melihat kesibukan Adya. Ketika ia telah mematikan ponsel, aku berpura-pura mengajaknya memasuki lobi apartemen jika dia sedang ada perlu dengan seseorang.
"Mau ke kamar apartemen saya?" tawarku ketika ia duduk di sebuah sofa cream bergaris. Adya mendongak ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak, saya sedang menunggu seseorang" aku duduk di sebelah tubuhnya.
"Tadi Mbak kelihatannya terkejut setelah melihat arah parkiran mobil. Kenapa?"
"Iya, sepertinya mobil suamiku di sini. Padahal hari ini katanya dia ada meeting di kantor sampai malam"
Aku tidak bertanya lagi, dan memilih duduk di samping Adya sambil menunggu pria yang membuatnya begitu was-was. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan perempuan ini sampai seresah ini, apa dia tidak percaya lagi pada suaminya setelah mendengar sebuah kebohongan? Aku ingin sekali kebohongan ini suatu waktu terbongkar, aku penasaran bagaimana reaksinya dan semua keluarganya.
Aku berpaling ketika mendengar suara Adri menyapa Adya. Pria bermata sipit itu nampak terkejut melihatku bersama istrinya, meski dengan segera ia sembunyikan.
"Adya, kamu di sini?" tanya dia tanpa bersalah.
"Aku justru heran kenapa kamu di sini? Kamu bilang ada rapat 'kan?"
"Rapatnya cansel, aku kemari mau bertemu Brian. Masalah pertunanagan Galih dan Anggi" balasnya cepat mencari alasan, aku tersenyum tipis.
"Brian tinggal di sini juga?" Adri mengangguk. Aku berdiri dari kursiku.
"Kalau begitu, aku permisi dulu"
"Makasih Raina, sudah mau menemani saya!" aku bergumam bercampur senyum. Sebelum pergi kutatap tajam Adri yang membalas tatapanku sekilas pandang saja.