CHAPTER #12
DUA BELAS
Tangannya Boneng melayang menuju rahangnya Firdaus karena ingin menundukan secepat mungkin. Firdaus menjejakan kakinya dan tubuhnya melambung keatas dengan bertumpu pada rotan yang dia pegang. Kakinya terbuka dan memutar untuk menghantam kepalanya Boneng. Boneng menundukan kepalanya dan serangan kaki Firdaus menendang angin. Namun itu hanyalah gerakan tipuan saja. Begitu kaki Firdaus menginjak tanah lagi, kaki kirinya bergerak keatas agak menyerong dan menghantam dadanya Boneng. Boneng terdorong kebelakang dan jatuh terlentang.
Kedua orang anak buahnya yang dari tadi diam saja, sekarang mereka mencabut golok yang dibawa-bawanya. Lalu mereka serempak menyerang Firdaus dengan menghembatkan goloknya masing-masing.
Firdaus mundur selangkah dan memegang rotannya lurus seperutnya. Lalu mengayunkan kekanan dan kekiri. Terdengar suara benturan golok disabet rotan. Salah seorang dari mereka merangsek maju dan menusukan goloknya kearah badan Firdaus.
Firdaus memutarkan rotannya menyamping dengan maksud akan memukul kembali tangannya penyerang yang memegang golok. Begitu kena goloknya langsung terjatuh ke lantai. Firdaus melanjutkan serangan rotannya dengan memutar rotannya dan memukulkannya dari atas ke bawah. Tujuan Firdaus adalah melumpuhkan orang ini. Sasaran rotannya diarahkan ke pundak orang itu. Begitu kena pundaknya orang itu langsung menggerung dan terduduk kesakitan sambil tangannya memegang pundak. Belum sempat menarik nafasnya rotan Firdaus sudah menghantam samping kepalanya. Orang itu langsung pingsan ditempat.
Anak buah Boneng yang satunya menyerang kembali kali ini sambil melompat menyabetkan goloknya. Semua orang yang melihatnya berteriak tertahan.
Firdaus memutar badannya. Rotan yang dipegangnya bergerak disodokan kearah perut penyerang yang sedang meloncat dan mengenai tepat diperutnya. Orang itu tidak sampai ke tempat Firdaus berdiri karena perutnya tertahan rotan. Malahan tubuhnya langsung jatuh kebawah dengan pantatnya terlebih dulu. Dia jatuh terduduk. Secepat itu pula Firdaus melayangkan rotannya dan berhasil mengenai kepala orang itu.
Boneng yang melihat langsung anak buahnya dijatuhkan Firdaus dengan mudah, amarahnya semakin menjadi-jadi. Lalu dia menghunus goloknya dan melakukan serangan kilat sambil berteriak.
Kali ini Firdaus benar-benar berdiri dan tidak bergerak. Tangan kanannya memegang rotan dan tangan kirinya disamping badannya.
Boneng mengayunkan goloknya seperti akan menebas Firdaus lurus dari depan. Belum sampai goloknya ke sasaran, Firdaus sudah menghilang dari hadapannya. Badan Firdaus sudah mencelat dan berada dibelakang badannya Boneng. Kemudian Firdaus menusukan rotannya ke punggung Boneng dan memukul tangannya yang sedang memegang golok. Golok Boneng terpental dan diapun limbung karena punggungnya disodok rotan Firdaus.
Melihat kesempatan itu Firdaus melepaskan rotannya dan meloncat ke arah Boneng. Badannya menempel dan menangkap badannya Boneng. Lalu dengan bantuan pinggul sampingnya Firdaus mengangkat badan Boneng ke atas dan membantingnya.
Ada suara gedebuk yang keras menghantam lantai. Sesaat kemudian terlihat Boneng sudah tergeletak tidak bergerak lagi karena pingsan.
Semua yang hadir disitu segera menghampiri Firdaus dan rebut bertanya tentang keadaannya.
“Bagaimana pak dokter tidak apa-apa?”
“Saya baik-baik saja bapak-bapak, ibu-ibu sekalian. Dan mohon maaf semuanya harus menyaksikan kejadian ini.” Kata Firdaus malahan dia yang minta maaf.
“Tidak apa-apa pak dokter. Orang ini malahan reseh. Suka membuat suasana kacau saja.” Ujar Parmin, Ketua dusun. “Saudara sekalian kita ikat saja orang ini dan kita bawa ke kantor polisi saja. Yuk tolong bantu saya.”
Semua laki-laki yang hadir disitu segera memegang ketiga orang itu yang kelihatannya mulai sadar. Mereka mengikat tangannya dan digelandang keluar dari halaman rumah praktek Firdaus.
Firdaus lalu meneruskan acaranya untuk membuka praktek pertama kalinya.
Baru seminggu Firdaus membuka praktek dokternya. Kabar kebaikan dan murahnya ongkos pemeriksaan kesehatan Firdaus sudah menyebar kemana-mana. Sudah banyak orang yang datang dan diperiksa disana apabila merasa sakit.
Dokter Marwan yang sudah melakukan praktek jauh sebelum Firdaus buka praktek disana merasa heran karena setiap hari pasiennya berkurang.
“Kenapa pasien saya semakin lama semakin berkurang ya? Ada apa ini?” Pikir dokter Marwan pada suatu hari. “Aneh ini.”
Dokter lalu memanggil pembantu rumah tangganya untuk menyelidiki apa alasannya kenapa pasiennya berkurang.
“Siti! Siti kemari sebentar!” Teriaknya.
“Iya dok. Ada apa ya?” Siti menghampiri dokter Marwan.
“Kamu lihat kan Siti pasien saya berkurang setiap harinya? Kamu tau kenapa nggak?” Tanya Marwan.
“Tidak dok. Tapi kalau setiap hari makin berkurang saya tau, dok.” Jawab Siti.
“Nah itu kamu tau. Coba sekarang kamu pelan-pelan cari tau. Kenapa pasien itu berkurang, ngerti kan maksud saya?”
“Iya dok. Saya coba cari tau.” Jawab Siti yang sekaligus menjadi juru catat pasiennya dokter Marwan.
Kebetulan sore itu ada beberapa orang yang datang hendak berobat kepada dokter Marwan. Mereka adalah langganan rutin dokter Marwan apabila ada keluhan kesehatannya.
“Selamat sore mbak Siti.” Sapa seorang ibu.
“Ehh, bu Sofi. Silakan duduk bu. Sama siapa ibu datang?” Tanya Siti.
“Sendiri saja mbak. Diantar sopir saya. Mbak Siti saya mau daftar ya?”
“Iya bu Sofi. Apa keluhannya sekarang bu?” Siti mempersiapkan kartu periksa Sofi yang sudah banyak catatannya disana.
“Ini mbak. Sekarang saya agak tidak enak perut. Perut saya kembung dan agak susah bernafas. Terus buang airnya jadi susah juga. Mual juga.” Ujarnya.
Siti mencatat semuanya dilembar periksa khusus Sofi.
“Lagi sepi ya mbak?” Tanya Sofi.
“Iya bu. Sudah dua minggu ini pasien sepi. Tapi bagus itu tandanya pada sehat semuanya.” Kata Siti tersenyum.
“Tapi nggak juga kok mbak. Barusan saya lewat jalan dipinggiran komplek, dekat kali itu yang diatasnya ada perkampungan penduduk, disana malah ramai mbak. Sampai kejalan pasiennya.”
“Sebelah mana bu Sofi?”
“Agak jauh sih dari sini. Ada sekitar tiga kilometeran sih. Tapi ya gitu lah mbak, kebanyakan orang-orang dari perkampungan sepertinya. Kalau dari kompleknya ada sih tapi tidak sebanyak dari perkampungan.” Sofi menjelaskan apa yang dilihatnya.
“Iya, iya bu. Jadi disebelah perkampungan itu ya?”
“Iya mbak Siti.”
“Itu praktek dokter bu?”
“Iyalah mbak. Ada papan namanya kok. Kalau tidak salah namanya dokter Firdaus.”
“Iya bu Sofi. Oh iya, silakan masuk bu. Pasien pertama tadi sudah keluar.” Kata Siti sambil membawa catatannya ke ruang periksa dokter Marwan.
Menjelang tengah malam pasien dokter Marwan sudah habis. Hanya ada tujuh orang pasien yang datang berobat kepadanya.
Siti yang mendapatkan informasi tentang Firdaus segera menghampiri dokter Marwan.
“Dokter. Rupanya benar sekarang dokter punya saingan dokter juga dijalan samping komplek yang diatasnya ada perkampungan itu loh, dok.” Ujar Siti.
“Saingan dan dokter? Dapar kabar dari siapa kamu Siti?”
“Tadi dari bu Sofi dok. Kebetulan dia lewat belakangdengan sopirnya dan melihat kerumunan orang-orang berobat disana katanya.”
“Wah, kurang ajar dokter itu. Tidak tau kalau disini ada praktek dokter juga. Pantesan menjadi sepi pasien saya, rupanya kesana yah.” Kata Marwan kesal mendengar informasi dari Siti.
“Terus apa yang akan dokter lakukan sekarang?” Tanya Siti.
“Belum tau. Saya akan coba seminggu lagi untuk melihat perkembangannya.”
Tanpa sepengetahuan Siti pembantunya, dokter Marwan malam itu keluar dan menuju sebuah tempat dimana para preman dan penganguran berkumpul.
“Selamat malam semua!” Sapa dokter Marwan.
“Selamat malam. Cari siapa ya pak?” Tanya seseorang yang berdiri dan menghampiri Marwan.
“Ada bang Tanu? Saya nyari bang Tanu.”
“Ohh Tanu. Ada pak. Sebentar saya panggil.”
Tidak lama kemudian seorang laki-laki muda dan berotot keluar dari dalam rumah.
“Ya! Bapak nyari saya? Ada apa?” tanya Tanu.
“Saya dapat kabar dari Boneng kalau ada keperluan apa dikampung ini katanya bisa menghubungi Tanu. Begitu.”
“Ohh Boneng. Bukannya di bui dia pak?” Tanya Tanu.
“Wahh, saya tidak tau kalau soal itu. Saya mendapat kabar itu sudah lama kok mas. Ada sekitar setengah tahun yang lalu.”
“Iya pak. Maaf pak, bapak siapa?” Ujar Tanu mendekat kearah Marwan.
“Saya dokter Marwan yang praktek di blok Merapi.”
“Oh iya saya tau itu. Saya tau rumah bapak. Terus apa keperluan bapak sampai mencari saya?”
“Saya ada pekerjaan buat mas.” Kata Marwan sudah kepalang tanggung.
Lalu keduanya berjalan dan berdiri diluar pagar tempat itu.
Marwan menceritakan maksudnya yang ingin mengganggu prakteknya Firdaus dan kalau bisa bahkan mengusirnya dari situ agar semua pasiennya kembali.
“Jadi begitu mas Tanu. Tapi ingat saya jangan dibawa-bawa. Mas melakukannya untuk sendiri. Itu alasannya kalau ada apa-apa. Bagimana mas Tanu menerima pekerjaan ini?” Tanya Marwan.
“Saya terima pak Marwan. Tapi karena saya akan membawa dua orang teman, biayanya jadi agak mahal pak. Bagaimana bapak bisa memenuhinya?”
“Berapa ongkosnya mas?”
Tanu kemudian membisikan sesuatu ketelinga Marwan.
“Oke. Saya bisa memenuhinya. Dan ini sebagai uang mukanya sedikit. Sisanya apabila pekerjaannya sudah selesai. Bagaimana setuju?”
“Setuju pak.” Tanu menerima amplop yang disodorkan Marwan.
Marwanpun berlalu dari situ dengan mobilnya sesudah selesai bicara dengan Tanu.
Waktu seminggu berlalu dengan cepat. Pasiennya Firdaus bukannya berkurang malahan membludak bahkan sampai mengantri dijalanan segala sekarang ini.
Sedangkan praktek dokter Marwan malah hampir tidak ada.
Malam minggu ini Firdaus sudah hampir selesai prakteknya. Pasiennya hanya tinggal 3 orang lagi.
Tanu ditemani oleh dua orangnya mendatangi tempat prakteknya Firdaus.
Begitu datang mereka langsung mengobrak-abrik tempat prakteknya Firdaus hingga berantakan.
Novi asistennya berlari kedalam ruang periksa Firdaus yang sedang memeriksa pasiennya yang sakit.
“Dok! Dok. Ada orang yang mengobrak-abrik tempat kita. Cepat keluar dulu dok. Biar saya yang mengurusi disini.” Kata Novi yang cemas kelihatannya.
Firdaus keluar dari ruang prakteknya dan melangkah menuju keluar.
“Hey stop! Ada apa ini bapak-bapak?” Tanya Firdaus berdiri dihadapan mereka. Mereka mundur dan berkumpul dihalaman.
“Lu siapa?” Tanya Tanu.
“Saya Firdaus. Dokter disini.”
“Kebetulan! Gua Tanu. Gua hanya mau nyampein pesan saja kalau kita tidak suka lu buka praktek di kampung ini.”
“Loh, kenapa? Masyarakat sini suka saya buka praktek disini? Polisi dan pihak berwenang mengijinkan saya buka praktek disini? Jadi apa urusannya dengan bapak?” Kata Firdaus berjalan mendekati mereka.
Firdaus memperhatikan sekelilingnya lebih dulu. Tongkat rotan tampak ada disebelah pohon mangganya.
“Novi! Sini sebentar.” Teriak Firdaus.
“Ya dok!” Teriak Novi tapi tidak keluar dari dalam rumah.
“Telepon kepolisian. Bilang disini ada pengganggu, gitu yah!”
“Iya dok.” Teriak Novi lagi.
“Nah, bapak dengar saya sudah minta asisten saya menelpon polisi. Bapak tinggal pilih. Tinggal disini atau silakan bapak-bapak pergi dari sini?”
Tanu dan temannya tidak menjawab malahan meraba punggungnya dan mencabut pisau belati besar seperti golok. Firdaus yang melihat suasana bertambah tidak baik segera menuju pohon mangga disebelahnya dan mengambil rotan alat untuk latihan senamnya.
Seorang anak buah Tanu tiba-tiba berlari dan menusukan belati besarnya kearah badannya Firdaus.
Firdaus tidak kaget tapi dengan gesit dia meloncat kearah batang pohon mangganya dan menjejakan kakinya hingga badannya melambung keatas. Sambil berputar Firdaus membabatkan tongkat rotannya dan mengenai sebelah tangannya anak buah Tanu yang akan menusuknya.
Orang itu terjatuh bergulingan sambil memegang pangkal tangannya sebelah bahunya. Dia menggerung kesakitan dan tidak buru-buru bangkit.
Firdaus yang sudah bersiap lagi kali ini dia langsung menyerang Tanu.
Karena rasa capek dan kesal karena diganggu akibatnya amarah Firdaus keluar dan dilampiaskan kepada mereka.
Firdaus meloncat keatas sambil menyabetkan tongkatnya dari atas kearah Tanu. Tanu gesit menghindar sambil menyabetkan pisau belatinya ke arah rotan. Lalu kaki Tanu ditendangkan kesamping untuk menghajar badannya Firdaus.
Firdaus baru agak kaget kali ini. Ternyata Tanu mengerti apa yang akan dia lakukan. Firdaus memutarkan badannya sehingga menjadi lebih dekat dengan Tanu setelah menghindar dari tendangan sampingnya Tanu. Kemudian tangan kirinya Firdaus bergerak cepat meninju dari bawah keatas dengan maksud memukul dagunya Tanu. Tanu mengelak dengan memiringkan badannya tapi pisau belatinya tetap bergerak mengejar Firdaus kearah perutnya.
Firdaus mundur dua langkah untuk menghindari sabetan belatinya. Pukulannya ditarik kembali. Dengan gerakan senam lantai kaki Firdaus mencoba menyabet kakinya Tanu. Tanu meloncat keatas. Justru itulah yang ditunggu oleh Firdaus. Tidak meninggalkan kesempatan Firdaus menusukan tongkat rotannya kearah d**a Tanu dan berhasil mengenainya. Tanu terjatuh karena dadanya terkena sodokan tongkat rotannya Firdaus.
Anak buahnya yang satu berteriak dan meloncat kearah Firdaus yang badannya masih dibawah. Belati ditangannya diayunkan menuju badannya Firdaus. Firdaus mengayunkan tongkatnya kearah badan orang itu. Tapi karena badan Firdaus sudah lebih tinggi karena mau berdiri, sasarannyapun jadi berobah. Yang kena bukan badannya tapi malahan kepala orang itu yang terhajar tongkat rotannya Firdaus. Karuan saja orang itu langsung pingsan sebelum badannya menyentuh lantai halaman.
Tanu yang sudah berdiri dan masih merasa sakitnya tusukan rotan didadanya berusaha akan membokong Firdaus yang sedang keadaan miring badannya dan membelakangi Tanu. Dia menusukan belatinya kepunggung Firdaus.
Mendengar ada yang melangkah disampingnya Firdaus memutarkan badannya. Tongkat rotannya dikepit oleh tangannya dan diputar setinggi dadanya. Tanu yang tidak menyangka Firdaus akan memutarkan badannya langsung, pelipis kepalanya langsung terkena telak oleh putaran tongkat rotannya Firdaus. Tanu mengaduh. Badannya menjadi limbung kemudian jatuh berdebam kelantai.
Firdaus berdiri tegak.
Tidak lama setelah selesai perkelahiannya, mobil patrolipun datang ketempat Firdaus. Mereka melihat ada tiga orang yang sedang mengaduh dengan memegang masing-masing bagiannya yang terpukul oleh tongkat rotannya Firdaus.
Firdaus mendekati Tanu yang sudah bangun dan sedang diborgol oleh polisi.
“Pak! Siapa yang menyuruh bapak melakukan ini?” Tanya Firdaus.
Tanu terdiam ingat pembicaraannya dengan Marwan tempo hari untuk tidak bilang apabila terjadi apa-apa.
“Oke. Nggak masalah kalau memang ingin menanggung sendiri.” Ujar Firdaus berjalan menjauh dari mereka.
Kemudian polisi itu menggelandang mereka dari rumahnya Firdaus dan menaikannya kekendaraan patroli mereka.
Sebelum mobil berjalan Tanu berkata pada Firdaus. “Marwan! Dokter Marwan yang menyuruh saya.” Teriaknya dari mobil patroli polisi.
Firdaus menganggukan kepalanya.
Keesokan harinya, sore-sore Firdaus dengan diantar oleh dua orang polisi mendatangi tempat prakteknya dokter Marwan.
Marwan yang sudah mendengar perihal kejadian di tempat praktek Firdaus hatinya menjadi ciut setelah mendengar suara ketukan di pintu rumahnya.
“Siti! Tolong bukain pintunya.” Teriak Marwan.
Tidak lama Siti sudah kembali dengan wajah yang pucat.
“Siapa yang datang?” Tanya Marwan.
“Polisi dok.” Jawab Siti pendek dan berjalan kebelakang.
Marwan berjalan ke ruangan depan. Tampak olehnya dua orang polisi dan seorang pemuda yang berpakaian rapih.
“Bapak Marwan?” Tanya Polisi.
“Iya betul pak. Ada apa ya pak?”
“Saudara kami tangkap karena sudah membuat keonaran dan perbuatan menghasut orang.”
“Tapi saya tidak melakukannya pak? Saya akan menelpon pengacara saya dulu.”
“Nanti saja dikantor pak Marwan. Sekarang ikut kami.”
Marwan tidak menjawab tapi langsung berlari kebelakang rumahnya yang langsung mengarah kejalan besar.
Tapi secepat kilat Firdaus mengejarnya dan begitu sampai dibelakang Firdays bersalto dua kali sebelum akhirnya dia melakukan lompatan tinggi melampaui dinding bata belakang rumahnya Marwan.
Dengan gerakan ringan Firdaus meloncat dengan gerakan senamnya. Badannya melayang dan langsung berada dihadapan Marwan. Tubuh Firdaus tiba-tiba bergerak menyamping dan tangannya menangkap salah satu tangan Marwan. Lalu dengan bantuan pinggul kanannya dia melontar Marwan keatas tanah.
Marwan terbanting ditanah mengaduh kesakitan. Tapi tidak diindahkan oleh Firdaus yang langsung menghantam mukanya Marwan sampai berdarah.
Kedua polisi yang sampai ditempat itu langsung memisahkan Firdaus dari Marwan. Marwan sudah tidak bisa bicara apalagi selain mengerang kesakitan.
“Pak Firdaus, terpaksa anda juga harus ikut dengan kami karena sudah melakukan hakim sendiri kepada saudara Marwan.” Kata salah seorang polisi.
“Baik pak.” Sahut Firdaus menundukan kepalanya. Dia menyesal sudah lepas kontrol sehingga menghajar Marwan berlebihan.