CHAPTER #17
TUJUH BELAS
Firdaus yang sibuk melayani pasien berhenti sejenak mendengar suara ribut diluar. Setelah menyelesaikan pemeriksaan keadaan pasiennya Firdaus pun berjalan keruang tunggu dan menuju keluar.
Firdaus melihat Anwar sedang berdebat dengan 3 orang laki-laki yang kasar dan membentak-bentak Anwar seperti menantang.
Firdaus membuka baju dokternya. Lalu menghampiri Anwar.
“Ada apa, mas Anwar?” Tanya Firdaus. Matanya menatap orang-orang yang tidak bersahabat itu.
“Ini ada yang mau ketemu dokter. Mereka protes karena katanya menghalangi jalanan kalau sedang praktek. Jadi mereka meminta untuk menutup praktek dokter disini.” Ujar Anwar terdengar marah.
Firdaus menghampiri ke 3 orang itu. Setelah menganggukan kepalanya Firdaus bertanya.
“Maaf, saya Firdaus dokter yang buka praktek disini. Ada apa ya bapak-bapak ini?”
“Saya Undang, dan ini teman saya Akim dan Nurdin. Saya mewakili warga disekitar sini meminta dokter agar menutup tempat praktek, karena mengganggu kelancaran jalan apabila praktek. Banyak kendaraan yang menghalangi jalan dan kelihatannya berantakan.” Kata Undang sambil menuding kearah jalan yang ada didepan rumah praktek dokternya Firdaus.
“Pak Undang, yang dimaksud warga oleh bapak itu waga mana ya?”
“Warga sini lah, pak dokter. Warga komplek juga warga kampung diatas.”
“Aneh ya? Kalau disebut warga kampung, bapak kepala dusun ikut meresmikan praktek dokter saya. Beliau sangat senang dan merestui. Kalau waga komplek, malahan ada 3 RW pak Undang yang datang kesini menghadiri pembukaannya. Jadi warga kampung mana, atau komplek mana yang merasa dirugikan oleh saya?” Tanya Firdaus.
“Ahh, pokoknya pak dokter harus menutup praktek ini, mulai hari ini.” Ujar Undang seperti mau menyerang Firdaus.
“Sebentar pak Undang. Kalau soal berkelahi itu gampang. Tapi saya ingin tau siapa yang menyuruh pak Undang sebenarnya. Sepertinya pak Undang ini disuruh oleh seseorang ya pak?”
Wajah Undang berubah seketika mungkin karena ketauan oleh Firdaus.
Undang menoleh kebelakang. Undang memberi isyarat kepada Nurdin dan Akim untuk maju.
Tapi sebelum kaki mereka melangkah maju, tiba-tiba sebuah bambu melayang ketengah mereka dan menancap ditanah tepat dihadapan mereka bertiga.
“Yang mencoba maju, berarti berhadapan dengan gua.” Terdengar suara berat dan berwibawa datang masuk kehalaman praktek Firdaus.
Firdaus tersenyum, kemudian mengangkat tangannya. “Apa kabar bang Tanu?” Ujarnya.
“Baik, pak dokter. Ada apa ini, heh!” Tanya Tanu kepada mereka bertiga.
Ketiga orang itu sontak kaget dan mengkeret hatinya melihat Tanu preman terkenal sudah berdiri dihadapannya.
“Tunggu! Ajak-ajak dong gua, Tan!” Ada suara lantang lainnya yang juga masuk kehalaman.
Boneng sambil tertawa mengangkat tangannya. “Apa kabar pak dokter, sehat?”
Firdaus tertawa. “Baik pak Boneng, sudah bisa keluar rupanya.” Ujar Firdaus menghampiri Tanu dan Boneng. Lalu mereka bersalaman..
“Siapa orang-orang ini pak dokter?” Kata Boneng, menghampiri mereka yang sudah gemetaran. Ternyata jagoan kampung dan preman terkenalpun mengenal Firdaus. “Ada apa ini hah!” Tanya Boneng. “Sini kalian!” Teriaknya.
Mereka bertiga datang menghampiri Boneng dan Tanu.
“Maaf, bang Boneng, bang Tanu. Saya hanya disuruh oleh dokter Marwan untuk mengganggu praktek dokter Firdaus saja. Kami minta maaf.” Undang yang jadi juru bicaranya terbata-bata bicara didepan Boneng dan Tanu.
“Wahh, tuh orang nggak ada kapok-kapoknya. Heh, tau nggak. Gua ini masuk bui kemarin juga si Tanu. Lu tau siapa yang keluarin kita dari penjara, heh? Si Marwan atau pak dokter? Jawab!” Teriak Boneng, tangannya sudah memegang pemukul kayu yang dibawanya.
Undang dan kawan-kawannya menggelengkan kepalanya.
‘Makanya lu, sebelum apa-apa itu bilang dulu sama gua.” Ujar Boneng menakut-nakuti mereka dengan mengangkat pemukul kayu. “Nah, sekarang kalian mendingan pergi dari sini sebelum pikiran gua berubah. Dan ingat jangan pernah mencoba datang-datang kesini lagi, ngerti?”
“Iya bang Boneng, kami permisi. Permisi bang Tanu.” Ujar mereka terbongkok-bongkok jalannya menjauh dan keluar dari halaman prakter Firdaus.
Firdaus mendekati Boneng dan Tanu lalu mengajaknya mereka masuk kedalam.
Rumah praktek Firdaus tidak lama kemudian ditutup karena sudah jamnya untuk tutup. Sementara itu Firdaus, Boneng dan Tanu ditemani Anwar ngobrol diteras rumah prakteknya sampai menjelang tengah malam.
Bayu, pagi itu sudah masuk kantor. Dia sengaja datang pagi-pagi banget karena ingin membereskan file yang ada dimejanya bekas kemarin belum sempat dibereskan kembali.
Begitu masuk kedalam ruangan tempat kerjanya, ruangan Intan sudah terbuka dan lampunya menyala. Bayu agak heran dan penasaran. Dengan berjinjit dia mencoba mengintip dari balik jendela. Tampak oleh Bayu, Intan sedang berjongkok seperti mencari sesuatu.
“Mencari apa bu?” Tanya Bayu dari pintu ruang Intan.
Intan berseru kaget, dan kepalanya kena meja kerjanya. Lumayan cukup keras karena ada bunyi ‘dukk’ terdengar oleh Bayu.
“Bayuu! Apa-apaan sih kamu? Bikin kaget saja.” Teriak Intan sambil memegang kepalanya yang kepentok meja.
“Aduhh, maaf bu Intan!” Jata Bayu menghampiri Intan. “Saya lihat ruangan ibu nyla. Jadi saya penasaran ingin melihat. Karena kan nggak biasanya jam segini ibu sudah datang.”
“Ahh, kamu ini Bay. Bantuin saya berdiri.” Kata Intan mengulurkan tangannya minta ditarik.
Tangan Intan yang putih dan bersih dipegang oleh Bayu. Kulitnya yang halus terasa ditangan Bayu seperti kapas. Lalu ditariknya, tapi karena Bayu tenaganya belum bisa mengukur kekuatan Intan, jadinya agak kencang.
Saking kencangnya menarik Intan, badan Intan jadi terbawa tenaga tarikan tangannya Bayu. Kontan saja badannya Intan jadi menubruk badannya Bayu yang tegak berdiri. Intan jatuh didadanya Bayu.
Bayu yang kaget badannya Intan ada didadanya, kakinya jadi terpelesat kebelakang dan jatuh dengan punggungg Bayu lebih dulu. Karuan saja tubuh Intan jadi berada diatas tubuh Bayu.
Saat itulah Intan melihat dan merasa kalau badannya Bayu kuat dan keras berotot. Intan tidak buru-buru bangun malah seperti menikmatinya. Tapi Bayu cepat tersadar dan segera bangun dengan sebelah tangannya sambil tangannya tetap memegang badannya Intan.
Bayu kemudian menegakan badan Intan yang sedang menutup matanya dalam dekapan Bayu.
“Maaf bu. Saya minta maaf.” Kata Bayu melepaskan pegangannya.
“Kenapa kamu lepaskan, Bayu.” Ujar Intan yang tertawa melihat Bayu gelagapan dihadapannya.
“Saya permisi keluar, bu.” Ujar Bayu lagi dan melangkah menuju pintu keluar ruangan Intan.
Bayu kemudian duduk dikursi kerjanya. Jantungnya berpacu sangat cepat. Maklumlah Bayu belum pernah menyentuh perempuan. Kemudian Bayu menarik nafas panjang.
“Kamu ngapain pagi-pagi begini sudah datang?” Tanya Intan yang sudah berdiri disebelah kursi kerjanya.
“Emh, ada yang harus saya bereskan, bu Intan.” Jawab Bayu.
“Jangan panggil ibulah Bay. Saya ini kan belum tua-tua amat.” Kata Intan duduk dipinggir meja Bayu. “Panggil Intan, atau Iin saja kalau sedang berdua. Gimana bisa kan?”
“Iya, oya bu. Ehh, maksud saya In.” Bayu semakin tidak karuan perasaannya.
“Kamu sudah punya pacar Bay?” Selidik Intan.
“Belum, In. Mana ada yang mau sama saya.” Jawab Bayu. Tangannya terus bekerja membereskan dokumen yang berserakan dimejanya.
“Kalau saya mau, gimana Bay?”
“Hah! Mau apa In?” Tanya Bayu. Tangannya mulai gemetaran lagi mendengar jawaban Intan.
“Iya saya mau jadi pacar kamu.” Tegas Intan sekali lagi.
Bayu diam dan duduk dikursi kerjanya. Matanya memandang Intan seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
“In. Jangan berkata sembarangan, sebab omongan itu bisa mengakibatkan orang menyesal suatu saat nanti.” Jawab Bayu. Dalam sekejap bicaranya menjadi seperti orangtua.
Intan tertawa. Tangannya memegang tangannya Bayu.
“Kok, tiba-tiba jadi dewasa begini sih Bay. Memangnya kenapa dengan omongan saya? Saya bener-bener menyukai kamu, kok?”
“Iya In, itu sekarang karena kamu belum tau siapa saya.”
“Memangnya kamu siapa Bay?” Desak Intan. Intan turun dari pinggir meja Bayu dan menarik kursi didepan meja kerja Bayu dan duduk disebelah Bayu.
Bau harum parfum Intan membuat Bayu semakin gemetar.
“Saya ini anak orang miskin, In. Anak pengganti dari orangtuanya yang sedang sakit dan tidak bisa bekerja lagi diperusahaan milik ayah kamu. Jadi secara tidak langsung, sekarang saya juga adalah anak buah kamu, In.” Kata Bayu memandang matanya Intan yang berbinar mendengar kalimat Bayu yang berobah drastis. “Itu adalah hal yang sangat tidak mungkin. Anak pemilik perusahaan berpacaran dengan anak buahnya,”
“Ahh, kata siapa nggak boleh? Siapa yang bilang?” Intan semakin mendesak Bayu.
“Kata saya. Memangnya kata siapa lagi?” Balas Bayu. Sekarang mengalihkan pandangannya kepada dokumen yang ada diatas meja kerjanya.
“Sudahlah Bay. Saya tau kamu, dan saya tau apa resikonya. So, saya ingin kamu jadi pacar saya. Titik.” Ujar Intan berdiri dari kursinya. “Awas kalau tidak mau.” Katanya sambil mengangkat telunjuk jari tangan kanannya. Intan tersenyum.
Bayu yang seumur hidup baru mengenal perempuan garuk-garuk kepalanya padahal tidak gatal.
“Ampun dah, cewek ini. Harus gimana gua ini? Mendingan berantem ama 5 orang daripada ngadepin persoalan kayak gini. Haduhh.” Gumam Bayu garuk-garuk kepala lagi. “Bodo ahh, nanti juga dia nyesel kalau tau gua siapa dan ngapain diluar kerja.”
Setelah beres dengan dokumennya, Bayu bangkit dari duduknya dan menuju pintu. Bayu ingin menenangkan pikirannya dibelakang bersama dengan teman-teman bengkelnya, terutama Udin.
Begitu sampai diruangan Udin, Bayu menjatuhkan badannya di kursi tamu dihadapan meja kerjanya Udin.
Udin yang sedang membelakangi Bayu, menoleh melihat Bayu yang sedang kacau pikirannya.
“Ehh, mas Bayu. Apa kabar mas?” Sapa Udin sambil tertawa.
“Baik pak, tapi pusing pak.” Balas Bayu tidak jelas kalimatnya.
“Pusing? Kenapa mas? Aduhh, saya nggak ada obat pusing lagi.” Kata Udin blingasatan seperti mencari obat sakit kepala.
“Pak Udin. Bukan pusing itu pak.”
“Loh, jadi pusing apa dong? Bukannya sudah enak kerja dikantoran bukan dibengkel?” Tanya Udin yang langsung duduk dikursi kerjanya berhadapan dengan Bayu.
“Justru itu. Harusnya sih tidak. Ini malah tambah pusing malahan.”
“Emh, saya sudah tau penyebabnya. Non Intan kan?”
Bayu mengangguk.
Udin tertawa terbahak-bahak sampai semua orang yang ada diluar masuk keruangannya.
“Ada apa pak Udin?” Tanya anak buahnya.
“Nggak ada apa-apa wey! Saya hanya tertawa saja. Sudah sana, kerja lagi.”Jawab Udin tersenyum dan memberi isyarat kepada yang lainnya.
Anak buahnya mengerti, lalu merekapun pada keluar lagi dari ruangannya.
“Minum mas Bay.” Ajak Udin yang lalu membagi dua kopi yang ada di mejanya. Bayu menerimanya dan langsung meminumnya.
“Tolong lah pak Udin, serius dikit.” Bayu seperti memelas minta tolong Udin.
“Ya, ya. Mas Bayu memangnya ada masalah apa dengan Non Intan?”
“Ini masalah yang paling berat sampai saat ini untuk saya pak.” Sahut Bayu. “Begini pak Udin...” Lalu Bayu menceritakan kejadian yang baru dialaminya diruangan Intan.
Begitu selesai Bayu menceritakannya, sekali lagi pak Udin tertawa keras.
Bayu hanya melongo saja melihat tingkah Udin.
“Kan! Bapak ini hanya bisa tertawa saja. Nggak bisa kan mecahin masalah kayak begini?” Kata Bayu meminum sisa kopinya.
“Justru mas Bayu. Inilah masalah yang paling gampang dipecahin.” Jawab Udin. “Sekarangkan mas Bayu hanya tinggal milih saja. ‘Ya’ atau ‘tidak’ kan?”
“Bapak gampang saja tinggal bilang begitu. Saya pak, saya yang menjalani yang akan digantung.” Ujar Bayu.
“Sekarang saya mau nanya sama mas Bayu. Apa mas Bayu suka sama Non Intan?”
Bayu terdiam. “Saya belum pernah suka sama perempuan pak. Saya belum pernah pacaran sekalipun.” Jawab Bayu jujur. “Jadi tentunya susah untuk menjawab pertanyaan itu.”
“Kok susah sih? Mas Bayu hanya tinggal jawab, kok! Suka apa nggak sama non Intan?” Tanya Udin sekali lagi.
“Suka pak.”
“Nah, apalagi yang susah. Tinggal mas Bayu bilang sama non Intan ‘saya suka sama non Intan’, gitu. Selesai persoalannya, kan?” Jawab Udin.
“Apanya yang selesai? Yang ada pusing pak.”
“Sekarang saya nanya lagi deh. Mas Bayu kan bilang ‘suka’, lalu suka apanya dan kenapa? Jawab yang jujur mas.”
“Ya suka karena cantik, baik dan sangat perhatian kepada orang lain juga.”
“Lalu kalau mas Bayu suka karena itu, apa mas Bayu juga suka karena cinta sama non Intan?”
“Mungkin, pak.”
“Kok, mungkin sih. Yang jelas dong jawabnya kalau jadi laki-laki. Cinta nggak sama non Intan?”
“Iya, iya saya cinta sama Intan.” Teriak Bayu agak keras. Hatinya berdegup kencang saat bilang cinta sama Intan.
“Siapa yang menyatakan suka pertama kali? Mas Bayu atau non Intan?” Tanya Udin mendesak Bayu.
“Intan pak. Intan bilang dia juga mau sama saya, katanya.”
“Lalu apalagi? Mas Bayu cinta sama Intan. Intan suka sama mas Bayu. Jadi tunggu apalagi mas Bay?”
Bayu terdiam membisu. Ada keraguan dalam hati Bayu. Dia merasa dirinya tidak pantas untuk jadi pacarnya Intan. Dia miskin, sedangkan Intan kaya dan atasannya di kantor. Lebih dari itu Intan juga belum tau kehidupannya diluar sana. Dia mencari uang dari pertarungan yang dijalaninya untuk menghidupi dan menutupi kebutuhan keluarganya.
Intan yang berada dibalik pintu ruangan Udin tersenyum sendiri. Dia bangga akan Bayu yang memperhitungkan semuanya dengan hati-hati dan tidak asal bicara atau memilih.
Intan berada disitu karena saat dia keluar ruangan tidak melihat Bayu ada ditempatnya. Pikiran Intan langsung tertuju ketempat kerjanya Byau sebelum menjadi staf administrasinya. Pelan-pelan dan tidak ribut Intan berjalan menuju ke bengkel. Saat mau mengetuk pintu ruangan Udin, Intan mendengar suara pembicaraan Bayu dan Udin didalam. Makanya Intan memutuskan untuk ‘menguping’ pembicaraan mereka.
Setelah mendengar semuanya, lalu Intan masuk kedalam ruangan Udin. Karuan saja Bayu dan Udin kaget bukan kepalang.
“Bu Intan, masuk bu!” Kata Udin sambil berdiri dan menghampiri Intan. “Ada apa ya bu? Ada yang bisa saya bantu?” tanya Udin yang merasa terpojok.
“Ada pak Udin. Tolong bilang sama Bayu untuk kembali ke meja kerjanya. Sekarang dia tidak bekerja di bagian bengkel lagi tapi di bagian admnistrasi, didepan.” Ujar Intan agak keras suaranya. Sementara matanya berkedip kepada Udin memberi isyarat. Udin mengerti.
“Maaf bu Intan. Saya tidak tau menau tentang kerjaan itu. Silakan ibu saja sendiri yang bicara sama mas Bayu.” Ujar Udin keluar dari ruangannya.
“Pak Udin, mau kemana?” Tanya Intan.
“Ada kerjaan di sebelah bu, maaf saya tinggal dulu.” Ujarnya buru-buru keluar.
Intan lalu duduk disebelah Bayu.
“Mau kembali kerja didepan nggak? Atau milih disini?” Tanya Intan menatap Bayu yang menundukan wajahnya.
“Iya In, aku kerja didepan saja.”
“Kenapa mau kerja didepan lagi? Kalau hanya soal saya suka saja kamu sudah lari Bay?”
Bayu terdiam.
“Ahh, sudahlah. Kalau memang tidak pernah suka saya, ya sudah. Saya juga nggak maksa, kok.” Ujar Intan berdiri dari kursinya. “Sekarang, kamu mau ikut saya atau nggak?”
“Iya, saya ikut kamu In.” Jawab Bayu berdiri dari kursinya.
“Kamu suka sama saya nggak?”
“Iya, iya saya suka sama kamu, In.” Ujar Bayu menatap matanya Intan.
“Cinta nggak?” Susul Intan.
“Cinta, In. Saya cinta kamu. Tapi jangan menyesal kalau kamu dicintai orang seperti saya.”
Intan tertawa kemudian memeluk Bayu.
Setelah Intan melepaskan pelukannya, lalu Bayu dan Intan keduanya keluar dari ruangan Udin menuju tempat kerjanya.