Namaku Raya. Sederhana, seperti namaku yang artinya cahaya. Tapi ironisnya, selama ini aku merasa hidupku lebih mirip bayangan ketimbang cahaya.
Hari ini, aku memulai perjalanan baru: SMP. Rasanya campur aduk, antara gugup, takut, dan sedikit berharap.
Matahari sudah tinggi ketika aku tiba di sekolah. Gerbangnya besar, berwarna biru tua, dengan tulisan SMP Negeri 5 Mandala melengkung di atasnya. Di depan gerbang, sudah berjejer kakak-kakak OSIS dengan atribut lengkap: selempang, papan nama, dan megafon. Mereka tertawa-tawa sambil menyambut para siswa baru. Ada yang tampak ramah, ada yang terlihat galak, ada juga yang sibuk mencatat nama-nama di daftar absen.
Aku menggenggam erat tali ranselku. Nafasku agak tercekat. Di bahuku, ada bekal kecil yang disiapkan Ibu, yang beberapa minggu belakangan mulai mencoba lebih perhatian. Ayah juga tadi sempat mengantarku ke pintu dan berkata pelan, “Semangat, ya.” Tidak banyak, tapi cukup membuatku merasa hangat.
Di lapangan, ratusan anak berseragam putih biru berkumpul. Suara ramai, celoteh, dan tawa memenuhi udara. Aku memilih berdiri agak di pinggir, mencoba menghindari pusat keramaian. Namun, seorang kakak OSIS berambut pendek dengan senyum lebar menghampiriku. Di papan namanya tertulis Kak Arif.
“Halo! Kamu namanya siapa?” tanyanya ceria.
“R-Raya,” jawabku gugup, huruf R itu terasa mengganjal di lidahku, seperti biasa.
Kak Arif tidak menertawakan. Malah dia tersenyum sambil mencatat namaku. “Bagus, Raya! Nanti baris di kelompok tiga, ya. Di bawah pohon angsana itu.”
Aku mengangguk pelan. Baru beberapa menit di sini, dan aku sudah lega karena tidak ditertawakan. Mungkin ini awal yang baik.
Di bawah pohon angsana, aku berdiri bersama kelompok tiga. Ada sekitar 20 orang anak di kelompok ini. Mataku menyapu mereka satu per satu. Ada yang sibuk main HP, ada yang tampak gugup seperti aku, dan ada satu anak yang kulihat familiar: Kinan.
“Raya! Eh, kita satu kelompok!” seru Kinan sambil melambaikan tangan. Rambutnya masih dikuncir dua seperti biasa. Aku tersenyum kecil. Rasanya seperti menemukan pulau di tengah lautan luas.
Upacara pembukaan MOS (Masa Orientasi Siswa) pun dimulai. Panas matahari membakar kulit, tapi semangat kakak-kakak OSIS tak kalah membara. Ada yel-yel, ada perkenalan guru, lalu pembagian tugas kelompok. Kak Arif memimpin kelompok kami dengan penuh semangat.
“Nanti kalian harus bikin yel-yel kelompok, ya! Pokoknya harus kreatif!” katanya sambil tertawa.
Aku sempat panik. Yel-yel berarti harus bicara keras di depan orang banyak. Kinan tampaknya mengerti kecemasanku. Dia merangkul bahuku pelan. “Santai, kita bisa bikin bareng-bareng. Kamu main tepuk tangan aja, nggak usah teriak kalau nggak mau.”
Saat itu aku merasa bersyukur sekali punya Kinan. Dia tidak pernah memaksaku jadi orang lain. Dia hanya ada, dan itu cukup.
Siang harinya, MOS makin seru. Ada permainan di lapangan: estafet air, lomba memindahkan karet dengan sedotan, dan games teka-teki. Aku ikut permainan sederhana, sambil perlahan berani tertawa bersama teman-teman kelompok. Kak Arif kadang datang, mengacak rambut kami, memberi semangat, atau membawakan minum.
Di sela kegiatan, kami duduk beristirahat di bawah pohon.
“Raya, kamu dari SD mana?” tanya salah satu teman, Dina.
“SD 3 Mandala,” jawabku pelan.
“Oh, deket ya! Aku SD 5 Mandala,” sahut Dina ceria.
“Eh, kamu ikut ekskul apa nanti?” tanya yang lain, Toni.
Aku sempat bingung. Ekskul? Aku belum terpikir. Tapi Kinan langsung menepuk lenganku. “Dia suka nulis! Kita daftar ekskul jurnalistik, ya?”
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Rasanya ada sesuatu yang hangat merambat di dadaku. Dulu, aku selalu takut ditanya-tanya. Takut bicara, takut salah, takut diejek. Tapi sekarang, dengan Kinan di sampingku, aku mulai bisa melihat masa depanku dengan sedikit rasa penasaran, bukan hanya ketakutan.
---
Sore hari, MOS selesai. Kami berkumpul di lapangan untuk penutupan. Kak Arif berdiri di atas panggung kecil, memegang megafon.
“Kalian keren banget hari ini! Besok kita lanjut lagi, ya. Jangan lupa bawa topi supaya nggak kepanasan. Sampai jumpa!” serunya disambut tepuk tangan.
Aku berjalan keluar gerbang bersama Kinan. Langit sore berwarna jingga keemasan, angin sejuk berhembus pelan. Rasanya seperti hari yang sempurna.
“Nanti malam kita chatting, ya, ngerjain tugas kelompok,” kata Kinan.
Aku mengangguk. “Iya.”
Di jalan pulang, aku membuka ponsel dan melihat ada pesan dari Ayah: “Gimana hari pertama? Semangat terus ya, Nak.” Dan dari Ibu: “Jangan lupa makan malam, Mama masak ayam kesukaanmu.”
Aku berhenti sejenak, menatap layar ponsel. Senyum kecil muncul di bibirku. Dulu, aku sering merasa tidak punya siapa-siapa. Tapi sekarang, perlahan-lahan, lingkaranku mulai terisi. Ada keluarga yang mencoba memperbaiki diri, ada sahabat yang tulus, dan ada aku sendiri yang mulai belajar berdamai dengan luka-luka lama.
Malamnya, aku membuka buku harian merahku. Dengan lampu meja menyala redup, aku menulis:
“Hari pertama MOS selesai. Aku tidak sendirian. Aku punya Kinan, aku punya kelompokku, aku punya keluargaku yang mencoba lebih baik. Luka-luka lama memang belum hilang, tapi untuk pertama kalinya, aku merasa… mungkin aku bisa sembuh. Mungkin aku bisa belajar bersuara. Mungkin aku memang seperti namaku: cahaya yang perlahan belajar bersinar.”
Aku menutup buku harian, menarik napas panjang, dan menatap langit-langit kamar. Di luar, bintang-bintang mulai bermunculan. Dan di dalam hatiku, bintang-bintang kecil juga mulai menyala.
Malam itu, ketika akhirnya sampai di rumah, udara terasa dingin menembus kulit. Hujan baru saja reda, menyisakan angin malam yang menusuk. Raya membuka pintu pelan-pelan, berharap tidak membuat suara berisik. Rumah itu remang, hanya ada lampu di ruang tamu yang menyala, memancarkan cahaya kekuningan yang terasa jauh dari hangat.
“Aku pulang…” bisik Raya, meski ia tahu tidak ada yang menyahut. Di meja makan, sepiring ayam goreng dan semangkuk sup sudah disiapkan, ditutupi tudung saji. Ibu rupanya ingat janjinya, tapi tak ada sosok yang menunggu di meja.
Suara televisi terdengar samar dari kamar orang tua, terdengar seperti suara berita bercampur suara percakapan lirih. Raya menarik napas pelan, melepas sepatu dan menyimpan tasnya di kamar. Saat ia melewati ruang tamu, ia mendengar suara tawa kecil dari kamar orang tuanya — tapi lalu suara itu lenyap, digantikan dengan keheningan.
Di kamarnya, Raya menyalakan lampu meja. Cahaya hangat memenuhi ruang sempit itu. Ia duduk di tepi ranjang, melepas kaos kaki basah, dan memeluk lutut. Bekas luka memar di lengannya sudah mulai memudar, tapi setiap kali ia melihatnya, kenangan itu kembali: suara ejekan teman-teman SD, dorongan di lorong sekolah, tatapan guru yang pura-pura tak melihat.
Ia bangkit pelan, mengambil buku harian merahnya dari laci meja belajar. Jendela kamarnya berembun. Di luar, angin meniupkan suara gesekan dedaunan, seperti bisikan kecil yang memenuhi malam. Raya menulis dengan tangan sedikit gemetar, entah karena dingin atau karena perasaan yang menumpuk di dadanya:
“Di sekolah aku mulai punya teman, tapi di rumah… rasanya tetap sepi. Ibu dan Ayah mulai berusaha, aku tahu. Tapi kenapa rumah ini tetap dingin? Kenapa rasanya seperti aku tidak ada di sini? Kenapa aku merasa lebih hangat di sekolah bersama Kinan, daripada di ruang makan ini?”
BERSAMBUNG