Chapter #21 - DUA PULUH SATU

2449 Words
CHAPTER #21   DUA PULUH SATU               “Tapi saya lihat kamu nulis sesuatu di catatan?” Tanya Boy. “Memangnya ada tugas kuliah, apa?”             “Ahh, nggak hanya mencatat pengeluaran. Memangnya kamu tadi ikut sarapan sama Wisnu, Boy?” Tanya Robby.             ‘Iya, tadi saya makan bubur ayam. Tapi sempat ada gangguan karena Wisnu meelihat mobil hitam yang selalu ada kalau dia ada masalah. Katanya begitu.” Jawab Boy yang berjalan disamping Robby.             “Siapa katanya?”             “Nggak tau. Soalnya begitu kami akan menghampirinya, mobil hitam itu sudah melaju. Kenapa memangnya? Kamu melihat juga mobil hitam itu, Rob?” tanya Boy.             “Iya, orang saya melihat kalian berjalan kesana, kok. Kan saya ada didalam warung.” Jawab Robby.             “Sudah lama mobil itu parkir disitu, Rob?”             “Kayaknya sih, Boy. Saya diwarung sejak jam setengah tujuh. Sarapan makan nasi kuning. Mobil itu sudah ada saya lihat.”             ‘Sempat lihat orangnya, nggak Rob?”             “Nggak, Boy.” Jawab Robby. “Ehh, sudah sampai Boy. Cari kursi, yuk!” Ajak Robby seperti menghindar dari pertanyaan Boy.             Pagi itu di kantor Bayu, Intan sedang mencari Bayu.             “Bay! Bayu! Kalian melihat Bayu?” Tanya Intan kepada staf lainnya yang ada diruangan.             “Tidak, bu. Dari tadi kami belum melihat mas Bayu.”Jawab salah satu stafnya.             “Kemana sih?” Gumam Intan.             “Itu bu, mas Bayu!” Kata seorang stafnya yang melihat Bayu masuk dari pintu belakang.             “Bayu!” Intan melambaikan tangannya.             Bayu menghampiri Intan.             “Ada apa bu?” Tanya Bayu.             “Dari mana kamu, Bay?”             “Dari ruangan Direktur. Pak Dito memanggil saya tadi pagi begitu saya datang.” Jawab Bayu.             “Ada urusan apa pak Dito manggil kamu?”             “Hanya ngobrol saja bu. Nanya-nanya keadaan ayah saya dan pekerjaan saya.”                               “Buat apa dia nanya kamu begitu? Itu kan bukan urusannya.” Selidik Intan.             “Saya tidak tau, bu.” Jawab Bayu. “Ada apa ya, mencari saya?”             “Kamu harus pergi keperusahaan mobil sewaan. Katanya ada 3 unit mobil untuk diperbaiki dan sekaligus di modifikasi ruang dalamnya. Jadi sekarang kamu harus ke Bekasi melihat dan melakukan penawaran. Bisa kan?”             “Iya, bu. Boleh saya bawa pak Udin? Saya belum ada pengalaman dengan tingkat kerusakan dan perbaikan. Apalagi melakukan penawaran.”             “Boleh. Bawa saja Udin kesana, sekarang ya.” Balas Intan masuk kembali keruangannya.             Bayu tidak banyak tanya langsung berjalan menuju ruang Udin, kepala bengkel diperusahaan itu.             “Jadi gitu, ya. Terus bagaimana sikap kamu sama direktur kamu itu, Bay?” Tanya Krisna.             “Ya, mau gimana lagi kecuali hanya menuruti kemauannya saja.” Jawab Bayu setelah selesai menceritakan tentang keinginan Dito agar menjadi petarungnya. “Tapi itupun sebatas dia tidak ingkar janji saja, Kris.”             “Itu maksud aku, Bay. Kalau dia ingkar dari janjinya. Saya bantu beresin urusan kamu di kasus ini.” Jawab Krisna terlihat bersungguh-sungguh.             “Iya saya pecaya sama kamu, Kris.” Bayu menepuk pundak sahabatnya. “Sepertinya sudah dimulai, masuk yuk!” Ajak Bayu.             Krisna menganggukan kepalanya dan merekapun masuk kedalam ruangan kuliahnya.             Hampir jam 8 malam kuliah selesai, Bayu dan Krisna keluar dari kampus. Mereka berjalan kaki dipinggir jalan menuju jalan besar untuk menunggu angkutan umum.             Mata Bayu melihat sebuah mobil warna hitam yang sedang parkir diseberang jalan. Dia tidak bisa melihat orang didalamnya.             “Mobil ini sudah beberapa kali saya lihat. Aneh!” Bisik hatinya.”Biasanya kalau saya sudah melihat mobil ini selalu saja ada gangguan dari orang. Apa hari ini juga, karena saya sudah melihat mobil hitam itu?” Pikiran Bayu mulai berputar mencari jawaban. “Siapa ya orang ini?”             Dari arah berlawanan Bayu dan Krisna berjalan, serombongan anak muda tampak berjalan kearahnya.             Selama mereka berjalan ada saja yang mereka openin. Kalau tidak menendang batu, mereka melempar apa saja yang dilewatinya.             Bayu dan Krisna berjalan minggir saat mereka berpapasan.             Salah seorang dari mereka tiba-tiba menahan badannya Krisna seraya mengeluarkan sebilah pisau dan menempelkannya diperut Krisna.             “Bagi duit dong gua.” Ancamnya. Krisna terlihat tenang saja menghadapinya.             “Maaf, bang. Saya tidak punya uang.” Jawab Krisna.             “Bohong, lu. Sini, mana dompet lu?” Katanya kasar. Tangan menjulur mau merogoh dompet yang ada disaku belakang celanan Krisna.             Krisna melihat Bayu yang sama juga sedang digeledah oleh tida orang temannya. Bayu menoleh kearah Krisna dan mengangguk.             Krisna mengerti maksudnya Bayu. Saat orang itu mau merogoh saku celana Krisna, perhatiannya menjadi lepas. Tangan yang memegang pisaunya menjauh dari perut Krisna.             Tanpa ragu lagi, tangan kanan Krisna mengayun menghajar tangan yang memegang pisau. Orang itu mengaduh dan mundur kebelakang. Pisaunya terpental jauh entah kemana. Tanpa memperhatikan Bayu yang sedang digeledah Krisna langsung melayangkan tendangan Muay Thainya kearah teman yang menodong tadi dan telak menghantam dagunya sampai terdongak keatas dan jatuh kejalan. Sementara yang tadi menodongkan pisau masih memegang tangannya pun kena tendangan putar Krisna. Diapun ikut semaput bersama temannya yang sudah lebih dulu pingsan kena tendangan Krisna.             Bayu yang digeledah oleh tiga orang segera bertindak cepat. Dengan tersenyum kakinya mengayun kedepan tepat mengenai perut orang yang ada didepannya. Ada suara tertahan seperti mau batuk dari orang itu. Badannya langsung menggeloso menyentuh jalanan.             Orang yang dikanan dan kiri Bayupun kena getahnya. Yang dikanan badannya berputar setelah dipelintir oleh Bayu dan ujung sepatunya menghantam paha orang itu. Badannya terdorong kebelakang beberapa langkah sebelum kemudian jatuh bergulingan.             Yang disebelah kirinya terpegang kaosnya oleh tangan kirinya Bayu dan kaosnya dipelintir oleh Bayu. Mau tidak mau orang itu mukanya jadi berhadapan dengan Bayu. Tangan Bayu kemudian melayang menampar pipi orang itu.             “Ampun, bang! Ampun. Maafin saya, bang!” Katanya menghiba. Badannya sudah membungkuk-bungkuk.             Bayu tidak melanjutkan niat untuk memukulnya. Hatinya merasa kasihan. Kemudian orang itu didorong Bayu kearah Krisna. Salahnya nasib orang itu. Krisna pikir Bayu menyuruhnya untuk menyudahi perkelahian. Jadi waktu orang itu terdorong Bayu badannya, Krisna sudah berputar. Kakinya langsung mengenai punggung orang itu. Karuan saja begitu kena, dia langsung roboh diatas badan teman lainnya.             Bayu dan Krisna membiarkan mereka mengerang dan mengaduh kesakitan. Kedua meneruskan jalan kakinya menuju jalan besar untuk menunggu angkutan umum.             Saat Bayu dan Krisna sudah berdiri menunggu, mobil warna hitam yang Bayu tadi lihat melewatinya berbelok kearah kiri jalan raya.             Bayu hanya bisa menatap mobil itu berlalu. Hatinya tetap masih penasaran ingin tau siapa dan mau apa mereka sebenarnya.             Tidak lama kemudian kedua sahabat itu naik angkutan yang lewat dan berpisah ditengah perjalanan mereka masing-masing.             Malam semakin larut. Wisnu yang sudah mulai berbenah untuk menutup jualan nasi gorengnya pak Rohim, mendadak matanya menangkap sekilas mobil hitam yang biasa parkir diseberang jalannya lewat.             Wisnu berhenti sebentar kemudian berjalan agak ketengah jalan melihat mobil hitam itu yang terus melaju. Dia masih ingat nomor mobil itu.             “Betul itu nomor mobil yang biasa parkir, ada apa ya, malam-malam lewat sini?” Bisik hatinya.             Pak Rohim yang kebetulan melihat Wisnu melihat ada perubahan diwajahnya.             “Ada apa, mas?” Tanya Rohim.             “Nggak ada apa-apa, pak. Hanya melihat mobil yang barusan lewat. Sepertinya saya sering melihat sering parkir diseberang jalan sana.” Ujar Wisnu menunjuk jarinya kearah seberang jalan.             “Begitu, ya. Hati-hati saja mas, siapa tau ada niat kurang baik sama kita.” Jawab Rohim.             “Iya pak. Bapak juga harus hati-hati.”             Wisnu kemudian membereskan plastik penutup gerobak nasi gorengnya.             Ujungnya ternyta ada yang menyangkut dibagian atas gerobak sampai susah untuk dibukanya.             “Yah, nyangkut lagi plastik penutupnya, pak.” Kata Wisnu seperti mau turun dari kursi plastik tempat berdirinya. Belum kakinya turun menginjak tanah dari sebelah gang sudah ada yang berteriak.             “Culik! Culik. Tolong ada culik!” Suara perempuan berteriak-teriak.             Wisnu turun pelan-pelan dari kursi plastiknya dan berjalan kemulut gang. Tampak olehnya seorang laki-laki sedang memangku anak kecil berlari pelan.             Rohim dan Bayu mencoba menghadang orang yang diteriaki penculik itu. Sesudah dekat ternyata penculik itu adalah tetangganya Rohim dan menggendong anaknya sendiri. Jadi bukan penculik.             “Pak Angga? Ada apa ini, pak?” Tanya Rohim.             “Minggir, pak. Jangan halangi saya.” Ujarnya.             “Loh, itu istrinya teriak penculik begitu, pak. Coba sabar dulu, tahan sebentar.” Rohim mencoba menahan Angga. Sementara istrinya berlari mendekati Angga dan berusaha merebut anaknya.             “Lepaskan, mas. Jangan bawa Yanti. Lepasin!” Teriaknya.             “Tidak!” Ujar Angga mendorong dan menendang tubuh istrinya. “Dan kamu juga minggir.” Katanya sambil mendorong Rohim hingga terjatuh.             Wisnu yang dari tadi tidak ikut campur, melihat Rohim terjatuh hati Wisnu mulai terusik.             “Sabar pak Angga. Tidak boleh kasar. Semuanya bisa diselesaikan damai kan, pak.” Ujar Wisnu mengangkat tubuh Rohim.             “Tau apa kamu ini. Jangan mentang-mentang sudah dibilang jago jadi ikut campur urusan orang ya.” Angga semakin kencang memegang Yanti anaknya. Yanti mulai menangis ketakutan karena mendengar bentakan-bentakan keras Angga.             “Sudahlah, pak Angga. Tadinya saya tidak mau tau urusan orang, tapi setelah melihat pak Rohim jatuh karena bapak, terpaksa saya ikut campur sekarang.” Jawab Wisnu. “Lepaskan anak itu pak Angga.”             “Mau apa kamu, heh!” Angga meradang. Anaknya disimpan di jalan.             Wisnu berhasil memancing amarah Angga tetangganyua Rohim. Sementara itu Yanti sudah berlari kearah ibunya dan memeluknya. Dari arah adalam banyak orang-orang mulai keluar termasuk ketua RT nya.             Angga mendekati gerobak nasi goreng Rohim. Tangannya kemudian mengambil sebilah pisau sayur yang ada di laci gerobak. Lalu Angga mengacungkannya kepada Wisnu.             “Jangan begitu, pak Angga. Nanti ada yang terluka.” Kata Wisnu mencoba mendinginkan Angga dari marahnya.             Angga tidak menjawab tapi tangannya langsung diayunkan kearah Wisnu yang jaraknya cukup dekat. Wisnu meloncat mundur. Kemudian badanynya bersiap menerima serangan berikutnya.             Angga semakin marah hatinya melihat Wisnu bisa mengelak. Kemudian sambil mendekati Wisnu dia mengayunkan pisau sayur itu kekiri dan kekanannya. Wisnu mulai berpikir untuk menyelamatkan dirinya dan menjaga agar orang lain tidak menjadi korban.             Kaki kirinya dijejakan ke jalanan. Tubuhnya melambung keatas melebihi tingginya Angga dan mendarat satu meter membelakangi badannya Angga.             Kaki kanannya berputar seketika bersamaan dengan berbaliknya badan Angga. Kaki Wisnu berhasil mengenai pipinya Angga tidak keras, tapi bisa membuat Angga sempoyongan dan pisau sayurnya terjatuh. Wisnu kemudian menendangnya kepinggir.             Wisnu menghampiri Angga yang sudah berdiri dan mengayunkan pukulan tangannya kearah mukanya Wisnu. Wisnu hanya menggerakan tangan kanan menangkis pukulan Angga, kemudian tangan yang menangkis diteruskan untuk menggampar pipi kanan Angga. Muka Angga jadi mengayun kearah kiri dan disambut lagi dengan tamparan tangan Wisnu yang sama.             Angga terdiam menatap Wisnu.             “Sudah sadar, pak Angga?” Tanya Wisnu.             Angga tidak menjawab tapi kemudian jatuh terduduk dijalan dan kepalanya menunduk seperti melihat jalan. Rupanya Angga sudah pusing kepalanya saat ditampat bolak-balik oleh Wisnu.             Kemudian Wisnu meraih tubuh Angga dan mendudukannya di bangku jualan Rohim.             Rohim menghampiri Wisnu membawa gelas berisi air putih. Wisnu meminumkannya kepada Angga.             Ketua RT yang dari tadi melihat kejadian menghampiri Angga.             “Sudah, mas Wisnu. Biar kamu saja yang mengurusnya.” Ujar ketua RT.             Wisnu mengangguk. Beberapa orang yang ada disitu membantu ketua RT memapah Angga membawa kerumahnya.             Rohim dan Wisnu kembali membereskan barang-barang yang berserakan karena ulah Angga.             Keesokan harinya Wisnu sudah minta ijin untuk berangkat kuliah.             “Masih pagi, mas Wis. Nggak sarapan dulu?” Tanya Rohim.             “Nanti saja di kampus, pak. Soalnya ada janji mau ketemu dosen untuk memeriksa bab 3 skripsi saya.” Jawab Wisnu.             “Iya mas. Hati-hati saja dijalan.”             Wisnu menghampiri Rohim dan mencium tangannya.             Hampir satu jam diruangan dosen pembimbingnya, Wisnu baru bisa keluar dari ruangan. Kosasih dan Markus sudah menunggu di pinggir halaman kampus.             “Wis!” Kosasih berteriak. “Sini!” Ajaknya.             Wisnu berjalan menuju mereka. Begitu sudah dekat, Kosasih memberikan bungkusan yang dibawanya.             “Apa ini, Kos?”             “Sarapan Wis. Itu mendoan.”             “Markus, sudah?”             “Sudahlah, tadi bareng-bareng saya makannya.”             Markus mengangguk.             “Gimana Wis? Diterima bab tiganya?” Tanya Markus.             “Sudah Mar. Katanya menunggu dua bab lagi tapi dalam waktu sebulan ini. Soalnya dia mau berangkat ke Inggris.” Jawab Wisnu sambil mengunyak mendoannya.             “Wahh, harus buru-buru dong Wis. Mudah-mudahan bisa cepet, ya. Apa perlu bantuan. Nih?” Tanya Markus.             “Nggak usahlah Mar. Terimakasih. Biar gua saja yang ngerjain. Bahan dan tulisan dasarnya sudah ada, kok.”             “Syukurlah kalau begitu.”             Sedang enak menikmati mendoan yang dibawa Kosasih, Andar terlihat datang dari gerbang kampus.             “Ehh, itu Andar, kayaknya Wis?” Ujar Kosasih.             Wisnu menoleh kearah gerbang.             “Iya itu Andar. Ada apa, ya?”             Wisnu berdiri dan mendekati Andar.             “Ada apa, bang Andar?” Tanya Wisnu.             “Itu di dojo, mas Wis.” Kata Andar tersengal. “Ada-ada saja yang ganggu kita ini. Sekarang dia masih disana, mas. Menunggu mas Wisnu. Katanya saudaranya orang yang mas Wisnu hajar dikampus.”             “Broto, maksud bang Andar?”             “Iya, iya itu namanya. Dia bersama 4 orang temannya, mas.” Jawab Andar.             Wisnu mengangguk dan pamit kepada teman kampusnya.             Wisnu dan Andar berjalan keluar kampus menuju dojonya.             Kembali mobil hitam ada diseberang jalan. Tapi kali ini langsung jalan setelah melihat Wisnu dan Andar berjalan kearah dojo.             “Mas Wisnu!” Ada teriakan dari mobil disebelah Wisnu dan Andar.             “Ehh, mas Firdaus. Mau kemana mas?” Tanya Wisnu menghampiri mobil Firdaus.             “Justru mau kedojo mas Wisnu. Hanya ngambil jalan pintas lewat belakang sana.” Ujarnya.             “Wahh, kebetulan dong. Sekarang di dojo ada yang nyari saya. Kita bisa barengan dong kesana.” Jawab Wisnu. “Boleh, ya?”             “Iya, yuk naik!” Ujar Firdaus.             Wisnu dan Andar naik mobilnya Firdaus menuju dojonya Wisnu.             Sesampainya disana. Benar saja di dojo sudah ada 5 orang yang menunggu Wisnu. Semuanya tampak tegap dan gagah. Badannya berotot dan tingginya badanya lebih tinggi dari Wisnu.             Firdaus memarkirkan mobilnya dihalaman rumah. Kemudian Wisnu, Andar dan Firdaus turun mendekati mereka.             “Komplit juga, mas Wis. Enak lagi suasananya.” Kata Firdaus memuji dojonya Wisnu.             “Yah, lumayan mas Fir.” Jawab Wisnu.             Mereka mengangguk kepada kelima orang itu.             “Maaf, bapak-bapak ini dari mana?” Tanya Wisnu sopan.             “Saya Berto, adiknya Broto. Masih ingat?” Ujarnya kasar.             “Ohh, adiknya pak Broto. Apa kabar, pak?” Tangan Wisnu menjulur akan menyalami Berto.             Bukannya diterima malah tangannya Berto bergerak seperti akan menepis tangannya Wisnu dengan keras.             Secepat kilat Wisnu menarik kembali tangannya.             “Loh, kok malah marah, sih pak?” Ujar Wisnu.             Berto tidak menyahut ucapan Wisnu tapi malahan merangsek Wisnu dengan melancarkan serangan denan pukulan pedang karate.             Firdaus minggir kesamping. Begitu juga Andar.             Wisnu tidak bergerak tapi memapaki pukulan Berto dengan sabetan tangan kanan kebawah seperti akan menghalau burung. Sebelum mengena tangannya, tiba-tiba tangannya Wisnu berubah menjadi mencengkram tangannya Berto. Kemudian menarik kedepan dan sikunya Wisnu menghantam dagunya Berto yang menunduk karena ditarik kebawah.             Berto kaget, namun terlambat dagunya sudah kena sikutan Wisnu. Belum bisa berpikir normal lagi, perutnya merasa sakit karena ada hantaman cukup keras dari telapak tangan Wisnu. Karuan saja badan Berto jatuh terlentang di lantai halaman dojonya Wisnu.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD