CHAPTER #18
DELAPAN BELAS
Pagi itu Firdaus sudah siap berangkat ke toko obat herbal yang ada didaerah Jalan Gatot Subroto.
“Dok! Saya ikut apa nggak?” Tanya Anwar.
“Kalau mau ikut sih, boleh saja.” Balas Firdaus.
Keduanya berangkat menuju Gatot Subroto. Begitu sampai di sebuah toko herbal Firdaus mengeluarkan catatannya dan memberikannya kepada pelayan toko untuk disiapkan.
“Hanya ini saja, dok?”
“Iya, mas. Masih ada sisa dirumah dan masih banyak.”
“Baik, sebentar ya, dok.”
Firdaus dan Anwar duduk dikursi tunggu pembeli depan toko obat herbal.
Dari kejauhan Firdaus dan Anwar melihat beberapa orang mendatangi toko herbal itu. Kelihatannya tidak bersahabat. Muka mereka angker dan badannya bertato juga berotot.
“Mana pemilik toko ini?” Tanya salah seorang dari mereka, angkuh.
“Ada didalam, bang.” Jawab pelayan perempuan terlihat ketakutan.
“Cepat panggil sini! Buruan!” Suaranya keras membentak pelayan itu.
Tidak lama kemudian keluar seorang pemuda yang cukup tegap. Firdaus melihat gerakan kaki anak muda ini ringan dan lincah.
“Ya, bang. Ada apa ya?” Tanyanya, ramah.
“Nggak ada apa-apa. Gua kesini hanya mau minta jatah keamanan saja.” Jawabnya menatap pemuda itu. “Siapa nama, lu?”
“Saya Alvin, bang. Papah saya sedang keluar, jadi maaf saja belum bisa bantu abang ini.” Jawabnya santai.
“Heh, Alvin! Dengar ya. Kan lu anaknya, jadi bisa dong ngasih gua sekarang?”
“Maaf bang.” Jawabnya. “Saya tidak tau dengan jatah keamanan. Kedua saya tidak bisa mengeluarkan sesuatu dari toko ini tanpa diketahui Papah saya.”
“Ahh, banyak sekali omong kamu ini.” Ujarnya. Tangannya bergerak seperti akan memukul kaca etalase toko. Tapi belum sampai kena kaca, ada tangan yang kokoh menangkap tangannya.
“Jangan, bang. Nanti pecah dan tangan abang luka.” Anar sudah berdiri dan memegang tangannya Anwar. Wajahnya menoleh kearah Alvin, memberi isyarat. Alvin mengerti dan keluar dari dalam tokonya. “Maaf, abang ini siapa, ya?” Anwar melepaskan pegangan tangannya.
“Kok, nany gua. Justru siapa elu beraninya gangguin kerjaan gua?” Ujarnya. Tangannya melayang seperti akan menampar wajahnya Anwar. Tapi dia kaget karena Anwar tiba-tiba sudah menghilang dari pandangannya. Anwar sudah berada dibelakangnya. “Wahh, nantang, ya?”
“Nggaklah, bang. Mana berani saya nantang abang. Saya kan hanya nanya nama abang saja.” Jawab Anwar tersenyum. Alvin yang melihat gerakan Anwar sedikit menjadi tenang. “Nama saya Anwar dan itu guru saya, mas Firdaus.” Ujarnya menunjuk Firdaus yang sedang duduk.
Firdaus tertawa. “Ahh, bisa saja mas Anwar ini.” Jawab Firdaus. “Justru bang Anwar ini guru olahraga saya.”
“Ehh, malah bercanda. Kalau mau tau nama gua, oke. Nama gua Codet.” Ujarnya.
Memang cocok nama orang itu, karena ada bekas luka diwajahnya yang menggaris dipipi kirinya.
“Nah, kalau yang disana, semuanya anak buah gua.” Lanjutnya.
“Ya, kalau begitu, sudahlah bang. Mas Alvin ini kan tidak tau tentang maksud jatah keamanan. Jadi tunggulah orangtuanya datang.” Ujar Anwar menatap Codet.
“Ya, nggak bisa. Kerjaan gua masih banyak. Lagian ngapain sih lu yang ngatur sekarang?”
“Jadi siapa maunya yang ngatur abang?”
Codet berbalik dan menghampiri Alvin. “Sini, lu!” Ujarnya.
Tangannya Codet menjulur seperti akan menarik bajunya Alvin. Tapi tangannya Alvin menepis.
“Ohh, jadi mau melawan gua, nih?” Codet sedikit kaget melihat Alvin malah melawannya. Seolah tidak takut olehnya.
“Sudahlah, bang. Tidak perlu ribut. Kita tunggu Papah saja, ya.” Jawab Alvin masih sabar.
Codet tidak membalas ucapan Alvin, tapi malah maju dan tangannya terentang seperti akan menangkap badannya Alvin.
Alvin tidak bergerak tapi kaki kananya ditarik mundur kebelakang. Tangan kirinya bergerak menangkap tangan kanannya Codet lalu menarik dan memutarkan tangannya kebelakang leher Codet. Badan Alvin sudah ada dibelakang Codet. Tangan kanan Alvin kemudian menarik leher Codet dan menekan kebawah sambil diputarkan. Badannya Codet terangkat dan terbanting di lantai toko dengan tertelungkup.
Tangannya Codet masih ditelikung dibelakang leher, lalu Alvin menekan leher Codet dengan dengkulnya sehingga tidak bisa bergerak.
3 orang temannya bergerak akan membantu Codet. Salah satu kaki dari temannya Codet sudah melayang akan menendang Alvin. Tapi belum kakinya sampai di badan Alvin, ada kaki lain yang mendahului menendang kakinya.
Orang itu merintih sambil mengangkat kakinya karena betisnya terasa seperti patah di hajar kayu.
Anwar sudah berdiri menghadapi ketiga orang itu.
“Mau nyoba, jurus gua, bang?” Tanya Anwar tersenyum.
“Serang!” Teriak orang yang kena sampok kakinya.
Kedua temannya bergerak menyerang Anwar. Anwar hanya tersenyum meladeninya. Alvin yang masih menekan leher Codet mengingatkan Anwar. “Hati-hati mas.”
Anwar mengulurkan tangannya terbentang kedepan dan mengibaskan salah satu pukulan mereka berdua. Badannya maju selangkah seiring menggerakan tangan kirinya meninju lurus salah seorang yang dekat dengannya. Pukulan tepat pada sasaran. Orang itu mendongak terkena pukulan didagunya. Anwar tidak melepaskan kesempatannya lalu bergerak merangsek orang itu dengan melancarkan pukulan berulang dengan kedua kepalannya kearah d**a.
Ada bunyi pukulan bersarang beberapa kali didada orang itu sebelum tubuhnya limbung kebelakang dan jatuh berdebam dilantai.
Orang satunya karena merasa agak jauh badannya dengan Anwar meloncat keatas dan kaki kanannya menendang dari arah samping dengan sasaran kepalanya Anwar. Melihat ada kaki yang melayang kearah kepalanya Anwar menundukan kepalanya. Kaki itu menendang angin. Begitu kaki orang itu menginjak lantai toko, Anwar melihat badannya tidak seimbang. Kedua tangan Anwar mendorong orang itu dengan keras sampai terjengkang karena mengenai badan temannya yang masih memegang kakinya. Kontan keduanya terlentang.
Firdaus tertawa melihat adegan itu.
“Sudah, lepasin mas.” Ujar Firdaus kepada Alvin. “Kasihan, tuh dia tidak bisa bernafas.”
Alvin mengangkat kakinya dan melepaskan tangan yang menelikung tangan Codet.
Codet masih diam terbujur. Firdaus menendang kaki Codet dengan ujung kakinya. Baru Codet tersadar dan bangun dari lantai toko obat herbal itu.
Codet berdiri, wajahnya celingukan dan menemukan anak buahnya sedang mengusap bagian badannya sambil mengerang kesakitan. Matanya beralih melihat kepada Alvin, Anwar dan Firdaus yang sekarang sudah duduk di kursi tunggu toko.
“Nggak apa-apa, bang?” Tanya Firdaus.
Codet tidak menjawab tapi menghampiri anak buahnya yang masih merintih kesakitan.
“Kita cabut dari sini.” Ajaknya sambil memegang dan menarik salah satu tangan anak buahnya untuk berdiri.
Keempat orang itu berlalu dengan berjalan agak terpincang-pincang.
“Terimakasih, mas” Ujar Alvin kepada Anwar.
“Sama-sama, mas.” Jawab Anwar. “Lagipula tidak enak melihat sikap mereka.”
“Ehh, mas Alvin. Belajar Aikido dimana?” Tanya Firdaus.
“Pak dokter tau jurus aikido, ya?” Tanya Alvin.
“Ya sedikit. Karena saya juga sempat belajar judo dan jujutsu. Aikido kan sering disebut sumber asalnya.” Jawab Firdaus.
“Betul itu, dok.” Kata Alvin melanjutkan. “Saya pernah dengar itu dari guru aikido saya. Orangnya masih muda tapi sudah banyak menguasai tekniknya.”
“Siapa orang itu?”
“Dia sebenarnya seorang karateka tapi menguasai teknik aikido saja. Jadi tidak mengajar aikido, justru dia mengajar karate. Nah, saya karena salah seorang murid karatenya dan sering bertanya tentang beladiri, dia mengajari saya teknik gerakan menangkap dan melumpuhkan aikido itu.” Jawab Alvin.
“Ohh, jadi dia tidak mengajar aikido, begitu maksudnya?”
“Iya, pak dokter.”
“Namanya?” Tanya Anwar.
“Kami memanggilnya Sensei Wisnu.” Jawab Alvin.
Firdaus terdiam sejenak. Dia merasa pernah mendengar nama itu. Otaknya berputar mengingat-ingat.
“Kenapa pak dokter? Kenal nama itu?”
“Sepertinya begitu, mas. Tapi dimana ya?”
Seorang pelayan menghampiri mereka dan melongok dari balik etalase.
“Barangnya sudah selesai, pak dokter. Mau dicek kembali?” Tanyanya.
“Nggak usahlah, mbak. Percaya kok.” Jawab Firdaus merogoh tasnya setelah menerima kuitansi dari pelayan toko. Kemudian menyerahkannya kepada pelayan itu.
Setelah selesai semuanya, Firdaus dan Anwar mengangkat barang beliannya dan memasukannya kedalam mobil yang diparkir didepan toko herbal itu.
Sementara itu orang yang menyaksikan kejadian tadi pada mengangguk kepada mereka berdua. Firdaus dan Anwar menjawabnya dengan mengangguk lebih sopan dari mereka.
Menjelang siang hari, Firdaus dan Anwar sudah sampai ditempat praktek Firdaus.
Dihalaman rumah Nina, asistennya dokter Ambardi, ayahnya Firdaus sudah menunggu. Kelihatannya agak gelisah.
“Pak dokter, ahh, untung saja cepat datang.” Ujarnya menghampiri Firdaus yang baru turun dari mobilnya.
“Kenapa, mbak?”
“Ayah pak dokter tadi didatangi orang. Katanya teman pak dokter. Sekarang masih menunggu disana. Namanya kalau nggak salah Wisnu.” Jawab Nina.
“Wisnu? Kok, bisa sama dengan nama yang disebutkan Alvin, ya?” Bisik hati Firdaus.
Firdaus memegang kepalanya, tapi kemudian tertawa.
“Iya, mbak. Nanti saya kesana setelah memasukan barang-barang ini dulu.”
“Baik, pak dokter Saya pulang dulu, ya.”
Firdaus mengangguk.
Anwar yang mendengar cerita Nina merasa heran.
“Kok, dokter tertawa?” Tanya Anwar.
“Mas Anwar. Masih ingatkan waktu Alvin nama orang yang mengajar teknik aikido? Siapa coba namanya kalau masih ingat?”
“Sensei Wisnu, dok.”
“Nah, dirumah juga ada yang mengaku teman saya sedang menunggu. Anehnya, namanya sama, Wisnu juga.” Ujar Firdaus tertawa.
“Kok, bisa ya? Aneh, ahh.”
“Sekarang saya mau kerumah Papah. Mas Anwar bisa menyelesaikan ini kan?”
“Bisa, pak dokter. Silahkan saja kalau mau berangkat sekarang. Tidak apa-apa, kok. Kan ada mbak Siti didalam, belum lagi mbak Novi sebentar lagi juga datang.”
“Oke. Kalau begitu saya duluan, ya mas.”
Anwar mengangguk. Sedangkan Firdaus berhalan kembali ke mobilnya dan langsung menjalankannya menuju rumah ayahnya.
Firdaus memarkirkan mobilnya dihalaman rumah ayahnya dan keluar dari mobilnya. Dari teras rumah bangkit seorang pemuda dan berdiri menunggu.
“Hey, Wisnu?”
“Iya, mas Fir. Untung saja masih ingat saya.” Jawab Wisnu mengulurkan tangannya untuk menjabat tangannya Firdaus.
Keduanya saling bersalaman dan Firdaus mengajak duduk Wisnu untuk duduk kembali.
“Ada apa, nih. Tumben-tumbenan datang?” Tanya Firdaus.
“Nggak ada apa-apa, Fir. Hanya mau minta tolong sedikit. Ini samping kiri d**a saya agak sakit kalau menarik nafas.” Ujar Wisnu menunjukan tempat sakitnya.
“Coba, coba saya cek dulu.” Ujar Firdaus. Tangannya terulur kerah tempat yang ditunjukan oleh Wisnu dan menyentuhnya.
Wisnu mengeluh. Kemudian Firdaus menyentuh sisi lainnya, tapi Wisnu tidak merasa apa-apa.
“Kenapa ini mas?”
“Kena tendangan orang. Tapi saya tidak merasa sakit waktu kenanya. Baru sekarang-sekarang ini saja terasa. Itupun kalau saya menarik nafas saja, mas Fir.”
“Emh, ini karena ada otot yang meleset didaerah iga. Pasti bekasnya agak membiru, kan mas?” Jawab Firdaus.
“Iya, mas Fir. Apa ya obatnya?”
“Ada sih, nanti saya bawain. Sekarang coba saya lihat dulu luka birunya?”
Wisnu membuka kaosnya.
Firdaus memperhatikan warna biru yang ada tepat dibawah ketiak tangan kirinya Wisnu.
“Iya, mas. Betul ini karena susunan otot yang luka. Untung saja bukan tulang iganya yang patah.” Jawab Firdaus menyuruh Wisnu untuk menutupnya kembali.
Wisnu kemudian duduk seperti biasa.
“Sebentar ya, saya ambil dulu obat pereda sakit dan obat herbal untuk dioles didaerah biru lebamnya.”
“Iya mas.” Jawab Wisnu.
Tidak lama kemudian Firdaus sudah datang kembali ke teras membawa obat oles dan tablet pereda sakitnya.
“Ini minum sekarang.” Ujar Firdaus memberikan pil kepada Wisnu.
Wisnu kemudian meminum pil itu.
“Sekarang coba buka lagi kaosnya, mas Wis.”
Setelah Wisnu membuka kaosnya, Firdaus kemudian mengoleskan sedikit demi sedikit obat herbalnya disekitar luka membirunya.
“Jangan dipijit-pijit, tapi cukup diolesi saja ya, mas.” Ujar Firdaus sambil beberapa kali mengolesinya.
“Nah, sudah.” Lanjut Firdaus dan menyuruh Wisnu memakai kembali kaosnya.
“Terimakasih, mas Fir.”
“Sama-sama mas Wis. Untuk dua atau iga hari jangan ngajar beladiri dulu, ya mas.” Kata Firdaus mencoba memancing Wisnu.
“Iya, mas. Ehh, tau darimana saya mengajar beladiri?” Tanya Wisnu heran. Matanya memandang Firdaus.
Firdaus tertawa.
“Ya, tau saja mas. Saya melihat luka begini bukan sembarangan karena dipukul kayu.” Jawab Firdaus. “Bahkan bukan juga karena melatih beladiri.”
Wisnu terdiam.
“Mengajar apa, mas? Karate apa Aikido?” Firdaus meneruskan pancingannya.
“Karate, mas Fir. Saya tidak bisa Aikido.” Jawab Wisnu tersenyum malu karena ketauan Firdaus.
“Tapi bisa Aikido, kan mas?”
“Ya, hanya sedikit, mas. Hanya teknik tangkapan dan bantingan saja. Mas Fir tau darimana saya bisa teknik aikido?” Tanya Wisnu saling memancing.
“Tau saja, mas. Saya pernah belajar Jujutsu dan Judo.” Balas Firdaus. “Mas Eisnu, punya murid yang namanya Alvin di dojo?”
Mendengar itu Wisnu tertawa.
“Ahh, saya tau kalau begitu. Informasi ini dari Alvin, kan mas?” Tanya Wisnu.
Giliran Firdaus yang tertawa. Keduanya jadi saling tertawa.
Lalu berceritalah Firdaus tentang kejadian yang baru saja dialaminya di toko herbal milik orangtuanya Alvin.
“Jadi begitu, ceritanya mas.” Jawab Firdaus. “Sungguh luwes gerakan Alvin melakukan gerakan aikidonya.”
“Iya, mas Fir. Anak itu memang selalu banyak pertanyaan dengan ilmu beladiri itu. Padahal saya hanya bisa karate dan silat saja. Aikido saya hanya diajari sedikit tekniknya dari guru silat saya malahan.” Wisnu menerangkan. “Jadi setiap kali belajar karate, Alvin ini suka menunggu sampai semuanya kosong lalu minta saya mengajari teknik aikido itu dan mempraktekannya.”
“Tapi bener, loh mas. Alvin itu bagus banget menggerakan teknik aikidonya. Sampai si Codet itu tidak bisa bernafas dan pingsan di tekan kakinya Alvin. Untung saja saya melihatnya, kalau nggak mungkin sudah keburu lewat tuh si Codet.”
Keduanya ngobrol diselingi tawa berdua.
“Tempat mas Fir ini ternyata bukan disini ya? Dimana sih, mas?” Tanya Wisnu.
“Disebelah sana, mas Wis. Tidak jauh, kok. Mau lihat tempat praktek saya?” Tanya Firdaus menawarkan.
“Mau sih, tapi apa tidak mengganggu?”
“Tidak lah, apa yang diganggu. Yuk, kalau mau lihat tempatnya?” Ajak Firdaus. “Ohh, iya ini obat pereda sakitnya, sehari 3 kali. Dan ini obat oles herbal. Pergunakan 2 atau 3 kali saja sehari sesudah selesai mandi.” Firdaus menyerahkan bungkusan obatnya.
“Berapa saya harus bayar, mas?” Tanya Wisnu.
“Ya, kalau buat teman sih cukup 20 juta, deh.” Jawab Firdaus bercanda.
Wisnu melongo mendengar ucapan Firdaus.
Firdaus tertawa melihat muka Wisnu yang melongo.
“Bercanda, mas. Masa sya minta bayaran kayak begitu. Untuk mas Wisnu, kapan saja dimana saja, semuanya gratis.” Balas Firdaus memukul bahunya Wisnu.
Wisnu tertawa mendengar candaan Firdaus.
“Kirain beneran, mas Fir. Smapai keringatan saya.” Jawab Wisnu.
Tidak lama kemudian terlihat Firdaus dan Wisnu sudah sampai ditempat prakteknya Firdaus. Setelah mengenalkannya dengan Anwar, Siti dan Novi.
Wisnu diajak berkeliling melihat ruangan prakteknya oleh Firdaus, setelah selesai kemudian mengajak Wisnu untuk duduk di kursi depan tempat pasiennya menunggu.
Novi datang membawa minuman dingin menghampiri mereka. Sekilas Firdaus melihat cara memandang Wisnu kepada Novi asistennya menjadi tersenyum.
“Novi masih jomlo, mas Wis.” Ujar Firdaus.
“Hah! Apa, mas?” Wisnu tergagap kaget. Wajahnya jadi memerah karena ketauan Firdaus.
Firdaus tertawa melihat Wisnu gelagapan. Sedangkan Novi segera berlalu dari situ dengan mukanya yang sedikit memerah.