CHAPTER #20
DUA PULUH
Lawannya Bayu menatap heran melihat perubahan kuda-kuda yang dilakukan Bayu. Tapi kemudian dia tidak banyak pikir langsung melangkah dan melancarkan serangan mendadak dengan menyabetkan tangan kanannya layaknya sedang memtong sesuatu.
Bayu tidak mengelak bahkan menghadang tangannya dengan tangan kanannya. Begitu mengena langsung jari Bayu bergerak menangkap pergelangan tangannya dan menarik kedepan. Sebelum Bayu bisa menariknya, orang itu memutarkan badannya sampai ada disamping Bayu dan tangannya menangkap tangannya Bayu dan menarik kearah belakang. Bayu terkesima. Bayu kemudian menarik kaki kirinya kebelakang sehingga berhadapan dengan lawannya. Tangan kirinya bergerak memegang tangan lawannya yang menangkap tangannya.
Kemudian keduanya menggerakan kedua tangan mereka untuk masing-masing melancarkan pukulan. Tidak ada yang mengena satupun karena keduanya sigap menangkis dan memukul.
Dalam sebuah kesempatan, lawannya Bayu bisa menggapai leher Bayu dan menariknya kesamping badannya dengan keras. Badan Bayu ikut melambung untuk menghindari luka. Badan Bayu terlempar dan jatuh dilantai, namun segera berdiri tegak lagi.
Bayu menarik nafas panjang sambil memasang kuda-kudanya kembali. Kali ini Bayu memasang kedua tangannya sejajar dadanya menyerupai tanduk kerbau. Kakinya bergerak pelahan-lahan mirip seperti menari mengelilingi lawannya.
Lawan Bayu tiba-tiba bergerak menyerang Bayu dengan menggunakan tangannya yang terus bergerak kekiri dan kekanan. Sasaran utamanya adalah bagian depan badan Bayu. Lawan Bayu berhasil menangkap kedua tangan Bayu dan mencoba menariknya. Tangan Bayu tidak bergerak sedikitpun. Orang itu lalu mencoba menendang kaki Bayu. Bayu mengangkat kaki kirinya yang menjadi sasaran orang itu. Dua kaki beradu sehingga ada bunyi dari kedua kaki mereka. Lawan Bayu tiba-tiba menarik tangannya dan mundur selangkah karena kakinya seperti menendang batu yang diam. Muay Thai adalah seni beladiri yang mengandalkan kekuatan kakinya untuk mengahncurkan lawannya.
Melihat kesempatan baik ini, Bayu meloncat, dengkul kakinya melayang mencari sasarann didepannya. Tangan Bayu diangkat keatas. Lawan Bayu mengira kalau Bayu akan menyerang dengan dengkulnya. Padahal itu adalah jurus pancingan dari Bayu. Begitu kedua tangan orang itu menahan dengkul Bayu, dia luput dari memperhatikan tangan Bayu yang sudah ada diatas kepalanya.
Bayu menghantamkan tangannya dengan siku kearah kepala lawannya. Dan kena.
Lawan Bayu terjajar kebelakang dengan memegang kepalanya. Bayu menyusul dengan tendangan putar kaki kirinya mengenai badannya. Lawannya Bayu roboh terdorong kaki Bayu.
“Satu!” Teriak wasit pertarungan.
Wasit menghampiri lawannya Bayu. Bayu agak menjauh dari tempat berdirinya.
Bayu melihat orang itu mengangguk-anggukan kepalanya, lalu berdiri dan bersiap kembali untuk bertarung.
Wasit kemudian maju ketengah dan mengacungkan tangannya. “Mulai!” Teriaknya.
Bayu kembali mengulurkan tangan kirinya kedepan dan membuka tangan kanannya. Kaki kiri Bayu maju selangkah kedepan. Lawan Bayu bergerak menyerang Bayu dengan pukulan lurus dan bertubi-tubi saling bergantian dengan pukulan pedang dari samping. Bayu mencoba menangkis serangannya dengan mundur dan maju kakinya teratur.
Kaki kanan lawan Bayu tiba-tiba melakukan tendangan samping keatas dan kepala Bayu menjadi sasarannya. Bayu menangkis kakinya dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya bergerak memukul samping betis kakinya yang masih diatas.
Lawannya terlihat kesakitan dan menjejakan kakinya kelantai. Bayu menyusul serangannya dengan menjejakan kaki kirinya ke lantai. Badannya melambung keatas dan melakukan tendangan putar dengan kaki kanannya, telak mengenai pundak lawannya.
Lawan Bayu terjengkang kedepan, tengkurap. Bayu yang sudah berdiri tegak langsung memburu lawannya dan melakukan serangan lanjutan dengan mengangkat kaki kanannya akan menginjak punggung lawannya. Hampir tinggal beberapa sentimeter dipunggungnya, Bayu menarik kembali serangannya.
Bayu mundur dari tubuh lawannya.
Semua penontonnya bersorak. Lawannya Bayu yang sudah terlihat pasrah mulai bangkit. Dia berdiri pelan-pelan sementara wasit berteriak ‘dua’ untuk Bayu.
Wasit menghampiri kembali lawan Bayu. Kali ini wasit mengangkat kedua tangannya dilambai-lambaikan tanda pertarungan selesai.
Lawannya Bayu kemudian membungkukan badannya kepada Bayu. Bayupun membalasnya dengan mengepalkan kedua tangannya dimuka dan membungkukan badannya.
Selesai keduanya membungkuk, lawan Bayu tiba-tiba roboh kelantai.
Bayu melangkah keluar arena dengan perasaan gundah. Hatinya memberontak tidak tega melihat lawannya roboh setelah bertanding meskipun tidak selesai.
Setelah berganti pakaian Bayu melangkah menuju kekendaraan yang akan mengantarnya pulang.
Ada mata yang mengawasinya dan tersenyum licik melihat Bayu.
3 hari setelah Wisnu minum obat dan mengolesi lebam biru di tulang iganya sudah merasa baikan. Badannya kembali enak digerakan.
Pagi itu Wisnu berencana akan ke kampusnya untuk mengurus skripsi yang sudah dia ajukan sebulan sebelumnya.
“Mau ke kampus, mas Wis?” Tanya Rohim mendekati Wisnu dan menepuk pundaknya.
“Iya, pak. Kenapa pak? Ada yang harus saya lakukan dulu?” Jawab Wisnu.
“Nggak ada, mas. Hanya bertanya saja. Gimana skripsinya sudah diterima?”
“Ini, pak. Saya ke kampus untuk ngurus itu. Baru dua bab yang disetujui dosen pembimbingnya. Doakan biar lancar ya, pak.”
“Tentu, mas Wis. Bapak selalu mendoakan kamu agar cepat selesai kuliahnya.” Jawab Rohim memberikan bungkusan plastik kepada Wisnu.
“Apa ini, pak?”
“Sarapan. Tadi saya dari depan melihat nasi uduk. Makan dulu, mas.”
“Terimakasih, pak.” Jawab Wisnu membuka bungkusan yang dibawa Rohim dan memakannya.
Rohim melihat kepolosan dan kejujuran Wisnu telah membuatnya bahagia dan menjadi takut kalau suatu saat Wisnu meninggalkannya.
Selesai sarapan Wisnu kemudian berangkat menuju kampusnya.
Sesampainya di kampus, Wisnu melihat bagian keamanan kampus sedang berdebat dengan seseorang dan terlihat keduanya tampak emosi.
Baru saja Wisnu berniat untuk menghampiri mereka, Markus dan teman-temannya menghampiri mereka.
Wisnu tidak jadi masuk kedalam kampus tapi berdiri dibalik pagar kampus.
“Lagi ngapain, Wis?” Seseorang menyapanya. Pundaknya ditepuk dari belakang.
Wisnu menoleh. Kosasih sedang cungar-cengir melihatnya.
‘Kamu, Kos! Bikin kaget saja, ahh.” Jawab Wisnu. “Coba lihat itu.” Katanya lagi menunjuk kedalam kampus.
Kosasih ikut mengintip dari balik pagar diluar kampus.
“Hah! Itu kan guru karate yang ada tidak jauh dari dojo kamu, Wis. Denger-denger katanya perguruannya menjadi sepi gara-gara semua muridnya pindah ke dojo kamu, Wis.”
“Bener ini, Kos? Jangan ngarang-ngarang, ahh.” Tanya Wisnu.
“Buat apa gua bohong, Wis?”
Mendengar begitu, Wisnu beranjak dari balik pagar dan masuk kehalaman kampus.
Semua orang melihat Wisnu masuk dan terdiam. Bagian keamanan kampus dan Markus lalu menghampiri Wisnu.
“Wis, itu ada orang yang mencari kamu.” Ujar keamanan kampus.
“Siapa dia, pak?”
“Ngakunya sih Broto, katanya dari perguruan karate dekat dengan perguruan karate kamu, Wis.” Markus menjelaskan dan tangannya sudah mengepal. “Kesel gua. Dia bilang kamu mengambil murid-muridnya untuk belajar di perguruan kamu.”
Wisnu tersenyum. “Mana aku tau kalau mereka itu muridnya. Yang jelas mereka mau belajar ditempat saya.” Balas Wisnu sambil melangkah berjalan menuju Broto. Teman-teman yang lainnya mengikuti dari belakang.
Tata Usaha kampus yang melihat kejadian ini segera pada berkumpul di halaman kampus.
Tuti yang sudah datang menghampiri Wisnu.
“Mas Wisnu. Jangan sampai buat keributan disini, ya?”
“Mudah-mudahan, bu. Tapi kalau dia yang mulai, ya, apa boleh buat. Pasti saya akan melawannya. Demi nama baik kampus.” Jawab Wisnu tertawa.
“Malah bercanda, ihh. Orang serius juga, mas!” Jawab Tuti.
Wisnu tidak menjawabnya. Setelah mereka berhadapan.
“Maaf, katanya tadi bapak mecari orang yang namanya Wisnu?” Tanya Wisnu sopan dengan mengangguk kepada orang yang ada didepannya.
“Iya, saya mencari orang yang namanya Wisnu.”
“Maaf, bapak ini siapa, ya? Dan darimana?”
“Saya Broto. Pemilik dan sekaligus guru karate di perguruan karate Cakra. Kamu siapa?”
“Ohh, saya Wisnu, pak Broto.”
“Jadi kamu yang namanya Wisnu? Kebetulan kalau begitu. Saya ingin bicara dengan kamu.” Ujarnya angkuh.
“Boleh, pak. Tapi biar agak dingin, kita bicaranya diaula saja ya, pak?”
Broto tidak menjawab. Diikuti dua orang yang mengantarnya berjalan mengikuti keamnan dan Wisnu, Markus dan teman lainnya ke aula.
Setelah ada diaula, Wisnu bicara lagi.
“Ada apa sebenarnya, pak Broto?”
“Kamu sudah mengambil dan memaksa anak didik saya untuk belajar di perguruan karate kamu, betul kan?”
“Tidak benar itu, pak. Mana tau saya ada anak didik saya berasal dari perguruan bapak? Kami hanya mencatat nama, alamat atau sekolah, itu saja.” Jawab Wisnu.
“Iya, tapi katanya kamu memaksa murid-murid saya untuk pindah ke perguruan kamu. Dan saya percaya itu.” Ujarnya. “Sekarang saya mau minta tanggungjawab kamu.”
“Tanggungjawab apa, pak? Saya tidak melakukan apa-apa sama bapak.”
“Jangan banyak bicara kamu. Begini saja, kalau besok murid-murid saya tidak dikembalikan ke perguruan saya, terpaksa saya akan mengambil tindakan keras.” Jawabnya.
“Loh, kok malah mengancam. Pak Broto, saya tidak akan lari dari ancaman bapak.” Jawab Wisnu. “Saya tidak melakukan apa yang bapak tuduhkan. Jadi sekali lagi saya harap bapak keluar dari kampus ini dan jangan membuat keributan.”
Keamanan kampus mengiyakan perkataan Wisnu.
Dari pintu masuk aula tampak beberapa anak tanggung masuk kedalam. Mereka rupanya anak didik Broto yang mendengar kalau guru beladirinya dulu marah-marah kepada Wisnu.
“Maaf Sensei.” Kata salah seorang muridnya Broto dulu. “Sensei Wisnu tidak pernah bicara dan mengajak kami masuk. Tapi ini murni keinginan kami keluar dari perguruan.”
“Hah! Apa sih hebatnya perguruan orang ini?” Tanya Broto badannya menghadap kearah bekas muridnya.
“Banyak Sensei. Selain bagus cara mengajarnya, juga ada hal lain yang lebih yaitu dia menghormati kami sebagai muridnya.” Ujar mereka.
Broto memerah wajahnya. Tangannya berkelebat akan menampar bekas murid-muridnya. Tapi Wisnu tidak membiarkan hal itu terjadi. Tangannya bergerak cepat mencegat laju tangannya Broto dan mendorong badannya.
Broto terdorong beberapa langkah. Mukanya terlihat semakin merah padam.
“Disini kampus, pak Broto. Tidak boleh ada kekerasan apalagi sudah jelas bapak yang salah sangka sama saya.” Kata Wisnu berhadapan dengan Broto.
“Kamu tidak tau saya siapa, ya? Saya sudah Dan II, kamu tau itu. Dan berapa, kamu?”
Semua temannya Wisnu tertawa, termasuk bekas muridnya.
“Dia itu Dan IV, pak Broto.” Jawab Markus tertawa.
“Saya tidak percaya itu.” Jawab Broto yang langsung menyerang Wisnu.
Semua orang minggir memberi ruang.
Wisnu tidak bergerak hanya menarik kaki kanannya kebelakang.
Broto menendang Wisnu dengan kaki kanannya lurus kearah perutnya. Tangan kanan Wisnu bergerak menghantam telapak kakinya Broto yang terbuka. Telak pukulannya mengenai telapak kaki Broto. Wisnu secepat kilat badannya miring dan kaki kanannya menendang dengan pinggiran kaki menghajar dadanya Broto.
Broto mengaduh dan jatuh kelantai aula setelah badannya terdorong kebelakang beberapa langkah.
Wisnu kembai berdiri tegak.
Kedua orang yang mengikuti Broto menghampiri Broto dan memeriksa keadaannya. Setelah itu mereka lalu berdiri dan meloncat menyerang Wisnu.
Wisnu menjejakan kaki kirinya kelantai. Badannya melambung menyambut loncatan mereka. Kakinya tiba-tiba berubah menjadi lurus dan menendang badan salah satu dari mereka. Tendangan Wisnu mengenai sasaran. Badan salah seorang temannya Broto jatuh kelantai aula dan memegang perutnya yang kena tendangan kaki kanan Wisnu.
Sementara teman satunya mendarat ditempat kosong. Wisnu kembali bergerak kali ini dia menggunakan tendangan putar gaya Muay Thai yang didapatnya dari Bayu. Badannya seperti terbang sementara kakinya berputar.
Orang itu mencoba menahan kaki Wisnu dengan kedua tangannya yang disatukan diatas kepalanya. Dia memeang berhasil menahan lajunya kaki Wisnu, tapi badannya langsung terduduk dilantai saking keras dan beratnya kaki Wisnu.
Wisnu kembali melancarkan pukulan tangan kanannya sambil menindih tangan orang itu dengan kakinya.
Pukulannya telak mengenai wajah orang itu dan langsung terdiam. Badannya terkulai dan pelan-pelan tergelatak di lantai aula.
Wisnu berdiri dan berjalan menuju Broto yang masih mengerang kesakitan. Sementar pengawalnya yang terkena perutnya terlentang dilantai.
“Bagaimana, pak Broto? Apa masih dilanjutkan?”
Broto mengangkat kedua tangannya keatas, isyarat tidak mau melanjutkan pertikaiannya.
Wisnu kemudian mengulurkan tangannya mengangkat badannya Broto kemudian dipapah dan didudukannya dikursi. Satu persatu temannya Broto juga dibawa ke kursi. Lalu mereka diberi minum oleh Markus dan temannya.
Hampir setengah jam semuanya selesai dan merekapun keluar dari aula diiringi tepuk tangan mahasiswa yang mengetahui kejadiannya.
Tapi ada juga yang berteriak mengejek Broto dan temannya.
“Terimakasih, mas Wisnu dan maafkan kami.” Ujar Broto menyalami Wisnu sebelum pamit keluar dari kampusnya Wisnu.
Tuti yang sejak tadi mengikuti perkembangan Wisnu tersenyum bangga. Dia melihat Wisnu mencoba menyelesaikan dengan bijak meskipun harus duel dulu untuk penyelesaiannya.
“Sarapan, yuk Kos?” Ajak Wisnu.
“Kebetulan perut saya lapar, mau dong Wis.” Ujarnya.
Wisnu melambaikan tangannya kepada Markus dan temannya yang ada dihalaman kampus. Mereka menghampiri Wisnu.
“Mau ikut sarapan, Mar?” Ajak Wisnu.
“Mau dong, Wis. Yang lain?”
“Ya semua lah, mumpung saya ada rejeki, nih.” Ujar Wisnu tertawa.
Semuanya ikut tertawa sambil berjalan keseberang kampus untuk sarapan bubur ayam dan lainnya. Mereka beriringan bersama.
Setelah ada di gerobak bubur ayam, Wisnu memesan beberapa mangkok bersamaan dengan temannya yang mau sarapan bubur ayam.
Sementara mereka sarapan bubur ayam, mata Wisnu kembali melihat sebuah mobil berwarna hitam selalu ada dan terparkir agak jauh dari kampusnya. Yang menjadi herannya Wisnu adalah kenapa setiap kali ada kejadian perkelahian dirinya, mobil hitam itu selalu ada.
Wisnu penasaran. Lalu dia berdiri dari duduknya dan mencoba berjalan kearah mobil hitam itu. Markus dan Kosasih yang kebetulan melihat Wisnu ikut berdiri dan mengikutinya dari belakang. Begitu juga teman yang lainnya ikut-ikutan menyusul.
Mobil hitam yang tadinya berhenti, tiba-tiba menyalakan mesinnya dan berjalan masuk jalan dan melaju menjauhi Wisnu dan teman-temannya.
“Ada apa sebenarnya, Wis?” Markus bertanya.
“Nggak ada apa-apa sebenarnya, Mar. Hanya aneh saja. Setiap kali saya bentrok dan berkelahi dengan seseorang, mobil hitam yang barusan jalan itu selalu ada. Makanya tadi saya sengaja mau menghampirinya. Ingin tau siapa yang selalu ada di mobil itu?” Ujar Wisny menerangkan kepada teman-temannya.
“Kalau mobil hitam itu yang kamu maksud, memang tidak setiap hari ada disini, Wis. Hanya kalau ada sangkaan kamu bilang setiap kamu ada masalah dengan orang dan berkelahi mobil itu ada, saya tidak tau.” Jawab Markus.
“Bener itu, Wis.” Sambung Kosasih. “Saya juga tidak pernah merhatikan mobil itu.”
“Siapa ya, mereka itu?” Gumam Wisnu. “Ahh, sudahlah. Kita terusin saja sarapannya.” Ajak Wisnu merangkul pundaknya Markus.
Markus akhirnya mengikuti Wisnu balik berjalan kembali ke gerobak bubur ayam dan meneruskan sarapannya.
Setelah selesai semuanya sarapan, Wisnu mengeluarkan sejumlah uang dan memberikannya kepada penjual yang makanannya dimakan olehnya dan teman-temannya. Wisnu dan lainnya menyeberang jalan dan masuk kembali kedalam kampus.
Ada mata lain yang memperhatikan mereka dibalik warung makanan yang ada diseberang jalan. Lalu dia menuliskan sesuatu pada buku catatan yang dibawanya, kemudian memasukannya kembali kedalam ransel kuliah yang dibawanya.
Orang itu kemudian beranjak dan masuk kedalam kampusnya Wisnu.
“Hey, Robby!” Teriak seseorang dari belakang kepadanya. Kemudian orang itu menoleh kebelakang.
“Hey, Boy.” Ujarnya.
“Gua lihat tadi lu keluar dari warung seberang, ngapain disana?” Ujar Boy.
“Biasalah, sarapan Boy.” Jawab Robby.