Bab 10

2110 Words
Aku berdiri di depan sebuah halaman rumah sakit di Jakarta Selatan. Aku lupa kapan terakhir kali aku kemari karena alasan kesibukanku beberapa bulan lalu. aku merasa beban hidupku sedikit berat hingga aku putuskan kemari untuk bertemu dengan ibu. Kini pun, aku tidak ingat lagi kapan membawa ibu kemari, dan saat terakhir kami tinggal bersama sebagai keluarga. Aku lupa seperti apa ibu sejak terakhir kali dia masih sempat mencucikanku pakaian, memasakkan sayur lodeh dan ikan goreng yang kami nikmati berdua. Yang aku ingat terakhir kali ketika ia mulai tak seperti ibu lagi, sekalipun ia masih seorang ibu. Ibu yang lembut berubah menjadi kasar dan menganggapku asing. Dia mengusirku dan menilaiku sebagai musuh, aku tahu itu bukan hendak dirinya, namun keadaan dan beban hidup yang jahat telah mengubahnya jadi demikian. Aku melintas lorong putih pucat yang lalu lalang perawat, dokter hingga pasien. Langkahku kemudian terhenti di depan sebuah pintu merah yang tertutup rapat dengan keheningan tak terputus. Agak ragu, selama beberapa detik aku hanya berdiri memegang gagang pintu sampai sebuah suara denting gelas pecah dan tangisan bersua di udara. Kubuka pintu dengan lekas hingga melihat dua orang di sana selain, ibuku ada Caroline yang tak pernah kuduga mengetahui tempat itu. Ia memberi sebuah seringai dingin ketika melihatku di sana dengan muka pucat. "Kebetulan ya?" ia beranjak dengan langkah santai mencoba mendekti ibu yang duduk tersudut ke arah tempat tidur sambil menutup sepasang telinganya amat rapat. "Apa yang kamu lakukan di sini Caroline?" sahutku. "Hanya ingin berjumpa dengan rival lama, apa kamu tidak lihat apa yang sudah terjadi dengannya. Sekarang saya percaya kalau karma memang ada Raina!" ucap ia sembari mengelusi rambut ibu yang tak suka dan menangis melihat tindakan Caroline. Aku melangkah ke sisinya lalu menghempas jemari Caroline menjauh, dia tak suka dan membalas tindakanku dengan sebuah tamparan keras, "kamu ini hanya anak haram, tidak punya hak menyentuh saya!" Aku mengangkat mukaku dengan menunjukkan sikap angkuh, "Lihat apa yang terjadi pada keluargamu sekarang? Sekalipun kamu pikir bisa menjaga keluarga kamu kembali utuh, nyatanya pengkhianatan dari suami kamu tetap tidak bisa kamu hilangkan. Kamu juga sama depresinya Caroline, hanya saja kamu pura-pura bahagia!" "Setidaknya saya tidak perlu hidup terhina seperti kamu!" ucapnya dengan nada berat. "Terhina, siapa yang terhina? Mungkin kamu tidak tahu saja kalau Adnand Atmadja, suamimu mencoba memberikan satu buah rumah pada saya, karena tanpa kamu sadari dia tetap menganggap aku sebagai anaknya. Bukannya nasib kamu memang selalu dibohongi Caroline?" Caroline tersenyum hambar, nampak sekali raut kekalahan terukir di wajahnya, dan aku senang melihat semua itu, "Batu kali tidak akan pernah berubah jadi permata sekalipun dipoles berulang, dan seperti itulah nasibmu. Mau sampai kapan kamu merahasiakan diri mengenai jati diri kamu yang kotor, pada akhirnya semua orang tetaplah akan menyalahkan kamu dan ibu kamu, dan pada akhirnya saya akan dianggap sebagai yang paling benar, iya 'kan?" setelah mengatakan semua hal itu Caroline berlalu pergi. Aku menatap ibu, memegang jemari pucatnya yang berkeriput, mencoba menangkannya sebentar sebelum pergi, "Ibu tidak apa-apa?" "Tadi itu ada setan!" sahut ibu dengan air mata di pipinya yang pucat. "Ya, tadi ada setan ... setan jahat! Tapi sekarang setannya sudah pergi!" "Iya, sekarang ada malaikat. Malaikat mau tidak pergi bersama aku?" sahut ibu menatap sepasang mataku. "Ya, malaikat akan pergi bersama Ibu!" sahutku memberikan sebaris senyum menyegarkan. "Ke tempat Bapak?" mendengar ucapan Ibu membuatku melepaskan tangannya tiba-tiba. "Bapak sudah mati ..." "Mati kenapa?" ucap Ibu dengan wajah terkejut tak menyangka sekaligus bersedih. Sepertinya aku sudah membuatnya merasa ketakutan. "Dia mati untu bisa datang kemari. Aku akan panggil dia kemari, Ibu tunggu di sini!" sahutku agar dia mau melepaskan aku pergi. "Iya, cepat ya?" ia melihatku dengan mata cekung penuh harapan besar dan senyum mengambang yang jarang kulihat. Aku meraih ponselku dan menelpon Adri, seperti sebelumnya ia tak mengangkat telpon, hingga kuputuskan datang siang itu dan menemuinyaa di kantor. Tiba di sana kudengar dari sekertarisnya jika ia sedang ada pertemuan yang akan berlangsung hingga sore sekitar pukul tiga nanti. Aku mendesah kesal, tidak bisa berbuat apa-apa selain memutuskan menunggu di lobi kantor TV2 sambil menonton televisi yang terletak di dinding dekat meja resepsionis. Saat sedang menikmati tayangan drama dari BBC, seseorang menepuki pundakku. Aku mendongak dan mendapati wajah Galih yang tersenyum tipis. Tampilannya sedikit berbeda dari yang biasa ia tunjukkan, lebih rapi dengan rambut keriting yang diikiat, mengenakan sebuah kemeja putih, blazer berwarna senada dan celana jeans biru yang sobek di beberapa bagian. "Hai, lagi apa?" bukanya dengan nada santai seperti biasanya. "Sedang menunggu seseorang, kamu sendiri sedang apa?" Galih menggeser dudukku lalu duduk di sampingku. "Entahlah, aku diminta datang kemari sama abang iparku" katanya dengan sedikit tak nyaman sambil melipat kaki kirinya di atas kaki kananya yang mengenakan sepatu sneakers warna putih. Nampak sekali ia resah karena tanpa henti menggoyangkan kakinya. "Sepertinya dia masih rapat?" ucapanku yang keluar tanpa sadar itu rupanya membuat Galih berpaling dengan muka penasaran, "aku juga mau menemuinya untuk membahas masala kontrak kerja!" sergahku buru-buru guna menghilangkan kecurigaan Galih. Ia mengangguk, mengalihkan tatapannya jauh. "Harus ya aku nunggu juga di sini cuma karena dia boss" keluhnya. "Kalau dia manggil kamu berarti dia mau ketemu kamu, kenapa nggak masuk ke ruang rapatnya saja sekarang?" Galih menyeringai dengan mengangkat sudut bibirnya. Ia menyenderkan punggung di belakang kursi. "Abang iparku tipe yang tidak suka diganggu, dia cuek, dingin, tidak peduli tanggapan orang lain. Jadi aku malas datang menemuinya, kalau memang ada sesuatu yang cukup penting, nanti juga dia akan menelpon sendiri. Oh ya, kapan kira-kira kamu punya waktu untuk pemotretan lagi. Aku ada tema menarik!" "Tema apa?" "Bawa air!" "Aku tidak bisa berenang!" Galih tersenyum heran kemudian bergumam, "Mau aku ajari?" "Mungkin kalau ada waktu, aku sibuk belakangan ini karena ada acara di sini juga tiap pagi" "Acara musik pagi?" "Ya, karena itu juga aku jadi nggak leluasa pergi ke klub lagi ..." Galih tertawa sumringah. Pembicaraan akrab kami itu berakhir dalam waktu singkat ketika melihat Adri datang dengan wajah serius, menatap hanya pada Galih seorang. Seolah aku tidak ada di sana saat itu. "Galih, ayo masuk!" kata Adri dengan dingin. Pria itu berdiri sambil tersenyum ke arahku, "Kapan-kapan kalau kamu punya waktu kosong kita bisa pergi ke klub lagi 'kan?" sempat gugup mendengar ucapan Galih di depan Adri, aku memasang senyum kaku. "Iya!" singkatku menjawab. Tak berapa lama setelah mereka beranjak pergi dari sana, ponselku berdering, sebuah panggilan dari Adri yang memang sudah kutebak akan melakukan hal seperti ini sebelumnya. Aku yakin ucapan Galih barusan saja sudah membuat ia berpikir yang tidak-tidak mengenai aku "Pulanglah dan kita akan bicara nanti di apartemenmu!" katanya dengan nada dingin namun jelas sekali sedang menahan marah dengan baik. "Aku rasa sebaiknya bertemu di hotel saja" "Terserah padamu!" setelah mengatakan hal itu dia mematikan telpon. Aku menunggu Adri sejak dari jam dua siang tadi di hotel, sampai sekarang sudah hampir jam lima sore dan ia masih belum datang juga. Sejak tadi isi kepalaku meracau, aku mau menemuinya karena ada hal penting yang ingin kusampainakan, bukan mengenai Brian karena aku yakin sudah melakukan apa yang sepantasnya aku lakukan padanya. Ya, dia memang pantas dihancurkan demikian, yang membuatku kesal kali ini adalah Caroline. Aku memang sudah lama merencanakan balas dendam pada keluarga itu selama bertahun-tahun, namun kekuasaan dan kekayaan mereka yang terasa seperti dinding membuatku sulit untuk mendekat. Jika pun aku memaksa, sepertinya aku akan kalah, jadi kadang kala niat itu hanya muncul, tenggelam tanpa bisa dibuat nyata. Pertemuan kami berdua hari ini rasanya membuka mataku, kalau kota dan dunia ini tidak akan pernah cukup bagi kami berdua, jadi entah mengapa aku pikir sudah saatnya mengeliminasi keluarga kaya itu dari kehidupanku yang damai agar bisa hidup tenang dengan ibuku, dan masa laluku bisa terkubur dalam, tanpa perlu akan terungkap. Aku tidak mau membuka jati diriku di depan khalayak untuk menjatuhkan Adnand, karena hal itu sama saja mencoreng tanah ke muka sendiri. Aku merasa menemukan sebuah jalan yang lebih baik meski tak yakin jika hal itu bisa tergapai, balas dendam yang kuidamkan jelas tak akan mampu kulakukan sendiri, setidaknya aku harus meminta bantuan seseorang yang lebih pandai, sama kaya dan terhormatnya dengan mereka. Dan entah kenapa aku pikir Adri adalah seseorang yang benar sepadan dengan keluar Atmadja, selain kenyataan yang tak bisa ditampik olehku jika ia kenal mereka dengan begitu baik dan akrab. Aku baru saja keluar dari mandi untuk mendinginkan kepala, ketika kulihat lelaki itu sudah duduk dengan kaki menyilang di atas kursi. Aku berdehem guna mencuri perhatiannya, namun kelihatannya Adri terpaku pada ponsel di tangannya. Aku duduk di sisi tempat tidur, menunggu urusannya selesai. "Jadi kamu pergi dengan Galih ke diskotik, mabuk-mabukan dan apa lagi?" ucapnya berpaling dengan sorot mata nyalang tak menyenangkan. "Kami tidak sengaja bertemu, dia berada di sana dan menyapaku!" "Aku selalu penasaran, sudah berapa lama kalian saling mengenal? Apa benar itu cuma karena masalah pekerjaan?" "Hanya pekerjaan, lagipula dia akan menikah dengan Anggi!" bibir Adri berdecak, jelas sekali kalau ia tak percaya ucapanku. "Aku tidak percaya pada kamu Raina!" katanya dengan nada tegas, "kamu merahasiakan banyak hal dari saya, tapi akhir-akhir ini saya terlalu sibuk untuk bisa berkomentar mengenai beberapa tindakan petak umpet kamu ini" "Apa maksud kamu?" Adri berjalan mendekat ke arahku, lalu berdiri penuh kuasa di depanku. Ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sesuatu padaku. "Semua identitas kamu bohong, nama kamu bohong, keluarga kamu bohong. Semua tentang kamu tidak lebih dari kebohongan pada saya selama satu tahun. Siapa kamu sebenarnya?" ia mencengkram jemari tanganku begitu kuat, hingga aku menelan ludah melihat kemurkaan Adri. "Untuk apa kamu harus mencaritahu tentang saya, itu semua bukan urusan kamu!" kataku mengabaikan tatapan darinya. "Kedekatan kamu dengan keluarga Atmadja itu membuat saya bergidik. Apa hubungan kamu dengan Brian sampai kamu diundang dalam makan malam keluarga itu? katakan padaku Raina!" bentaknya mengejutkanku. Aku berdiri dari dudukku, tidak mau menanggapi sikap Adri yang tengah kasar bukan kepalang ini. Baru saja selangkah aku beranjak,ia langsung menghentakku, menarikku dalam dekapan kedua tangannya, "aku tidak menyuruhmu pergi, aku minta kamu menjawab Raina!" ucapnya sambil menghujamku dengan tatapan menghakimi. "Aku tidak meminta kamu mencaritahu mengeni aku dan kamu berjanji untuk tidak bertanya, kenapa sekarang kamu ingkar janji?" telunjuk Adri mengatup bibirku. "Tidak ada kata-kata yang akan keluar dari mulut kamu kalau bukan jawaban ... tidak ada!" "Saya akan menjawab tapi dengan satu syarat?" "Syarat?" "Kalau kamu bisa berjanji membantuku menghancurkan keluarga Atmadja, maka dengan senang hati Adri, aku akan menjelaskannya pada kamu!" kening Adri berlipat, tak lama ia melepaskan cengkramannya. "Saya tidak tertarik menghancurkan siapa-siapa!" "Tapi kamu pernah berkata akan melakukan apa pun untukku, apa sekarang semua hal yang kamu bilang sudah tidak berlaku lagi?" ia diam, melembutkan sinar matanya. "Semuanya berlaku, tapi tidak dalam beberapa hal!" "Kalau begitu, tidak ada yang bisa dikatakan Adri. Jangan bertanya maka saya juga tidak perlu menjawab lagi" "Saya bisa mencaritahu sendiri, kalau begitu" "Sebaiknya saya pulang sekarang!" kataku, kemudian mengambil pakaianku yang tergeletak di atas tempat tidur, lalu berganti pakaian di toilet. Ketika hendak meninggalkan kamar, Adri menahanku. "Biar saya mengantar kamu!" "Tidak perlu" "Kamu marah?" aku berpaling, menatapnya dengan lekat. "Saya tidak marah hanya saja sepertinya kita memang tidak perlu bertemu di apartemen saya. Brian curiga mengenai hubungan kita!" kembali ketidak nyamanan muncul di muka Adri. "Brian tahu sesuatu?" "Iya, dan dia yang bilang kalau saya ini memang seperti p*****r" Adri berdecak, ia mengatup sepasang matanya hingga mengerut sambil membuang napas. "Brian ..." ucapnya lirih. "Kamu tidak perlu cemas, kelihatannya dia tidak akan melakukan hal buruk pada kamu, karena menilai kalau kalian ini satu selera. Berbeda dengan saya, yang dia anggap remeh!" kataku kemudian meninggalkan kamar tersebut. Sebelum kembali ke apartemenku, aku menelpon laki-laki yang pernah aku temui tempo hari yang bernama Wibowo. Seperti sebelumnya suara musik yang besar sudah menunjukkan di mana dia berada. Malam itu dengan diantar taksi aku menemuinya di depan pelataran klub malam yang remang dengan deret mobil mewah di sepanjang jalan masuk. Dari kejauhan, bau asap rokok sudah menyeruak di udara. "Bagaimana dengan Brian, apa kamu sudah berhasil menjadikan dia pecandu?" "Aku baru dekat dengannya, semua perlu waktu, Nona" "Saya tidak bisa menunggu lama, karena ada hal lain yang saya ingin kamu lakukan dengan menggunakan Brian!" "Apa lagi itu?" "Kamu harus membuat dia jadi pecandu dan percaya pada kamu lalu tawari dia hutang, biarkan dia terlibat dengan hal-hal kotor yang akan mencemari nama keluarganya" "Oh, itu tugas yang lumayan sulit!" "Tidak ada yang sulit, saya tahu kamu bisa melakukan hal itu. Kamu bukan kenal satu atau dua orang saja 'kan, lagipula dengan menjadikan dia pecandu, tentu saja penghasilan kamu bertambah. Dia orang yang berdompet tebal" Pria itu membuang puntung rokok ke tanah, lalu menginjaknya dengan kasar, "Saya jadi ingin tahu, ada dendam apa Nona dengan dia?" Aku merogoh tasku, lalu mengeluarkan segepok uang padanya, "Sebulan, buat dia jadi pecandu dan pembuat onar. Kamu ahlinya!" dia mengambil uang itu dariku dan tidak berkomentar lagi sesudahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD