Chapter #24 - DUA PULUH EMPAT

2339 Words
CHAPTER #24   DUA PULUH EMPAT               Bayu mulai menyuap sop dan sate yang sudah ada dihadapannya. Krisna malahan sudah beberapa suap dimakannya.             Sebuah bangku kayu melayang dari depan mereka keatas. Bayu dan krisna saling pandang kemudian keluar dari bangku duduknya. Sambil mengunyah makanan Bayu menghampiri salah seorang yang sudah bisa melepaskan diri dari himpitan meja makan. Tanpa bicara kakinya Bayu melesat mau menghantam badannya orang itu. Tapi ternyata orang itu bosa menangkis serangan kaki Bayu, menahannya dengan kedua belah tangannya.             Kaki Bayu masih tertahan diatas. Tangan orang itu kemudian dia angkat keatas seolah akan menebas kakinya Bayu. Bayu kemudian menarik kakinya dengan cepat, sampai-sampai badan orang yang menahan kakinya jadi ikut terbawa kedepan.             Setengah miring badan Bayu. Tangannya meraih badan Krisna yang ada didekatnya. Kemudian dengan menumpu pada Krisna, Bayu memutar badannya sehingga kaki kirinya terangkat dan dengkulnya menghajar punggung orang itu. Orang itu menggerung badannya terdorong kedepan dan ambruk kembali menimpa meja yang tadi menghimpitnya.             Bunyi berderak meja penjual sate terdengar keras tertimpa badan orang itu.             Kedua temannya yang berhasil lolos dan sudah berdiri meloncat ketengah tenda penjual sate. Keduanya berteriak menakutkan. Tangan keduanya saling menyerang Bayu dan Krisna. Krisna yang kebetulan berada didepan Bayu dialah yang pertama kali yang menjadi sasaran salah seorang dari keduanya.             Krisna berkelit saat tangan orang itu mengincar kepalanya. Tangan kanan Krisna bergerak mau menghajar perut orang itu. Orang itu sigap memiringkan badannya seiring tangan kananya menyerang kembali. Kali ini Krisna kecolongan. Tangannya tidak sempat menangkis. Badan Krisna ambruk kebawah setelah menerima hantaman tangan kuat orang itu mengenai pelipis kirinya.             Bayu yang melihat Krisna jatuh berusaha akan membantunya karena orang itu tiba-tiba mencat keatas dan menggerakan kakinya untuk menginjak badan Krisna. Bayu melancarkan serangan tendangan lurus kearah kaki orang itu. Ajaran karate Wisnu dia praktekan disana. Kaki orang itu meleset kearah lain setelah terkena tendangan kaki Bayu.             Tapi Bayu tidak bisa mengelak dari tendangan orang satunya yang tadi menyerang Bayu saat menendang kaki temannya. Ada bunyi dari punggung Bayu yang terkena tendangan. Badannya langsung terdorong dan jatuh disebelah Krisna.             Bayu menoleh kearah Krisna sambil tersenyum. Krisna tertawa keras.             Keduanya saling berdiri menghadapi dua orang itu yang kelihatannya sedang membantu temannya berdiri yang jatuh menimpa meja penjual sate.             Bayu berdehem. Salah seorang yang membantu berdiri temannya terpaksa melepaskan tangannya karena kaki Bayu dengan tendangan melayang Muay Thainya sudah mendekati badannya. Dia memiringkan badannya kesebelah. Kaki Bayu meleset dari sasarannya. Tapi tangan kirinya yang menyerang bersamaan dengan kaki kanannya sudah mengenai wajah orang itu dari samping.             Orang itu mengeluarkan suara mengaduh. Wajahnya terdorong kesamping. Bayu yang sudah tanggung ada dihadapannya, mengayunkan kembali tangan kanannya mengincar wajah orang itu sementara dengkulnya diangkat dan mengenai perutnya lebih dulu. Orang itu agak menunduk namun tidak lama karena tangan kanannya Bayu sudah menghantam bagian wajahnya diatas pipinya. Orang itu ambruk dan pingsan.             Temannya yang satu juga tidak berhasil membantu temannya bangkit dari atas meja yang ambruk, harus menerima konsekwensinya. Kaki Krisna sudah mengenai bagian punggungnya. Dia menggerung kasakitan akibat tendangan kaki Krisna. Sambil menggerung badannya jadi menggeliat kebelakang dan bagian depannya tidak terlindungi.             Krisna melayangkan pukulan tangan kirinya kearah badan orang itu dan mengenai dagunya. Badan orang itu kemudian menggeloso dan jatuh menimpa temannya yang berusaha mau bangkit.             Ketiga orang itu saling mengerang kesakitan. Tapi Bayu dan Krisna membiarkan saja dan kembali kemeja makan penjual sate. Lalu mereka berdua meneruskan makannya.             Penjual sate yang melihat dan sudah mengenali keduanya tersenyum dan kelihatannya akan membantu ketiga orang yang masih ada dilantai tanah pinggir jalan.             Krisna menggelengkan kepalanya untuk tidak membantunya. Penjual itupun mengurungkan niatnya.             Cukup lama, ada sepuluh menitan mereka mengaduh dilantai. Ketiganya bangun dan duduk ditanah.             Mereka bertiga melihat kearah Bayu dan Krisna yang sedang meneruskan makannya. Lalu salah seorang dari mereka membantu temannya berdiri dan mau beranjak keluar dari tempat penjual sate itu.             “Hey, tunggu!” Teriak Bayu. “Sini, kamu!” Bayu mengangkat tangannya kearah mereka.             Dengan gontai dan memegang tempat dibadannya yang sakit, mereka mendekati Bayu dan Krisna.             “Enak saja pergi. Bayar dulu bekas makan kalian!” Kata Bayu membentak.             “Kami tidak punya uang, bang.” Ujar salah seorang dari mereka. “Kami lapar dan tadinya kami mau tidak bayar makanannya.”             Bayu tersenyum. Dia menghargai kejujuran mereka.             “bener itu?!” Tanya Krisna yang bisa merasakan kesulitan seperti mereka. “Coba keluarkan seluruh isi saku kalian.”             Mereka satu persatu merogoh semua saku yang ada dibadannya. Memang tidak ada satu senpun setelah Krisna memeriksa semuanya.             “Ya sudah. Bawa bangu disana dan duduk depan kita.” Ajak Krisna.             Bayu yang melihat mereka menjadi terenyuh juga hatinya.             “Bang! Pesan sate lagi untuk tiga orang ini. Jangan lupa sop dan nasinya, ya!” Teriak Bayu kepada penjual sate. Penjual satepun mengikuti apa yang disuruh oleh Bayu.             Tidak lama kemudian mereka berlima menikmati makanan yang sudah ada di meja.             Setelah selesai makannya dan berbincang sedikit, mereka berdiri untuk pamit dan meminta maaf pada Bayu dan Krisna.             “Iya. Saya dan teman saya juga minta maaf sudah menyakiti kalian. Dan saya harap kalian juga tidak dendam sama kami.” Ujar Bayu merogoh saku dan mengeluarkan dompetnya. “Ini ada sekedar uang untuk kalian bertiga. Bagi rata dan jangan sekali-kali lagi untuk menjarah, memalak orang. Itu tidak baik. Mendingan bicara terus terang, ya.” Beberapa lembar uang diberikan kepada mereka.             Mereka menerimanya dan menyalami Bayu dan Krisna. Mereka lalu keluar dari tenda penjual sate.             Bayu dan Krisna tersenyum puas dan merekapun bersalaman.             “Bang! Jadi berapa semuanya, termasuk barang-barang yang rusak ya.” Tanya Bayu.             “Biar saya yang ganti ya, Bay?” Kata Krisna.             “Nggak usahlah, Kris. Biar saya saja.”             “Ahh, saya saja deh.” Krisna memaksa.             “Gini saja. Kita bagi dua ya, biar adil?”             Krisna tertawa dan menganggukan kepalanya.             Penjual sate yang melihat Bayu dan Krisna seperti itu memuji dalam hatinya.             Bayu dan Krisna mengeluarkan sejumlah uang dari ransel kuliahnya masing-masing dan menyerahkan kepada penjual sate itu, dan berlalu dari tendanya.             Wisnu yang sekarang sudah menjadi sarjana. Hari ini di dojonya hari ini diadakan acara syukuran. Andar dan Juhri tampak sibuk mengatur dojo dibantu oleh sebagian anak didik karatenya Wisnu.             Undanganpun mulai berdatangan. Yang diundang adalah orang-orang terdekatnya, dan diantara undangan yang hadir, tampak para jagoan yang pernah dihadapi oleh Wisnu sehingga mereka akhirnya menjadi dekat dan bersahabat.             Tadinya acara syukuran berjalan dengan baik dan khidmat. Semua tamu ikut mendo’akan Wisnu agar menjadi orang yang berhasil dikemudian hari, tapi tiba-tiba menjadi ribut dan semuanya menjadi tegang.             Persoalannya adalah ada sekelompok orang yang datang ke dojonya Wisnu dan membuat keonaran. Orang itu petantang-petenteng di halaman dojo dan berteriak-teriak menyuruh Wisnu keluar.             Wisnu diikuti oleh para jagoan dan murid karatenya keluar dari dalam dojo. Wisnu melihat hampir dua puluh orang sudah berdiri di halaman dan semuanya memegang pentungan kayu. Wajah mereka kelihatannya tidak bersahabat.             Salah seorang yang mungkin pemimpinnya tertawa terbahak-bahak.             “Mana yang namanya Wisnu? Heh!” Teriaknya. Tangannya bertolak pinggang. Sementara disamping pinggang kirinya tergantung sebilah golok. Persis seperti seorang jagoan.             “Saya, bang.” Wisnu mendekat dan menganggukan kepalanya.             “Ohh, ente rupanya.” Orang itu menyombongkan dirinya. Memang orang ini badannya lebih tinggi dan lebih besar dari badannya Wisnu.             “Iya, bang. Maaf, ada apa ya ini?” Tanya Wisnu masih terdengar sopan. “Dan nama abang ini siapa, ya?”             “Gua Ramdani. Orang memanggil gua Dani. Gua datang kesini hanya ingin mengingatkan saja. Keramaian ini harus dihentikan sekarang juga.” Ujarnya.             “Kenapa memangnya, bang? Saya sudah dapat ijin dari pihak yang berwajib, RT, RW ada disini juga. Lalu apa masalahnya dengan abang?”             “Dengar ya Wisnu. Kamu tidak menghargai gua sebagai penguasa dan pelindung daerah ini. Seenaknya saja lu ngadain keriaan disini tanpa ijin gua.” Ujarnya.             “Penguasa dan pelindung, kata abang. Lalu bang Mahfud, bang Samsul apanya abang dong?” Tanya Wisnu.             “Gua kagak kenal oang itu. Dia ngaku-ngaku saja sama kamu.” Jawabnya angkuh.             “Jadi lu Dani, penguasa daerah ini?” Ada suara berat dan serak dari belakang Wisnu. Mahfud dan Samsul yang dulunya lawan Wisnu sekarang sudah mendukung bahkan menjadi sahabat baik Wisnu keluar dari belakang.             Dani terkejut. Dia mengenal kedua orang jagoan ini. Dani merasa sangat jauh dibanding kehebatan dan ketenaran nama besarnya dengan dua orang ini. Tapi hatinya merasa tenang karena dirinya banyak membawa anak buahnya komplit.             Mahfud dan Samsul maju kedepan dan berhadapan dengan Dani.             “Sekarang, lu mau apa?” Tanya Mahfud menaikan lengan bajunya.             “Kalau merasa kurang mampu dengan bang Mahfud? Sudah sama saya saja.” Ujar Samsul ikut melipat tangan baju kokonya.             Dani tertawa.             “Memangnya kalian sanggup menghadapi anak buah gua?” Ujarnya menoleh kebelakang melihat anak buahnya yang sudah bersiap dengan pentungan kayunya.             Giliran Mahfud dan Samsul yang tertawa geli mendengar Dani bicara sombong.             “Memangnya elu saja yang punya anak buah?” Ujar Mahfud. Tangannya diangkat keatas. Entah darimana tiba-tiba keluar dari sekeliling dojonya Wisnu anak buah Mahfud dari perguruannya.             “Ahh, abang sombong banget, bang Mahfud ini. Saya juga punya bang.” Kata Samsul sambil tertawa. Mahfudpun ikut tertawa.             Terdengar bunyi suitan dari mulutnya Samsul.             Sama seperti haknya anak buah Mahfud, anak buah Samsulpun pada keluar dan ikur mengepung anak buahnya Dani. Sekarang dojonya Wisnu semakin banyak orang.             Wisnu memutar otak agar tidak terjadi keributan di dojonya.             “Gimana, bang Dani? Masih mau meneruskan acaranya?” Pancing Wisnu. “Atau abang dan anak buahnya keluar dari dojo kami dan saya jamin tidak ada yang mencoleknya sedikitpun.” Tambah Wisnu.             “Memangnya gua dan anak buah takut menghadapi kalian?” Jawab Dani yang mulai ketar-ketir terdengar dari suaranya.             Mahfud, Samsul dan Wisnu tertawa.             “Begini saja, bang.” Kata Wisnu. “Bagaimana kalau urusan kita tidak melibatkan banyak orang.”             “Maksud elu, apa Wis?” Tanya Dani. “Lu pikir gua takut dengan kata dojo kami? Meskipun dojo ini punya kalian semua, gua nggak bakalan mundur, Wis.” Dani semakin sesumbar.             “Iya bang Dani. Dojo ini menjadi milik kami, bukan saya saja karena sudah terjalin persahabatan. Bukannya sombong bang, saya hanya ingin persoalan ini kita selesaikan saja sekarang tanpa ikut campur tangan orang lain, bagaimana, setuju?” Tanya Wisnu.             “Gua setuju, tapi apa yang lainnya tidak akan membokong gua dari belakang?” Tanya Dani.             “Saya, bang Mahfud, bang Samsul menjamin itu, selama anak buah abang juga bisa diatur.” Jawab Wisnu.             Setelah semuanya menyetujuinya, semua duduk melingkar kecuali teman dan sahabat Wisnu, para jagoan yang duduk dikursi yang sudah diatur Andar dan Juhri.             “Sekarang bang Dani mau main apa?” Tanya Wisnu.             “Gua hanya kenal dengan kehebatan silat. Dan gua sudah mempelajarinya hampir sepuluh tahun. Jadi mainan gua silat. Apa mainan elu, Wis?” Tanya Dani.             ‘Silat juga tidak apa-apa, bang.” Jawab Wisnu menoleh kepada Andar. Andar mengerti dan berlari masuk kedalam ruangan. Sebentar kemudian sudah kembali membawa baju dan celana pangsi silatnya Wisnu.             Wisnu menghampiri Andar dan bertukar pakaian disebelah pintu dojo.             Hanya sebentar Wisnu sudah keluar lagi dengan memakai baju silatnya.             “Jadi lu juga maen silat, Wis?” Tanya Dani. “Kembang mana yang akan lu mainkan.” Tanyanya.             “Apa saja bang. Saya mengenal sedikit-sedikit jenis kembang.” Ujar Wisnu tersenyum. “Mari silahkan, bang Dani.” Jawab Wisnu.             Tiba-tiba dari sampingnya berteriak anak didik karatenya. “Sensei!” teriaknya membungkukan sedikit badannya. Suaranya bergema memenuhi halaman dojo. Wisnu membalas dengan bungkukan juga dengan sikap karateka tapi berbaju pangsi silat.             Dari lingkaran luar berdiri semua murid Mahfud dan Samsul. “ Paman Guru!” Teriaknya menyilangkan tangannya didada masing-masing. Wisnu membalas semuanya dengan melakukan semua seperti yang mereka lakukan.             Wisnu kemudian berbalik kebelakang mengahdap Mahfud, Samsul dan lainnya lalu menghormat kepada mereka. Mereka juga memberikan hormat kepada Wisnu.             Dani menjadi ciut hatinya. Betapa murid dan para jagoan semuanya menghormati Wisnu sedemikian rupa.             Dani mencabut goloknya dan melemparkannya kepada anak buahnya.             Dani memasang kuda-kuda silatnya. Badannya yang kokoh dan tegap terlihat seperti sebuah tonggak dengan kuda-kuda kakinya.             Tangan kirinya terkembang dengan jari yang dilancipkan sementara tangan kanannya dikepalkan diatas tangan kirinya.             Wisnu melihat gerakan ringan Dani segera teringat kalau itu adalah salah satu jurus dari seni silat Utara. Wisnu kemudian memajukan kaki kanannya kedepan diikuti oleh tangan kanannya yang lurus memanjang. Sementara tangan kirinya memegang pinggul kirinya.             Dani melihat jurus kembang Cimande yang dimainkan Wisnu sepertinya mirip dengan yang pernah dipergunakan oleh lawannya dulu.             “Cimande? Wisnu bisa Cimande?” Bisik hatinya Dani. “Aku harus hati-hati.”             Dengan teriakan keras Wisnu menjejakan kaki kirinya ke tanah halaman dojonya. Terlihat tubuhnya melayang mendekati Dani.             Dani sangat kaget. Baru pertama kali dia melihat ada silat dengan menggunakan jurus seperti itu. Wisnu sebenarnya menggunakan gabungan jurus Muay Thai yang disebut dengan lompatan ‘gra-dode-tae’ atau tendangan loncat. Begitu mengena lawan jurusnya akan dikombinasikan dengan pukulan samping Cimandenya kearah lehernya.             Dani terkesiap kaget tau-tau dengkul Wisnu sudah menyentuh dadanya dan tangan kanannya sudah mengenai pelipis kirinya.             Tubuh Dani yang tinggi besar dan kokoh terjengkang kebelakang, tapi secepat itu juga Dani sudah bangkit kembali. Serangan pertama Wisnu sudah membuat Dani terjatuh, untungnya Dani kuat dan banyak ditempa oleh latihan.             Dani membetulkan posisi kuda-kuda kakinya. Dia mengangkat kaki kanannya keatas sedengkul, tangannya dipasang terbalik sejajar dadanya. Tangan kananya tertutup kebawah, sementara tangan kirinya terbuka keatas.             Wisnu berdecak kagum. Itu jurus andalan sebuah perguruan silat dimana dia pernah belajar kepada seorang guru silat di kampungnya.             Wisnu langsung melebarkan kakinya terbuka kurang lebih setengah meter badannya turun merendah meletakan beban tubuhnya ditengah-tengah. Tangan kanannya lurus kedepan, telapak tangannya terbuka. Sedangkan tangan kirinya sejajar dengan pinggang dan terkepal terbalik.             Dani yang tadinya akan melakukan serangan akhirnya, kembali menurunkan jurusnya, kemudian berdiri tegak dan menghormat kepada Wisnu. Tangannya didekap didadanya wajahnya menunduk. “Maafkan, saya.” Ujarnya sambil kembali mengangkat wajahnya.             Wisnupun menarik kembali jurusnya. Lalu Wisnu berdiri tegak dan ikut  melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Dani.             “Wisnu, apa hubungan lu dengan Haji Makmun?” Tanyanya.             Wisnu tersenyum. “Darimana abang tau, kong haji Makmun.” Tanya Wisnu.             “Itu jurus yang belum pernah gua bisa dari haji Makmun. Terlalu susah buat gua. Tapi gua lihat lu, ringan banget lu mainkan itu jurus.” Ujar Dani menghampiri Wisnu tangannya menjulur kedepan untuk mengajak salaman.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD