CHAPTER #22
DUA PULUH DUA
Keempat orang yang mengantar Berto ke dojonya Wisnu menghampiri Berto. Mereka memeriksa sakit yang ada dibadannya Berto.
“Kalian malah diam. Hajar dia!” Ujar Berto malah memberi perintah.
“Jangan, pak. Sudahlah, tidak baik kita berkelahi.” Wisnu berusaha menenangkan keempat orang itu. Tapi usahanya tidak berhasil. Mereka malahan bergerak dan mengelilingi Wisnu.
Firdaus dan Andar yang dari tadi diam kini jadi ikut maju dan menghampiri Wisnu yang sudah dikepung.
“Kalian benar mau menjajal kami, ya?” Ujar Andar menyingsingkan lengan kaosnya.
Lalu tanpa dikomando lagi Andar menyerang salah seorang yang ada dipinggir kanan Wisnu. Tangannya berkelebat cepat mencari sasaran. Muka orang itu yang menjadi sasarannya. Tapi kelihatannya orang ini mempunyai kepandaian beladiri juga. Buktinya tangan Andar berhasil ditangkisnya bahkan orang tu sudah menlancarkan serangan balasan dengan menendang lurus kearah badannya Andar.
Andar tidak bergerak tapai memapag tendangan orang itu dengan pukulan keras tangannya kearah tulang kering kakinya. Pukulan Andar berhasil mengenai kaki orang itu. Kontan orang itu mengaduh kesakitan sambil mengangkat kakinya kemudian jatuh terduduk.
Firdaus yang sudah bersiap tidak mendapat lawan malah berdiri bengong.
“Hey! Mana lawan saya?” Teriaknya sambil mengangkat tangan.
Tapi ketiga orang yang tadi mengelilingi Wisnu mulai melancarkan serangan bersamaan. Wisnu yang agak terdesak mundur beberapa langkah kebelakang. Tiba-tiba terdengar ada teriakan keras. Badan Wisnu melayang diudara dan jatuh tepat ditengah-tengah orang bertiga yang menyerangnya.
Kaki Wisnu berputar cepat. Tendangan putar Muay Thai yang diajari Bayu beraksi dan berhasil menghajar dua orang sekaligus. Sedangkan satu orang yang sempat menundukan kepalanya dihalau Wisnu dengan tendangan lurus menghujam diperutnya begitu satu kakinya berhenti berputar.
Salah satu orang yang kena tendangan putar Wisnu kebetulan jatuh tepat dihadapan Firdaus yang gusar karena tidak mendapat lawan. Begitu orang itu mau bangkit Firdaus dengan sigap menangkap krah leher kaosnya dan mengangkatnya. Badan Firdaus berbalik dan dengan bantuan pinggulnya badan orang itu tampak terangkat dan terhempas dihalaman dengan keras. Firdaus rupanya menggunakan teknik bantingan judonya. Orang itu mengaduh dan terlentang tidak mampu bangkit lagi.
Satu orang yang berhasil dihajar kakinya oleh Andar berusaha untuk bangkit meskipun sedikit pincang karena tulang kering kakinya yang sakit.
“Diam kamu! Berdiri gua tendang lagi kaki, lu! Diam!” Bentak Andar keras. Orang itu mengkerut dan duduk kembali.
Sementara dua orang yang masih terlihat kuat mulai berdiri lagi dan memasang kuda-kuda. Badannya kokoh tegak berdiri.
Wisnu tersenyum lembut dan masih mencoba untuk menenangkan orang itu tanpa harus berkelahi.
“Sudahlah, pak. Kita sudahi saja, ya?” Ujar Wisnu.
Bukannya dijawab tapi kedua orang itu malah merangsek Wisnu dengan pukulan dan tendangan yang bersamaan.
Wisnu mengakis semua serangan itu dengan tangan. Tangannya sibuk menepis pukulan sementara kakinya berjingkat-jingkat menghindari tendangan bawah dan tendangan putar dibawah.
“Bagi saya, dong mas!” Firdaus berkata sambil meloncat ketengah-tengah diantara serangan kedua orang itu kepada Wisnu.
Firdaus berhasil memisahkan salah satu dari penyerang Wisnu.
Sekarang menjadi dua orang yang bertarung saling menyerang.
Wisnu yang sudah melawan satu orang kembali menyusun kuda-kudanya. Kaki kanannya maju kedepan dan tangan kirinya disodorkan panjang kedepan. Orang itu berkerut melihat Wisnu memasang jurus yang tidak pernah ada dikarate.
Tapi karena amarah yang sudah menutupi kesadarannya, orang itu tetap menyerang Wisnu dengan pukulan pedang karatenya. Tangannye berkelebat mau mengincar leher Wisnu. Tangan kiri Wisnu menangkis pukulannya dan tiba-tiba jari tangannya berputar seperti ular membelit tangan orang itu. Wisnu kemudian menariknya kebelakang sehingga badan orang itu menjadi doyong kedepan badan Wisnu. Tangan Wisnu kemudian mengikuti badan orang itu dengan melancarkan pukulan silang tangan kanannya. Dalam ilmu silat Cimande biasanya disebut jurus ‘keprok’.
Pukulan Wisnu mengenai pelipis kiri orang itu. Secepat kilat tangan kanan Wisnu yang memukul pelipis orang itu, meraih pundak orang itu, sementara kaki kanannya menyabet kakinya. Kontan badan orang itu ikut terangkat karena kakinya tidak ada injakan lagi. Badannya melambung keatas. Begitu Wisnu meihat badan orang itu terangkat, Wisnu melepaskan kedua pegangannya. Karuan saja badan orang itu langsung jatuh dengan punggung terlebih dulu di tanah. Orang itu menggerung kesakitan.
Sementara itu Firdaus masih meladeni seorang yang berhasil dipisahkan saat menyerang Wisnu. Firdaus menyusun serangannya. Firdaus melangkah mendekati orang itu, tangannya terkembang untuk menangkap badannya. Orang itu rupanya mengenali kalau Firdaus sedang mengeluarkan jurus judonya.
Lawannya Firdaus mundur dua langkah dan dengan cepat melancarkan tendangan lurus yang keras kearah perutnya Firdaus. Tapi rupanya justru itu yang diharapkan oleh Firdaus. Firdaus tidak mundur malahan badannya diangkat sedikit dan dengan menekan kaki orang itu badannya Firdaus melayang terbalik keatas seperti bersalto kemudian mendarat dibelakang tubuh orang itu. Kemudian orang itu berusaha secepat mungkin untuk berbalik, tapi terlambat. Kedua tangannya Firdaus sudah berhasil mendapatkan pundak orang itu. Kemabli dengan dibantu pinggulnya Firdaus dapat mengangkat badan orang itu dan membantingnya kedepan badannya.
Orang itu jatuh tertelungkup didepan Firdaus. Belum dia sadar apa yang terjadi, kaki kanannya Firdaus sudah melayang ke wajah sebelah kirinya. Untung tidak keras tendangan Firdaus tapi cukup membuat orang itu tidak bergerak lagi.
Firdaus menepuk kedua tangannya seolah membersihkan debu yang ada ditangannya. Wisnu dan Andar tertawa melihat kelakuan Firdaus.
Wisnu, Andar dan Firdaus lalu membawa badan orang-orang yang sudah terkulai lemas itu kedepan Berto dan meletakannya disebelahnya.
“Nah, pak Berto. Coba kalau bapak tadi mau mendengar nasihat kami. Bapak kan belum tau kenapa pak Broto berseteru dengan kami.” Kata Wisnu duduk dihadapan Berto yang masih merasa kesakitan. “Sekarang, apa maunya bapak selanjutnya?”
Berto tidak menjawab. Wajahnya menunduk. Dia merasa malu dengan ucapannya Wisnu.
“Bapak masih sakit?” Tanya Firdaus memegang pundaknya Berto.
Berto mengangguk.
“Saya dokter, pak Berto. Boleh saya membantu bapak?”
Berto memandang wajahnya Firdaus. Firdaus mengangguk untuk meyakinkan Berto.
Berto mengangguk lagi.
“Oke sekarang silakan berbaring.” Ujar Firdaus.
Belum 5 menit Firdaus melakukan pemulihan rasa sakit, Berto sudah terlihat bisa bangkit dan berdiri lagi.
Sementara itu keempat orang temannya yang kesakitan juga berhasil disembuhkan oleh Wisnu dan Andar yang menggunakan cara yang sama dengan yang dilakukan oleh Firdaus. Mengurutnya dan memberikan pemulihan otot didaerah yang merasa sakit.
Setelah semuanya tenang, Andar dan Juhri datang kehalaman membawa minuman hangat dan memerikannya kepada mereka satu persatu.
“Jadi begitu ceritanya, pak Berto.” Wisnu yang sudah menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya perkara dengan pak Broto. “Pak Broto salah paham saja. Jadi anak didiknya, mungkin juga anak didik pak Berto pindah ke dojo saya karena katanya kurang mengerti dalam menerapkan setiap jurus yang diperolehnya.”
Berto terlihat mengangguk-ngangguk.
“Saya salah terima juga, mas Wisnu. Untuk itu kami minta maaf atas segala kesalahan kami. Kami juga bersedia untuk mengganti rugi mas Wisnu bila ada.” Kata Berto memegang tangannya Wisnu.
Wisnu memegang kembali tangan Berto sambil tersenyum.
Keduanya lalu berdiri diikuti oleh orang-orang yang ada disitu. Berto memeluk Wisnu, juga yang lainnya saling berpelukan dan meminta maaf. Kedua pihak berjanji untuk melupakan segalanya bahkan Berto mengajak kerjasama dengan Wisnu untuk pengembangan dojonya.
Tidak lama kemudian halaman dojo Wisnu kembali tenang dan hanya mereka berempat yang kemudian masuk kedalam dojo.
“hebat mas Wisnu ini. Betul-betul saya kagum dengan anda, mas Wis.” Kata Firdaus menepuk pundak Wisnu. “Juga bang Andar ini. Tangannya kuat loh, sampai tulang kering seorang karateka saja bisa kesakitan begitu.” Firdaus memuji Andar.
‘Ahh, bisa saja pak dokter ini. Itu sih belum seberapa, pak. Nih, mas Wisnu. Saya hajar dulu tidak merasa apa-apa. Jadi orang itu yang lembek tulangnya.” Uar Andar sambil tertawa.
Semuanya tertawa mendengar uajr Andar.
“Mas Wis, boleh saya tanya sesuatu?” Kata Firdaus terlihat wajahnya serius.
Wisnu melihat perubahan pada wajah Firdaus.
“Mau nanya apa, mas Fir?” tanya Wisnu.
“Tentang luka di badan mas Wisnu tempo hari. Itu bukan luka biasa, mas.” Ujar Firdaus.
Wisnu dan Andar saling pandang. Andar memberi isyarat untuk tidak bicara apa-apa.
“Ahh, itu sih memang saya kena tendangan dan pukulan kayu, mas Fir. Waktu itu dikampus ada serbuan beberapa orang preman dan kami berusaha untuk menghalaunya. Nah, disitu pundak saya kena pukul kayu. Patahannya rupanya kena kesebelah bawah dan mengenai tulang iga itu. Nggak ada yang lainnya, mas Fir?”
Firdaus menatap mata Wisnu tajam. Memang tidak ada kebohongan dari cerita Wisnu, karena memang dia pernah kena pukul balok kayu.
Firdaus melihat cahaya kejujuran dimata Wisnu.
“Jadi benar, ya. Mas Wisnu kena kayu?”
“Iya, mas Fir. Memangnya kenapa dengan luka saya kalau menurut mas Fir?”
“Iya mas. Luka itu bukan karena kayu kalau menurut saya. Tapi karena pukulan atau tendangan yang sangat kuat pernah menghantam area itu. Saya ini dokter, mas Wis. Jadi saya sedikit tau kalau ada darah yang menggumpal disitu. Boleh saya lihat bekas pengobatan itu?”
Wisnu membuka kaosnya dan memperlihatkan lukanya.
Badan Wisnu yang kecil tapi berotot dan mempunyai bentangan otot karena latihan keras terlihat melingkar dibadannya.
Firdaus memegang otot dibawah ketiaknya Wisnu. Wisnu agak mengeluh saat Firdaus memegang salah satu tulang iganya.
“Yang itu, mas Wis. Itu harus dicek. Takutnya ada retak iga.” Ujar Firdaus.
Wisnu kembali mengenakan kaos bajunya.
“Retak bagaimana, mas?”
“Saya belum bisa jawab sebelum melihat hasil foto rontgennya, mas. Tapi kemungkinan otot yang melindungi tulang iga bisa jadi sobek atau tertarik kearah yang salah.” Jawab Firdaus.
Wisnu terdiam. Andar dan Juhri tertunduk lesu mendengar penjelasan Firdaus.
“Jadi saya harap suatu hari mas Wisnu memaksakan dirilah untuk dironsen di rumah sakit. Biar saya yang menerangkannya nanti. Sekarang terpaksa obat oles herbal yang saya beri dulu, harus dipakai lagi, mas.” Firdaus menatap Wisnu serius. “Dan saya harap juga mengurangi setiap pertarungan seperti tadi. Takutnya sobek ototnya semakin melebar.”
Wisnu tertawa.
“Sebenarnya mana mau, mas Fir, berkelahi setiap saat seperti itu. Tapi apa boleh buat, situasi yang menjadikan saya harus seperti itu.” Lanjut Wisnu.
Firdaus tertawa dan menepuk pundaknya Wisnu.
“Tapi saya yakin. Mas Wisnu memang ototnya kuat dan terlatih. Saya hanya mengingatkan saja.” Tambah Firdaus.
“Iya, mas Fir. Saya akan perhatikan nasihat seorang dokter.” Ujar Wisnu sambil tertawa.
Tidak terasa waktu semakin siang. Firdaus yang sudah bertemu dan bicara dengan Wisnu dan temannya, bahkan sudah ikut berkelahi juga, pamit untuk pulang kerumahnya.
“Sering main kesini, mas. Siapa tau bisa mengajar anak-anak dojo ini dengan jurus lain dari judo yang selaras dengan karate atau silat disini.” Wisnu mengajak Firdaus.
“Iya mas Wis. Saya usahakan waktunya ada. Saya mau kalau untuk itu. Serius!” Kata Firdaus mengangkat tangannya.
Wisnu tertawa dan bersalaman dengan Firdaus disebelah mobilnya.
Tidak lama kemudian mobil Firdaus meluncur menuju jalan raya yang kemudian idak terlihat lagi setelah ada dibelokan jalan.
Mata Wisnu yang dari tadi menatap mobilnya Firdaus sampai menghilang, kembali sekelebat melihat mobil hitam dengan nomor yang sudah dia ingat berlalu dihadapannya menuju jalan raya juga.
Wisnu masuk kembali kedalam.
Tiga bulan berlalu. Wisnu sudah ada di ruangan sidang sarjananya. Dihadapannya ada tiga orang dosen penguji yang menatapnya setiap jawaban yang Wisnu sampaikan disidang sarjananya.
Hampir dua jam Wisnu dicecar dengan banyak pertanyaan terkait disiplin ilmunya. Wisnu keluar dari ruang sidang dengan lunglai.
“Gimana Wis? Aman?” Kosasih langsung memegang tangannya Wisnu dan membawanya duduk dikursi tunggu mahasiswa.
“Nggak tau, Kos. Tapi mudah-mudahan saja lulus.” Wisnu menjawab sekenanya.
“Sabar Wis, optimislah.” Ujar Kosasih menghibur temannya.
Wisnu tersenyum dan menepuk pundak Kosasih. “Makasih Kos.”
Menjelang sore hari, tata usaha keluar. Wisnu melihat Tuti tersenyum melihatnya. Dia menempelkan selembar kertas didinding papan pengumuman kampus.
Semua orang berlarian kesana kecuali Wisnu yang duduk terkulai, wajahnya menunduk. Tuti melihat Wisnu seperti itu datang menghampirinya.
“Kenapa kamu nggak lhat pengumuman, mas?” Tanya Tuti duduk disebelahnya.
“Ahh, agak pesimis, bu Tuti. Tadi ada yang salah paham menerima penjelasan saya.” Ujar Wisnu menatap Tuti.
“Tapi kamu benar kan menjelaskannya?” Ujar Tuti malah tertawa.
Wisnu menoleh mendengar Tuti tertawa. Kemudian Wisnu berdiri dan tertawa sambil menunjuk Tuti.
“Ahh, jadi saya lulus, ya bu?” Kata Wisnu.
Tuti menganggukan kepalanya. “Selamat ya, mas Wis.” Ujarnya mengulurkan tangannya. Wisnu mengguncang-guncangkan tangannya Tuti.
“Terimakasih, bu, terimakasih.” Jawab Wisnu. Ada tetesan airmata menetes diwajahnya.
Lalu Wisnu berlari ketengah halaman menghampiri Kosasih dan Markus yang sedang bercanda.
“Kos, Mar, gua lulus!” Ujarnya dan langsung menerkam tubuh Markus yang tinggi besar.
Ketiga teman dekat itu saling berpelukan ditengah lapang. Semua orang yang mengenal Wisnu berhamburan menghampiri mereka bertiga dan masing-masing berebut menyalami tangannya Wisnu. Bahkan ada sebagian dari temannya Wisnu mengambil air seember dan menyiramkannya ke badan Wisnu.
Semua tampak bahagia dan ada juga yang terharu.
Wisnu berjalan tertunduk saat memasuki dojonya. Tangan menenteng dasi dan jas bekas ujian skripsinya.
Andar dan Juhri yang sudah siap-siap mau mengerjai Wisnu tidak jadi. Mereka menghampiri Wisnu.
“Gimana, mas Wis? Lulus kan?” Tanya Andar memegang pundaknya Wisnu. Juhri yang memegang ember berisi air dan beberapa telur menyimpannya kembali.
Wisnu tidak menjawab tapi berjalan menuju kedekat yang ada ember air berisi telur. Wisnu duduk didekatnya.
Wisnu menghela nafas panjang. Andar menepuk-nepuk pundak Wisnu, dia berpikir kalau Wisnu tidak lulus ujian skripsinya.
“Sabar ya, mas Wis. Terimalah dengan tabah dan sabar, mungkin ini hanya ujian buat kita semua.” Matanya terlihat meneteskan airmata. Wisnu menatap sahabatnya. Juhri juga yang jongkok dekat Andar ikut meneteskan airmatanya.
Dalam hati Wisnu tertawa sekaligus bangga mempunyai sahabat seperti mereka.
Mereka berdua menunduk seperti ikut bersedih.
Pelan-pelan tangan Wisnu meraih ember yang berisi air dan mengangkatnya keatas lalu mengguyur kepala mereka berdua sambil tertawa.
Tentu saja Andar dan Juhri kaget, namun terlambat mereka sudah basah kuyup dengan air. Badan mereka juga terkena telur yang pecah bersamaan dengan guyuran air. Wisnu tertawa dan berlari menjauh dari mereka.
“Awas ya, mas.” Ujar Andar yang baru mengerti kalau Wisnu sebenarnya lulus ujian skripsi.
Andar dan Juhri mengejar dan menangkap Wisnu. Setelah Wisnu berhasil ditangkap, dari dalam keluar anak didik karatenya Wisnu keluar membawa selang air dan menyemprotkannya kepada mereka bertiga.
Ketiganya berpelukan dan saling menangis haru. Cita-cita Wisnu dan harapan mereka menjadi kenyataan. Anak-anak yang mau belajar karate sore itu berlarian keluar memeluk guru karatenya. Ada yang sambil tertawa dan yang naik kepundak mereka bertiga. Sungguh hari itu Wisnu sukacita.