Pagi itu, matahari belum tinggi saat Raya bangun dari tidurnya. Ia menggeliat pelan di ranjang, lalu bangkit dengan semangat yang agak berbeda dari biasanya. Meski masih ada kecemasan, tapi kenangan kemarin — saat MOS hari pertama bersama Kinan dan kelompoknya — memberikan sedikit keberanian di hatinya.
Di meja makan, Ayah dan Ibu sudah duduk. Ayah menyeruput kopi, sementara Ibu menyiapkan bekal.
“Pagi, Bu… Yah,” sapa Raya pelan.
Ibu menoleh, agak kaku tapi mencoba tersenyum. “Sarapan dulu, Nak.”
Raya mengangguk, duduk, dan menyuapkan nasi ke mulutnya. Ayah sesekali melirik, lalu berdehem. “Semangat ya di sekolah. Jaga sikap, jangan gampang tersinggung,” katanya.
“Iya, Yah…” jawab Raya. Kata “iya” itu terucap agak cadel karena lidahnya yang sulit melafalkan huruf R, tapi Ayah hanya mengangguk, dan Ibu tersenyum tipis.
Setelah sarapan, Raya pamit. “Aku be…angk…at ya, Bu, Yah.”
Ibu mendekat, membetulkan tali ransel Raya. “Hati-hati ya. Jangan lupa makan siang.”
Ayah mengacak rambut Raya pelan. “Jaga diri, Nak.”
Ada kehangatan kecil di situ, seperti benih yang baru tumbuh.
Di sekolah, suasana jauh lebih ramai daripada kemarin. Lapangan dipenuhi siswa baru yang berkumpul sesuai kelompok. Kakak-kakak OSIS berteriak-teriak memberi instruksi, yel-yel berkumandang dari berbagai sudut. Raya segera menemukan Kinan yang melambai dari kejauhan.
“Hai! Cepet ke sini, kita mau lomba yel-yel!” seru Kinan.
Raya berlari kecil, bergabung bersama kelompoknya. Mereka tertawa, membuat formasi, dan mulai berlatih. Tapi dari ujung lapangan, empat kakak kelas perempuan mendekat, wajah mereka menunjukkan aura ‘berkuasa’. Mereka adalah senior populer, sering terlihat memimpin, dan sayangnya juga terkenal sebagai tukang bully.
Di antara mereka, ada satu yang paling menonjol: Kak Dira. Rambutnya dicat pirang keemasan, bibirnya merah menyala dengan lipstik yang selalu ia bawa ke mana-mana.
Raya berusaha tak menarik perhatian mereka. Tapi tanpa sengaja, ketika mundur untuk membentuk barisan, kakinya mengenai tas kecil Kak Dira yang tergeletak di tanah, membuat lipstik kesayangan kakak kelas itu terjatuh dan terguling sampai ke genangan air.
Kak Dira menoleh tajam. “Eh, siapa nih?!”
Raya pucat. “M… maaf, Ka… Ka…” ucapnya gugup, lidahnya tak mampu melafalkan huruf R dengan jelas.
Kak Dira tertawa pelan, diikuti ketiga temannya. “Apa tuh? Ngomong yang jelas dong! Kok cadel banget sih?” ejeknya sambil mengambil lipstik yang kini kotor.
Raya menunduk, pipinya memerah, sementara Kinan menggenggam tangannya erat. Tapi Kak Dira melangkah lebih dekat, wajahnya menyeringai puas. “Eh, si cadel, coba ngomong Roro Jonggrang! Bisa nggak?!”
“Jangan, Kak… dia kan udah minta maaf…” Kinan berusaha memotong, tapi Kak Dira mencibir, lalu menepis tangan Kinan dengan kasar.
“Ah, kamu jangan sok jadi pahlawan!” bentak Kak Dira, lalu dia meraih rambut Raya, menariknya kasar ke belakang. “Cadel kayak kamu tuh nggak pantes ngelawan aku!”
Raya terkejut. “A-aduh… sakit, Kak…” ia mencoba melepaskan tangan Kak Dira, tapi genggaman itu semakin kencang. Rambutnya dijambak keras, kepalanya ditarik ke belakang. Kinan langsung refleks menarik tangan Kak Dira, berusaha membebaskan sahabatnya.
“Lepasin, Kak! Jangan gitu, dong!” Kinan berteriak, tapi itu malah memancing satu geng Kak Dira ikut menyerang. Dua kakak kelas mendorong Kinan hingga tersungkur di lantai, satu lagi menarik kerah bajunya.
“Eh, si sok pahlawan mau ikutan, ya?!” ejek salah satu geng Dira sambil tertawa.
Semua mata di lapangan melihat, tapi tak ada yang bergerak. Anak-anak lain hanya berbisik-bisik, sebagian menunduk pura-pura tak melihat, sebagian lagi merekam diam-diam dengan ponsel. Tak ada guru, tak ada panitia MOS dewasa di dekat mereka — semua sedang sibuk di ujung lapangan.
Kinan yang tubuhnya lebih kecil mencoba melawan, tapi kalah jumlah. Mereka menarik lengan bajunya, membuatnya hampir jatuh. Sementara itu, Raya masih mencoba melepaskan diri dari jambakan Kak Dira, air mata mulai menggenang di matanya.
“Cadel, nangis dong! Nangis! Biar makin lucu!” teriak Kak Dira sambil mendorong kepala Raya.
Raya merasakan panas di wajahnya, sakit di kulit kepalanya, dan suara tawa yang memekakkan telinga. Napasnya sesak, antara sakit, malu, dan marah.
Tiba-tiba, suara berat menggema keras di lapangan:
“EH!!! ADA APA NIH?!”
Semua orang terdiam. Dari arah podium, Kak Arif berlari dengan cepat, diikuti dua kakak OSIS lain. Matanya tajam menatap langsung pada Kak Dira dan gengnya. Kak Arif langsung menyibak kerumunan, menarik tangan Kak Dira dari rambut Raya.
“LEPAS!” bentak Kak Arif dengan suara tegas. Kak Dira terkejut, langsung melepaskan genggamannya.
“Gila ya kalian?! MOS tuh bukan buat nyakitin orang!” Kak Arif berdiri di antara mereka, matanya menyapu satu per satu wajah geng Kak Dira. “Kalian ikut aku sekarang. Bawa semua barang kalian. Ke ruang OSIS. SEKARANG!”
Kak Dira mencoba tertawa canggung. “Ah, Kak Arif… bercanda doang kok…”
“BERCANDA APA?! Jambak rambut orang itu bercanda? Dorong adik kelas sampai jatuh itu bercanda?!” suara Kak Arif menggelegar.
Para siswa yang menonton terdiam. Kinan langsung memeluk Raya yang gemetar sambil tersedu-sedu. Kak Arif berjongkok di depan mereka.
“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya lembut. Raya hanya mengangguk pelan, sambil mengusap matanya. Kinan meremas tangan Raya.
“Kalian berdua hebat,” kata Kak Arif. “Maaf ya, aku telat datang.”
Kak Arif berdiri lagi, menoleh ke kerumunan. “Yang tadi nonton — kalian jangan diem aja kalau lihat yang nggak bener. MOS itu belajar kebersamaan, bukan ajang takut-takutan!”
Satu per satu, kakak OSIS menggiring Kak Dira dan gengnya menjauh. Suasana lapangan perlahan reda, tapi bisik-bisik masih terdengar. Raya menunduk, merasa semua mata masih menatapnya.
Di belakang mereka, Kinan membisik, “Ray, aku nggak akan ninggalin kamu, ya…”
Raya memeluk Kinan erat. Untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa sedikit lebih kuat, meski tubuhnya masih gemetar.
Setelah semua selesai, Raya tiba di rumah dengan langkah lelah. Pintu kamar diketuk pelan oleh Ibu. “Raya… kamu nggak papa, Nak?”
“Iya, Bu…” jawab Raya singkat, tapi suaranya serak.
Di kamar, ia duduk di tepi ranjang, mengambil cermin kecil. Tangannya menyentuh kulit kepala yang masih sedikit perih. Kemudian matanya jatuh pada buku harian merah di meja. Perlahan ia menariknya, membuka halaman baru, dan mulai menulis:
“Hari ini aku dijambak, dihina, dijatuhin… tapi aku nggak sendiri. Kinan selalu ada, dan Kak Arif menolong. Aku masih takut, tapi aku tahu, ada orang yang nggak akan diam. Mungkin, aku juga harus belajar jadi kuat, supaya suatu hari aku bisa bantu orang lain.”
Udara malam itu dingin, angin mengetuk jendela seperti kemarin. Tapi di hati Raya, ada bara kecil yang mulai menyala. Luka itu masih terasa, tapi ia tahu, ia tak sendiri lagi.
BERSAMBUNG