CHAPTER #23
DUA PULUH TIGA
Bayu berjalan lunglai. Hari itu Bayu bekerja dikantor terlalu diforsir. Selain membantu Intan, juga dia bekerja di bengkel membantu Udin karena juru lasnya tidak masuk kerja.
“Lemes banget, Bay?” Tanya Krisna duduk disamping Bayu.
“Saya capek banget hari ini, Kris. Banyak kerjaan diluar yang aku selesaikan. Begitu kembali kekantor, pak Udin minta tolong mengelas mobil karena juru lasnya tidak masuk. Coba, gimana nggak capek.”
“Sudah, anggap saja latihan kekuatan tubuh.” Ujar Krisna. “Nih, aku bawa makanan. Tadi dijalan saya beli.” Ujarnya menyerahkan sebuah bungkusan ketangan Bayu.
Didalam bungkusan itu Bayu melihat ada minuman vitamin dan sepotong roti. Tidak berpikir dua kali Bayu langsung membuka minuman dan melahap rotinya.
Krisna tersenyum melihat sahabatnya terlihat memang lapar karena kecapekan.
“Pelan-pelan, Bay, nanti keselek, loh?” Ujar Krisna menepuk pundaknya Bayu.
Bayu hanya bisa mengangguk. Mulutnya penuh dengan roti yang dimakannya.
Hanya dalam waktu singkat semua makanan dan minuman masuk kedalam perutnya Bayu.
“Ihh, kemaruk banget makannya.” Ujar Krisna.
“Lapar, Kris. Maaf!” Jawab Bayu. “Aku sebenarnya akan keruang dosen mau nyerahin bab 2 skripsi saya. Tapi nggak tau pak Dimas masih ada, apa sudah pulang.”
“Emh, pak Dimas nggak masuk hari ini, Bay. Ada kawinan saudaranya di Bandung. Paling 2 hari lagi baru masuk kampus. Nah, sekarang kita ngobrol saja, ya.”
Bayu tertawa. Tangannya langsung menggandeng bahu Krisna dan membawanya duduk dikursi halaman kampus.
“Bay, gimana si Dito? Apa pembagiannya merata? Bukan dia sudah janji sama kamu, tentang pembagian itu?”
“Boro-boro, Kris. Sudah tiga bulan saya kerja sama dia, tapi nggak sepeserpun dia ngasih.”
“Kamu tau rumahnya Dito?”
“Tau. Saya pernah kesana dua kali dari kantor.”
“Ahh, kebetulan. Kita kerjain saja malam ini. Gimana?” Tanya Krisna. Wajahnya terlihat serius.
“Kamu serius, Kris?” Tanya Bayu.
“Iya, saya serius. Orang itu kurang ajar. Daripada aku laporin ke Charles terus malah dia yang ngacak-ngacak, mendingan kita deh, rada sopan.”
Bayu tertawa ngakak. Hatinya juga memang sudah merasa berat terus mengikuti kemauan Dito.
Kedua orang bersahabat itu kemudian beranjak dari kampus menuju kerumahnya Dito salah satu direktur di perusahaan Bayu.
Dito jam 9 malam sudah duduk diteras rumahnya. Ada secangkir minuman disebelahnya sedangkan tangannya sibuk meraih makanan dan memakannya.
Saat mau menyuap makanan yang kesekian, tiba-tiba lampu rumahnya mati dan teras rumahnya menjadi gelap.
Dito kaget dan berusaha untuk bangkit dan berjalan ke saklar listrik utamanya yang ada di samping rumahnya.
“Kemana nih orang-orang dirumah?” Pikir benaknya Dito.
Dirasa sudah sampai ditempat saklar listrik berada, tangannya langsung menjulur keatas untuk menyalakannya kembali.
Sebuah tangan kekar menangkap tangannya dan menepiskannya kebawah.
“Jangan coba-coba kalau kamu tidak ingin mati sekarang.” Kata Krisna menatap wajahnya Dito dikegelapan rumahnya.
“Siapa kamu? Jangan macam-macam ya?” Kata Dito membentak Krisna.
“Gua orangnya Charles. Kamu mau apa?”
Mendengar nama Charles disebut, Dito kaget setengah mati.
“Memangnya ada apa kamu kesini?”
“Kamu ingat perjanjian dengan salah satu petarung kamu?”
“Ingat, terus kenapa? Saya selalu menepati janji saya.” Jawab Dito.
“Bohong kamu, Dito. Anak itu tak pernah kamu beri jerih payahnya. Semua uangnya kamu makan sendiri, kan?”
“Ahh, nggak. Bohong itu.” Dito mulai gemetaran badannya. Tangannya berpegangan kepada dinding samping rumahnya.
Krisna menggerakan tangannya. Tamparannya mengena wajahnya Dito.
Dito mencoba menghindar dari situ. Kakinya bergerak mau lari. Tapi kakinya Krisna lebih cepat menggaetnya. Badan Ditopun jatuh telungkup di lantai rumahnya.
“Bener, bang. Saya tidak bohong. Saya membaginya.” Jawab Dito.
“Masih belum ngaku juga kau, Dito.” Ada tendangan pelan dikakinya.
Dito melihat kearah orang yang menendang kakinya. Bayu sudah berdiri disamping badannya yang terlentang.
“Bayu! Awas ya kamu Bayu. Aku bilangin sama atasan kamu tentang ini.” Jawab Dito.
“Sudahlah Dito. Laporin saja. Lagi pula saya sudah bosen tinggal dan bekerja disitu. Tapi kalau saya laporin kamu ke Intan, apa kira-kira yang akan terjadi dengan kamu, Dito?” Ujar Bayu sambil menenteng badannya Dito keteras rumah.
Mendengar Bayu mengancam akan melaporkannya kepada Intan, hati Dito menjadi ciut. Dia akan dipecat dari perusahaan itu bila sampai ke ayahnya Intan.
“Jangan! Jangan, Bay. Aku mohon, jangan.” Dito menunduk dan memohon kepada Bayu. Sementara itu Krisna kembali menyalakan listriknya. Semua lampu kembali menyala.
“Oke. Tapi mana bagian saya selama tiga bulan yang tidak pernah kamu kasih?”
“Ada, Bay. Ada. Kamu jangan takut, uangnya ada.” Jawab Dito mencoba mengakali Bayu. Untungnya Bayu dan Krisna tidak segampang yang Dito pikirkan. “Saya bawa dulu kedalam, ya?”
“Nggak perlu. Kamu bisa transfer uang kamu dengan telepon itu.” Bayu menunjuk telepon Dito yang tergeletak di meja.
“Saya ada uang tunai, Bay. Jadi mendingan uang itu.” Ujar Dito.
Bayu tidak menjawab tapi memukul perutnya Dito saat dia mencba berdiri didepan Bayu. Terdengar erangan sakit. Dito memegang perutnya yang ditinju Bayu.
“Itu pelan, Dito. Sekarang kamu mau coba yang agak keras?” Ujar Bayu mengancam. “Cepat!”
Dito mengangkat teleponnya dan menekan-nekan sesuatu.
“Sudah, Bay. Sudah aku transfer kamu ke rekening yang kamu kasih dulu.”
“Coba saya lihat, Dito?” Bayu menganbil telepon dari tangannya Dito. Ada sederetan angka-angka yang ditransfer ke rekening Bayu. “Apa-apaan ini? Kamu pikir saya tidak tau berapa besarnya uang yang kamu peroleh tiga bulan ini?” Bayu mengayunkan tangannya kemuka Dito. Dito kembali mengerang. Dito memegang wajahnya.
“Iya, Bay. Sebentar, jangan pukul saya lagi.” Jawab Dito.
Dito kemudian mengulangi lagi mentransfer uang ke rekening Dito.
“Sudah Bay.” Jawabnya menyerahkan teleponnya ke Bayu.
Bayu melihatnya, tersenyum.
“Oke cukup.” Bayu memberi isyarat kepada Krisna untuk keluar dari rumah Dito.
Kesempatan ini tidak disia-siakan Dito untuk meraih kursi yang ada didekatnya. Tapi Bayu lebih mengerti akan tindakan Dito. Badan Bayu bergerak cepat dan memutarkan kakinya kearah d**a Dito. Kakinya telak menghajar d**a Dito. Meskipun tidak keras tapi bisa membuat Dito jatuh dan menimpa meja teras. Badannya langsung terlentang.
Bayu mendekati Dito yang mengaduh dan mengusap dadanya.
“Ingat, Sekali lagi berlaku curang, saya akan melaporkan kamu kepada bu Intan, besok.” Jawab Bayu.
Dito tidak bisa menjawabnya. Badannya terasa sakit karena jatuh kelantai.
Bayu dan Krisna melangkah menuju pagar rumah dan berlalu dari rumahnya Dito.
Kedua sahabat itu berjalan menuju jalan besar untuk naik angkutan umum.
Sebuah mobil hitam berlalu disamping Bayu dan Krisna yang sedang berjalan. Hanya Bayu yang memperhatikan mobil itu. Bayu hanya tersenyum melihatnya.
Keduanya naik taksi setelah tidak lama menunggunya.
Keesokan harinya di perusahaan Bayu tampak stafnya Dito sedang berkumpul diruangan kerja. Intan sedang terlihat bertanya kepada salah satu pegawainya.
“Bagaimana kejadiannya pak Dito disantroni garong dirumahnya?”
“Saya tidak begitu tau, bu Intan. Saya hanya dengar dari pak Dito tadi saat masuk keruangannya dan bicara dengan keamanan disini. Katanya semalam dia didatangi garong. Itu saja, bu.” Ujarnya.
“ya, sudah. Mana Bayu? Kamu lihat Bayu pagi ini?”
“Itu Bayu, bu Intan.” Sahut pegawai lainnya yang melihat Bayu masuk keruanan kerja.
“Bayu!” Teriak Intan. “Cepat sini! Kita keruangan pak Dito sekarang.” Ajak Intan.
“Ada apa ya, bu?”
“Katanya semalam dia didatangi garong dirumahnya. Saya ingin tau ceritanya.”
“Tapi bu Intan bisa sendiri kesana, kan?”
“Jadi kamu menolak, nih?” Tanya Intan. Matanya sedikit melotot.
“Emh, iya deh bu. Sebentar saya simpan ransel saya dulu.” Kata Bayu mengalah.
Bayu dan Intan berjalan menuju ruang kerjanya Dito.
Setelah menegetuk pintu, Intan dan Bayu masuk kedalam.
Dito kaget bukan kepalang. Bayu datang bersama Intan. Dia pikir pasti Bayu sudah melaporkannya. Wajah Dito langsung pucat.
“Ceritanya bagaimana, pak Dito?” Tanya Intan duduk dihadapan Dito. Bayu tidak duduk dikursi tapi berdiri disebelah Intan.
Dito merasa senang, ternyata Bayu tidak melaporkan kegiatannya diluar.
“Sebenarnya tidak masalah, bu Intan. Karena garong itu tidak sempat mengambil apa-apa dari rumah saya.” Jawab Dito menatap Bayu.
Bayu hanya tersenyum dan memegang dagunya. Dito mengerti isyarat itu.
“Tapi mata pak Dito kelihatan lebam begitu. Apa garong itu memukul pak Dito?”
“Iya sih bu, karena saya akan melawan saat dia menyuruh saya diam.” Kata Dito menambahkan.
“Pak Dito sudah lapor polisi?” Tanya Bayu. Intan menoleh kesebelah dan melihat Bayu yang memegang dagunya.
“Duduk, Bay.” Ujar Intan.
“Nggak usah, bu. Biar saya berdiri saja.” Jawab Bayu.
“Saya nggak lapor, mas Bayu. Buat apa saya lapor? Lagipula lampu rumah saya kan gelap, jadi tidak tau mukanya seperti apa.” Jawab Dito. “Terus garong itu tidak berhasil juga membawa barang-barang saya.”
“Begitu ya, pak. Saya pikir bapak benar tidak melaporkan garong itu. Bisa-bisa malah bapak sendiri yang dilaporkan garong itu.” Jawab Bayu.
“Kok, begitu sih, Bay?” Tanya Intan.
“Iya lah, bu Intan. Pertama darimana pak Dito tau kalau garong itu dia, padahal rumah sedang gelap. Kedua, tidak ada barang-barang yang dirampok. Jelas si garong bisa mengelak dan pak Dito jadi dianggap mencemarkan nama baik dan memberi informasi bohong. Begitu kan pikiran, bapak.” Bayu tersenyum.
Dito menganggukan kepalanya.
“Betul itu, mas Bayu. Saya berpikiran persis seperti mas Bayu bilang barusan.”
Bayu diam.
“Kalau begitu syukurlah semuanya bukan masalah besar.” Jawab Intan. “Sudah kita keruangan saja, Bay.” Ajak Intan yang sudah berdiri mengajak Bayu keluar dari ruangan Dito.
Dito berdiri juga dan tersenyum kepada Intan. Bayu berjalan dibelakangnya Intan. Sebelum keluar Bayu menoleh kearah Dito. Dito menundukan wajahnya.
Bayu dan Intan berjalan menuju keruang kerjanya masing-masing.
Sore harinya Bayu tiba di kampusnya.
Krisna yang sudah menunggu kedatangan Bayu, duduk di tangga masuk kampus.
“Sedang nunggu siapa, mas Kris?” Tanya keamanan kampus yang heran melihat Krisna sendirian duduk di tangga.
“Nunggu Bayu, pak. Bapak sudah melihat Bayu sore ini?”
“Belum, mas Kris. Sebentar lagi palingan.” Jawabnya. “Saya masuk dulu, ya mas.”
“Iya, pak.” Jawab Krisna pendek.
Tidak lama Krisna melihat Bayu sedang berjalan kearah kampus. Badannya tampak semangat.
“Darimana saja, sih Bay? Dari tadi saya nunggu kamu.” Tanya Krisna.
“Biasa Kris, tadi saya dipanggil bu Intan untuk melihat pak Dito.”
“Hah! Terus dia cerita tentang kita?” Tanya Krisna.
“Nggaklah Kris. Mana mau dia dipecat dari perusahaan itu. Memangnya mau miskin dia?” Jawab Bayu duduk di tangga sebelahnya Krisna. “Saya hanya melihat dia saja. Dan dia mengerti. Katanya semalam dia didatangi oleh garong. Tapi garong itu tidak berhasil membawa barang-barangnya.” Bayu tertawa.
“Kan kamu garongnya, Bay.” Jawab Krisna terkekeh.
“Iya. Terus saya tanya, apa bapak lihat wajah orangnya? Ehh, dia jawab, nggak mas Bay. Lampunya gelap.”
Krisnat tambah kencang tertawanya mendengar cerita Bayu.
“Ya sudah, itu saja Kris. Intinya dia tidak cerita apa-apa sama Intan.” Jawab Bayu.
“Syukurlah.” Jawab Krisna. “Makan, yuk. Aku lapar.” Ajaknya.
“Makan apa, Kris? Dan dimana?” Ujar Bayu.
“Saya ingin makan sate dipinggir jalan itu.” Kata Krisna menunjukan jarinya kearah tukang sate yang tidak jauh dari kampus.
“Iya, sama. Saya juga lapar dari siang lupa makan.” Bayu berdiri dan menarik tangan sahabatnya.
Keduanya berjalan menuju tukang sate.
“Tapi, bukannya ada sesi malam ini?” Tanya Bayu.
“Iya, nanti jam 8 malam. Sekarang baru jam setengah tujuh. Ada waktu kan?” Krisna menoleh kearah Bayu. “Awas Bay!” Teriak Krisna sambil menarik tangannya Bayu.
Bayu refleks meloncat kesamping Krisna.
Sebuah motor hampir menyerempet Bayu.
“Wey! Hati-hati!” Teriak Bayu.
Dua orang yang sedang menaiki motor itu berhenti dari motornya. Kemudian mereka meminggirkan motornya dipinggir jalan.
“Apa kamu bilan?” Tanyanya menghampiri Bayu dan Krisna.
“Hati-hati, bang. Barusan hampir saja nyerempet saya.” Jawab Bayu berhenti berjalan.
“Terus kamu mau apa sekarang?” Orang itu malah balik bertanya.
“Nggak mau apa-apa, bang. Saya hanya mengingatkan saja. Kalau naik motor hati-hati.” Jawab Bayu.
“Wah, nantang nih orang. Sikat saja Dre.” Ujar temannya yang ada dibelakang yang dipanggi ‘Dre’.
‘Sudahlah, bang. Kami hanya mau makan sate, kok. Bukan mau berkelahi.” Krisna menimpali.
“Lu, jangan ikut-ikutan. Ini urusan gua sama dia.” Ujar orang itu.
“Ahh, kalian ini memang cari penyakit saja.” Krisna mulai kesal. Sebelum orang itu bicara lagi dengan Krisna, tendangan kaki Krisna sudah mengena perut orang itu. Karena perutnya kesakitan, orang itu membungkuk. Krisna kembali mengayunkan tangannya dan berhasil menampar wajahnya. Orang itu langsung jatuh terduduk. Kedua tangannya memegang perut dan mengusap-usap pipinya.
Temannya yang dari tadi diam melangkah maju mendekati Krisna. Tapi sebelum sampai kehadapan Krisna, badannya sudah terhuyung kebelakang sambil memegang kakinya.
Bayu sambil berjalan menyabet kaki orang itu.
‘Sudah, ahh. Aku capek dan lapar. Tinggalin saja mereka Kris.”
“Iya, dasar orang ini, bikin suasana kisruh melulu.” Jawab Krisna mengejar Bayu. Ketika melewati orang yang kakinya disabet Bayu, tangan Krisna berkelebat lagi. Kali ini sasarannya kepala orang itu. Krisna tidak memukul tapi menjitak kepalanya dengan jari tengah tangan kirinya.
Orang itu persis seperti orang yang sedang latihan senam. Satu tangan memegang kaki, satu tangannya lagi memegang kepalanya.
Bayu dan Krisna tertawa meninggalkan mereka.
“Sate dua pak.” Pinta Bayu. “Sopnya satu saja.”
“Nasinya juga satu, kan?” Ada suara didalam tenda tukang sate itu. Orang-orang disitu pada tertawa.
Bayu dan Krisna menarik nafas kesal.
“Kenapa, ya hari ini kita bernasib sial melulu? Beranten saja sepanjang hari.” Kata Bayu dan langsung duduk bangku gerobak sate.
“Ahh, sudahlah Bay. Anggap saja latihan sabar.” Jawab Krisna.
Belum selesai Krisna menutup mulutnya, sepotong gorengan sudah melayang kearahnya. Krisna hanya menundukan kepalanya. Gorengan itupun meleset.
Bayu yang sejak dari pagi gusar, berdiri dan menghampiri 3 orang yang duduk dibangku.
“Kalian yang barusan melempar gorenagan kearah teman gua?” Tanya Bayu berdiri. Tangannya memegang meja makan tukang sate itu. Krisna ikut berdiri melihat gelagat tidak baik dari Bayu.
Penjual sate itu sudah merasa kalau ini pasti akan bermasalah. Dia beranjak dari situ dan berdiri diluar sambil mengipas satenya. Sementara temannya sedang mengambil sop yang masih panas tampaknya.
Tiga orang itu berdiri dan masing-masing mengeluarkan senjata tajam yang mereka simpan di punggungnya.
Bayu dan Krisna saling pandang. Bayu memberi isyarat dengan jari tangannya untuk menendang meja yang mereka duduki. Keduanya mengangguk.
Dengan cepat kaki mereka masing-masing berkelebat menendang meja tempat makan sate mereka. Meja berderak dan mendorong ketiganya hingga terjatuh dan tertindih meja makan itu.
Salah seorang penjual sate itu datang menghampiri Bayu membawa sop yang masih agak panas. Tangan Bayu mengambil mangkok sop yang dibawanya, kemudian duduk kembali dimeja Bayu dan Krisna, membiarkan mereka yang berteriak-teriak.