CHAPTER #11
SEBELAS
Semua orang yang menyaksikan pertarungan Firdaus merasa aman sekarang karena Kirman ternyata bisa ditundukan Firdaus. Itu harapannya.
Firdaus lalu memilih salah satu angkutan umum yang akan membawanya pulang kerumah.
Ruang praktek dokter Ambardi sudah mulai ditutup sebagian sebagai tanda bahwa prakteknya akan selesai.
“Mas Firdaus. Tadi Bapak mencari mas. Katanya ada perlu soal kuliah.” Kata Nina suster yang membantu praktek ayahnya Firdaus.
“Soal kuliah? Memangnya kenapa katanya mbak?”
“Saya nggak tau. Hanya bapak ngedumel saja soal berkelahi kalau nggak salah dengar. Katanya mas Firdaus menghajar pacarnya orang yah?”
“Dih, itu mah sudah selesai. Sudah saling memaafkan mbak. Aneh ya. Kok bisa tau nomor telepon rumah saya?”
“Memangnya mas Firdaus tidak pernah member nomor telepon atau alamat rumah ke orang?”
“Kalau dikampus ya hanya kampus saja mbak yang menyimpan data saya. Kalau ke orang saya tidak pernah ah. Bahkan ke perempuan sekalipun.”
“Jadi siapa dong mas?”
“Nggak tau mbak Nin. Tapi biar nanti saya tanya Papah saja.” Jawab Firdaus berjalan masuk kedalam rumah.
Selesai mandi dan makan malam, Firdaus menghampiri ayahnya yang sedang duduk istirahat di kursi malasnya.
“Pah. Katanya tadi nyari Fir?”
“Oh iya Fir. Papah nyari karena tadi ada ibu-ibu, sorelah kira-kira sebelum buka praktek. Katanya anaknya dihajar di kampus. Katanya sih soal menggoda pacar anaknya atau apalah, Papah sendiri tidak begitu menanggapinya. Apa betul itu?”
“Nggaklah Pah. Fir mana mau ngeganggu pacaran orang. Kalau soal berantem sih iya karena orang itu memang mulai duluan menendang kursi Fir. Tapi kami sudah baikan kok, katanya itu salah paham saja.” Ujar Firdaus.
“Ya sudah kalau begitu masalahnya. Papah hanya ngasih tau saja. Terus gimana skripsi kamu Fir?”
“Dua bulan didepan juga Fir sudah maju sidang Pah. Skripsi sudah di approve dosen pembimbing kok.”
“Bagus kalau begitu. Ya sudah istirahat saja sekarang.”
“Iya Pah.” Balas Firdaus beranjak dari depan ayahnya.
Hampir sepanjang malam itu hati Firdaus gelisah dan susah sekali untuk tidur.
“Aneh! Kenapa susah tidur ya?” Gumam Firdaus berdiri dari tempat tidurnya dan berjalan keluar kamarnya.
Firdaus mengambil segelas air lalu duduk di ruang depan tempat praktek ayahnya.
Firdaus bangkit dari duduknya karena mendengar suara gedebuk kaki orang dihalaman rumahnya.
Firdaus mengintip dari balik gordeng.
Ada tiga orang yang sudah masuk halaman rumahnya dengan jalan meloncat dari dinding pagar batanya. Kelihatan mereka bertiga sedang berbisik-bisik seperti mengatur siasat. Ketiganya membawa senjata tajam dan kelihatannya akan merampok rumahnya dokter Ambardi.
“Maling rupanya. Ini barangkali penyebab tidak bisa tidur mala mini.” Firdaus bergumam lagi.
Firdaus lalu kebelakang dan mengambil sebuah tongkat rotan yang sering dipakai untuk latihan senamnya.
Tanpa banyak tanya Firdaus keluar dari rumah lewat samping.
Ketiga maling itu masih berdiri dihalaman.
“Hey! Ngapain sih ngobrol dirumah orang. Mau ngerampok ya kalian?” Teriak Firdaus menghampiri mereka.
Tentu saja ketiga orang yang berniat jahat itu kaget. Ketiga orang itu memakai topeng kain untuk menutup mukanya.
Serempak ketiganya menghunus golok yang dibawanya.
Firdaus meloncat ke halaman rumahnya yang cukup luas.
Kadung ketauan, salah seorang rampok itu langsung menyerang Firdaus dengan goloknya. Firdaus meloncat kesamping sambil menyabetkan rotannya dan mengenai golok rampok itu. Saking kerasnya sabetan rotan Firdaus membuat rampok itu mundur terdorong kebelakang karena menahan benturan golok dengan rotan.
Melihat temannya keteter seperti itu kedua rampok itu langsung menyerang bersamaan dan menyabetkan masing-masing goloknya. Firdaus dengan tenang menjejakan batang rotan itu ke lantai halaman dan tubuhnya melambung keatas melampaui kedua rampok itu. Badan Firdaus mendarat pas dibelakang keduanya.
Firdaus membalikan badannya seraya memukulkan balok rotannya kepunggung salah seorang rampok. Tentu saja rampok itu terjatuh dihajar punggungnya oleh Firdaus dan terlentang dihalaman sambil menggerung. Firdaus menarik rotannya kembali dan menusukan langsung kesebelahnya karena rampok pertama sudah bersiap akan menyerangnya kembali.
Tusukan rotan Firdaus langsung mengenai perutnya rampok itu hingga terdorong kebelakang dan kepalanya membentur sebuah batu yang ada disitu.
Saking kerasnya benturan kepalanya rampok itu langsung pingsan.
Rampok yang dihajar punggungnya sedang berusaha bangkit berdiri kembali dibantu oleh temannya. Keduanya sudah siap lagi akan melancarkan serangannya. Firdaus memutarkan rotannya diatas kepalanya. Gerakannya menyerupai gerakan latihan senam ring diatas papan kayu. Lalu tiba-tiba putarannya berhenti dan rotannya langsung digerakan kearah kedua orang itu. Sabetannya berhasil menyabet golok yang ada disalah satu tangan perampok itu hingga terpental. Dengan gerakan kilat Firdaus menyampok kaki perampok itu sambil rotannya diangkat keatas.
Karuan saja perampok itu terjatuh dengan kepala bagian belakangnya terlebih dulu mengenai tanah. Belum sadar kenapa dia terjatuh, perampok itu sudah mendapat pukulan rotan lagi di perut dan kakinya dan pingsan.
Tinggal satu perampok lagi yang masih berdiri disitu. Firdaus tidak membuang waktu langsung menyerang dengan rotannya kearah pundaknya. Perampok itu mencoba menahan dengan goloknya, Namun gagal karena goloknya tidak mampu menahan lajunya rotan yang dipukulkan oleh Firdaus. Goloknya ikut terpukul dan menghantam pundaknya.
Rampok itu menjerit kesakitan. Giliran pelipis kepalanya terhantam oleh rotan Firdaus yang dipukulkan kekepalanya setelah memukul pundaknya. Rampok itu terjatuh dan pingsan juga.
Firdaus lalu berdiri dan menarik nafas untuk mengembalikan kekuatannya.
Karena ribut dan mendengar ada yang berteriak kesakitan ayah dan ibunya Firdaus beserta sslah seorang pembantu laki-laki terbangun dan berlari menghampiri keluar rumah.
Begitu juga para tetangganya yang ada dikanan dan kirinya rumah Firdaus banyak yang keluar dengan membawa senjata tajam macam-macam.
Mereka melihat Firdaus dihalaman sedang mengikat tangan para perampok itu yang masih memakai topeng kainnya. Lalu mereka disenderkan menopang kebadannya mereka bertiga.
Firdaus yang suda selesai mengikat mereka lalu membuka pagar rumahnya yang digembok. Rupanya keamanan lingkungan perumahannya sudah ada disitu beserta tetangganya Firdaus.
Setelah dibuka masuklah mereka kehalaman rumah Firdaus.
“Siapa mereka itu mas Fir?” Tanya keamanan.
“Saya belum tau pak. Saya belum membuka kain penutup muka itu pak. Silakan buka saja.”
Pengamanan lingkungan itu lalu menghampiri mereka dan membuka kain penutup mukanya satu persatu.
“Hah! Orang ini dari kampung sebelah mas Fir.” Katanya. “Memang orang ini sering melakukan kejahatan dimana-mana.”
“Sudah serahin saja ke polisi mas.” Ujar tetangganya yang sudah pada ingin menghajar rampok-rampok itu.
“Kalau begitu silakan bapak keamanan yang membawanya ke kantor keamanan kompleks ya pak. Tapi jangan diapa-apain, kasihan.” Ujar Firdaus. “Lalu bapak lapor pada kepolisian biar diurus oleh pihak kepolisian.”
“Iya mas Fir. Saya permisi.” Sahut keamanan itu sambil membawa ketiga rampok yang berhasil digagalkan oleh Firdaus.
Firdaus kembali kedalam rumah dan membawa kedua orangtuanya masuk dan menyuruhnya untuk tidur kembali.
Dua bulan berlalu sejak kejadian rencana perampokan di rumah Firdaus.
Malam itu dirumah dokter Ambardi tampak banyak tetangganya yang datang. Dokter Ambardi mengadakan acara selamatan untuk kelulusan Firdaus yang lulus dari ujian skripsi kedokterannya dan berhasil menyandang gelar dokter.
Semua pasien yang sering datang berobat kepadanya tidak lupa juga diundang termasuk diantaranya keluarga Anwar yang sudah menjadi teman karibnya Firdaus.
Karena sifat Firdaus yang tidak membedakan orang maka Kirmanpun dan kawan-kawannya diundang secara pribadi olehnya.
Malam itu Kirman dan kawannya datang kerumah Firdaus. Semuanya berpakaian rapih dan bersih, tidak seperti mereka kalau sedang berada di terminal bayangan ujung aspal.
“Hey bang Kirman, selamat datang.” Ujar Firdaus menepuk pundaknya Kirman.
“Selamat ya mas Firdaus. Selamat menjadi dokter baru, semoga berhasil kedepannya.” Ujar Kirman menepuk pundak Firdaus juga.
“Mari duduk semuanya.” Ajak Firdaus.
Firdaus dan ayahnya merasa gembira terutama ayahnya Firdaus. Karena sebentar lagi anaknya akan mengikuti jejaknya menjadi dokter.
Sudah dua kali Wisnu menjadi pengantar barang dan sekarang yang ketiga kalinya. Untungnya si ibu yang pernah ditolongnya saat mobilnya mogok mengerti situasi dan waktu aktivitas Wisnu.
“Ugh, panasnya. Jadi haus deh.” Gumam Wisnu dan meminggirkan motor pinjamannya kesebuah warung makanan dipinggir jalan.
Wisnu duduk dibangku kayu yang ada diluar warung.
“Minta teh manis dingin ya bu.” Pinta Wisnu ke ibu warung.
“Ya mas. Mau makan nggak?” Tanyanya.
“Nggak bu. Saya hanya haus saja. Dan paling makanan manis saja yang ada disini.” Jawab Wisnu sambil mencomot kue jajanan pasar yang ada didepannya.
Tidak lama kemudian segelas teh manis dingin sudah ada didepannya. Wisnu meraih dan meneguknya. Rasa dingin masuk menyusuri tenggorokannya.
“Hmm, pasti nikmat rasanya teh manis dingin.” Kata seseorang dibelakang Wisnu. Wisnu menoleh kebelakang dan tampaklah wajah yang dikenalnya.
“Ehh, mas Bayu. Apa kabarnya mas?” Wisnu berdiri dari duduknya dan menyalami tangannya Bayu.
“Baik mas Wisnu. Ngapain mas disini?” Ujar Bayu duduk disamping Wisnu.
“Sudah ngantar barang mas barusan. Disebelah sana tuh.” Ujar Wisnu menunjukan arahnya.
“Ohh disitu. Nggak jauh dong dari rumah saya. Saya dijalan yang satunya mas Wis.”
“Tau gitu minumnya dirumah mas Bayu dong.” Wisnu tertawa.
Mereka berdua tenggelam dalam obrolannya.
Dari seberang jalan datanglah 6 orang yang menghampiri warung tempat mereka ngobrol.
“Mas Bayu.” Sapa orang itu.
“Ehh, bang Kirman. Duduk bang. Darimana?” Tanya Bayu.
“Dari pojokan lapang mas Bay. Ketiduran soalnya semalam kami keundangan di Sempor.”
“Di Sempor? Dirumah siapa bang? Nggak ngajak-ngajak deh. Pasti banyak makanan yah.” Tanya Bayu.
“Iyalah mas. Dia baru lulus dari kedokteran. Namanya Firdaus.”
“Firdaus? Sepertinya pernah dengar nama itu yah. Firdaus? Tapi dimana, lupa lagi saya.”
“Loh itu yang saya ceritakan tempo hari mas Bay. Orang yang berhasil menjatuhkan saya itu loh di terminal bayangan. Ingat nggak?”
“Oh iya, orang itu toh. Hebat yah. Sudah jago berkelahi, dokter pula dia. Oh iya lupa saya. Kenalkan ini mas Wisnu teman dan guru saya bang.” Kata Bayu.
Wisnu berdiri dan menyalami Kirman serta mengangkat tangannya kepada temannya Kirman.
“Mas Wisnu ini guru karate saya bang. Selain itu dia juga pelatih silat. Hebat nggak?”
“Wahh, kacau nih saya. Banyak jagoan rupanya disini.” Kata Kirman tertawa bercanda.
“Itu sih bisa-bisanya mas Bayu saja bang. Yang sebenarnya adalah guru Muay Thai saya. Percaya atau nggak saya bisa membuktikannya.” Balas Wisnu. “Sekarang saya yang kena giliran lupa mas Bay. Terimakasih untuk kirimannya. Semuanya sudah saya pasang dan rutin dipakai latihan anak-anak sebelum belajar jurus.”
“Iya mas Wis. Kebetulan ada rejeki yang cukup.” Ujar Bayu menepuk bahunya Wisnu. “Oh iya, bang Andar dan bang Juhri masih disana?”
“Iyalah mas. Mereka kan yang mengurus semua kebutuhan dan pemelihara perguruan. Sudah begitu dia juga membantu membetulkan murid kita yang jurusnya salah di kampus saya.”
“Hebat ya bang Andar.”
“Sebentar mas Bay. Maksudnya Andar jagoan seberang jembatan serong? Dan Juhri jalan Ambar?” Tanya Kirman sambil matanya melotot.
“Iya bang Kirman. Mereka itu sekarang dibawah asuhan mas Wisnu dan jadi pengurus perguruan karatenya mas Wisnu.” Bayu menjelaskan.
“Gila si Andar bisa tunduk juga yah sama mas Wisnu. Juga Juhri.” Kirman garuk-garuk kepalanya.
“Makanya bang Kirman. Mas Wisnu tuh bukan orang sembarangan.” Jawab Bayu.
“Ahh, sudahlah mas Bay. Itu terlalu dibesar-besarkan bang Kirman. Jangan dipercaya. Tapi saya malahan penasaran dengan teman bang Kirman, Firdaus. Sebab saya juga punya teman yang kuliah dikedokteran di blok A namanya Firdaus juga.” Kata Wisnu. “Apa Firdaus itu kali ya?”
“Iya mas Wis. Kuliahnya di blok A.” Jawab Kirman.
“Kenal dimana dengan Firdaus, mas Wis?” Tanya Bayu.
“Waktu itu ada penodong diangkutan kami yang tujuannya akan ke ujung aspal ini. Lalu Firdaus berhasil mengamankannya. Kebetulan saya ada didalam angkutan itu.”
“Ohh, jadi waktu itu mas Wisnu dan mas Firdaus yang ada diangkutan itu. Pantesan si Jojo sama Manta bisa ditangkap polisi. Mereka itu anak buah saya dulu mas Wis.” Kata Kirman. “Setelah saya duel sama Firdaus dan saya kalah. Saya berjanji mundur dari pekerjaan seperti itu.” Kirman menjelaskan.
“Yahh, dunia memang sempit ya bang.” Ujar Bayu tertawa. “Jadi muter deh pertemanan kita ini. Andar dan Juhri teman bang Kirman. Saya, mas Wisnu berteman eh Firdaus temannya mas Wisnu. Nah, bang Kirman taunya temanan sama Firdaus. Apa nggak bikin bingung coba.”
Semua orang yang ada disitu tertawa mendengar penjelasan Bayu.
Siang yang bahagia bagi mereka. Hari minggu itu dilewati Wisnu dengan pengalaman yang baru. Wisnu yang baru pamit pulang ke mereka memacu motornya ke rumahnya, rumah singgah sementara di Rohim.
Sementara itu Firdaus sedang beres-beres di tempat yang akan dijadikan praktek dokternya. Tempatnya tidak terlalu jauh dari praktek ayahnya tapi berbeda kecamatan.
Firdaus buka praktek dokternya sengaja mendekati pemukiman perkampungan dengan harapan dapat membantu kesulitan mereka untuk berobat.
Setelah dua hari membereskan segalanya Firdaus menempelkan papan nama dokternya didepan rumah yang dibeli ayahnya itu.
Saat sedang menempelkan papan nama dokternya ada segerombolan orang mendatanginya. Rupanya warga yang berasal dari perkampungan.
“Pak dokter! Kok sendirian saja? Boleh kami bantu?” Teriak salah seorang diantara mereka.
“Ehh, iya pak. Boleh pak. Silakan masuk bapak-bapak, ibu-ibu.” Ujar Firdaus mempersilahkan mereka masuk kehalaman tempat prakteknya.
“Saya Parmin, ketua dusun disini pak dokter.” Ujarnya menyalami Firdaus.
“Saya Firdaus, pak Parmin. Senang saya berkenalan dengan bapak.”
Semua akhirnya bersalaman dan duduk di halaman praktek dokternya Firdaus.
Saat sedang berkumpul dan berbincang dari kejauhan ada 3 orang berpakaian seperti jawara datang juga menghampiri tempatnya Firdaus. Tapi kelihatannya kurang bersahabat.
“Siapa yang punya ini tempat?” Teriaknya.
Tentu saja Firdaus dan kepala dusun berdiri.
“Saya pak. Saya Firdaus dan ini kepala dusun Parmin.” Jawab Firdaus mengangguk. “Ada yang bisa saya bantu pak?”
“Kagak perlu basa-basi deh. Lu tau siapa gua?”
“Nggak pak, maaf bapak siapa?” Tanya Firdaus sopan.
“Gua Boneng dan ini kawan gua Sukron dan Teja. Gua dukun obat disini. Semua orang kampong kalau sakit datang ketempat gua.”
“Ohh, pak Boneng. Iya pak mohon maaf. Saya tidak tau.”
“Makanya kalau mau buka praktek berobat itu bilang dulu sama gua. Lu kan pendatang baru, jangan asal selonong saja dong.” Boneng diikuti dua orangnya masuk kedalam halaman rumah Firdaus.
“Kalau ijin sih sudah pak Boneng. Tapi saya minta ijinnya ke kesehatan, kekepolisian, kelurahan dan pihak yang terkait lainnya. Jadi bukan dan tidak ke pak Boneng.” Firdaus mencoba menerangkannya.
“Gua nggak perlu tau soal itu. Sekarang mendingan turunin itu papan nama. Lu nggak boleh praktek di wilayah gua.”
“Kalau saya maksa gimana pak Boneng. Lagian bukan haknya bapak melarang saya praktek.”
“Jadi lu nantang gua?” Ujar Boneng memegang gagang goloknya.
“Oh tidak pak Boneng. Mana berani saya menantang bapak. Tapi saya tidak mau menurunkan papan nama saya. Karena ijin saya sudah jelas dari pemerintah.”
Tidak banyak bicara lagi Boneng maju kedepan seperti hendak menangkap kerah baju kaosnya Firdaus. Firdaus hanya mundur sedikit dan mengelak kesamping. Serangan Bonengpun tidak berhasil.
Firdaus tenang saja berjalan kearah teras rumahnya dan mengambil rotan yang ada disitu.
“Maaf semuanya. Saya harus menghadapi orang ini dulu.” Kata Firdaus sambil merapatkan telapak tangannya didadanya.
Setelah selsai bicara lalu dia berhadapan dengan Boneng yang sudah memasang kuda-kuda silatnya.
Firdaus hanya berdiri tegak saja waktu Boneng melesat kehadapan Firdaus untuk melancarkan serangannya.