Chapter #15 - LIMA BELAS

2484 Words
CHAPTER #15 LIMA BELAS               Bayu sudah siap-siap diruang tunggu. Sambil mengikat tangannya dengan kain pikirannya berpikir keras siapa yang akan menjadi lawannya malam ini dan bagaimana kekuatannya. Tanpa disadari Bayu sepasang mata sedang memperhatikannya di balik kaca ruang ganti.             Dito salah seorang direktur diperusahaan Bayu rupanya seorang penjudi pertarungan juga. Dia datang malam itu dan memarkirkan kendaraannya. Saat dia melewati ruang ganti baju peserta tarung dia melihat Bayu sedang ganti baju. Dito merasa pernah melihat muka Bayu.             “Dimana ya? Perasaan kok pernah melihat orang ini, tapi dimana?” Dito bergumam sendiri sambil mengintip disudut kaca jendela.             “Maaf pak. Bapak tidak boleh mengintip ruangan ini. Silakan terus berjalan.” Kata pengawal dan pengawas peserta yang biasa mengawal dan mengantar Bayu.             “Oh iya.” Ujar Dito dan langsung berjalan menuju ruang arena pertarungan.             Bayu keluar dari ruangan ganti.             “Ada apa bang? Sepertinya menegor seseorang?”             “Iya mas. Ada yang ngintip barusan.”             “Siapa? Abang kenal orangnya?”             “Nggak mas. Tapi kelihatannya orang lama sih. Saya masih ingat kok wajahnya.”             “Iya bang. Tapi tidak berniat jahat kan sama saya?”             “Tidak sepertinya mas. Hanya mengintip saja disudut jendela itu.”             Bayu tidak bertanya lagi tapi memberikan sebuah amplop coklat kecil kepada orang itu.             “Ini bang buat beli kue.” Ujar Bayu.             “Tapi kan dilarang mas menerima apa-apa dari peserta.”             “Iya kalau ketauan. Ini kan nggak ketauan.” Kata Bayu tersenyum.             Orang itu menerima amplop coklat kecil yang diberikan dari Bayu.             “Terimakasih mas.”             Lalu keduanya berjalan ke dalam menuju arena pertarungan.             Begitu muncul Bayu di arena, semuanya bertepuk tangan meriah. Bayu adalah peserta tarung yang sangat ditunggu-tunggu kehadirannya oleh para penjudi. Bayu selalu mempersembahkan gerakan yang bagus dan tidak kasar seperti yang peserta lainnya.             Setelah semua peserta tarung diperkenalkan oleh wasitnya, maka pertarungan bebaspun dimulai.             Lawan yang dihadapi Bayu sekarang rupanya seorang ahli beladiri silat. Terlihat dari gerakan kaki dan badannya yang ringan.             Bayu berdiri tegak dan dua tangannya diangkat sejajar dengan pundaknya dengan tangan terkepal. Kakinya digerakan keatas dengan lurus dan diturunkan kembali lalu bergerak mengahmpiri lawannya.             Lawannya memasang kuda-kuda kakinya. Badannya doyong kedepan dan tangannya terjulur kedepan. Bayu mencoba inisiatif menyerang lebih dulu. Bayu menggerakan tangan kanannya lurus akan menghantam wajh orang itu. Orang itu tidak bergerak tapi tangan kanannya yang terjulur yang menangkis pukulan Bayu agar terbawa kesebelah kanan badannya.             Dari raut wajahnya orang itu terlihat kaget sebab tangannya bayu tidak bergeming sedikitpun malahan semakin lurus kearah wajahnya. Barulah orang itu bergerak menghindar tapi agak terburu-buru sehingga berat badannya tidak terkontrol.             Melihat badan lawannya tidak doyong, Bayu tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Kaki kiri Bayu yang sedang bebas dari pengamatan orang itu bergerak menendang kesamping dengan gerakan berputar dari kiri kekanan.             Ujung kaki Bayu yang kuat dan sering dipakai latihan menendang karung pasir akhirnya mengenai samping kepala orang itu. Begitu kepalanya kena kaki Bayu orang itu langsung terdorong jatuh kearah kirinya.             “Satu!” Teriak wasit.             Bergemuruh suara di arena mengelu-elukan Bayu.             Wasit mendekati orang itu yang masih terbujur dengan matanya tidak berkedip. Wasit lalu memegang tangan orang itu untuk memeriksa kondisinya. Pelan-pelan orang itu bangun masing pusing rupanya.             “Masih sanggup bertarung?” Tanya wasit.             Orang itu menganggukan kepalanya dan berdiri lagi. Suasanapun semakin meriah.             Bayu yang sejak tadi menunggu kembali bersiap dengan kuda-kudanya.             Tiba-tiba suasana menjadi senyap karena melihat Bayu merobah pola beladirinya. Diawal pertarungan Bayu menggunakan jurus dan tenaga Muay Thainya sekarang dia menggunakan jurus silat seperti orang itu.             Bayu mengulurkan tangannya seperti orang itu tapi kakinya tetap menggunakan kuda-kuda Muay Thainya yaitu dengan mengangkat kaki tangan setinggi lutut.             Lawannya memandang aneh dengan jurus silat yang dimainkan Bayu. Tapi dia tidak terpengaruh malahan langsung melesat kearah Bayu dengan menggunakan tendangan silatnya. Kakinya lurus kearah atas mengejar dagu Bayu yang terlihat kosong. Tangan kanan Bayu yang terjulur kedepan mengibaskan kaki orang itu kearah bawah tepat disamping kaki kanannya yang diangkat. Tidak diduga sebelumnya kaki kanannya menendang kaki orang yang disampingnya dengan telapak kakinya. Badan lawannya Bayu menjadi berputar membelakangi Bayu. Tanpa ragu Bayu menghujamkan pukulan hook Muay Thainya dan mengenai leher belakang orang itu. Karuan saja lawan Bayu badannya jadi terjorok kedepan dan jatuh menimpa lantai ruangan.             Dengan cekatan lawan Bayu menggelindingkan badannya seperti jungkir balik dan agak menjauh dari Bayu.             Orang itu kembali berdiri dan bersiap dengan jurus silatnya. Bayu sedikit agak kesal dengan lawannya yang satu ini. Tanpa menunggu lama lagi badan Bayu melayang keudara setelah menjejakan kakinya ke lantai. Badannya melayang dan dengkulnya dilipat kedepan untuk menyerang wajah atau kepala lawannya dengan dengkulnya.             Ada bunyi gedebuk saat dengkul Bayu menghantam kepala lawannya. Tapi anehnya malahan keduanya jatuh kelantai.             Lawan Bayu berhasil menangkap kaki Bayu dan menjatuhkan badan Bayu kelantai meskipun kepalanya kena dengkul Bayu. Kemudian orang itu mengunci kaki Bayu dengan tangan dan kakinya yang melipat kakinya Bayu dan menariknya.             Bayu meronta namun tidak berhasil. Otaknya berputar mencari akal untuk melepaskan kuncian kaki orang itu.             “Satu!” Wasit mulai menghitung waktu kuncian yang hanya dihitung sampai tiga.             Bayu ingat akan pelajaran melepaskan kuncian dari lawan yang diajarkan Wisnu.             Tiba-tiba badan Bayu berbalik menghadap keatas. Kaki kanannya yang dikunci ditarik keatas sampai badan orang itu ikut terangkat. Bayu menggerakan kaki kirinya yang bebas menggunakan tendangan miring dengan ujung kakinya menendang wajah orang itu. Orang itu kaget dan berusaha untuk menangkis dengan salah satu tangannya tapi akibatnya kunciannya menjadi lepas. Dan dengan tendangan dorong Muay Thainya kaki Bayu telak mendarat didada lawannya dengan keras sampai-sampai badannya terdorong kebelakang.             Orang itu menggeletak tidak bergerak. Wasit berlari menghampirinya untuk melihat keadaan orang itu. Wasit menempelkan jarinya dihidung orang itu dan menekan lehernya. Rupanya orang itu pingsan kena tendangan Bayu.             Wasit menggerak-gerakan tangannya tanda pertarungan selesai. Bayu menjadi pemenangnya.             Semua berdorak meriah dan Bayu hanya memandang orang itu diangkat dengan tandu kepinggir arena dan diberi bantuan pernafasan oksigen dihidungnya.             Bayu menghormat ke penontonnya dan keluar dari arena.             Diruang ganti Bayu merenung memikirkan kejadian yang baru saja terjadi. Ada semacam rasa kasihan dan penyesalan dalam hatinya.             Ada sedikit memar di kakinya yang kena kuncian semalam, Bayu agak kaku berjalannya saat berangkat kekantor pagi itu.             “Kenapa kaki kamu Bay?” Tanya ibunya.             “Nggak apa-apa Mak, hanya kena meja kemarin malam pas jagain barang.” Ujar Bayu.             “Aduhh, sudah Emak bilang hati-hati Bayu! Hati-hati, ehh, nggak didengar sih makanya begitu.” Sahut ibunya Bayu. Suaranya meninggi.             “Iya Mak, tap nggak masalah kok, hanya lebam sedikit.”             “Ya sudah. Hati-hati dijalan yah!”             “Iya Mak.” Balas Bayu mencium tangan ibunya.             Sesampainya di kantor Bayu buru-buru menuju meja kerjanya, menyimpan ranselnya dan langsung berjalan kebelakang menuju Udin.             “Pak Udin punya obat luka lebam?” Tanya Bayu.             “Memangnya kenapa mas Bayu?” Tanya Udin.             “Kepentok meja pak.” Bayu memperlihatkan kakinya diatas betis yang biru karena dihajar saat kakinya dikunci tangan lawannya.             “Sebentar ya mas. Ada juga obat gosok untuk luka bengkak dan lebam seperti itu.” Udin mengambil obat gosoknya. Kemudian Udin menggosok kaki Bayu yang lebam kemudian mengikatnya dengan perban pelan-pelan.             “Kenapa jalannya agak pincang Bayu?” Tanya Intan ketika melihat Bayu.             “Kejedot meja bu.” Jawab Bayu pendek.             “Kok bisa ya?” Intan mengahmpiri Bayu sambil melihat dan memegang kaki Bayu.             Bayu kaget. Semua orang yang melihatnya juga.             “Nggak apa-apa kok bu.” Bayu mencoba menarik kakinya yang dipegang Intan.             “Makanya hati-hati dong ahh.”             Bayu tidak menjawab tapi terus duduk kembali dimeja kerjanya.             Intan hanya memandangnya, namun hatinya gregetan karena perhatiannya diacuhkan begitu saja oleh Bayu.             Malam yang dijanjikan untuk dijemput, Wisnu dan Andar sudah duduk menunggu. Mwskipun agak gelisah Wisnu mencoba menghilangkannya. Andar merasakan hal itu dan mencoba untuk mencairkan suasananya.             “Mas Wis. Kabarnya Kokom di kampung bagaimana? Sudah SMA ya dia sekarang?”             “Iya bang, kelas dua kalo nggak salah. Kenapa memangnya bang?”             “Nggak biasanya kan merengek minta sesuatu dari mas. Tapi belakangan ini tidak pernah ya.”             “Sudah merasa cukup kali dari kiriman kita.”             “Iya, bisa saja begitu.”             “Ehh, bang apa itu ya mobilnya?”             “Iya kali mas. Sebentar saya samperin dulu.”             Andar berdiri dan menghampiri mobil itu. Setelah kelihatannya Andar menganggukan kepalanya, Wisnu berdiri dan membawa ranselnya.             “Bang Juhri, jagain ya!” Kata Wisnu kepada Juhri yang baru keluar dari dalam. “Doain saya.”.             “Iya mas Wisnu. Hati-hati yang penting.” Ujar Juhri memegang pundaknya Wisnu mengantar kedepan pagar.             Wisnu dan Andar berangkat menuju kesuatu tempat untuk pertarungan pertamanya.             Setelah beberapa pertarungan di arena, giliran untuk Wisnupun datang.             Wisnu diantar oleh Andar berjalan menuju arena pertarungan. Setelah wasit mengumumkan peserta tarung dan memberitaukan aturannya, pertarunganpun dimulai.             Wisnu melihat lawannya kekar dan berotot. Melihat gerakannya Wisnu yakin orang ini bisa beladiri tapi gerakan kakinya agak kaku dan berat.             Setelah sama-sama saling menganggukan kepalanya, lalu keduanya siap-siap melancarkan serangan pertamanya.             Belum selesai Wisnu berpikir apa yang akan dilakukan, orang itu sudah menyerangnya.             Setengah berlari orang itu mengayunkan tangan kanannya kearah wajah Wisnu. Tangan kiri Wisnu diangkat keatas dan menangkis tangan yang berkelebat dikanannya. Secepat itu pula Wisnu mengayunkan tangan kanannya untuk memancing gerakan lawannya. Kaki kanannya diangkat seperti yang diajarkan oleh Bayu dengan teknink Muay Thai. Dilakukan dengan bersamaan. Lawannya menangkis tangan kanan Wisnu tapi tidak memperhatikan kaki kanan Wisnu yang melakukan tendangan lurus menyodok perutnya.             Badan orang itu terdorong kebelakang. Wisnu memburunya dengan pukulan karate menyamping untuk memukul pelipis orang itu.             Lawannya terjajar dan jatuh terduduk setelah pukulan pedang karatenya Wisnu mengenai pelipisnya. Suara jatuh badan dilantai terdengar di arena itu.             Semua bersorak. Wasit mendekati orang itu yang tidak berdiri dalam hitungan 3. Ternyata orang itu sudah pingsan. Wasit mengangkat kedua tangannya dan menggerakan keduanya tanda pertarungan usai.             Wisnu membungkuk kearah penonton.             Andar menyongsong Wisnu sambil tersenyum di luar arena. Hatinya bangga. Wisnu melakukan pertarungan hanya dalam tempo semenit sudah selesai.             Setelah sampai di perguruannya kembali Wisnu dan Andar duduk di kursi terasnya.             Keduany saling tersenyum.             “Ini mas Wis.” Ujar Andar memberikan dua buah amplop coklat kepada Wisnu.             Wisnu menerimanya kemudian membukanya. Wisnu melihat ada dua gepok uang didalamnya.             “Bang Andar saja yang mengurusnya.” Ujar Wisnu memberikannya kembali kepada Andar.             “Janganlah mas. Ini kan hasil lainnya, mendingan mas Wisnu yang ngurus.”             “Sama saja bang. Lagi pula saya percaya bang Andar pasti jujur dengan perolehan tambahan ini.”             Andar menerima amplopnya kembali dan memasukannya kedalam tas ranselnya.             Juhri yang baru keluar dari dalam langsung menghampirinya.             “Kok cepat banget sih? Tidak jadi ya.”             “Jadilah Juhri. Mas Wisnu hanya perlu semenit menjatuhkan lawannya.” Kata Andar tertawa. Juhri memegang kedua pundak Wisnu dan memijitnya pelan-pelan.             “Hebat mas Wisnu ini. Kapan lagi waktunya mas?”             “Nggak tau bang! Mungkin bang Andar tau.”             “Tiga hari lagi Juhri. Makanya siapin segalanya ya.” Jawab Andar.             “Iya bang.” Juhri mengangguk.             Wisnu meminum teh manis dinginnya yang dibawa oleh Juhri.             “Kita istirahat saja yuk. Agak capek dan panas badan saya.” Ajak Wisnu berdiri dari kursinya.             “Memangnya mas Wisnu mau tidur disini?” Tanya Andar.             “Iya bang. Kasihan pak Rohim kalau saya pulang. Takutnya mereka sudah pada tidur.”             “Ya sudah. Nanti saya beresin di kamar ganti pakaian mas Wisnu.”             Akhirnya mereka bertiga masuk kedalam membawa khayal dan cita-citanya masing-masing.             Keesokan harinya Wisnu yang berangkat kuliah dari perguruannya, pagi-pagi sekali sudah sampai di kampusnya. Dia menyempatkan diri untuk makan bubur ayam yang jadi keinginannya dari dulu.             “Bagaimana situasi jualan disini bang? Masih suka ada yang malak-malak?” Tanya Wisnu.             “Nggak ada mas. Kecuali yang minta bubur sih ada saja. Tapi cuma semangkok saja.”             “Anak mana lagi bang?”             “Nggak tau kalau itu mas. Tapi setelah mas Wisnu menghajar beberapa jagoan disini, suasana jualan kita rada mendingan aman dan laku sih.”             “Syukurlah.”             “Wis! Bagi ya, aku laoar nih.” Kosasih tiba-tiba saja sudah berdiri didepan Wisnu.             “Makan saja yang banyak Kos.” Ujar Wisnu tertawa melihat tingkah lucu sahabatnya yang memegang perutnya seolah lapar berat.             Mereka berdua makan dipinggir jalan itu sambil tertawa sesekali.             Ada suara derum motor yang melaju kencang melewati jalan depan kampusnya Wisnu. Wisnu menoleh ingin melihatnya. Tampak dua motor saling mengejar satu sama lain. Motor yang dibelakang sepertinya mengejar orang yang ada didepannya.             Persis disisi kampus Wisnu motor yang dikejar mendadak oleng jalannya dan jatuh dan menyeret pengemudinya beberapa meter. Kedua orang itu bangkit berdiri dan berlari kearah Wisnu dan Kosasih makan bubur.             “Garong! Garong!” Teriak orang yang ada dimotor yang mengejarnya.             Wisnu melihat dua orang berlari kearahnya. Kakinya Wisnu bergerak menendang sebuah batu yang ada dibawah kakinya. Tujuannya hanya untuk mengalihkan perhatian saja.             Kedua orang yang disangka ‘garong’ menjadi terkejut dan menghambat larinya. Wisnu berdiri dari duduknya dan menghadang mereka.             “Minggir!” Teriak kedua orang itu. Yang terus berlari seperti akan menabrak tubuh Wisnu.             Wisnu menggeser badannya tapi kakinya malah menjulur. Karuan saja kedua orang itu jatuh karena terkait oleh kakinya Wisnu.             Mereka berdua bangun dan hendak melarikan diri lagi. Tapi orang yang mengejarnya sudah berada disampingnya dan langsung menangkap salah satu dari mereka.             Wisnu yang sudah duduk kembali melanjutkan makan buburnya.             Baru saja mau menyuap bubur berikutnya, telinganya mendengar teriakan orang. Rupanya garong itu membawa sebilah golok yang disabetkan kepada orang yang akan menangkapnya. Golok itu mengenai pangkal atas lengannya.             Wisnu reflek bangkit dari duduknya dan menendang kursi duduknya kearah garong itu yang sudah menyabetkan kembali goloknya.             Bangku duduk platik Wisnu mengenai goloknya orang itu. Sebelum sadar apa yang terjadi, kaki Wisnu sudah bersarang di d**a orang yang membawa golok itu. Tubuhnya terjengkang kebelakang dan goloknya terpental. Lalu Wisnu melanjutkan gerakannya dengan melancarkan pukulan lurus kearah badan temannya dilanjutkan dengan tendangan putar Muay Thai. Karuan saja orang itu rubuh dan pingsan.             Wisnu menghampiri orang yang kena sabetan golok garong itu dan mengajaknya untuk duduk dikursi. Sedangkan kedua garong itu dibawa dan diikat oleh keamanan kampus yang sudah berdatangan menghampirinya.             “Bawa ke kantor polisi pojok saja pak!” Ujar Wisnu. “Itu bukti motornya, bawa sekalian ya pak.”             Kedua garong itu buru-buru dibawa kekantor polisi diikuti orang yang mengejarnya. Sedangkan orang yang kena sabetan golok dibawa kedalam kampus untuk diberikan pertolongan pertama.             Wisnu duduk di kursi istirahat mahasiswa bersama Kosasih.             “Wah pagi-pagi sudah ada garong. Mengganggu makan bubur saja, padahal saya masih lapar.” Ujar Kosasih.             Wisnu tertawa. “Nanti siang kita makan di nasi padang Kos, tenang saja.” Wisnu menepuk pundaknya Kosasih.             “Bener ya Wis?”             “Iya, bener.”             “Mas Wis.” Sapa Tuti yang sudah berdiri disebelahnya. “Orang yang tadi sudah pulang. Terimakasih katanya.”             “Ehh, bu Tuti. Iya bu. Terimakasih kembali.” Wisnu berdiri.             “Emh, terus anak saya titip pesan. Katanya sudah mempersiapkan segala kebutuhan mas Wisnu disekolahnya. Untuk penjurian itu.” Lanjut Tuti.             “Iya bu. Nanti saya coba datang ke sekolahnya sekalian melihat situasinya juga.” Balas Wisnu.             “Ya sudah kalau begitu. Saya masuk dulu ya.”             Wisnu menganggukan kepalanya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD