Bab 8

2497 Words
Baru saja selesai mandi, aku megeceki ponsel. Sepuluh panggilan tak terjawab dari Adri membuatku tersenyum senang. Aku yakin apa yang terjadi hari ini sudah cukup membuat dia merasa gugup, tak sabar rasanya datang dan menginjakkan kaki di rumahnya seperti beberapa waktu lalu ketika kami pertama bertemu. Dering ponsel membuyarkan lamunanku, kutunggu selema beberapa saat sebelum mengangkatnya dengan pura-pura tak peduli. Aku tak berharap banyak dari telponku malam ini, karena Adri bukan tipe pria baik saat merasa terdesak. "Tumben kamu menelpon, apa kamu kangen?" sikap dinginnya menyambutku selama beberapa detik sebelum ia buka suara dengan nada tak ramah. "Sejak kapan kamu kenal Adya?" "Sejak kita berkenalan di rumah itu dan kamu mengantarku sampai di sini, tepat di depan istri kamu. Apa kamu lupa?" "Jangan bercanda Raina!" aku tersenyum mendengar keresahan nampak sekali dari deru napas dan omongan Adri" "Aku tidak bercanda Adri, kami saling mengenal di situ dan berlanjut lagi waktu aku ketemu dia di kantor kamu, sambil membawa makanan. Apa kamu tahu dia yang menawarkan aku untuk ikut dalam arisan sosialita punya dia?" "Raina, jauhi Adya!" aku berdecak mendengar sikap memerintahnya yang keras itu. Aku langkahkan kaki menuju jendela, sambil melihat pemandangan malam kota Jakarta yang bersinar amat terang seperti butir berlian yang diletakkan di tiap jendela. "Kenapa aku tidak boleh dekat dengan dia. Saya 'kan tidak pernah bilang kalau kita ini pasangan selingkuhan" Suara napas Adri menabrak tajam ke arah ponsel, hingga aku bisa menebak seberapa besar hal ini terlalu mengganggunya, "Adya memiliki tempatnya sendiri, kamu juga punya tempat kamu sendiri!" "Tempat?" kataku sinis, "jadi tempat Adya ada di mana Adri, di jari manis kamu? Lalu aku ada di jari mana? Aku tidak pernah terikat di tangan kamu, cuma ikatannya ada di mulut kamu!" "Raina... seperti yang pernah aku bilang. Adya itu bagian dari bisnis, keuntungan. Aku berhadapan dengan situasi yang rumit, kalau aku sampai mendapat masalah dengan dia, semuanya ..." ucapan Adri terhenti di antara kegusarannya kini. "Situasi yang rumit itu apa karena kamu takut jatuh miskin, kehilangan uang, nama besar atau kehormatan?" "Uang bisa dicari tapi kehormatan tidak bisa dipulihkan" "Jadi aku ini tidak sebanding dengan kehormatan kamu?" aku menunggu sebuah jawaban yang sekiranya tak akan membuatku kecewa dari Adri, atau mungkin dia tak perlu menjawabnya, maka itu lebih baik. Karena aku tidak ingin mendengarkan kejujuran dari bibirnya. Kejujuran yang menggangguku sesudahnya. "Jangan membandingkan diri kamu Raina!" samar-samar aku dengar suara Adya memanggil, "kamu jangan lupa minggu depan hari pertama syuting acara musik live di studio. Aku pergi dulu" "Selamat ..." belum sempat aku menyelesaikan kalimat, Adri mematikan telpon "malam!" kulempar ponsel ke atas tempat tidur dan beranjak ke depan kaca untuk mengeringkan rambut. Telponku berdering lagi, aku mengira jika yang menelpon adalah Adri, ternyata salah, yang menghubungiku adalah Adriana. Aku hendak mengabaikan telpon itu, tapi entah mengapa keinginan dan yang dilakukan jemariku berlainan. Setengah ingin, aku berbicara dengan malas pada perempuan dengan mulut beo itu. "Ya!" "Hai Raina sayang, lama banget angkat telponnya. Nggak suka ya, aku nelpon?" ucap ia dengan nada manja sekaligus menjengkelkan di tengah suntuknya perasaaanku setelah bercakap dengan Adri barusan saja. "Kenapa Adriana?" "Kamu kok nggak semangat begitu?" "Aku mengantuk!" balasku seadanya. "Oh, jadi bagaimana say, kamu jadi 'kan kenalin aku sama Brian?" Aku bergumam, "Ya, besok saja. Ini 'kan sudah malam" "Sekarang aja sayang, aku sudah ada di apartemen kamu" "Apa?" tak bisa kusembunyikan suara keterkejutanku yang tak menyangka betapa lihainya perempuan satu ini, "dari mana kamu tahu?" "Kenapa kamu kaget, bukannya waktu baru kenalan tadi, kamu kasih tahu semua orang kalau tinggalnya di apartemen Golden Residanse" "Masa?" "Aduh, kamu kok bisa lupa say ... udah, sekarang kamu turun ke lobi, aku tunggu di sini biar kita bisa sama-sama ke tempat Brian!" "Tapi ..." Adriana mematikan ponsel dan bertindak sesuka hati seperti biasa. Kalau saja aku tidak butuh dia untuk masuk ke lingkungan Adya, tidak mungkin aku mau berkarip dengan wanita seperti ini. Di lobi apartemen, kulihat Adriana sedang duduk di sebuah sofa dengan gaun pendek setinggi paha tanpa lengan berwarna merah menyolok, sambil menenteng tas mahal di tangannya. Ia duduk dengan menyilangkan kaki hingga nampak paha kurusnya yang menggoda, membuat mata lelaki di sana seolah terhipnotis padanya. Aku tidak pernah habis pikir dengan perempuan ini. Apa seperti itu caranya mencari uang, entah kenapa aku jadi kasihan padanya. Adriana melambaikan tangan ketika melihatku sambil mengibaskan rambutnya yang di cat berwarna blonde. Perempuan bertubuh tinggi dan ramping itu meraih lenganku penuh semangat seperti seekor kucing menanti makanan. "Jadi bisa kamu kenalkan Brian padaku?" aku berusaha menghindar dengan mencari alasan lain, agar dapat pergi dari hadapannya. "Aku ... bagaimana kalau nanti saja? Ini sudah malam dan aku tidak mau mengganggunya" bibir Adriana mengerut dengan mata kecewa. "Raina, aku ini sudah dandan cuma buat ketemu Brian, masa sampai di sini malah batal dikenalin. Padahal waktu kamu minta masuk geng sosialita itu aku cepet banget 'kan, nggak PHP" "Iya, tapi ..." "Jangan-jangan kamu ini sebenarnya bohong ya, dan nggak kenal sama sekali sama Brian? Kalau begitu, kegiatan minggu depan jadi terakhir kamu gabung ya ... aku pergi dulu!" aku menahan lengan Adriana. Ancamannya terdengar membuatku tak nyaman. Aku berharap bisa menunggu selama beberapa hari untuk bisa membuat alasan bertemu Brian dan memperkenalkan Adriana dengan dia. Kejadian terakhir tidak menyenangkan dan aku tidak pernah merasa kami ini cukup dekat. Mulut Brian terlalu tajam, kalau kami bertemu yang terjadi hanya gesekan pertengkaran. Aku tidak tahu kenapa dengan bodohnya kutawarkan perkenalan dengan Brian sebagai taruhan tanpa pikir apa pun. Aku berdiri di depan pintu apartemen Brian. Sepasang kakiku ini ingin sekali berlalu meninggalkan tempat ini, namun melihat Adriana di sampingku sepertinya mustahil. "Aku akan tekan belnya" kataku, namun belum sempat aku lakukan tujuanku, jemari lentik Adriana dengan penuh hasrat sudah mendahului. Mulutku menganga berpikir apa yang akan kukatakan ketika pintu terbuka dan Brian muncul dengan wajah heran bercampur menjengkelkan. Apakah aku harus meninggalkan mereka, memperkenalkannya begitu saja, atau hanya sekedar basa-basi beberapa menit. Aku tidak tahu, pikiranku buta dan perasaanku berkecamuk dengan begitu liarnya, terpaku ke depan pintu dengan antisipasi luar biasa. Kami menunggu beberapa saat, tak ada yang membuka pintu. Entah kenapa hatiku senang harapan Adriana tak sampai, aku berpaling ke raut muka kecewa di sebelahku. "Sepertinya dia tidak ada. Sudah kubilang 'kan?" ucapku dengan kelegaan. "Iya, apa mungkin aku harus datang pagi-pagi sekali besok?" Ucapannya membuatku tertegun, kenapa dia begitu bersemangat untuk pria seperti Brian, "Tidak perlu, nanti kalau aku lihat dia aku telpon kamu" "Yang benar?" muka Adriana berseri lagi, setelah beberapa detik lalu tertekuk. "Iya, kita pulang saja!" kami berbalik hendak memasuki lift. "Siapa?" suara Brian membuat bulu kudukku meremang. Aku sudah berharap dia tidak muncul. Kenapa dia ini selalu membuatku merasa hidup ini lebih berat ketika harus menghadapinya. Aku menarik napas, berhitung pelan satu hingga tiga dan memberanikan diri berbalik, "Selamat malam" Brian tertegun dengan raut tak menyangka. Aku menghampiri muka pintunya dan berlagak akrab, sedikit tak tahu malu. Sementara Adriana, melongo matanya bahkan tak mengedip, seperti apa yang dilihatnya ini merupakan sebuah keajaiban di muka bumi. "Kenapa, ada yang kamu perlukan?" tanggapnya. "Mau minum?" Brian menyilahkan dengan membuka pintunya lebar. Kegirangan nampak jelas dari sikap Adriana di sampingku. Tak hentinya kekhilafan matanya ia tujukan terus pada Brian yang melenggak santai mengambil botol wine dalam kulkas dan tiga buah gelas minum. Wine pun di tuang dalam gelas, lalu kami minum berbarengan. Suasana begitu kikuk, dingin tanpa perbincangan. Adriana tak henti menatapku, seolah tak sabar untuk diperkenalkan pada pria berkulit pucat dengan rambut hitam tebalnya yang berkilau. Sejujurnya akan terdengar bohong jika aku berkata Brian tak menarik. Dia amat menarik bagi wanita, dengan bahu lebarnya dan sorot mata lembut dari mata bulat serta senyum yang merekah dari bibir tipisnya. "Perkenalkan ini temanku Adriana" sepasang mata bundar Brian melongo saja pada Adriana yang menyodorkan tangan padanya. Ia hanya mengangguk santai dan menyandarkan bahu ke belakang kursi. Dia seperti tidak tertarik setelah melihat bagaimana Adriana begitu menggeliat dengan senyum yang coba merayu Brian. "Temanmu menarik. Aku Brian!" balasnya tanpa menjabat Adriana. Nampak sekali senyum hambar dari gadis bergaun merah itu melirik padaku. Aku tersenyum tipis Brian lagi menampakkan sikap jumawanya yan tak bersahabat. "Tidak biasanya kamu tidak tertarik pada perempuan?" Brian meneguk anggurnya. "Kamu cukup peduli?" "Tidak, hanya penasaran!" Brian mendesah dengan senyum ringkas, "Kamu lupa kalau di depan umum seharusnya kita pura-pura tidak kenal 'kan. Apa kamu punya kebiasaan menjilati ludah sendiri?" "Ah, ya sepertinya" aku berdiri dari dudukku "sepertinya perkenalan ini sudah selesai!" aku beradu pandang dengan Adriana. Gelas anggur di tanganku kutatap sebentar, untuk kuletakkan dengan cara berbeda. Aku menyiramkan minuman itu ke muka Brian yang jelas sekali kekesalan memenuhi mukanya. Di dalam lift Adriana mulai menggerutu melihat obrolan kami yang lebih mirip dua orang lawan. "Katanya kalian temen, kenapa malah berantem?" "Kami bukan teman dekat" ketusku. "Jadi, bagaimana dong sekarang. Aku sama Brian nggak jadi gitu?" di depan lift aku berbalik badan padanya yang memasang muka paling menderita. "Sebaiknya kamu pulang, apa kamu tidak lihat dia itu orangnya sombong? Aku heran kenapa ada banyak perempuan mau mengejar pria pecundang seperti dia" "Wajarlah dia sombong, Brian tampan dan kaya. Apa yang kurang?" "Pantas saja kamu bisa diinjak-injak" aku menutup pintu di depan muka Adriana. Sesekali kudengar ia memanggil namaku dengan kesal sambil menggedori pintu. Aku tidak peduli dan beralih ke dalam kamarku sambil menutup muka dengan bantal. Apa yang sudah aku lakukan sungguh memalukan sekaligus memuaskan. Kapan lagi aku punya kesempatan untuk menyiram muka congkak Brian. Mataku masih dalam keadaan setengah mengambang antara masih bermimpi atau telah terbangun ketika meraba ponselku yang berbunyi sejak tadi. Kelopak mataku mengerjap berat ketika melihat panggilan dari nomor Maya yang segera kujawab. "Kamu sudah bangun?" "Iya, kita tidak ada pekerjaan hari ini 'kan?" jawabku sambil menahan menguap. "Iya, tapi kamu ada jadwal konsul 'kan hari ini?" "Pagi?" "Jam 12.00" "Memangnya sekarang jam berapa?" "11.00" aku bergumam tak percaya. "Yang benar?" "Iya dan aku ada di depan pintu kamu lagi nunggu" "Aku siap-siap dulu!" Tak banyak persiapan yang sempat kulakukan, hanya mencuci muka dan berganti pakaian kemudian menemui Maya yang sudah sabar menunggu sekaligus kesal bukan main dari tingkahnya. Aku tersenyum meraih lengan Maya, agar ketusnya bisa hilang. "Maaf, terlambat" sapaku. "Kamu tidur jam berapa sih, habis minum lagi semalam?" mataku melirik tak tentu arah, tak ingin bohong dan tak mau jujur agar Maya tak marah, "benar minum 'kan?" "Cuma satu gelas kecil Maya, itu juga gara-gara Adriana" "Adriana?" tampilan muka Maya nyaris tak percaya, "bukannya kamu pernah ribut sama dia sampai saling cakar. Apa dia datang lagi buat bikin ribut?" "Bukan, bukan begitu. Aku sama dia lagi ada perlu, jadi sekarang kami lagi gencatan senjata" "Aku aja malas sama dia, sok ngartis jadi orang. Lebih banyak settingan dari pada kerjanya" aku tersenyum ke arah Maya sambil kami memasuki lift. Ketika tersadar dengan siapa aku di sana, mulutku rasanya mengeras dan bibirku membubarkan senyumnya begitu cepat. Brian berdiri di sampingku. Aku tahu Maya sempat terkejut melihat kehadiran Brian di sini. Aku belum bercerita padanya kalau Brian tinggal di apartemen yang sama denganku beberapa minggu lalu. "Aku dengar oragtua kamu baru meninggal Maya?" aku meliriki Brian dengan sikap kakunya. "Sudah sebulan yang lalu" imbang Maya. "Turut berduka cita" "Terima kasih" "Kalian sering bersama ya sejak dulu? Ya, syukurlah Raina tidak perlu hidup di jalanan 'kan dan bisa jadi artis. Kalau tidak begitu mungkin dia jadi gelandangan" "Maksud kamu apa?" emosiku terpancing juga, menanggapi omongan kasarnya. Brian menunjukkan senyum sinis, "Cuma orang bodoh yang tidak bisa menangkap maksud ucapan saya. Raina, kamu itu selalu jadi pengganggu, seperti debu. Kamu tahu debu? Mau berapa kali pun disapu, dibersihkan, mereka tetap mengotori udara" Aku mengangkat tanganku yang terasa panas untuk menampar muka Brian. Maya terlihat panik dan mencoba menghentikanku namun tatapan tajamku membuat ia menghentikan antisipasinya. Belum sempat ayunan tanganku sampai ke muka congkak Brian dia mendorong tubuhku dengan lengannya ke lift. Tatapan matanya membara penuh kebencian tak mau ia jauhkan dariku. Aku ingin melepaskan diri dengan mendorongnya, tapi tenaganya yang besar membuatku tak bisa bergerak. Beberapa orang memasuki lift, melihat kami yang berdiri saling berhadapan mata seperti sepasang kekasih sedang bertengakar. Aku merasa bukan malu mainnya, sedangkan Brian terlalu santai tanpa peduli kehadiran siapa pun. Ketika lift tiba di lobi hotel, ia baru melepaskanku dan memasang kacamata hitamnya. Dia meninggalkanku setelah membuatku merasa muak, marah dan malu. Maya memelukku, mencoba menenangkanku. Aku bersikap tegar dan tersenyum padanya. "Sebaiknya kita pergi agar tidak terlambat" Maya mengangguki ucapanku. Aku tahu saat itu, selain terpaku menatap jalan, Maya juga diam-diam curi pandang padaku. Aku tahu ada hal yang ingin ditanyakan olehnya menyangkut masalah Brian. Tak mau membuat ia bertanya lebih dulu, aku pun bercerita di dalam mobil ketika suasana lebih santai. "Brian tinggal di apartemen yang sama, tepatnya di atas kamarku" Maya tak lantas menimpali, ia cukup tenang jika harus membahas mengenai keluargaku terdahulu. "Kapan dia tinggal di sana?" "Mungkin sudah hampir sebulan. Aku lupa kasih tau kamu, karena waktu kita lagi ada masalah" "Kamu mau tinggal di apartemen yang sama? Bagaimana kalau nanti nenek lampir, Mamanya si Brian datang? Lagian selama ini kamu sudah berusaha nggak ada kontak sama keluarga itu lagi 'kan" "Kalau masalah Caroline aku sudah ketemu dia, termasuk suaminya plus Anggi dan calon menantunya!" Maya mengerem mendadak tepat di depan lampu merah. Muka bulatnya ia haturkan bersama sorot keterkejutan yang menjadikan mulutnya membuka. "Kapan kamu ketemu, astaga Raina ..." Aku tertawa melihat mimik mukanya yang diluar dugaanku sambil menepuk pundak temanku itu, "Mungkin beberapa hari yang lalu. Pertama aku ketemu Caroline waktu kita ada jadwal kerja di mall GI, sama makan malam acara pertunangan Anggi. Aku diundang langsung Adnand!" "Kamu datang? Trus kenapa nggak cerita waktu ketemu pertama di mall itu! Ah, jangan-jangan waktu kamu melamun itu ya?" aku mengangguk menimpali, Maya mendesah tak sabar, "pantas aja aku ngerasa kamu aneh, kenapa nggak bilang Na, biar kita bantai si lampir!" "Sendiri aja aku bisa May, cuma lagi malas ribut, lagipula kamu tahu siapa keluarga mereka 'kan? "Iya" timpal Maya tanpa tenaga, "waktu acara makan malam, kamu datang juga?" "Datang, cuma sebentar. Dan kamu tahu siapa calon besan keluarga Atmadja?" Maya menggeleng, "adik ipar Adri!" kali ini Maya mengerem tiba-tiba lagi sebelum lampu merah, hingga kami sama-sama terhentak meski memasang sabuk pengaman. Kali ini sahabatku itu menatap dengan wajah pucat dan sepasang mata membelalak seolah akan melonjak dari kepala. "Yang benar, Na?" "Iya!" timpalku dengan nada lebih santai. Maya menarik napas, setelah cukup tenang ia baru menginjak gigi dan kembali membawa mobil itu menembus jalanan kota. Ia diam beberapa detik sebelum memberi komentar sederhana. "Ternyata dunia memang kecil ya, Na?" "Sepertinya!" "Trus kamu sama Adri?" "Aku sama Adri baru menikah seminggu yang lalu" Maya sekali lagi membuaat mobil berhenti mendadak di tengah jalanan padat, hingga tubuh kami tersentak dan bunyi klakson dari belakang membuat dia melirik panik. Aku menepuk pundak Maya. "Maya aku bisa naik taksi atau menelpon Pak Arofik kalau kamu kurang sehat!" "Aku cuma kaget, Na!" tukasnya membela diri sambil menjalankan mobil sekali lagi "berarti istrinya sudah kasih izin?" "Kamu mau kita berhenti dulu baru aku jawab?" kataku berseloroh membuat Maya melirik sambil tersenyum. "Na ..." "Nikah siri" jawabku enteng. Maya mengangguk tak melanjutkan pertanyaannya lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD