Chapter #25 - DUA PULUH LIMA

2388 Words
CHAPTER #25   DUA PULUH LIMA               Wisnu menyambut uluran tangan Dani. Merekapun bersalaman.             Semua yang ada disitu bertepuk tangan gembira dengan keputusan Wisnu dan Dani yang tidak jadi untuk bertarung. Semua anak didik karate Wisnu berteriak lagi seperti semula. Wisnu menoleh melihat Dani yang ada disebelahnya. Danipun mengerti maksud Wisnu lalu diapun membungkuk seperti mereka lakukan.             Para jagoan yang ada disana berdiri dan menyalami Dani yang kemudian mengajak Dani duduk diantara kursi mereka.             “Silahkan semuanya masuk.” Wisnu mempersilahkan semua yang ada dihalaman ikut masuk kedalam. Sebagian ada dihalaman dan sebagian ada didalam.             Hari itu memang hari yang sangat membahagiakan Wisnu dan para sahabatnya.             Sementara itu Firdaus yang masih penasaran dengan luka Wisnu di iganya sedang membuka buku-buku kesehatannya yang dulu dia pelajari di kedokteran.             Semua menunjukan bahwa kondisi itu merupakan luka dalam karena hantaman yang keras. Dalam buku dan pelajaran menerangkan semua gambar dan bentuk kemungkinan luka karena benda.             “Luka Wisnu seperti ini.” Gumam Firdaus. “Bentuknya tidak bulat sebuah benda tapi bentuknya gerigi seperti benda yang bergerigi. Kalau ukurannya seperti tulang-tulang tonjolan tangan.” Firdaus bicara sendiri. Firdaus menutup bukunya.             “Apa mungkin Wisnu salah seorang pelaku perkelahian bebas jalanan?” Benaknya dipenuhi dengan pertanyaan.             Firdaus memang dari dulu sejak sekolah SMA sudah terobsesi dengan pertarungan bebas jalanan. Dia sering mendengar cerita dari kakak kelasnya ataupun orang-orang yang sering nongkrong di warung sekolahnya.             “Ahh, mendingan saya ke dojonya saja sekarang. Akan kubuat dia mengaku. Siapa tau berhasil.”             Firdauspun bersiap untuk berangkat ke dojonya Wisnu.             Begitu sampai di dojo, Andar dan Juhri dibantu oleh anak didik karatenya Wisnu sedang membereskan bekas-bekas syukuran tadi. Tampak Wisnu masih duduk dengan beberapa kenalan dan jagoan yang belum pulang dari situ.             Firdauspun masuk kedalam.             “Hey, mas Fir!” Wisnu bangkit dan menghampiri Firdaus yang masuk dari pagar halaman dojonya.             “Mas Wis. Bekas apa ini? Kok, nggak ngundang saya, sih?” Tanya Firdaus menyambut tangannya Wisnu yang menyalaminya             “Itu mas Fir. Tadi ada syukuran dari teman-teman saya. Katanya syukur atas kelulusan saya jadi sarjana.” Wisnu terpaksa berbohong, karena memang tidak mengundang Firdaus. “Mari saya perkenalkan dengan yang lainnya.” Ajak Wisnu.             Firdaus menganggukan kepalanya berjalan disamping Wisnu.             “Abang-abang sekalian, kenalkan ini sahabat saya, dokter Firdaus.” Ujar Wisnu.             Semua jagoan disitu menyalami Firdaus.             Dalam pikiran Firdaus berpikir melihat temannya Wisnu semuanya seperti para ahli beladiri.             “Iya, benar mas Fir. Saya banyak belajar dari mereka ini. Mereka ini adalah ahli beladiri. Ada yang karate, silat dan lainnya.” Wisnu seperti membaca apa yang dipikirkan Firdaus.             Firdaus hanya tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalanya.             Akhirnya semua tenggelam dalam obrolannya masing-masing.             Sejam kemudian mereka berpamitan kepada Wisnu untuk pulang ke tempatnya masing-masing.             Wisnu mengajak masuk Firdaus masuk kedalam dojonya yang sudah kosong dan bersih kembali. Sementara anak didiknya sudah pada pulang meninggalkan dojonya.             Andar dan Juhri mempersiapkan makanan dan minuman untuk Wisnu dan Firdaus yang sudah duduk ditengah-tengah dojo.             “Apa yang membawa mas Firdaus sekarang ini?” Tanya Wisnu. “Sepertinya ada yang disembunyikan pada saya?”             “Apa maksud mas Wisnu ini?” Ujar Firdaus tersenyum. “Saya kesini hanya bersilaturahmi saja, mas.”             “Itu betul tapi ada sorot mata curiga kalau saya lihat. Apa itu mas Fir? Cerita saja jangan sungkan.”             Firdaus terdiam. Firdaus merasa malu kalau tujuannya dapat terbaca oleh Wisnu.             “Nggak perlu malu, mas. Kita ini meskipun baru kenal dibanding teman lainnya, tapi saya yakin akan ketulusan bertemannya mas Firdaus dengan saya.” Wisnu melanjutkan bicaranya.             “Iya mas Wis. Sebenarnya ada kepenasaran dalam hati saya. Kali ini saya harap mas Wisnu bisa bicara sejujurnya pada saya.” Ujarnya.             “Apa itu mas?”             “Begini mas.” Jawab Firdaus. Maka berceritalah Firdaus tentang kepenasarannya pada pertarungan bebas sejak dari SMA. Semenjak dia mengobati luka Wisnu kebetulan semua yang tampak persis semuanya sama dengan apa yang dipelajarinya di kedokteran ada pada luka Wisnu.              Andar dan Juhri yang sudah selesai membereskan semuanya, duduk disebelah mereka berdua.             Wisnu memandang kearah Andar. Andar melihat sebentar kemudian menundukan wajahnya.             “Begitu ya mas Fir. Kalau itu tujuan dan ceritanya, baiklah, saya akan mencoba bercerita kepada mas Firdaus. Tapi tentunya dengan syarat dan janji. Apa mas Fir bisa menyimpan rahasia cerita saya ini?”             Firdaus mengangguk. “Iya mas Wis. Saya janji dan percayalah saya juga seorang dokter dan akan merahasiakan apa yang terjadi pada pasiennya.”             “Tapi saya kan bukan pasien mas Fir.” Kata Wisnu tertawa.             Semuanya jadi ikut tertawa mendengar kata-kata Wisnu.             Mulailah Wisnu bercerita tentang asal mulanya dia ikut dengan pertarungan bebasnya serta alasan kenapa dia ikut terlibat didalamnya.             “Jadi begitu ceritanya mas Fir.” Ujar Wisnu menutup cerita tentangnya di pertarungan bebas. “Luka ini karena disebabkan oleh petarung yang mempelajari perkelahian Muay Thai. Saya waktu itu ceroboh sehingga tangan kanannya lolos dari perhatian saya.”             “Pantesan mas Wis. Waktu saya periksa luka di iga itu, saya agak heran. Kok, lukanya bergerigi begitu. Sampai dua hari saya mencari referensi buku tentang berbagai macam bentuk luka.” Firdaus tertawa.             “Nah, mas Fir. Semuanya sudah jelas. Sekarang saya mau tau, apa yang akan mas Fir lakukan setelah semuanya tau tentang saya?”             “Saya ingin melihat bagaimana bentuk pertarungan bebas itu, mas Wis.” Kata Firdaus langsung meminta agar dirinya bisa diajak ketempat pertarungan itu.             Wisnu tidak menjawab tapi dia menoleh kearah Andar.             “Mungkin bisa ya, pak dokter. Tapi ini juga mungkin, belum pasti bisanya. Saya akan mencoba menanyakan dulu pada teman di sana.” Andar mencoba menengahi kesulitan menjawabnya Wisnu.             Firdaus tersenyum. “Tidak apa-apa, bang Andar. Silahkan saja abang coba menghubungi teman abang itu.” Jawab Firdaus. “Sebenarnya hanya dengan alamat saja, saya sudah bisa dan mendapat jalan untuk menyaksikannya.”             “Itu betul, pak dokter. Tapi disana itu banyak pengawasnya. Bukan saya tidak yakin pak dokter bisa, tapi saya hanya akan mencoba biar semuanya berjalan lancar dan aman. Tanpa ada cekcok segala.” Jawab Andar.             “Iya bang. Saya akan menunggu itu. Mudah-mudahan tidak terlalu lama menunggunya.”             “Mudah-mudahan, pak dokter. Mas Wisnu itu ada pertarungan malam rabu ini, nah disaat itulah saya akan minta teman saya untuk dapat undangan hadir disana.”             “Iya, bang.” Jawab Firdaus mengangguk.             “Jadi sudah puas sekarang, mas Fir?” Tanya Wisnu.             Firdaus tertawa. “Belum, ahh! Kan saya belum melihat mas Wisnu bertarung.”             Wisnu dan semua yang ada disitu jadi tertawa.             Obrolan Firdaus dan Wisnu berlanjut sampai sore menjelang.             “Mas Wis, saya ada praktek sore ini. Saya mau pamit pulang, dan terimakasih buat ceritanya.” Firdaus berdiri diikuti yang lainnya juga.             “Iya mas Fir. Saya juga terimakasih. Dan maaf bukannya saya tidak mengundang mas Fir, tadi.” Kata Wisnu. “Tapi itu karena inisiatif teman-teman saya, soalnya.” Wisnu terpaksa lagi harus membohong.             “Iya mas Wis. Tidak masalah.” Jawab Firdaus. “Dan bang Andar, saya tunggu kabar baiknya.”             Semuanya berjalan kedepan dojo mengantar Firdaus pulang untuk praktek.             Sepanjang perjalanan pulang Firdaus hatinya tidak penasaran lagi. Sangkaannya kepad Wisnu terbukti jelas. Wisnu adalah salah seorang dari sekian banyak petarung bebas.             Disebuah belokan tidak jauh dari dojonya Wisnu, mobil Firdaus tiba-tiba mengerem dengan mendadak. Sebuah mobil warna hitam tiba-tiba menyalip didepan mobilnya.             Firdaus menarik nafas panjang.             Bunyi deritan rem mobil terdengar sampai ke dojonya Wisnu yang kebetulan mereka masih diluar setelah mengantar Firdaus.             “Suara apa itu, bang Andar?” Tanya Wisnu balik kembali melihat kearah bunyi rem mobil itu. “Loh, itu kan mobilnya mas Firdaus. Kita kesana bang!” Teriak Wisnu yang sudah berlari terlebih dulu.             Firdaus keluar dari mobilnya. Maksudnya ingin melihat apa mobil yang menyalipnya baik-baik saja.             Belum Firdaus sampai, dari dalam mobil sudah keluar 4 orang yang bertubuh kekar dan berotot.             Mereka langsung menghampiri Firdaus dan menyerangnya. Firdaus terkejut. Tapi dengan mudah menghindari serangan pertama orang-orang itu. Matanya Firdaus masih sempat melihat kedalam mobil itu dan dia melihat ada seorang laki-laki yang melihat keluar. Firdaus dengan gerakan palang-palang senamnya berhasil meloncat keatas mobilnya sendiri menghindari serangan dua orang yang tiba-tiba mau menyergapnya. Tanpa diketahui oleh Firdaus salah seorang dari penyerangnya itu menyergap badannya Firdaus dari belakang saat dia meloncat turun dari mobilnya. Firdaus berusaha meronta untuk melepaskannya. Tapi rupanya orang itu mengenali gaya judo yang dikuasai Firdaus. Firdaus berpikir bagaimana caranya melepaskan diri. Firdaus kemudian menarik tubuhnya agak membungkuk kemudian bergeser menyamping kearah kanan. Kaki kirinya dimasukan kedalam kearah belakang kedua kaki yang menyergap badannya, kemudian dengan cepat badannya Firdaus berdiri. Badan yang menyergap Firdaus jadi sedikit terangkat dan berusaha mundur, tapi tersangkut oleh kakinya Firdaus yang ada dibelakang kedua kakinya. Badannya jatuh terjerebab kebelakang dengan badannya Firdaus diatasnya. Karena terbanting tangannya agak melonggar, dan secepat itu pula sikutnya Firdaus menghajar perut orang itu dengan keras. Bunyi mengaduh terdengar cukup keras. Seorang penyerangnya yang kebetulan berada didekat Firdaus melayangkan tendangannya kearah badannya Firdaus. Tapi tidak mengenai sasarannya karena tiba-tiba badannya terdorong oleh sebuah tendangan yang keras melanda dadanya. Badannya cukup jauh terdorong sampai jatuh terlentang. Firdaus bangkit dari atas badan orang yang menyergapnya tadi. “Mas Wis!” Firdaus tersenyum. “Ada apa ini mas?” “Nanti saya cerita, mas. Sekarang bantu saya dulu, yah?” Wisnu tertawa. Badannya tiba-tiba melambung kedepan dan tangannya dikembangkan seperti seekor rajawali mau menangkap buruannya. Jurus Muay Thai yang diajari Bayu dipergunakan. Kaki Wisnu dilipat sehingga dengkulnya terlihat lancip. Orang yang diserang Wisnu membetulkan posisi tubuhnya. Tangan bersiap dengan terkepal akan menghajar dengkulnya Wisnu. Wisnu tersenyum, tipuan jurusnya merasa berhasil. Hampir tinggal sejengkal lagi dengkul Wisnu akan terhajar kepalan tangan orang itu, tiba-tiba kaki Wisnu terbentang menjulur kedepan dan mengenai dadanya. Sedangkan kedua tangannya yang terbentang melayang mengenai kepala orang itu dari kedua sisi. Wisnu berhasil memukulkan dua telapak tangannya. Orang itu terjajar kebelakanga dengan suara mengaduh. Tangannya memegang dadanya sementara satunya mengusap kepalanya yang terkena telapak tangan Wisnu tepat di telinganya. Orang itu jatuh terduduk. Kemudian dua orang yang masih kuat segera membantu kedua temannya yang sudah sempoyongan kedalam mobil dan kemudian melaju dengan kecepatan tinggi berlalu dari tempat itu. Wisnu dan Firdaus saling pandang kemudian berjalan menuju mobilnya. “Sebaiknya kita kerumah dulu, pak dokter.” Ujar Andar yang berdiri disebelah mobilnya Firdaus. Tangannya sudah membawa pentungan kayu. “Tidak usah, bang Andar. Saya harus pulang sekarang. Lagi pula arahnya beda dengan mereka. Saya belok kanan, tadi mereka lurus kejalan raya.” Jawab Firdaus. “Terimakasih mas Wis.” Wisnu menepuk pundak Firdaus. “Hati-hati dijalan mas Fir. Saya tidek mengerti asalnya kenapa mereka menyerang mas Firdaus. Mas tau?” “Nggak, mas Wis. Mereka menyerang saya setelah mobilnya menyalip saya.” Jawab Firdaus. “Mas Wis, tau?” Wisnu menganggukan kepalanya. Dia memang selalu dikuntit dan diperhatikan oleh mobil itu. “Nanti saja ceritanya, mas. Sekarang kan mas Firdaus kan harus praktek.” Firdaus tersenyum. Dari dalam mobilnya Firdaus melambaikan tangannya melaju belok kearah jalan dikanannya. Wisnu dan Andar pulang kembali ke dojonya. Setelah beberapa langkah dari tempat itu, Wisnu melihat ada benda berkilau yang berbentuk bulat kecil. Wisnu mengambilnya. “Ini mungkin kepunyaan mereka.” Bisik hatinya dan memasukan benda itu kedalam sakunya. Malam itu Bayu masih duduk di depan kampus. Ranselnya tergeletak disampingnya. “Rabu giliran kamu, Bay.” Suara Krisna membuyarkan lamunan Bayu. Krisna duduk disebelahnya. “Makan Bay.” Bayu menoleh dan mengambil salah satu makanan yang ada dibungkusan yang dibawa Krisna dan memakannya. “Kamu tau siapa lawan saya, Kris?” Tanya Bayu. “Belum, Bay. Tapi saya dapat bocoran dari orang terdekat bos, katanya orang ini jagoan. Dia menguasai dan mengenal beberapa jenis beladiri, bahkan Muay Thai seperti kamu.” Jawab Krisna. Bayu merenung. “Siapa ya orang ini?” Pikirannya melayang mencari tau lawannya nanti. “Menurut kata dia,katanya tingginya sepantaran kamu, badannya keras tapi luwes. Dia sudah berhasil mengalahkan sampai saat ini hampir sama dengan kamu, Bay. Selama 2 tahun ini dia sudah menghasilkan banyak uang untuk bos. Hati-hati saja, saya sarankan agar menambah latihan kamu.” Tutur Krisna menyimpan bungkusan disebelahnya Bayu. Bayu merogoh bungkusan itu dan mengambilnya satu kemudian mengunyahnya. “Ahh, sudahlah. Kan masih 2 hari lagi, Bay.” Ujar Krisna menepuk pundaknya Bayu. “Masuk yuk!” Ajaknya. Bayu bangkit dari duduknya dan berjalan disamping Krisna yang sudah berjalan menuju ruang kuliah. Wisnu malam itu sudah ada ditempat jualan nasi gorengnya Rohim. Kadang sambil meladeni pembeli atau membereskan barang-barang sehabis pembeli makan disitu, matanya selalu menoleh dan melihat dimana mobil hitam selalu parkir. Tapi malam itu tidak tampak kelihatannya. “Apa karena orang-orangnya tadi menyerang Firdaus masih terluka?” Bisik hati Wisnu. “Siapa sebenarnya mereka itu dan mau apa mereka itu sebenarnya?” “Mas Wisnu! Mas Wisnu melamun, ya?” Tanya Rohim mendekati Wisnu. “Ada apa, mas?” “Tidak ada apa-apa, pak. Hanya lagi bingung dan mikir saja. Setelah jadi sarjana ini saya harus ngapain lagi?” “Ya mencari pekerjaan yang layaklah mas. Yang pas sesuai dengan pendidikan mas Wisnu saat ini.” Jawab Rohim memegang pundaknya Wisnu. “Kamu jangan sampai terhalang dengan keadaan bapak, mas. Bapak masih bisa bekerja dan mencari nafkah meskipun hanya jadi tukang nasi goreng.” Tambahnya. “Emh, bukan itu maksud saya, pak Rohim. Kalau itu sih sudah ada dalam pikiran saya. Saya juga tidak akan pergi dari rumah bapak. Saya mencari kerjaan di Jakarta saja, kok pak. Tidak kemana-mana.” Jawab Wisnu. “Justru saya berpikir bagaimana cara saya mengucapkan terimakasih kepada bapak dan keluarga.” Rohim terharu mendengarnya, kemudian merangkul pundaknya Wisnu. “Kalau itu jangan dipikirkan mas Wis. Kami sudah menganggap mas Wisnu seperti keluarga sendiri.” Ujarnya. Wisnu tersenyum dan mengangguk. Dari arah bawah jalan tampak ada cahaya lampu mobil yang menyinari mereka berdua. Diseberang jalan tampak sebuah mobil hitam parkir. Mobil yang biasa mengawasi kebiasaan Wisnu. Tidak lama kemudian datang dua buah motor dan berhenti disebelah gerobak nasi gorengnya Rohim. Ada empat orang turun dari dua buah motor yang berhenti disitu. “Nasi goreng dua, dan mie goreng dua ya, bang.” Kata salah satu dari mereka. “Baik, pak.” Jawab Wisnu menyiapkan pesanan mereka. Seperempat jam kemudian, datang juga dua buah motor mendekat dan berhenti disebelah dua motor yang sudah parkir. Tiga orang masuk dan duduk di tenda nasi gorengnya Rohim. “nasi goreng, tiga ya, bang.” Ujar mereka duduk berhadapan dengan keempat orang yang pertama datang. “Baik, pak.” Jawab Rohim. Wisnu tidak menjawab karena matanya sibuk melihat ada sesuatu yang menonjol dipunggung mereka dibalik jaket yang dipakainya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD