CHAPTER #14
EMPAT BELAS
Sesampainya di dojo betul saja banyak murid karatenya sudah datang. Untungnya Andar dan Juhri mengalihkan dulu ke teknik pemansan dan lainnya.
Setelah berganti pakaian Wisnu kembali mengajarkan jurus lanjutan karatenya kepada murid-muridnya.
Menjelang waktu magrib barulah latihannya selesai.
Setelah ikut membantu membereskan peralatan latihan Wisnu berganti pakaian lagi dan melepaskan rasa lelahnya duduk dikursi didepan perguruannya.
Angin sore rupanya membuat Wisnu menikmati waktu istirahatnya.
Andar datang dan duduk disamping Wisnu. DIa rupanya membawa segelas teh manis dingin.
“Minunm mas.” Ujarnya memberikan teh yang dibawanya.
“Makasih bang.” Ujar Wisnu sambil meminum tehnya. “Emh, enak banget bang.”
Andar tersenyum. “Bagaimana dengan rencana itu mas Wis. Jadi pergi kesana?”
“Belum tau bang, lagi pula masih ada dua malam lagi untuk berpikir.”
“Iya mas. Memang harus dipikirkan dengan baik-baik. Jangan sampai seperti saya dulu.”
“Memangnya bang Andar pernah melakukan seperti itu dulu?”
“Iya mas. Tapi hanya bertahan sampai 6 kali fight lalu berhenti karena cedera di punggung. Ada barangkali 2 bulan saya dirawat.” Ujar Andar mengingatkan Wisnu.
Wisnu terdiam. Hatinya kembali menjadi ragu mendengar penuturan Andar.
“Saya bukannya untuk membuat mas Wisnu menjadi ragu dan akhirnya mundur. Tapi saya hanya mengingatkan tentang bahayanya cara itu.”
“Iya bang. Saya mengerti maksud bang Andar. Terimakasih sudah diingatkan. Tentu saya akan memikirkannya baik-baik dan menjadi lebih hati-hati.”
“Mas Wis, kalau memangnya mas mau ikutan. Saya bisa membawa mas keseorang tokek untuk pertarungan itu. Nanti dia yang akan mengaturnya. Jadi tidak perlu mas capek-capek datang kesana nanti malam rabu. Bagaimana?”
“Begini saja bang. Kasih waktu semalam lagi. Malam ini saja. Baru besok saya kasih kabar bang Andar.Nggak apa-apa kan?”
“Ya nggaklah mas. Yang mau ngelakuin kan mas Wisnu. Saya hanya ingin membantu dan membuatnya jadi lebih mudah saja.” Ujar Andar tertawa.
Wisnupun ikut tertawa. Lalu dia berdiri dan menepuk pundaknya Andar. “Saya pulang dulu ya bang. Baik-baik disini.”
“Iya mas. Hati-hati dijalan. Oh iya mas, ada dua orang bekas anak buah saya minta pekerjaan kesini, bagaimna kalau kita jadikan untuk mengurusi yang di kampus mas Wisnu saja. Bisa nggak ya?”
“Bagaimana bang Andar saja. Saya hanya ikut saja. Dan tidak ada masalah buat saya selama tidak berbuat aneh-aneh saja.” Jawab Wisnu.
“Ya sudah kalau begitu. Nanti saya urus semuanya. Terimakasih mas.”
Wisnu menganggukan kepalanya dan berjalan menuju jalan raya untuk naik angkutan umum ke rumahnya.
Hampir jam 9 malam Wisnu baru sampai di tempat Rohim berjualan nasi gorengnya. Dia langsung menggantungkan ranselnya dan ikut meladeni pembeli yang masih ada disitu.
“Bagaimana kuliahnya mas? Lancar?” Tanya Rohim duduk dibangku.
“Biasa saja pak. Saya lagi membuat bahan skripsi sedikit-sedikit. Mudah-mudahan waktunya pas seperti yang direncanakan.” Jawab Wisnu yang ikut duduk disebelah Rohim.
“Syukurlah mas.” Ujarnya.
Sedang enak duduk dan ngobrol dengan Rohim, Wisnu mendengar ada suara motor berhenti disamping gerobak nasi gorengnya.
“Mas Wis!” Sapa seorang yang dimotor.
“Ehh mas Bayu. Tumben malam-malam mas Bay. Sama siapa?” Tanya Wisnu berdiri dari duduknya dan menghampirinya.
“Ini, nih bareng bang Kirman. Ingin ikut katanya ingin tau tempat mas Wisnu sama ingin melihat bang Andar.”
“Wahh, terlambat. Coba tadi ke dojo pasti ketemu bang Andar.”
“Iya nggak apa-apa mas Wis.” Ujar Kirman. “Lagi pula saya ingin tau tempat mas Wisnu jualan saja.” Jawab Kirman. “Dulu juga saya suka disini, tapi dibawah sana barengan Andar.”
“Masa sih?”
“Iya mas Wis. Beneran ini” Kata Kirman turun dari motornya.
“Duduk yuk mas Bay, bang Kirman.” Ajak Wisnu.
Lalu ketiganya duduk di bangku setelah dikenalkan pada Rohim.
“Ada apa mas Bay selain menengok saya disini?” Tanya Wisnu.
“Tau saja mas Wisnu ini. Biasa mas ingin belajar sesuatu. Tapi kali ini agak berbeda selain dari yang lalu. Saya ingin belajar menggunakan jurus kuncian tangan silat mas.”
“Kirain apaan mas Bay. Bisa saja tapi sepertinya mas Bayu harus datang ke dojo. Gimana mau?”
“Ya maulah mas. Namanya juga belajar ilmu.” Balas Bayu tertawa.
“Saya juga mau ahh, mas. Bolehkan mas Wis?” Ujar Kirman.
“Boleh saja bang Kirman. Nanti saya ajarin jurus meloncat dan melarikan diri secepat kilat.” Canda Wisnu sambil tertawa. Semuanya menjadi tertawa termasuk Rohim yang mendengarnya.
Keesokan harinya Wisnu yang sudah selesai melatih karatenya duduk seperti biasa di kursi di depan perguruannya. Andar dan Juhri masih membereskan ruang latihan dan peralatannya.
“Mana Andar ya?” Gumam Wisnu bicara sendiri.
Seolah nyambung dengan pikiran Wisnu, Andar yang sudah selesai beres-beres keluar dengan membawa segelas teh manis dingin.
“Nih mas Wis.” Ujarnya menyodorkan segelas.
“Iya, terrimakasih bang.” Jawab Wisnu dan langsung meminumnya.
“Bagaimana mas sudah dipikirkan?”
“Sudah bang. Saya akan melakukannya untuk keluargaku, kita dan semua yang aku cintai dan aku hargai.” Ujar Wisnu dengan tegas.
“Baik kalau begitu. Besok pagi saya akan menemui tokek dan meminta memasukan nama mas Wisnu kedalam daftarnya.”
“Caranya saya tau harus bertanding bagaimana bang?”
“Kalau dulu sih kita dijemput dan diberi kode panggilan tertentu, nggak tau sekarang seperti apa.”
“Ya sudah. Bang Andar jangan lupa saja nanya tentang itu.” Balas Wisnu. Hatinya sudah bulat untuk mengikuti pertarungan bebas itu.
“Baik mas. Kabarnya berarti besok sore pas selesai berlatih berikut tempatnya dimana.” Ujar Andar.
“Kalau misalnya bang Andar yang jadi penghubung saya bagaimana? Bisa nggak ya.”
“Kenapa harus saya mas?”
“Kita kan sudah tau dan saling mengerti itu saja sih intinya.”
“Iya tapi tetap saja harus berhubungan dengan tokek itu mas.”
“Ya nggak masalah sih bang. Maksud saya bang Andar adalah managernya saya. Maksudnya yang mengatur pertandingan dan jadwalnya. Aku nurut sama abang nantinya bukan sama tokek.” Wisnu menjelaskan maksudnya.
“Iya mas. Nanti saya coba sampaikan juga. Mudah-mudahan bisa begitu.”
“Iya bang. Jadi semua hasil kan bisa diurus sama abang. Sisanya seperti hadiah dan lainnya itu saya yang ngurus. Abang ngurus keuangan didalam pertaruangan saja. Bagus kan?”
Andar mengangguk-anggukan kepalanya.
“Betul mas. Jadi tidak ada yang membohongi kita.”
“Okelah kalau begitu. Saya mau pulang dulu, sudah malam nih.” Kata Wisnu berdiri bangkit dari kursinya.
“Iya mas. Hati-hati di jalan.”
“Ehh, iya hampir lupa. Bang Andar kenal dengan nama Kirman?”
“Kenal mas. Kalau Kirman anak ujung aspal saya tau. Mas Wisnu tau darimana?”
“Bang Kirman itu temennya teman saya. Saya berkenalan di ujung aspal waktu ngantar barang. Nah, mereka akan kesini tapi nanti katanya sabtu atau minggu.”
“Iya mas.” Ujar Andar tertawa.
Pagi-pagi Bayu sudah bangun karena harus pergi ke kantor. Hari ini dia janji sama Udin akan menyelesaikan pekerjaannya ngelas bodi mobil yang tinggal sedikit sebelum jam 9 pagi.
“Waduhh, rajin banget mas Bayu. Jam segini sudah kerja.” Ujar Udin yang baru datang melihat Bayu sedang mengelas.
“Iya pak Udin. Kan saya janji sama bapak untuk menyelesaikannya sebelum jam 9 pagi ini.”
“Memang mas Bayu ini seperti almarhum ayah mas. Selalu menepati janji.”
“Iya pak. Hanya belajar menepati janji saja.”
Belum selesai Bayu menutup mulutnya. Ada suara merdu yang menyambung pembicaraannya.
“Begitu ya Bay. Lalu kemana janji kamu akan datang keruanganku?”
Bayu bangun dari kolong mobil yang dilasnya. Matanya langsung melihat seorang gadis cantik anak pemilik perusahaannya.
“Ehh, bu Intan. Selamat pagi bu.” Sapa Bayu. “Ada perlu apa ya bu?”
“Jadi kamu belum tau kalau saya memanggil kamu untuk datang keruangan saya?”
“Belum bu.”
“Jadi pak Tatang tidak memberi tau kamu?” Tanya Intan sambil mengerlingkan matanya.
Para pegawai bengkel hanya tersenyum dan saling bisik melihat Bayu sedang berhadapan bicara dengan Intan.
“Sama sekali belum tau bu.” Bayu tetap pada pendiriannya karena memang dia belum tau. “Kapan bu Intan bicara dengan pak Tatangnya?”
“Tadi jam 8 an. Saya suruh Bayu menghadap saya untuk membicarakan pindah pekerjaan dari bengkel bagian administrasi dibawah saya.”
“Iya betul bu. Saya belum ada kabar itu dari pak Tatang.”
Dari kejauhan ada orang yang berlari-lari kearah mereka. Rupanya itu Tatang kepala bagian Keuangan perusahaan.
“Maaf bu Intan. Saya terlambat memberitau mas Bayu. Tadi pas keluar dari ruangan ibu, pak Dirut memanggil saya untuk membereskan nota keuangan dari bank. Maaf bu.” Kata Tatang sampai berbungkuk badannya.
“Kamu itu pak Tatang. Kalau tidak bisa itu bilang sama salah seorang untuk memanggil Bayu. Jangan ditelan sendiri. Jadi merasa tidak enak kan sama saya?”
“Iya bu, saya minta maaf.”
“Ya sudah tidak apa-apa. Toh saya juga sudah dihadapan Bayu sekarang. Jadi tinggalkan saja kami. Biar saya yang bicara langsung kepada Bayu. Nah, sekarang Bayu keruangan saya.” Ujar Intan sambil membalikan badannya dan berjalan menjauh dari mereka.
Bayu berhenti bekerja dan bilang kepada Udin kalau Intan memanggilnya.
Udin hanya tersenyum saja mendengarnya.
“Kenapa pak Udin tersenyum? Ada yang aneh pak dengan baju saya.” Tanya Bayu yang memang sedang ganti baju setelah membersihkan badannya.
“Nggak ada apa-apa mas. Hanya hati-hati saja. Perangkap wanita lebih kuat dari perangkap harimau sekalipun.” Udin tertawa.
“Ahh, bapak ini ada-ada saja. Mana mungkin sih pak itu kejadian. Lagi pula saya kesini untuk kerja dan menghidupi keluarga miskin saya. Makanya konsentrasi saya mencari uang dan kuliah bukannya sama perempuan.” Tutur Bayu semangat.
“Halah, mas Bayu. Belum saja kena perangkap bu Intan yang cantik. Hati-hati pokoknya ya mas. Biar cita-cita mas tercapai. Kalau sudah tercapai itu sih terserah mas nantinya.” Udin mengingatkan Bayu.
“Iya pak Udin. Terimakasih. Wejangan bapak akan saya perhatikan.”
Udin tertawa sambil memukul pelan lengan Bayu.
Bayu mengetuk pintu ruangan Intan. “Permisi!”
“Masuk.” Suara dari dalam ruangan. Bayu membuka pintunya. Tampak Intan sudah bersiap menerimanya di kursi sofanya.
“Duduk Bay.” Ujarnya.
“Baik bu, terimakasih.” Ujar Bayu.
“Begini Bay. Kamu tau kan si Hengki sudah dipecat perusahaan karena kelakuan buruknya?”
“Iya bu, sudah dari teman-teman dibengkel.”
“Nah, kemarin saya mengajukan nama kamu untuk mengganti pekerjaan Hengki di bagian administrasi dibawah saya. Dengan kata lain Bayu tidak bekerja lagi dibengkel mulai besok. Karena pengajuan saya ke HRD perusahaan disetujui.”
Bayu terdiam mendengarkan.
“Bagaimana Bay. Kamu bisa menerimanya kan?”
“Iya bu. Saya menerimanya tapi mohon diijinkan terlebih dulu saya menyelesaikan las bodinya hanya hari ini saja. Untuk menyelesaikan pekerjaan saya di bengkel.”
Intan merasa bangga mengenal Bayu yang tegas dengan pendirian dan janjinya.
“Kalau misalnya saya tidak mengijinkan kamu kerja disana lagi, bagaimana Bay?”
“Saya akan tetap melakukannya bu meskipun ibu melarang saya.”
“Kalau saya mengeluarkan kamu dari perusahaan?”
“Itu kebijaksanaan perusahaan. Saya tidak masalah. Maka perjanjian ayah saya, kemudian saya dengan perusahaan menjadi batal karena ibu memecat saya.”
“Ya nggak begitu dong. Kan ada perjanjian.”
“Betul bu, tapi diperjanjian tidak ada disebutkan meneruskan perjanjian apabila dipecat atau dikeluarkan dari perusahaan.” Ujar Bayu terang-terangan.
Intan tertawa senang.
“Hebat kamu Bayu. Kamu membaca perjanjian dengan teliti. Aku suka itu. Oke silahkan selesaikan dulu pekerjaan di bengkelnya. Dan jangan lupa besok kamu mulai kerja didalam sini.”
“Di bagian administrasi kan bu?”
“Iya Bayu.” Intan tersenyum manis.
“Baik bu. Permisi.” Kata Bayu pamit keluar ruangan.
Intan menatap badan Bayu saat keluar dari ruangannya dan tersenyum sendiri penuh arti.
Dikampus Bayu tidak begitu konsentrasi karena banyak kejadian hari ini yang menyita pikirannya. Jam 8 malam perkuliahan pun selesai.
Bayu lalu berjalan menuju taman kampus yang ada kursi untuk istirahat.
Baru saja Bayu duduk, Krisna sudah datang dari luar kampus dan menghampirinya.
“Bay, jadwal malam selasa ya. Nama kamu Penguin.” Kata Krisna duduk disamping Bayu. “Kenapa murung Bay? Ada masalah ya?”
“Sedikit sih Kris. Biasa ada bos cewek di tempat kerja, anaknya bos perusahaan. Kayaknya dia merhatiin saya terus. Lama-lama jadi risih juga Kris.”
Krisna tertawa. “Kenapa jadi pusing Bay. Jadiin saja sekalian. Kan anak bos ini, biar nggak menghajar orang melulu.”
“Ahh, kamu Kris. Bukannya membantu malah ngeledek. Udah ah. Jadi malam selasa ya?”
“Iya Bay. Sorry bukannya saya ngeledek Bay. Tapi biar kamu nggak terlalu mikir itu saja sih.” Krisna berdiri dari duduknya. “Mendingan pulang yuk Bay. Buat jaga stamina.”
“Iya Kris. Yuk!” Ujar Bayu berdiri dan berjalan berdua keluar dari kampus.
Hari minggunya Bayu dan Kirman mendatangi perguruannya Wisnu.
“Selamat siang bang Andar. Masih ingat saya?” Sapa Bayu kepada Andar yang sedang istirahat di kursi.
“Ehh, mas Bayu. Masuk mas!” Jawab Andar. “Sama siapa nih?”
“Gua Kirman, Ndar. Lupa ya?” Kirman menyahut.
“Kirman? Kirman mana ya?” Andar bercanda tapi sambil turun dan memeluk sahabat lamanya. Keduanya tampak terharu mengingat sudah lamanya tidak berjumpa.
“Sehat kamu Man?”
“Aku baik saja Ndar.”
“Bagaimana bisa ketemu mas Bayu?”
“Daerah tinggal kita sama Ndar. Di ujung aspal.” Jawab Kirman.
Bayu dan Wisnu tertawa bahagia melihat dua orang preman yang kembali menjadi baik.
“Silakan duduk abang-abang.” Seru Wisnu. “Masuk saja sekalian.”
Lalu semuanya masuk kedalam ruang latihan.
Hampir 2 jam Bayu dan Wisnu saling bertukar ilmu beladirinya masing-masing. Dan setelah pada makan siang merekapun berpisah.
“Mas Wis, soal itu saya sudah dapat kabar langsung dari tokek katanya bersiap saja untuk pertarungan yang pertama hari kamis malam. Panggilan mas Wisnu adalah belibis. Nanti di jemput disini.” Ujar Andar duduk disamping Wisnu.
“Iya mas Andar, terimakasih. Terus seragam atau kelengkapan apa saja yang harus saya siapkan?”
“Biasanya celana pendek ketat dan berwarna apa saja. Tapi sebaiknya membawa dua warna takutnya nanti lawan mas Wisnu menggunakan warna sama.”
“Iya mas. Terus jam berapa biasa dijemputnya?”
“Biasanya jam 7 malam. Terus dibawa kesuatu tempat entah dimana. Kemudian bila sudah selesai kita diantar lagi.”
“Begitu ya bang. Tapia bang juga ikut kan dalam jemputan itu?”
“Iya dong. Saya kan manager mas Wisnu.” Andar menepuk dadanya sendiri.
Wisnu tertawa melihat kelakuan Andar.
“Sudah agak sore nih. Saya harus pulang dulu bang, bantuin dulu pak Rohim.” Wisnu berdiri dan bersiap untuk pulang dulu kerumahnya.
Menjelang magrib Wisnu langsung bekerja membantu Rohim membereskan dagangannya, dan membawa gerobak kedepan.
Malam itu cukup banyak pelanggan yang membeli nasi goreng Rohim.
“Haduh, cape ya mas Wis.” Rohim duduk dibangku.
“Iya pak. Tapi kalau menurut saya agak sepi malahan.” Wisnu berdiri disamping gerobak. “Pak Rohim, boleh saya bicara sedikit?”
“Kenapa mas? Ada apa lagi yang bisa bapak bantu?”
“Hanya minta ijin saja pak. Saya dapat pekerjaan tambahan lagi tapi pekerjaannya malam dan hari tertentu saja.” Ujar Wisnu menghampiri Rohim.
“Pekerjaan apa mas Wis?”
“Menjaga barang saja pak. Gantian begitu dengan yang lainnya. Bisa kapan saja harinya. Kalau tidak salah jadwalnya dari jam 7 malam sampai selesai.”
“Selesainya jam berapa mas? Tapi malam itu juga kan?”
“Iya pak. Paling jam 12 atau jam 1 pagi selesai.”
“Ohh, ya sudah. Hati-hati saja jaga diri soalnya banyak kejahatan kalau malam hari itu.” Jawab Rohim mengingatkan Wisnu.
“Iya pak. Sayapun akan jaga diri. Terus misalnya saja terlalu kemalaman. Saya akan tidur di perguruan saja. Baru besoknya setelah kuliah dan ngajar karate baru saya pulang. Nggak masalah kan pak?”
“Nggak mas. Bapak masih bisa beres-beres sendiri kok. Lagi pula ada waktunya kan mas?”
“Iya pak.” Ujar Wisnu.
Wisnu dan Rohim akhirnya berbicara lain setelah semuanya bisa diatasi oleh mereka berdua. Ada senyum bahagia tersirat dalam senyumnya Wisnu.