CHAPTER #16
ENAM BELAS
“Selamat siang pak.” Sapa Tuti kepada penjaga sekolah anaknya.
“Selamat siang, bu Tuti. Kirain siapa. Mari masuk bu.” Ujarnya hormat. “Ini siapa bu?”
“Oh iya, kenalkan ini mas Wisnu yang akan menjadi juri perlombaan karate disini, pak.” Jawab Tuti. “Pak Kepala sekolah ada pak?” Lanjut Tuti.
“Ada bu. Mas Wisnu ini masih muda ya. Hebat sudah bisa jadi juri.”
“Tapi sebelum ke ruangan pak kepala, bisa tolong panggilkan dulu anak saya, pak?”
“Bisa bu. Silahkan duduk dulu disini.” Ujar pak penjaga membawa Tuti dan Wisnu keruang tunggu sekolah.
Tidak lama kemudian datang dua orang anak gadis masuk ke ruang tunggu.
“Mah!” Katanya kepada Tuti dan mencium tangannya. “Mas Wisnu.”
Wisnu mengangguk kepada mereka.
Setelah berbincang sebentar kemudian mereka menuju ke ruang kepala sekolah dan membicarakan acara perlombaan karatenya.
Dua hari kemudian acara perlombaan karatepun dimulai di aula serbaguna sekolah anaknya Tuti.
Semakin siang, perlombaan karate jenis kata semakin meriah dengan datangnya perwakilan dari setiap sekolah yang diundang.
Pada jam 2 siang, MC dari panitia mengumumkan kalau perlobaan kata hanya diikuti oleh perserta atau group yang lolos penilaian juri dan dinyatakan peringkatnya.
“Angka terbesar diperoleh SMA 11 dengan nilai 176, kemudian SMA 52 dengan nilai 164 dan peringkat ke 3 SMA 118 dengan nilai 152. Demikian keputusan juri. Karena adanya angka yang sama maka kami persilahkan kepada SMA 52 dan SMA 118 untuk mempersiapkan kelompok kata dengan jumlah 5 orang peserta masing-masing.”
Semua bertepuk tangan meriah.
Dua group kata sudah bersiap dipinggir. Lalu mereka mulai memperagakan gerakan kata kembali.
Setelah 20 menit, kemudian MC mengumumkan kembali pemenang yang berhak menjadi juara ke 2 setelah SMA 11 juara pertamanya.
“Yang memperoleh nilai tertinggi dengan nilai 172 jatuh kepada SMA 118 dan berhak menyandang juara ke 2.”
Sungguh menjadi ramai seisi aula itu dengan teriakan dan tepuk tangan.
“Tunggu!” Tiba dari pojokan keluar seorang laki-laki yang berbadan tegap. “Saya tidak bisa menerima keputusan juri. Saya protes.” Teriaknya.
MC melihat kearah Wisnu.
Wisnu berdiri dan meraih mic yang ada disampingnya.
“Maaf, bapak siapa dan darimana?”
“Saya Lomo, pengajar karate SMA 52.”
“Baik, pak Lomo. Bapak mau protes apa?” Tanya Wisnu.
“Kenapa juri menjatuhkan posisi ke 3 kepada SMA kami? Apa juri disini sudah mengerti dengan gerakan kata?”
“Begini pak Lomo. Perkenalkan saya Wisnu dan saya ketua juri disini. Menurut penilaian kami group dari SMA bapak melakukan beberapa kesalahan gerakan dan kerapihan. Kalau pak Lomo mengetahui bukankah yang dinilai dari gerakan kata adalah keluwesan gerakan, kemantapan gerakan serta kerapihan bergerak. Bukan begitu pak Lomo?”
“Betul, itu saudara Wisnu. Saya melihatnya semua anak didik saya bergerak sesuai dengan kaidah penilaian. Lalu kenapa poinnya menjadi lebih kecil?”
“Oke, kalau begitu saya panggil anak didik pak Lomo, silakan adik-adik dari SMA 52 untuk membentuk posisi seperti tadi.”
Lalu group kata dari SMA 52 menuju ketengah dan membentuk formasi seperti tadi saat perlombaan.
“Maaf, sebelah kanan atas bukan kamu. Kamu berada ditengah tadi. Betul?”
Anak itu menganggukan kepalanya dan berganti posisi ketengah.
“Yang menggantikan posisi ditengah adalah yang dibelakang sebelah kiri. Betul?”
Anak itu segera berganti posisi.
“Oke. Sekarang sudah benar. Saya tanya ke yang ditengah. Apa tadi anda melakukan kesalahan saat melakukan gerakan pukulan pedang kesamping?” Tanya Wisnu. “Coba peragakan sendiri.”
Lalu anak itu membuat gerakan yang diperintahkan oleh Wisnu.
“Sekarang bersamaan.”
Lalu mereka melakukan gerakan yang sama tapi bersamaan.
Memang tampak ada kesalah yang dilakukan oleh anak yang ada diposisi tengah.
“Bagaimana pak Lomo. Bapak melihat kesalahan itu?” Ujar Wisnu.
Lomo terdiam dan memang tampak jelas kesalahannya. Lalu dengan marah dia menghampiri anak didiknya ketengah aula. Tangannya terangkat dan siap untuk memukul anak itu.
Tapi sebelum tangan itu mengenai sasarannya, ada tangan lain yang secepat kilat menangkap tangannya Lomo.
“Bapak tidak boleh kasar disini. Apalag ini sekolahan dan bapak berada disekolah lain.” Ujar Wisnu menepiskan tangannya Lomo.
“Ohh, kamu sudah merasa hebat ya? Mentang-mentang sudah menjadi juri, lalu merasa hebat. Memangnya kamu sudah jadi apa?” Ujar Lomo mendorong badannya Wisnu. Wisnu terdorong dua atau tiga langkah kebelakang.
“Bukan begitu pak. Tapi bapak sudah menjatuhkan wibawa bapak sendiri kalau sampai menampar anak didik bapak. Jangan pak Lomo.” Wisnu seolah memohon.
“Begini saja sekarang. Kalau saudara Wisnu bisa menjatuhkan saya dalam 5 gerakan, saya bersedia mundur jadi pendidik karate di SMA 52. Tapi kalau lebih dari 5 gerakan anda tidak bisa menjatuhkan saya, saya minta untuk mencabut keputusan sekolah saya juara ke 3. Bagaimana berani?” Tantang Lomo.
Wisnu tersenyum kemudian menoleh kearah Tuti dan Kepala Sekolah yang ada disitu. Semuanya mengangguk. Mereka percaya kalau Wisnu bisa mengalahkan Lomo.
“Baik kalau itu maunya pak Lomo.” Ujar Wisnu.
Setelah menyerahkan micnya, Wisnu berjalan ketengah aula. Kemudian menghormat dengan gaya karate, membungkuk setengah badan keseluruh arah.
Semua bersorak. Namun berhenti seketika saat Wisnu mengangkat tangannya.
“Adik-adik sekalian. Ingat ini bukan berantem atau mengadu kepandaian dan kekuatan karate. Saya dan pak Lomo hanya memperagakan keluwesan, ketangkasan dan kekuatan karate. Mengerti semuanya!” Teriak Wisnu berwibawa. Semua yang ada disitu berteriak setuju.
Wisnu berhadapan dengan Lomo dan keduanya membungkuk.
Belum menarik nafas siap, Wisnu sudah diserang oleh Lomo dengan tendangan lurus mengarah keperut. Wisnu tidak sempat bergerak lagi. Kaki kanannya Wisnu ditarike kebelakang kemudian kepalan tangannya dipukulkan kebawah untuk menghadang tendang lurus Lomo.
“Satu!” Teriak Wisnu begitu kepalan tangannua mengenai kaki Lomo. Lomo yang sudah telat menarik kakinya langsung terkena di tulang kering kakinya.
Lomo mengangkat kakinya sebelah karena kesakitan. Tanpa menunggu dan memberi kesempatan kembali Wisnu melancarakan serangan susulan.
Kaki Lomo yang terlihat diangkat, dengan sigap Wisnu menyampok kaki yang satunya dengan tendangan putar menghajat belakang tumit Lomo. Kontan badan Lomo terangkat keatas dan jatuh menimpa lantai aula.
“Dua!” Teriak Wisnu.
Kemudian dengan kecepatan yang sigap Wisnu sudah berdiri disamping badannya Lomo dan memegang tangannya kemudian diputar kebelakang. Karena tangannya diputar Wisnu maka badannya Lomo jadi ikut berputar kebelakang sehingga memunggungi Wisnu. Kemudian Wisnu mengangkat kakinya seolah-olah akan menginjak kepala Lomo. Namun tidak menginjaknya. Kaki Wisnu berhenti diatas tengkuknya Lomo.
“Tiga!” Teriak Wisnu.
Wisnu kemudian merunduk dan mengayunkan kepalan tangannya kearah kepala Lomo menggunakan pukulan godam. Namun berhenti diatas kepala Lomo sebelum menyentuh kepalanya.
“Empat!” Teriak Wisnu.
Kemudian Wisnu berdiri dan menggerakan samping kakinya seperti akan menendang lambungnya Lomo.
“Lima! Selesai!” Teriak Wisnu berdiri tegak disamping Lomo yang masih terkapar dibawah.
Hanya dalam tempo 2 menit Wisnu sudah memperagakan 5 gerakan karate yang luwes, tangkas dan kuat.
Wisnu membungkuk kesemuanya diiringi tepuk tangan meriah dari yang menyaksikan gerakan-gerakan karate Wisnu dan Lomo.
Wisnu menghampiri Lomo dan menyodorkan tangannya untuk mengangkat badan Lomo.
“Kamu hebat, pak Wisnu.” Ujar Lomo membungkuk dan menghormat Wisnu. “Sabuk apa terakhir, mas?” Tanya Lomo.
“Hitam strip putih 4, pak Lomo.”
Lomo terdiam kemudian tersenyum. “Maafkan saya.” Ujarnya. “Saya tidak pantas menantang sabuk hitam Dan IV. Maaf.” Sekali lagi Lomo membungkukan badannya.
Wisnu tidak menjawab tapi malah merangkul Lomo. Lalu keduanya saling berpelukan dibawah riuh rendahnya tepuk tangan di aula.
Perlombaan kata disekolah anaknya Tuti bisa diselesaikan dengan baik meskipun ada insiden yang tidak mengenakan.
“Mas Wis! Sudah siap?” Teriak Andar dari depan perguruannya. “Jemputan sudah datang.”
“Ya, bang Andar. Sebentar!” Wisnu keluar dari perguruannya. Hari sudah mulai gelap dan malam hari ini Wisnu sudah harus melakukan pertarungan lagi.
Jam 8 malam Wisnu sudah siap diruangan ganti pakaiannya.
Setelah mendapat panggilan Wisnupun berjalan menuju ke arena. Begitu masuk kedalamnya yel-yel teriakan menyemangati Wisnu bergema di seputar arena.
Dari pintu arena yang ada didepannya, masuklah seorang petarung. Tingginya sepantaran Wisnu, berotot sekilas Wisnu sudah bisa menebak orang ini mumpuni dengan beladiri.
Segera keduanya saling berhadapan dan sama-sama membungkuk.
Lawannya Wisnu tiba-tiba menarik kakinya kebelakang dan membungkukan badannya. Sementara tangan kanannya ada diatas kepalanya dengan jari telunjuk yang keras menonjol diantara jarinya. Tangan kirinya dengan sikap yang sama sejajar dengan dadanya. Badannya bergoyang mengikuti gerakan kedua jari telunjuknya.
Wisnu hatinya terkejut melihat gerakan orang ini. “Kungfu. Gerakan congcorang.” Bisik hati Wisnu. Dengan tidak menganggap enteng Wisnu lalu merapatkan kakinya. Kedua tangannya disebelah pinggang dengan siku ditekuk, lalu tangan kanannya diangkat keatas diputar diatas kepalanya kemudian didorong kedepan dengan tangan terbuka. Badannya sedikit membungkuk dan menarik kaki kanannya sedikit kebelakang.
Wisnu mengeluarkan jurus Cimandenya. Secepat kilat orang itu bergerak zigzag kearah Wisnu dan melancarkan serangan dengan mengayunkan tangan kanannya mengarah kepala Wisnu sedangkan kaki kirinya digunakan untuk menyambar kaki Wisnu.
Wisnu menggerakan tangan kanannya menahan serangan orang itu sementara kakinya dibiarkan kena tendangan kaki kiri lawannya. Kaki Wisnu yang menahan tendangan orang itu tidak bergeming karena kuda-kudanya yang kokoh. Sementara tangan kanannya yang menghadang pukulan lawan berkelit dengan tiba-tiba. Pergelangan tangan lawan berhasil ditangkap Wisnu, kemudian ditarik kedepan sementara tangan kiri Wisnu melancarkan pukulan hook yang diajarkan Bayu kearah dagu lawan dan kena telak.
Kepala lawan mendongak keatas dan mundur dua langkah kebelakang. Kesempatan ini tidak disia-siakan Wisnu. Kakinya menjejakan ke lantai dan tubuhnya melayang keatas menghampiri lawannya dengan dengkul yang diangkat. Lawannya kaget lalu mencoba menahan dengkulnya Wisnu. Meskipun berhasil menahan dengkul kaki kanan Wisnu, tapi lawannya lalai justru kaki Wisnu yang bergerak menyasar d**a lawannya.
Tendangan imbas ditahannya dengkul Wisnu mengenai d**a lawannya dan terjengkang kebelakang.
Lawannya terduduk sambil meringis memegang dadanya. Sementara Wisnu menghentikan serangannya dan menunggu lawannya bangkit. Wisnu berdiri tegak. Semua orang bertepuk tangan dengan sportifitas Wisnu.
Wasit menghampiri orang itu kemudian bertanya. Terlihat orang itu menggelangkan kepalanya. Lalu dia bangkit dari duduknya. Kemudian kembali memasang kuda-kudanya, bersiap untuk bertarung kembali.
Sekarang Wisnu tidak menunggu lagi. Wisnu menarik kaki kanannya kebelakang dan digerakan untuk tenaga meloncat. Badannya melayang, tangan kanannya ada di sebatas pinggang sementara tangan kirinya dibuka. Begitu sampai dihadapan lawannya. Tangan kiri Wisnu mendorong d**a lawannya dengan keras. Sementara tangan kanannya melesat kearah muka lawannya dan mengenai pelipis. Wisnu menyusulnya dengan tendangan pisau karatenya kearah perut lawannya.
Bunyi berdebum di lantai arena. Tubuh lawannya Wisnu jatuh terlentang dilantai. Wasit segera berlari menghampirinya untuk melihat keadaan lawannya Wisnu.
3 serangan Wisnu berhasil menjatuhkan lawannya. Semuanya bersorak. Wisnupun membungkukan badannya. Kemudian memutarkan badannya untuk keluar dari arena.
Sebelum badannya keluar, sekilas mata Wisnu melihat sekelebat orang yang menyerangnya dari samping. Wisnu mengelak dan kembali kedalam arena.
Semua orang berteriak gusar kepada penyerang Wisnu dengan membokongnya.
“Huhh, pengecut!” Ujar yang menyaksikan.
Orang itu mendekati wasit pertarungan dan bicara pada wasit. Tidak lama kemudian wasit pergi dari tempat itu menuju ke ruangan lain. Orang itu berdiri tegak menatap Wisnu. Andar mendekati Wisnu.
“Hati-hati mas Wis, orang ini berniat tidak baik.”
Wisnu menganggukan kepalanya kepada Andar.
Wasit terlihat datang menghampiri Wisnu sebelum masuk kedalam arena.
“Mas, bos mengijinkan orang ini untuk menantang mas. Bagaimana mau menerimanya? Orang ini juga menawarkan 30 juta bila berhasil dikalahkan oleh mas? Bagaimana?”
“Sebentar pak.” Wisnu lalu memberi isyarat kepada Andar untuk datang. Lalu Wisnu bicara dengan Andar.
Wisnu kembali mendekati wasit. “Saya setuju, asal uangnya sudah bapak pegang.” Ujar Wisnu pasti.
Wasit mendekati orang itu. Kemudian berbicara. Terlihat orang itu menengok kebelakangnya. Ada orang yang datang dan memberikan amplop kepada wasit.
Wasit itu menerimanya kemudian memasukannya kedalam saku celananya. Lalu mengangguk kepada Wisnu.
Wisnu masuk kembali kedalam arena pertarungan diikuti oleh wasit dan orang itu. Semuanya bersorak bergemuruh.
Wisnu berdiri, lalu dia diam pikirannya dipusatkan kepada gerakan-gerakan yang dipelajarinya waktu dikanpung. Guru silatnya berpesan untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan dan mencari kelemahan lawannya.
Begitu wasit itu berteriak ‘mulai’ lawan Wisnu sudah bergerak maju. Badannya melayang diatas dengan kakinya yang lurus mengarah kearah badan Wisnu.
Wisnu hanya bergeser sedikit kekanan, tendangan melayang ala Muay Thai orang itu lolos menendang angin. Wisnu dengan tenang berjalan ketengah arena disertai tepukan tangan yang menyaksikan ketenangan Wisnu.
Ditengah Wisnu berdiri tegak. Kuda-kuda tegak karatenya seolah memaku badannya seperti tonggak besi. Badannya membungkuk setengah, tangannya disamping pinggangnya. Wisnu mengerahkan tenaga karate Dan IV nya. Wisnu menyalurkan semua kekuatannya keseluruh tubuhnya.
Orang itu datang menyerang Wisnu. Semua pukulan dan tendangannya mengenai badan Wisnu. Namun Wisnu tidak bergeming sedikitpun, bahkan dia menggerakan badannya kekiri dan kanan seolah mempersilahkan lawannya memukulinya.
Namun pada sebuah kesempatan lawannya ada didepan jangkauan Wisnu. Tiba-tiba kedua tangan Wisnu bergerak dengan secepat kilat dipukulkan kedepan. Tangan kanan dan kiri berulang-ulang bergerak dari bawah mulai dari perut naik kedada, dari d**a kearah muka lawannya.
Tentu saja pukulannya mengenai badan lawannya berulang-ulang. Entah berapa pukulan yang mengenainya. Badan lawannya masih berdiri tegak saat Wisnu berhenti memukul. Kemudian Wisnupun berdiri tegak. Beberapa detik kemudian badan lawannya Wisnu berdebum jatuh kelantai dalam keadaan pingsan.
Semua bersorak melihat Wisnu mempertunjukan jurus mautnya. Sementara itu wasit menghampiri lawannya Wisnu dan memeriksa nadi orang itu. Kemudian menoleh kepada Wisnu dan mengangguk. Wasit menggerak-gerak tangannya diatas kepalanya. Wisnu membungkuk memberikan hormat. Kemudian keluar dari arena.
Wisnu dengan Andar lalu berlalu dari situ menuju ruang ganti pakaiannya.
Andar bangga akan kehebatan Wisnu. Tangannya menepuk bahu Wisnu.
“Mas Wisnu, memang hebat dan kesatria. Saya bangga membantu kamu mas.” Ujar Andar.
Wisnu tersenyum kemudian memukul pelan bahu Andar. “Bisa saja bang Andar.”
Sebelum Wisnu dan Andar mau meninggalkan ruangan datang seseorang utusan dan menyerahkan tiga buah amplop coklat. Andar menerimanya.
Andar memasukan amplop itu kedalam ransel yang dibawanya.
“Perasaan banyak banget amplopnya, mas Wis?”
“Mungkin itu dari panitia, penjudi dan orang yang tadi penasaran dengan saya, bang.” Ujar Wisnu. “Bawa saja dan masukan ke rekening semuanya setelah diambil untuk kebutuhan kita.”
“Baik, mas.”
Keduanya lalu pulang dengan diantar oleh kendaraan yang menjemputnya.