CHAPTER #13
TIGA BELAS
Sesampainya di kantor polisi Firdaus langsung diinterogasi tentang kejadiannya di tempat praktek dokternya. Termasuk juga informasi dari dua orang polisi yang waktu itu menemui Marwan.
“Pak Firdaus, bapak terpaksa kami tahan sementara ini karena sudah melakukan tindakan main hakim sendiri. Kami tau meskipun tindakan itu karena didorong rasa amarah meskipun saat itu pak Firdaus membantu pihak kepolisian.”
“Iya pak, saya sadar sepenuhnya dan mengerti apa yang sudah saya lakukan. Boleh saya pinjam telepon sebentar pak? Saya akan menelpon ayah saya dirumah.” Ujar Firdaus.
“Iya silahkan pak. Nomor berapa teleponnya?”
Firdaus menyebutkan beberapa nomor telepon rumah ayahnya.
“Hallo Pah!” Panggil Firdaus.
“Hallo Fir! Dimana kamu? Katanya barusan yang menyambungkan telepon ini ada di kantor polisi. Apa betul itu Fir?”
“Iya Pah. Saya diharuskan masuk sel dulu sambil menunggu proses selanjutnya. Juga mencari kebenarannya dulu.”
“Iya Fir. Terus apa yang harus Papah lakuin nih?”
“Papah coba hubungi Oom Darmawan dan bilang semuanya. Tolong segera ya Pah.”
“Iya, iya Fir. Tunggu sebentar yah.”
Firdaus menutup teleponnya. Kemudian seorang petugas polisi mengajak Firdaus kesebuah sel sementara di kantor polisi itu.
Begitu masuk kedalam sel, ternyata didalamnya sudah ada Tanu dan kedua kawannya yang kemarin didibawa polisi karena melakukan tindakan akan menganiaya Firdaus.
“Ehh, bang Tanu.” Sapa Firdaus menghampiri dan menyalaminya.
“Loh, kok dokter disini. Mau ngapain dok?” Tanya Tanu keheranan.
Firdaus tersenyum. Kemudian duduk diubin sel yang dingin diikuti oleh Tanu dan kawannya.
“Ceritanya panjang bang.” Kata Firdaus tapi menceritakan juga dari awal sampai akhir.
Tidak lama setelah Firdaus selesai bercerita Tanu dan kawannya malah tertawa.
“Kenapa tertawa bang Tanu?” Tanya Firdaus.
“Habis seru sih ceritanya. Bisa begtu ya? Tapi sudahlah biarin saja pak dokter. Kalau ada apa-apa saya bersedia bersaksi kok.” Kata Tanu.
Satu jam kemudian ayahnya Firdaus didamping Darmawan pengacaranya tiba dikantor polisi. Mereka berembuk dengan petugas kepolisin termasuk dua orang yang mengantar Firdaus sebagai saksi dan pemberi informasi.
Polisi lalu membawa keluar Firdaus dan Tanu yang ingin ikut memberikan informasi atas kelakuan Marwan yang sebenarnya.
Dengan jaminan Darmawan akhirnya kepolisian bisa membebaskan sementara sebelum kasusnya diproses menjadi berita acara.
“Pah boleh nggak saya minta tolong sama pak Darmawan?” Tanya Firdaus.
“Apa itu Fir?”
“Begini Pah.” Firdaus lalu menceritakan keinginannya agar Tanu dan kedua kawannya bisa dibebaskan juga dengan jaminan dirinya.
“Bagaimana kamu ini Fir. Bukannya Tanu itu berniat ingin menganiaya kamu? Sekarang malah ingin kamu bebaskan. Papah tambah nggak ngerti jadinya.”
“Iya Pah. Memang mereka itu ingin menganiaya tapi atas keinginan Marwan, bukan keinginannya mereka sendiri. Jadi menurut Fir, mereka itu sebenarnya tidak akan melakukan hal itu apabila tidak dibujuk dan dirayu dengan uang.” Kata Firdaus.
Ayahnya Firdaus lalu berunding dengan Darmawan dan pihak kepolisian. Akhirnya mereka juga diluluskan permintaan untuk membebaskan Tanu dan kawannya.
“Jadi sekarang kita bebas bang Tanu.” Kata Firdaus.
“Iya pak dokter. Kami menyampaikan terimakasih.” Balas Tanu sambil memeluk Firdaus. “Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi saya ya pak.”
“Iya bang Tanu.” Ujar Firdaus sambil merogoh saku celananya. Firdaus memberikan beberapa lembar uang kepada Tanu.
“Ini untuk ongkos bang Tanu pulang. Mobil saya kecil jadi tidak bisa masuk bersama.”
Tanu menerimanya dan bersalaman kembali.
Sudah dua minggu sejak kejadian itu tapi praktek dokternya Firdaus bukannya sepi tapi malah semakin ramai didatangi pasien yang ingin berobat. Sedangkan Marwan menjadi tersangka pencemaran nama baik dan tindak kekerasan melalui orang lain.
Minggu malam Wisnu sesudah mengantarkan barang ke Depok memacu motornya karena ingin segera sampai di kampus untuk mengembalikan motor pinjamannya.
Wisnu mengambil jalan tikus yang ada dipinggiran pabrik-pabrik didekat perkampungan yang ada di Depok.
Waktu melewati sebuah pabrik tidak sengaja Wisnu melihat ada kerumunan didalamnya. Kerumunan orang itu disebuah lapangan yang menyerupai tempat parkir. Wisnu minggir dan menyandarkan motornya didinding tembok pabrik. Lalu dia berdiri diatasnya dan mengintip kejadian didalamnya.
Sayangnya Wisnu tidak bisa melihat dengan jelas. Begitu mendongakan kepalanya keatas ternyata asal suara ribut itu berasal dari lantai yang ada diatasnya.
Jalan yang melewati daerah itu memang sepi dari yang lewat. Lokasinya agak jauh dari perumahan dan perkampungan juga gelap.
Wisnu penasaran dan memutuskan untuk melihatnya. Lalu dia melompat dari tembok batas pabrik dengan jalan.
Dengan mengendap-ngendap dia mendekati tempat orang yang berkerumun itu.
“Hey, darimana kamu?” Tanya seseorang yang badannya kekar dan besar.
“Dari situ pak. Saya kebelet pipis.” Wisnu berpura-pura menunjuk ke tembok pabrik.
“Ohh, lain kali kalau mau kencing jangan kesitu. Didalam disamping tangga naik ada wc yah.” Katanya.
“Iya pak. Saya tidak tau.” Wisnu menganggukan kepalanya.
Wisnu berjalan kearah kerumunan itu dan dia melihat ada tangga disampingnya. Lalu Wisnu naik keatas. Begitu sampai ditempat itu, Wisnu mendekati orang yang sedang melihat ke sebuah arena yang mirip kotak kawat berbentuk segi empat. Malahan terkesan seperti kandang binatang buas.
Didalam arena itu Wisnu melihat dua orang laki-laki yang sedang bertarung dan seseorang yang bertindak sebagai wasitnya. Wisnu melihat kedua orang itu sudah mengeluarkan darah baik dari wajahnya.
“Seru ya malam ini.” Tegur seseorang yang tiba-tiba saja sudah berdiri disamping Wisnu.
“Iya. Tapi saya lihat yang memakai celana merah itu agak ragu melakukan pukulan telaknya.” Ujar Wisnu seperti yang sudah lama menontonnya.
“Ihh, kok sama ya seperti perkiraan saya.” Ujar orang itu. “Untungnya saya sudah pasang buat yang biru tadi 2 juta. Mudah-mudahan menang dah.”
Wisnu bingung dengan maksud orang itu. Tapi kemudian dia cepat menemukan jawabannya kalau itu adalah pasang judi.
“Kamu nggak pasang bang?” Tanyanya lagi.
“Sudah, tapi lagi bokek. Cuma pasang satu saja.” Wisnu berbohong.
Orang itu kemudian memperhatikan perawakan Wisnu.
“Bang, kenapa abang nggak ikut tanding saja. Badan abang lumayan kokoh dan kuat sepertinya. Lumayan itu bang.”
“Iya saya tau. Tapi masih ragu saja.”
“Kenapa ragu bang. Penghasilannya kan lumayan. Honor uang dari pelaksana pertarungan. Belum lagi tips dari para penjudi pertarungan. Bahkan katanya kalau lagi ramai yang berjudi bisa mencapai 10 juta penghasilannya.”
Wisnu termenung. Hatinya mulai goyah dengan kalimat orang itu.
“Iya, nanti saja deh. Ke orang itu kan kalau kita ingin mencoba bertarung?” Wisnu menunjuk salah seorang yang berpakaian rapih yang sedang berjalan dan mencatat orang yang berjudi.
“Iya itu orangnya. Alex namanya. Abang bilang saja sama dia. Saya yakin abang akan sering menang deh.”
“Maksudnya sering menang apa? Terus yang kalah kenapa memangnya?”
“Yang kalah ya kerimah sakit dong ahh, abang ini.” Orang itu menepuk pundak Wisnu. “Saya keseblah sana dulu yah.”
Wisnu tersenyum dan membalas tepukan orang itu.
Setelah merasa cukup melihatnya Wisnupun turun kebawah dan menyelinap diantara orang-orang yang berkerumun menuju dinding tembok pabrik.
Setelah ada disampingnya dia menarik nafas dan menjejakan kakinya ke tanah. Tubuh Wisnu melambung dan berhasil menangkap ujung atas tembok lalu mengangkat badannya dan meloncat kebawah.
Wisnu menuju motornya dan melaju dari tempat itu dengan sejuta tanya dalam hatinya.
Motor yang dikendarainya menuju ke kampusnya untuk dikembalikan. Sesampainya di kampus dan menyimpan motornya, Wisnu tidak langsung pulang. Wisnu malahan duduk di kursi tempat mahasiswa ngobrol.
Pikirannya melayang kemana-mana antara kebutuhan dan ketidakinginan menyakiti orang lain.
Andar dan Juhri yang sudah jalan-jalan mengelilingi daerah itu kebetulan lewat kampusnya Wisnu. Mereka melihat Wisnu yang sedang duduk merenung dikursi kampus.
“Juhri, itu mas Wisnu kan?” Tanya Andar.
“Iya bang. Ngapain dia ya?”
“Kita samperin saja yuk. Kasian orang itu. Capek kali sudah ngantar barang tadi.”
Andar dan Juhri masuk kedalam kampus. Keamanan kampuspun mengijinkan karena memang sudah kenal mereka.
“Sedang apa mas Wis?” Tanya Andar membuyarkan lamunan Wisnu.
“Ehh bang Andar. Bang Juhri. Ngapain kesini?” Wisnu malah balik bertanya.
“Tadi kami sudah muter keliling daerah ini. Kebetulan lewat depan dan melihat mas Wisnu sedang melamun. Yah sudah kami masuk saja. Ada apa sih mas?” Andar dan Juhri duduk disamping-samping Wisnu.
“Tidak ada apa-apa bang. Hanya melamun dan sedikit capek saja.” Balas Wisnu.
“Bohong ahh. Bukan itu. Ayo ceritalah mas Wis. Siapa tau saya dan Juhri bisa membantu mas Wisnu.”
Wisnu tersenyum dan menepuk pundaknya Andar.
Tanpa disuruh dua kali Wisnupun bercerita apa yang dilihat barusan dan apa sebenarnya yang ada dalam benaknya.
“Begitu abang-abang. Jadi saya sulit untuk menentukan itu.”
Andar dan Juhri terdiam. Berat rasanya untuk memberikan solusinya.
“Begini mas Wis. Keinginan untuk membantu keluarga itu sangat baik kalau menurut saya. Kita sudah mempunyai kegiatan yang cukupnya hanya untuk kita saja itupun sudah bersyukur. Bahkan kalau dipikir seharusnya kita sudah bisa menabung. Tapi kalau mas Wisnu merasa itu masih kurang menutupi semua kebutuhan mas Wis, saya hanya bisa bilang hati-hati saja. Silahkan lakukan apa yang mas Wis mau. Kita hanya membantu dan mendorong saja dari belakang.” Tutur Andar.
“Iya bang. Itu juga masih saya pertimbangkan baik dan buruknya.”
“Syukurlah mas. Tapi lain kali kalau ada apa-apa itu bilang sama kita. Begitu kan Juhri.” Kata Andar. “Jadi kita tau kesulitan mas Wisnu. Di nggak-nggak juga mas Wisnu itu sudah mengangkat kami menjadi lebih baik kan?”
Wisnu tertawa dan menepuk pundak mereka berdua. “Sudah ahh, suka jadi ngelantur. Pulang yuk!”
Andar, Juhri dan Wisnu bangkit dari duduknya dengan tertawa-tawa.
“Wis! Wisnu!” teriak Markus. “Tunggu sebentar.”
Wisnu berhenti berjalannya dan menoleh kebelakang.
“Ehh Markus. Ada apa Mar?”
“Saya perlu bicara sebentar. Sambil jalan keruangan yah.” Ajaknya.
“Ada apa sih Mar?” Wisnu sedikit heran sebab tidak biasanya Markus menjadi seperti begitu.
“Wis. Kemarin ada segerombolan anak sebelah yang datang ke tempat gua nongkrong di gerobak jualan itu. Mereka mencoba mau memalak kita. Mereka bilang ini daerahnya mereka jadi harus bayar kalau mau duduk dan berkumpul disana katanya.”
“Waduhh, hebat banget mereka. Siapa mereka itu Mar?”
“Kalau nggak salah namanya Binsar. Ada banyak anak buahnya Wis. Mereka juga tidak hanya malakin kita, tapi anak lain juga.”
“Biasanya jam berapa mereka datang kesana?”
“Jam satuan lah, pas istirahat atau kita bubaran kuliah.”
“Ya sudah. Begini saja.” Ujar Wisnu. “Kamu berlaku biasa saja disana seolah tidak ada apa-apa. Nanti saya berdiri dibalik tembok kampus dan memperhatikan mereka. Baru kalau mereka bikin ulah lagi, baru saya keluar. Gimana bisa kan?”
“Iya gitu saja.”
Setelah selesai bicara dengan Markus dan akan berusaha menyelesaikan situasi dengan Binsar, merekapun berjalan menuju ruangan kuliah.
Markus dan kawannya sudah ngobrol di depan kampus sambil makan-makan dari para penjual yang berjualan disitu. Tidak lama kemudian dari jalan kecil yang ada disebelah tukang baso keluarlah sekitar 7 orang anak muda tanggung yang langsung menuju kearah Markus.
“Ehh, masih disini juga. Oke nggak apa tapi mana biaya sewa tempatnya.” Ujar seorang anak muda itu tangannya dijulurkan kearah Markus.
Markus melihat wajahnya. “Biaya apaan nih?” Tanya Markus.
“Itu duduk-duduk, makan-makan segala. Ini kan daerah kekuasaan gua. Kekuasaan bos gua, bang Binsar. Lu nggak tau yah?”
“Ini daerah umum mas. Siapa saja bleh ada disini. Lagi pula saya kuliah disini.”
“Jangan banyak omong deh. Hayoo cepat!” Bentaknya pada Markus.
Dari seberang jalan Wisnu berjalan kearah Markus dan orang itu.
“Ada apa Mar?”
“Ini Wis. Orang ini minta uang biaya sewa katanya.”
“Sewa apaan mas? Siapa yang nyuruh mas ini?”
“Gua yang nyuruh.” Kata seorang pemuda yang agak tinggi dan badannya tegap. “Gua Binsar, lu mau apa?”
“Oh bang Binsar.” Ujar Wisnu pelan. “Apa bang Samsul tidak bilang apa-apa sama abang?”
Binsar agak terkejut sebab Samsul adalah memang seorang jagoan yang ada didaerah itu. Dia dengar kalau Samsul masih sakit.
“Memangnya apa urusannya sama gua?”
“Nggak tau sih. Tapi bang Samsul juga bilang menguasai daerah ini. Jadi mana yang benar yah?”
“Ahh, sudahlah. Mau kamu apa sekarang?” Ujar Binsar maju melangkah kedepan. Anak buahnya sudah bersiap dan mengeluarkan batang kayu yang dibawa-bawanya sejak tadi.
“Begini saja bang Binsar. Saya rasa daerah ini milik umum jadi abang tidak bisa meminta apa saja dari kami. Apalagi uang.” Kata Wisnu.
Bisar tidak menjawab tapi malahan melayangkan tinjunya mengarah kewajah Wisnu yang sedang bicara. Wisnu tidak mengelak malahan seperti pasrah akan menerima tinjunya Binsar. Tapi sebelum tinjunya sampai kewajah Wisnu, tiba-tiba badannya mental kebelakang ada satu meter barangkali. Binsar terjengkang dan memegang perutnya. Rupanya Wisny menggunakan kakinya untuk menendang lurus kearah perut Binsar.
Binsar dan teman-temannyapun kaget sebab tidak melihat bagaimana kaki Wisnu bergerak dan menghantam perutnya Binsar.
Kemudian Binsar bangkit lagi dari jatuhnya. Kemudian dia mengambil balok kayu yang dibawa oleh anak buahnya. Lalu sambil berteriak keras Binsar meloncat dan mengayunkan balok kayu itu kearah kepalanya Wisnu.
Wisnu bergerak gesit dengan meloncat kesamping. Pukulan kayu Binsar tidak mengenai sasarannya. Saat menoleh kesamping Binsar melihat Wisnu tenngah memasang kuda-kuda silatnya. Tangannya dijulurkan kedepan dan badannya agak merendah. Wisnu akan menggunakan jurus Cimandenya.
Binsar yang tidak tau apa-apa tentang jurus mematikan dari lawannya langsung saja membalikan badannya dan kembali menyabetkan balok kayunya kearah badan Wisnu. Tangan kiri Wisnu bergerak dan berhasil menangkap balok kayunya Binsar. Tangan kanannya mengayun seperti mengayunkan sebuah pedang mematahkan kayu yang ditangkap tangan kirinya Wisnu. Kemudian setelah mematahkan kayu itu tangan kanannya Wisnu terus bergerak kali ini pelipis Binsar yang menjadi sasarannya. Dengan pinggir tangan kanannya Wisnu berhasil menghajar pelipis Binsar.
Binsar terdorong kebelakang sambil mengaduh kemudian ambruk badannya menghantam tanah. Semua anak buahnya terdiam melihat bosnya hanya dalam waktu singkat sudah jatuh dan pingsan.
“Hayoo, siapa lagi yang mau seperti bos kalian?” Ujar Wisnu yang sudah berdiri didepan yang lainnya. Tidak ada satupun yang bergerak apalagi maju menghadapi Wisnu.
“Nah, sekarang bawa bos kalian dan pergi dari sini. Jangan pernah datang lagi.” Kata Wisnu menatap mereka.
Wisnu kemudian berbalik dan berjalan kearah Markus. Rupanya ada salah seorang anak buah Binsar yang memang berniat akan membokong Wisnu. Begitu melihat Wisnu membalikan badannya secepat kilat juga dia meloncat dan memukulkan balok kayu yang dibawanya.
Wisnu tidak sempat melakukan apa-apa tapi dia merasakan ada desiran angin dibelakang badannya. Lalu dia memusatkan kekuatannya dan mengalirkannya kebagian belakang tubuhnya. Balok kayu itu telak mengenai pundaknya Wisnu. Terdengar ada suara yang cukup keras bunyi kayu yang patah. Rupanya balok kayu itulah yang patah saat mengenai pundak Wisnu.
Tapi tidak lama kemudian ada suara gedebuk badan yang jatuh menimpa tanah yang ada disitu juga. Badan orang yang membokong Wisnu itulah yang jatuh terkena tendangan kebelakang jurus karatenya Wisnu.
“Hey. Sekalian bawa teman kalian yang satu ini juga.” Kata Wisnu kepada yang lainnya yang masih melongo melihat kejadian tadi. Kemudian teman-temannya membopong temannya yang tertatih-tatih berjalan memegang perutnya.
“Sudah ya Mar. Aku ke dojo dulu. Sudah telat nih.” Kata Wisnu.
“Oke. Wis. Terimakasih ya.” Jawab Markus tersenyum. Wisnu menepuk pundaknya Markus dan berlalu dari situ.